
Siang hari itu, teman Dion sibuk menjelaskan pada wanita yang masuk tanpa ijin tentang tujuannya memanggil wanita tersebut. Kalau dia salah paham.
"Oh aku kira kalian ingin menjadi terkenal dengan berita tidak bermoral tersebut." ujar wanita itu yang tidak lain adalah seorang warnatawati.
"Hei, aku sudah bilang bukan!"
"Hahaha sudahlah kenapa kau gugup begitu, seorang mantan pengusaha ke dapatan sedang bersama pria di sebuah kamar hotel, pasti akan jadi berita menarik." ucap wanita itu tertawa.
"Ini bahkan bukan hotel, dan sejak kapan kau penyebar berita gosip murahan." ujar teman Dion.
"Murahan katamu? Ini berita besar, akan banyak orang membaca berita ini. Surat kabar laku besar, percetakan untung besar dan siapa menurutmu yang akan dapat bonus? Siapa sangka Dion yang dinyatakan tiada masih hidup." tuturnya berangan-angan.
"Hey, apa kau menyebut dirimu wartawan dengan menyebarkan berita bohong?" tanya Dion dengan wajah serius. Dan membuat wanita itu berangsur-angsur menjadi serius.
"Ya baiklah, bantuan apa yang ingin kalian harapkan dariku, dan berapa bayarannya?" tanya wanita itu secara gamblang.
"Pinjamkan kami uangmu, pria ini ingin berbaikan dengan istrinya, tapi dia kehabisan modal." ucap teman Dion.
"Kalau aku tau, aku tidak akan datang kemari." ujar wanita tersebut.
"Kau boleh tidak yakin padaku, tapi temanku ini berhasil menjalankan bisnis, jika diberi modal iya akan jadi mesin uang." goda teman Dion.
"Kau tidak akan percaya kalau aku hanya bicara, jadi aku suruh kau datang untuk membuktikannya sendiri." lanjut teman Dion.
Dion tampaknya memikirkan sesuatu.
"Benarkah kau seorang wartawan?" tanya Dion yang tadinya cuma sebagai pendengar. Wanita itu cuma mengangkat alis kirinya.
__ADS_1
"Apa yang kalian ketahui tentangku saat aku menghilang?" tanya Dion.
"Disurat kabar, istrimu Kelly mengatakan kalau kau sakit keras, jadi ia menjual asetmu sebagai biaya pengobatanmu di luar negri." ujar wanita itu.
"Jelas sekali kalau itu bohong," tutur teman Dion.
"Apa kau tau keberadaan Kelly saat ini?" tanya Dion lebih lanjut.
"Tidak ada kabarnya, terakhir kali ia membuat berita, kalau kau sakit dan ia menjual hartamu, sebagai biayanya. Lalu setelah itu, info yang kami dapat, dia pergi keluar negri." ucap wanita itu lirih. Dion temannya cuma bisa diam dan mendengarkan dengan serius.
"Sehingga ramai gosip di kalangan orang-orang bisnis bahwa kau dibawa ke luar negri untuk pengobatan yang lebih baik." lanjut wanita itu. Mendengar hal itu Dion mengepalkan tangannya karena kesal.
"Dan apa kau tahu? Perusahaan yang dijual oleh Kelly perlahan-lahan bangkrut. Dan anehnya banyak hal ganjil terjadi di perusahaan tersebut. Para pekerja sering kali kerasukan massal." cerita wanita itu dengan mimik wajah yang keheranan.
"Benarkah?" tanya Dion singkat.
"Iya, tentu saja. Banyak yang bilang kalau itu adalah saingan bisnis yang tidak sehat. Melakukan hal yang tidak masuk di akal, untuk menjatuhkan bisnis lawan." lanjut wanita tersebut.
"Tidak tau, bahkan banyak yang mengira kalau ini berita bohong. Sehingga lama-kelamaan, berita tentang orang-orang yang bekerja di perusahaan tersebut kerasukan, menghilang begitu saja. Tapi tidak bisa dipungkiri, perusahaan itu pada akhirnya gulung tikar." kisah wanita itu.
"Sepertinya kau tau banyak tentang perusahaanku ya," ujar Dion.
"Ya tentu saja, perusahaan yang punya untung besar dan gaji karyawan yang di atas gaji perusahaan lain, tentu jadi perhatian. Ada pengusaha lain yang sengaja membayar kami dengan harga tinggi, jika kami menemukan celah tentang kesalahan perusahaan tersebut. seperti pajak misalnya." tutur wanita itu.
"Ini menarik, jika begitu artinya tempat itu pasti akan dijual murah. Tapi jika aku yang membeli mereka pasti menolak." ujar Dion.
"Kau membeli perusahaanmu sendiri? Jelas-jelas mereka merampokmu, laporkan saja ke polisi." ujar teman Dion
__ADS_1
"Siapa yang akan aku laporkan? Kelly yang tidak tau keberadaannya? Jika aku menuntut pada pembeli juga pasti percuma, surat kuasa sah ada di tangan mereka." jawab Dion. Ia tidak mungkin menuntut pembelinya. Dan jika dibawa ke jalur hukum pun rasanya hanya akan buang waktu, menurut Dion.
"Selama mereka memiliki surat yang asli, maka mereka pemilik yang sah. Jika kita tidak menemukan Kelly maka tidak ada yang bisa di tuntut." ujar wanita tersebut, setuju dengan ucapan Dion.
"Mana mungkin ada yang mau membeli perusahaan tanpa surat yang lengkap." ujar wanita itu lagi.
"Tapi pakai apa kau membelinya? Dan untuk tujuan apa kau membeli perusahaan yang sudah tutup. Itu artinya kau cuma beli gedung kosong." ucap teman Dion.
"Tapi bagaimana dengan rencanamu membeli rumah, yang dekat dengan rumah mantan istrimu?" tanya teman Dion.
"Hei siapa yang kau maksud dengan mantan istriku? Dia belum bercerai denganku," kata Dion kesal.
"Sudah, sudah, sudah, dari tadi kita berbicara terus, tidak adakah minuman di sini?" ucap wanita itu.
"Anggap saja rumah sendiri, ambil apa yang ada," jawab teman Dion singkat.
Sore harinya Dion mulai melihat-lihat rumah yang hendak iya sewa dan juga toko untuk tempatnya membuka usaha. Sambil memantau istrinya secara diam-diam. Walau tidak bisa menegurnya, setidaknya mengetahui istrinya baik-baik saja membuatnya senang. Namun ia tetap penasaran pada Teresia.
Lalu timbul dalam pikirannya untuk membawa Teresia berobat. Siapa tau jika ia memperlihatkan niat baiknya, Lina akan memaafkannya.
Sambil memantau Lina, Dion juga masih sibuk mencari tau keberadaan Kelly. Namun akun media sosialnya sudah lama tidak aktif. Dion juga mencari data-data perusahaannya yang sudah dijual oleh Kelly. Dan mencari tau siapa pemilik barunya.
Jadi dia meminta wanita yang datang ke rumah sewaannya untuk mencari data tentang hal tersebut. Sambil ia memikirkan rencana selanjutnya. Saat ia sudah puas mengintai istrinya ia kembali ke rumah yang mereka sewa.
"Hei, Fika sudah mengirim data yang kau minta." ujar teman Dian sambil terus menatap layar laptopnya. Dion pun mendekat lalu mengamati hal tersebut. Tampak gedung kosong itu dijual dengan harga miring. Dion mengusap wajahnya. Ia kuatir jika sebelum ia berhasil membelinya maka orang lain akan membelinya.
Tapi saat melihat postingan tentang gedung itu, ia mulai tenang. Karena kebanyakan justru memberi komentar negatif tentangnya. Itu artinya besar kemungkinan tempat itu tidak akan terjual untuk waktu yang singkat. Dan lagi ternyata, pemiliknya sudah beberapa kali pindah tangan.
__ADS_1
Dan tidak diberitahukan alasan pembelinya, yang langsung menjualnya. Setelah mereka membelinya beberapa minggu. Dan anehnya semua perusahan yang dimilikinya mengalami hal yang sama. Segera tempat itu dijual lagi setelah dibeli beberapa minggu lamanya. Bahkan gedung itu belum sempat digunakan sudah dijual lagi.
Bersambung...