Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Pesawat Meledak


__ADS_3

"Apa? Dicabut? Ta-tapi kenapa pak?" tanya Esperanza hampir menangis.


"Tenang, itu karena negara tempat kamu belajar sangat jauh. Ba-bapak kuatir kalau orang tuamu tidak setuju."


"Orang tua saya setuju pak, anda tidak perlu kuatir. Tapi kenapa malah beasiswa saya dicabut? Menjadi dokter adalah cita-cita saya sejak kecil pak. Dan orang tua saya mendukungnya," ujar Esperanza mencurahkan isi hatinya.


"I-iya, baiklah ka-kalau begitu, beasiswamu tidak jadi dicabut. Tapi bapak harap kamu tidak menyesal harus jauh dari orang tua."


"Tentu pak. Saya tidak akan menyesal."


Setelah pembicaraan itu Esperanza keluar dari kantor kepala sekolah. Air mata haru menetes di pipinya. Ia tidak bisa membayangkan seandainya beasiswa itu dicabut. Tapi kini ia merasa lega. Karena akhirnya jalan mewujudkan cita-citanya sudah ada di depan mata.


Berbeda dengan Esperanza, kepala sekolah menepuk jidadnya. Ia menjadi kehilangan tenaga saat mengingat kembali ucapannya sendiri. Lalu terduduk lesu di kursinya. Kemudian satu roh keluar dari tubuhnya dan kembali ke raga yang asli.


"Agghhk dasar! Kenapa aku malah berkata begitu. Padahal tadi sudah lancar di awal. Kenapa saat melihat Esperanza seakan mau menangis membuat hatiku luluh," ujar pemilik tubuh yang merupakan kekasih Esperanza.


"Ugh sudahlah. Sekarang aku harus memikirkan sesuatu. Aku tidak akan menyingkirkan dua tikus yang selalu mengikuti kekasihku. Tapi aku akan memberi pelajaran pada orang yang berada di balik kekacauan ini!" ujarnya geram.


"Seharusnya sudah dari awal aku hancurkan saja penghalang ini. Jika ingin membunuh pohon, harusnya aku mencabut sampai ke akarnya saat pohon itu belum bertambah besar."


"Lihat saja Te Apoyo! Aku akan menghancurkan rumah sakit kebangganmu itu! Keluargamu! Bahkan aku akan hancurkan negaramu itu. Agar menjadi negara termiskin di dunia. Bila perlu sampai nama dari negaramu hanya tinggal sejarah!"


Kekasih Esperanza mengamuk di suatu tempat dan bergumam sendiri. Para roh yang terikat padanya terkena imbas dari kekesalannya. Mereka kesakitan akibat gelombang kemurkaan yang dipancarkan oleh kekasih Esperanza.


Hari keberangkatan pun tiba. Ternyata ada orang yang menjemput Esperanza secara khusus. Sebuah mobil mewah dan seorang wanita cantik berseragam rapi.

__ADS_1


"Putriku dijemput seperti seorang ratu saja," gumam mama Esperanza.


"Dia murid khusus di sekolah kami nyonya, jadi di mendapat pelayanan yang terbaik untuk kenyanannya," ujar wanita yang menjemputnya dengan elegan.


"Ma, pa. Aku berangkat ya," ujar gadis yang dijemput sambil memeluk kedua orang tuanya bergantian.


Kedua orang tuanya yang tampak tegar di awal-awal menjadi lemah. Menangis tersedu-sedu melepas kepergian putri semata wayang mereka. Tapi kemudian mereka menyeka air mata yang menetes di pipi mereka agar terlihat kuat.


"Gris aku titip orang tuaku," ujar Esperanza pada kekasih yang merupakan sahabat sekaligus tetangganya tersebut.


"Tenang saja, serahkan padaku. Aku akan menjaga mereka seperti orang tuaku!" ujar Gris dengan tegas.


Maka acara perpisahan pun diakhiri dengan kepergian Esperanza. Dan kabar keberangkatan dari negaranya tibalah di telinga Te Apoyo. Kabar baik yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Untuk menyatukan seluruh anggota keluarganya.


"Apa kami sudah pensiun, tuan?" tanya pengawal Esperanza kemudian pada Te Apoyo.


"Baik! Siap laksanakan!" ujar mantan pengawal Esperanza dengan mantap.


Mereka mulai mengawasi orang tua Esperanza. Memastikan kalau mereka aman. Lalu menyusun data kebiasaan mereka.


Di tempat lain, putri penunggu danau mempunyai rencananya sendiri. Ia ingin membalas perbuatan Gris yang mengagalkan tindakannya. Saat menahan pesawat yang ditumpungi keluarga Te Apoyo ketika pulang ke negara mereka.


Kini kemampuannya sudah berkembang. Dan lebih kuat dari sebelumnya. Karena ia menambah para pengikutnya. Memberi mereka kekuatan dan sebagai gantinya, para pengikut itu memberikan tumbal padanya.


Saat berada di dalam pesawat, Esperanza masih asik berbincang-bincang, dengan wanita yang menjemputnya. Pertanyaan tentang sekolah yang akan ia datangi. Meski sebenarnya ia sudah banyak mendengar dari kepala sekolahnya secara langsung. Tapi ia masih ingin tahu banyak tentang sekolah tersebut.

__ADS_1


Saat asik berbincang-bincang awan tiba-tiba menjadi gelap. Mulanya mereka dan penumpang lain menanggap kalau itu hanyalah kejadian alam yang biasa. Tapi tidak dengan Gris.


Gris yang mengetahui tindakan putri penunggu danau menjadi murka. Meminta putri penunggu danau untuk menghentikan aksinya. Tapi putri penunggu danau tidak mendengarkan. Dan memilih untuk melawan.


Ia membuat hujan petir serta topan badai yang lebih dahsyat. Para penumpang pesawat merasa ketakutan karena merasakan guncangan yang hebat. Banyak dari mereka panik dan tidak bisa mengikuti pengarahan para pramugari dengan baik.


"Aneh, kenapa tiba-tiba ada badai?" gumam wanita yang bersama Esperanza.


Melihat Esperanza panik, wanita itu mencoba bersikap tenang. Dan mengatakan kalau Esperanza akan baik-baik saja. Asal mengikuti pengarahan. Tapi kemudian ia ikut panik dan tidak bisa berpura-pura saat menyadari kalau pesawat terbang itu melambat dan tiba-tiba berhenti. Degup jantungnya berpacu, demikian pula para penumpang lainnya.


Pilot memanggil bantuan ke mana saja. Namun tidak ada yang menerima panggilannya. Dan akhirnya hanya bisa pasrah ketika bagian mesin mati total.


Mencari jalan terbaik. Mencari peluang untuk menyelamatkan para penumpang. Ketika melihat kalau pesawat akan jatuh ke laut, pilot tersebut mengarahkan penumpang untuk terjun ke laut. Sebelum pesawat masuk ke air.


Sebab kemungkinan selamat lebih besar dengan adanya jacket pelampung yang dipakai penumpang. Tapi akan lebih sulit jika penumpang keluar pesawat saat benda yang mereka tumpangi telah masuk ke air.


"Semuanya, menunduk dan berpegangan yang kuat! ujar sang pilot.


Lalu dengan membuat aba-aba seorang pramugara yang berada di balik pintu bersiap untuk membuka pintu. Kemudian pintu dibuka membuat angin masuk, ke dalam pesawat yang sedang menukik tajam. Para penumpang yang tidak memegang pegangannya dengan kuat terbanting ke belakang. Begitu pula dengan benda-benda yang tidak melekat ikut terbang.


Kaca jendela pecah terkena hantaman benda yang melayang. Penumpang yang tidak sempat menghindar pun ikut terkena pukulan dan terluka. Tapi tidak ada yang menolong mereka. Sebab saat itu masing-masing orang hanya bisa menyelindungindiri sendiri.


Setelah kondisi lebih terkendali, barulah para pramugara membantu penumpang untuk mendekat ke pintu. Menungu saat yang tepat untuk melompat. Tapi ada juga yang berani melompat saat yakin kalau ia akan tercebur ke laut meski masih berada di jarak yang sangat tinggi.


Melihat yang melompat tercebur kelaut, para penumpang lain ikut melompat. Dan bagi mereka yang bernyali tinggi sudah melompat lebih dulu. Jarak laut makin dekat para pramugara membantu dan menarik keluar para penumpang pesawat yang berada di dekat mereka.

__ADS_1


Dan saat itu tiba-tiba terdengar suara ledakan. Muncul api dari arah ekor pesawat. Lalu ledakan di badan pesawat. Dan dari bagian mesin pesawat. Membuat pesawat meledak sebelum tiba jatuh ke laut. Yang terkena ledakan tewas seketika, berjatuhan ke laut.


Bersambung...


__ADS_2