Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Takut


__ADS_3

Nicorazón memberanikan diri memeriksa pesan di ponselnya sambil berjalan mencari mamanya. Saat membuka pesan ia memperlambat jalannya lalu berhenti.


"Apa-apaan ini?" batinnya.


Suasana rumah tampak sepi. Tidak ada orang yang berlalu-lalang di rumah itu. Mamanya sudah tidak ada di dapur. Dia terkejut saat seorang pelayan menegurnya.


"Bibi! Jangan buat aku jantungan dengan muncul secara tiba-tiba," ujar Nicorazón mengusap dadanya.


"Tuan mencari siapa?" tanya si pelayan.


"Mamaku, di mana dia?" tanya Nicorazón.


Pelayan itu memberitahukan kalau mamanya sedang pergi ke kamar. Setelah mendengar jawaban si pelayan, Nicorazón memilih untuk diam di dapur. Menyaksikan pelayan tersebut menata peralatan makan di meja. Ia tidak mau sendirian. Takut kalau terjadi sesuatu yang aneh.


"Bibi? Bibi pernah merasa ada yang menyentuh bibi, padahal tidak ada orang?" tanya Nicorazón tiba-tiba sambil memeriksa nomor kontak pengirim pesan di ponselnya.


Karena tidak mendapat jawaban, Nicorazón mengulang pertanyaan yang sama. Namun tetap saja tidak ada jawaban. Sehingga Nicorazón mengangkat kepalanya lalu menoleh ke arah pelayan yang ia ajak berbicara.


Pelayan itu terlihat sangat sibuk. Sepertinya hal itu membuatnya tidak mendengar pertanyaan anak majikannya. Bahkan saat anak majikannya mengulang pertanyaan yang sama, untuk ketiga kalinya pun pelayan itu tetap sibuk. Dan tidak perduli.


"Apa-apaan sih? Ditanya bukannya menjawab," gumam Nicorazón kesal.


Sementara satu sosok roh sedang menutup telinga pelayan itu sambil tersenyum melihat Nicorazón. Merasa diabaikan, Nicorazón mencoba mendekati dan menanyakan hal yang sama. Tapi tiba-tiba bunyi sebuah pesan masuk lagi ke ponselnya. Dengan pesan yang sama.


Nicorazòn memilih pergi dari dapur. Menuju kamar mamanya. Namun ternyata kamar itu dikunci. Nicorazón tidak tahu harus ke mana lagi. Selain ke pos satpam. Di sana ada seorang satpam yang sedang membaca surat kabar di sela waktu senggangnya.


Kebetulan saat itu terdengar bunyi klakson dari balik gerbang. Ternyata berasal dari mobil Te Apoyo yang baru saja pulang. Nicorazón memperhatikan dengan seksama ke arah papanya sambil melipat tangan di atas perutnya. Te Apoyo melihat putranya dari dalam mobil dan menyapanya begitu ia turun dari kendaraannya.


"Mamamu di mana? Dan sedang apa kamu di luar?" tanya Te Apoyo.


Nicorazón tidak langsung menjawab ia hanya menatap papanya dari ujung rambut sampai ujung kali. Mencari sidik jari wanita di kerah, dasi dan pipi papanya. Namun ia tidak menemukan hal yang mencurigakan. Te Apoyo cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya.


Tanpa menunggu jawaban Te Apoyo langsung menuju ke dalam. Langkahnya terhenti saat putranya menarik tas ia bawa. Te Apoyo lalu melepaskan tas itu dan membiarkan putranya mengambilnya.


"Mama lagi di kamar. Mungkin sedang mandi," jawab Nicorazón lalu mengikuti langkah Te Apoyo.

__ADS_1


"Oh," jawab Te Apoyo sambil melepaskan sepatu dan kaus kakinya. Lalu meletakkan pada tempatnya.


Nicorazón mengikuti papanya saat menuju ke sebuah kamar. Pintu kamar itu masih terlihat tertutup. Namun ternyata sudah tidak dikunci lagi. Nicorazón mengikuti papanya masuk ke kamar. Lalu meletakkan tas kerja papanya di atas meja, dan berbaring di atas tempat tidur.


Te Apoyo memperhatikan tingkah putranya yang terkesan berbeda dari biasanya. Namun ia diam saja dan mencium pipi istrinya tanpa memperdulikan putranya yang menatap layar ponselnya. Begitu juga Nicorazón yang tidak perduli pada kelakuan orang tuanya itu.


Primavera menyiapkan pakaian untuk suaminya setelah suaminya pergi ke kamar mandi. Melihat putranya yang sedang asik menatap ponselnya ia tanpa sadar menyentuh rambut putranya. Di luar dugaannya pemuda 17 tahun itu berteriak ketakutan.


Teriakannya membuat Te Apoyo sempat berhenti melakukan kegiatan mandinya. Primavera menatap putranya heran. Tidak biasanya dia seperti itu.


"Sayang?" tanyanya Primavera.


"A-aku cuma kaget hehehe," jawab Nicorazón sekenanya.


"Ada apa teriak-teriak?" tanya Te Apoyo setelah keluar dari kamar mandi.


Ia berpakaian tanpa menunggu jawaban putranya. Dan Nicorazón menjawabnya dengan datar, menatap layar ponselnya dan mengetik sesuatu, sebelum mengirim pesan itu pada seseorang.


Te Apoyo sudah selesai berpakaian, saat Nicorazón menghubungi seseorang melalui panggilan vidio. Saat panggilan vidio terhubung muncullah wajah seorang gadis yang sangat ia kenal.


"Kamu lagi di mana?" tanya gadis itu.


"Benarkah? Om dan tante di mana? Sedang apa kamu di situ?"


"Mamaku_ " jawab Nicorazón terhenti.


Ia melihat sekelilingnya dan ternyata hanya ada dia sendiri di sana. Terkejut karena kamar itu tiba-tiba sepi. Ia mengernyitkan keningnya. Lalu menatap layar ponselnya.


"A-apa kamu melihat sesuatu?" tanya Nicorazón pada gadis itu gugup.


Gadis itu hanya diam. Mengambil permen di atas meja belajarnya lalu mengupas dan memakannya. Dan melempar bungkusnya ke sebelah kanannya begitu saja. Ia pun tersenyum lalu menggeleng.


"Tidak, aku tidak melihat om dan tante di situ," jawabnya masih dengan tetap tersenyum.


"B-baiklah kalau begitu, a-aku pergi dulu."

__ADS_1


Nicorazón segera memutuskan panggilannya dan berlari keluar kamar. Ia mengerti arti dari jawaban gadis itu. Yang mengatakan kalau ada sosok yang tidak terlihat berada di sebelahnya. Ditunjukkan dengan cara membuang bungkus permen yang dibuang ke arah kanannya.


Te Apoyo dan Primavera sedang menikmati makanan mereka. Membuat Nicorazón heran kenapa ia tidak diajak makan bersama. Jadi dia diam saja dan berdiri mematung. Tindakannya membuat Primavera berhenti makan.


"Sayang, ayo makan," ajak Primavera.


"Kenapa tadi aku ditinggal?" tanya Nicorazón dengan wajah cemberut, saat meletakkan bokongnya di kursi.


"Tadi, kan mama sudah mengajak kamu, tapi kamu diam saja. Jadi mama pikir mau makan nanti," jawab Primavera sambil meminta piring yang ada di hadapan putranya.


"Masa sih? Kapan? Mengapa aku tidak mendengarnya?" tanya Nicorazón seakan tidak percaya.


Te Apoyo hanya menggelengkan kepala lalu menikmati makanannya. Malam ini ia pulang lebih awal dan berniat akan menikmati malam lebih lama bersama istrinya. Tapi di luar dugaannya, ternyata Nicorazón meminta untuk tidur di kamar mereka.


"Hey kamu bukan anak kecil lagi!" ujar Te Apoyo mengusir putranya dari tempat tidurnya.


"Aku tidak mau tahu, pokoknya malam ini aku mau tidur di sini!" ujar Nicorazoón berbaring di tempat tidur papanya.


"Pergi ke kamarmu, kerjakan tugas sekolahmu sana!" perintah Te Apoyo.


"Aku sudah mengerjakannya tadi di sekolah," ujar Nicorazón berbohong.


Te Apoyo menarik tangan putranya agar segera turun dari tempat tidurnya. Ia tahu kalau putranya berbohong. Tapi Nicorazón tetap bertahan dan tidak mau turun. Primavera hanya geleng-geleng kepala.


"Sayang, pergilah ke kamarmu. Dan kerjakan tugas sekolahmu," bujuk Primavera pada putranya.


Nicorazón ingin membantah mamanya tapi ia tidak ingin membuat mamanya kecewa. Jadi ia memutar otaknya untuk tetap bisa berada di kamar itu.


"Sebenarnya aku punya banyak tugas sekolah, tapi aku tidak tahu cara mengerjakannya," ujar Nicorazón.


Te Apoyo memandangnya dengan berkacak pinggang. Lalu ia mengatakan akan membantu Nicorazón mengerjakan tugasnya. Mendengar hal itu putranya sangat senang. Ia hendak pergi ke kamarnya namun seketika ia ingat hal aneh yang dialaminya.


"Tidak jadilah. Besok saja aku menyalin tugas temanku!" katanya lalu berhambur kembali ke atas tempat tidur.


Te Apoyo menjadi geram. Di tariknya tangan putranya lebih kuat.

__ADS_1


"Ayo ambil tugasmu. Kerjakan malam ini juga!" perintahnya.


Bersambung...


__ADS_2