Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Jalan Buntu


__ADS_3

Hari sudah malam, Lina tidak keluar untuk makan malam. Te Espere juga demikian. Te Apoyo makan sendirian.


Selesai makan ia menuju kamarnya. Mencoba menyibukkan diri. Namun dia tidak bisa memusatkan pikirannya. Pikirannya sangat terganggu. Dan saat ia mengerjakan soal-soal ia merasa seperti ada yang mengawasinya. Dia melihat ke luar jendala, namun tidak ada siapapun di sana. Karena tidak bisa fokus, ia pun mencoba memejamkan matanya.


Keesokan paginya ia menghubungi detektif lalu jajian bertemu di rumah kakek Dion. Ia meminta ijin pada Lina. Lalu pergi diantar supir. Sampai di depan rumah kakek Dion. Detektif sudah menunggu di luar gerbang. Lalu mereka bersama-sama pergi ke dalam.


"Aku sudah mencoba membuka peti yang kamu maksud tapi tidak berhasil. Kuncinya juga tidak ada." tutur detektif tersebut.


Mereka bersama dua orang polisi berpakaian preman masuk ke ruangan tersebut. Te Apoyo membuka peti itu dengan sangat mudah. Cukup dengan meletakkan telapak tangannya. Pintu peti itu terbuka. Tampaklah perhiasan yang tersusun rapi di dalamnya.


Dua polisi menatap seakan tidak percaya. Saat mereka ingin menyentuhnya, detektip menutup kembali peti tersebut. Dan saat peti itu ditutup kembali, benda itu pun tidak bisa dibuka lagi.


"Ini aneh," ujar dua polisi tersebut.


"Apa peti ini dilengkapi sensor sidik jari ya?" gumam yang lain.


"Berarti peti ini masih baru. Bukan peti jaman purba, meski ukirannya membuat kita berpikir kalau ini sudah dibuat sejak lama." gumam detektif tersebut.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya seorang polisi.


"Tidak ada, kita pulang." jawab detektif.


"Lalu perhiasannya? Jika dibiarkan akan dicuri!" ujar seorang polisi.


"Siapa yang akan mencurinya? Sudah lama peti ini di sini dan masih utuh." ujar detektif.


"Bisa saja isinya tadi sudah berkurang." jawab polisi lainnya.


"Hey nak, bagaimana menurutmu?" tanya detektif kemudian pada Te Apoyo.


"Aku rasa sebaiknya biarkan saja, jika pemiliknya datang, mereka pasti akan mengambilnya." jawab Te Apoyo.


"Tapi bukankah kamu pemiliknya, maksudku keluarga kalianlah pemiliknya," ujar detektif dan dijawab dengan anggukan oleh dua polisi yang ada di situ.


"Papa membelinya dari orang lain. Pasti peti ini tertinggal." ucap Te Apoyo.


"Peti ini terbuka hanya dengan sidik jarimu. Itu artinya memang milikmu ataupun keluargamu. Atau kamu mau menanyakan pada mamamu dulu?" tanya detektif.


Sebelum Te Apoyo menjawab, salah satu polisi menimpali.

__ADS_1


"Apa mungkin pak Dion datang kemari untuk menyimpan perhiasan ini. Dan merahasiakannya pada kalian?"


Tampak detektif mengernyitkan keningnya. Terdengar masuk akal. Tapi tetap jadi misteri, sebab jejak Dion tidak ada keluar ruangan.


"Aku belum pernah menghadapi masalah seperti ini. Kasus orang hilang yang aneh. Ada jelas banyak barang bukti tertinggal. Tapi tidak bisa ditemukan." ujar detektif.


Lalu ia mengajak Te Apoyo pulang. Supir Te Apoyo langsung tersenyum cerah melihat putra tuannya datang. Ia merasa cukup ngeri sendirian di dalam mobil yang diparkirkan di halaman rumah kakek Dion. Detektif dan dua polisi terlihat tidak puas akan hasil pencarian hari ini.


Mereka pun berpencar. Dan menuju arah yang berbeda. Di tengah perjalanan, Te Apoyo menoleh ke arah kaca spion untuk melihat sejauh apa mobil detektif sekarang. Dan ternyata mobil itu sudah jauh dan tidak terlihat lagi. Kemudian ia meminta supirnya memutar mobil untuk kembali ke rumah kakek Dion.


"Untuk apa tuan muda?" tanya si supir. Ia masih takut melihat kondisi rumah yang terkesan angker tersebut.


"Ada yang ketinggalan," jawab Te Apoyo singkat.


Sesampainya di depan gerbang Te Apoyo langsung masuk ke dalam.


"Tunggu saya keluar dalam setengah jam, jika saya tidak keluar. Bapak panggil saja polisi!" pinta Te Apoyo.


Supir itu mengangguk. Te Apoyo pun masuk. Penghuni rumah itu mendekati dan mengerubunginya bagai lalat pada bangkai. Klara mencoba melindungi Te Apoyo. Tapi Te Apoyo melarangnya. Ia mengeluarkan selembar foto dan mengangkatnya ke udara. Penghuni yang ada di situ memperhatikan foto tersebut.


"Apa kalian melihat orang yang ada di foto ini masuk ke rumah ini?" tanya Te Apoyo.


"*Kau bisa melihat kami?"


"Jadi kau bisa lihat?"


"Kenapa berpura-pura tidak melihat kami selama ini*?"


Tanya para arwah itu bergantian. Mereka merasa senang ada manusia yang mampu melihat mereka.


"*Ayo bermain dengan kami,"


"Ya permainan hidup dan mati, siapa yang paling lama bertahan tanpa bernafas, dialah pemenangnya."


"Hahahaha*!"


Kesal pertanyaannya tidak dijawab, Te Apoyo mencengkram satu roh yang paling dekat dengannya. Lalu membantingnya, sehingga roh itu berubah jadi asap hitam dan menghilang. Semua roh yang tadi menertawakannya, sontak terdiam.


"Aku tanya sekali lagi, apa kalian melihat orang ini masuk?!" teriaknya.

__ADS_1


Bukan menjawab mereka malah bersiap untuk mengeroyok Te Apoyo. Tapi tidak satu pun dari mereka yang berhasil menjatuhkan Te Apoyo. Dan setiap ada roh yang mendekat, dengan sekali pukul mereka pun lenyap tanpa bekas. Para arwah yang tersisa mulai berpikir, mereka memutuskan untuk kabur, tapi Te Apoyo berhasil menangkap salah satu dari mereka.


"Ampun, ampun jangan memusnahkanku, aku akan menjawab pertanyaanmu," ujar roh itu meminta belas kasih.


Te Apoyo menunggu roh itu menjawabnya, dan arwah yang semula kabur mengintip dari kejauhan. Mereka penasaran akan tindakan yang dilakukan Te Apoyo.


"Aku, aku melihatnya masuk,"


"Lalu apa kau melihatnya pergi ke arah mana?" tanya Te Apoyo.


"Iya, aku melihatnya,"


"Tunjukkan padaku!"


"Ba baik, tapi lepaskan aku dulu,"


Te Apoyo tidak melepaskan cengkramannya. Roh itu pun akhirnya pasrah. Lalu menunjuk satu arah. Dan akhirnya menunjuk sebuah ruangan. Tempat ponsel serta kunci mobil papanya ditemukan.


"Dia masuk ke sana dan tidak pernah keluar sama sekali,"


"Jangan bohong atau kau akan lenyap seperti yang tadi!" ancam Te Apoyo.


"Kalau kau tidak percaya, aku mahluk lemah ini bisa apa?"


Te Apoyo mengernyitkan keningnya lalu perlahan melepas cengkramannya. Dan secepat kilat roh itu melesat terbang menembus tembok rumah besar tersebut.


Klara yang melihat tindakan Te Apoyo menyadari kalau Te Apoyo bukan manusia biasa. Ia ingat kalau roh yang menempati rumah ini berbeda dengan roh yang kemarin membunuhnya.


"Apa dia melakukan sesuatu pada mereka?" batin Klara.


Te Apoyo memilih kembali pulang. Ia tidak mengambil isi peti tersebut. Meski ia membukanya sekali lagi. Hanya untuk memastikan, kalau isi peti itu bukan jasad papanya.


Sementara di rumah, saat melamun, Lina tiba-tiba mendengar ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk terpampang di layarnya. Nomor itu adalah nomor ponsel suaminya. lalu ia mengangkatnya.


"Halo sayang, bisakah kamu menjemputku di rumah kakek, seseorang membawa mobil yang aku parkirkan dihalaman rumah kakek?"


Terdengar suara yang sangat Lina kenal. Lina tersentak. Lalu secepatnya ia mengambil kunci. Mengunci kamar setelah merapikan wajahnya serta rambutnya. Tidak lupa ia berganti pakaian. Dengan tergesa-gesa ia pergi. Dan dilihat oleh Te Espere.


"Mama mau kemana?" batin Te Espere.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2