Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Bersikap Seolah Melihat


__ADS_3

Dengan malas Te Apoyo bangun dari tidurnya, tapi karena panggilan terus berbunyi, mau tidak mau ia pun bergegas ke rumah sakit. Jalanan sudah sangat sepi dan lenggang.


Te Apoyo mencoba fokus dan tidak membayangkan hal-hal yang sering dikatakan oleh orang-orang akan muncul di tempat sepi. Ini bukan pertama kalinya ia berkendara di malam hari. Dan bukan pula pertama kalinya dia pergi ke rumah sakit pada malam hari.


Meski tidak yakin harus berbuat apa, Te Apoyo tetap pergi ke rumah sakit dan saat tiba ia langsung menuju kantornya.


"Maaf, tadi aku mengikuti acara pemakaman seorang pasien," kata Te Apoyo dengan ragu-ragu.


Ia menyangka kalau gadis itu masih di kantornya. Kantornya sedikit berantakan dari biasanya. Te Apoyo hanya bisa menahan emosinya.


Tiba-tiba Te Apoyo menerima panggilan dari Malika lagi.


"Te Apoyo, kamu ada di mana?" tanya Malika dengan nada cemas.


Te Apoyo jadi ikut cemas, sebab Malika sepertinya sedang sangat serius. Dan Te Apoyo mengatakan kalau ia sedang di kantornya.


"Tolong jemput aku, secepatnya!" ujar Malika dengan nada memerintah.


Malika mengatakan alamatnya dan mengatakan kalau saat ini gadis itu sudah ia temukan. Sedang ketakutan dan menangis serta tidak bisa di diamkan. Malika takut hal itu bisa berdampak buruk untuk Te Apoyo di kemudian hari.


Te Apoyo pun tiba di lokasi yang dikatakan oleh Malika. Begitu melihat Te Apoyo datang, Malika merasa lega. Dan dengan cepat Malika membuka pintu belakang. Ia bertingkah seperti sedang merangkul seseorang.


"Kamu akan tidur di mana malam ini?" tanya Te Apoyo pada Malika.


"Dia akan tidur di rumahku," jawab Malika.


Malika melakukannya dengan sengaja, agar gadis itu merasa kalau pertanyaan Te Apoyo ditujukan padanya. Maka Te Apoyo mengendarai kendaraannya menuju rumah Malika yang ada di negara Te Apoyo.

__ADS_1


Di rumah Fika yang lama ada sepasang suami istri yang merawat rumah tersebut. Malika mengajak gadis itu masuk dan menyuruh Te Apoyo untuk ikut masuk.


"Kalian berdua, tunggu aku di sini," ujar Malika.


Lalu ia pergi ke dapur dan membuatkan 3 gelas minuman untuk mereka bertiga. Te Apoyo yang tinggal berdua dengan roh gadis itu tidak berbuat apa pun. Tapi entah kenapa, Te Apoyo merasa kalau ia harus berbicara.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Te Apoyo pada udara yang ada dihadapannya.


Gadis itu menatap Te Apoyo yang tidak melihat ke arahnya saat berbicara. Tapi ia tahu kalau ucapan Te Apoyo ditujukan padanya. Dan ia pun mengangguk dengan pelan.


Malika datang dengan 3 gelas minuman dan meletakkannya di hadapan mereka masing-masing. Saat itu Te Apoyo sadar kalau ia berbicara ke arah yang salah.


Sebab ternyata gadis itu duduk di sebelahnya. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu untuk menetralkan perasaannya dia pun mengangkat gelasnya dan tiba-tiba ia berpikir untuk memberikannya pada gadis itu.


Ia tidak tahu, apakah gadia itu menerimanya atau tidak. Tapi Malika angkat bicara agar semua tidak merasa canggung.


Lalu mengisyarakat Te Apoyo untuk meletakkan gelasnya, tapi Te Apoyo tidak paham. Terpaksa Malika turun tangan, dan langsung mengambil gelas yang ada di tangan Te Apoyo.


"Aku akan segera menggantinya," ujar Malika.


Lagi-lagi Te Apoyo merasa bingung. Sepertinya apa pun yang ia lakukan salah. Bagaimana ia harus bersikap pada yang tidak bisa ia lihat dan tidak bisa ia sentuh. Hal ini membuatnya pusing setengah mati.


Lebih memusingkan dari pada saat ia melakukan drama saat masih di bangku sekolah dulu. Berpura-pura melihat, berpura-pura tahu, dan berpura-pura perduli. Jika bukan karena Malika yang memaksanya dengan alasan demi kebaikannya, maka Te Apoyo tidak akan pernah melakukannya.


Setelah beberapa menit dalam kecanggungan akhirnya Malika memberikan isyarat kalau Te Apoyo sudah boleh pulang. Dan ternyata gadis itu minta ikut dengannya. Malika pun mengatakan hal itu pada Te Apoyo.


"Ya baiklah, kalau begitu," ujar Te Apoyo

__ADS_1


Saat tiba di depan ia membuka pintu mobilnya, pandangannya terarah pada Malika, seolah bertanya apakah gadis itu sudah naik atau belum. Malika menggeleng.


"Ayo naik, duduklah di depan," kata Te Apoyo pada udara kosong di hadapannya.


Malika cuma tersenyum karena Te Apoyo mencoba dengan sangat keras. Te Apoyo merengut dan melototi Malika. Tapi Malika membuat gerakan yang mengisyaratkan kalau gadis itu sudah masuk. Maka Te Apoyo pun masuk dari pintu lainnya.


Kendaraan pun melaju setelah mereka berpamitan. Te Apoyo tidak tahu harus berbuat apa di mobil. Tapi ia memilih bercerita tentang anak kecil yang hari ini meninggal dunia. Dan juga tentang kue yang dititipkan padanya.


Gadis itu diam saja, ia menyadari kalau yang dimaksud oleh Te Apoyo adalah anak laki-laki yang menegurnya. Ia merasa ikut berduka, karena anak itu sangat perhatian padanya yang baru saja ia kenal.


Tibalah mereka di rumah Te Apoyo. Dengan cepat Te Apoyo turun lalu membukakan pintu. Rasanya cukup canggung, dan ia menerka-nerka apakah gadis itu sudah turun atau tidak. Lalu kemudian ia mengajak gadis itu ke kamar Te Espere.


"Maaf, aku tidak bisa membiarkanmu tidur di kamarku, ini kamar saudariku. Jangan kuatir, ia tidak akan keberatan kalau kamu tidur di sini," ujar Te Apoyo sealami mungkin.


Gadis itu masuk. Dan Te Apoyo membuka lemari pakaian Te Espere dan menawarkan gadis itu untuk memakainya. Walau ia tidak tahu, apakah gadis itu bisa memakainya atau tidak.


Lalu Te Apoyo menunjukkan kamar mandi. Meski Te Apoyo tidak yakin gadis itu mendengarnya, Te Apoyo terus saja bertingkah seolah ia dapat melihat gadis itu.


"Baiklah, ini sudah larut malam. Kuharap kamu bisa beristirahat dengan tenang. Selamat malam," ujar Te Apoyo.


"Selamat malam," jawab gadis itu.


Lalu ia pergi menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia mengenakan pakaian Te Espere lalu ia mencoba memejamkan matanya. Yang di mana semua itu hanyalah imajinasinya semata. Ia tidak benar-benar memakai pakaian Te Espere. Dan ia tidak benar-benar mandi. Tapi baginya ia melakukan semua itu dengan sangat nyata.


Ia pun tertidur dan bermimpi kenapa ia sampai ketakutan. Semua berawal dari rasa bosannya menunggu Te Apoyo kembali. Jadi ia iseng-iseng ingin berjalan-jalan sebentar. Tapi ia malah melihat teman masa kuliah Te Apoyo berada di rumah sakit.


Dan betapa terkejutnya gadis itu saat pandangan mata mereka beradu. Ia pun segera pergi dari situ. Saat ia menoleh kebelakang, ia melihat teman sekampus Te Apoyo mendekatinya.

__ADS_1


Bersambung...--


__ADS_2