
"Jangan sampai terjadi," ujar putri Malika.
"Ia, Mama juga tidak mau kalau itu sampai terjadi. Tapi sebaiknya kita pulang dulu, dan lihat keadaan adikmu yang sedang terperangkap di tubuh anjing tersebut. Sebaiknya di hadapan para pelayan, kita memperlakukannya seperti anjing yang kesasar," ujar Malika.
Begitu tiba di rumah mereka langsung menuju kamar Brillo dan tampak anjing itu sedang berbaring di atas tempat tidur. Dan saat mereka mendekati dan menyentuhnya, anjing itu menyalak. Malika dan putrinya kaget.
Anjing itu memalingkan wajahnya, lalu mengibas-kibaskan ekornya. Sehingga Malika dan putrinya mendekat. Mencium aroma sampo pada bulu anjing tersebut. Seketika Malika ingat akan sesuatu.
"Sayang ambilkan makanan untuk adikmu," ujarnya kemudian.
"Baik Ma," jawab putrinya.
Setelah mendengar perintah itu, putri Malika segera bangkit dan dengan cepat pergi ke dapur. Tidak berlama-lama ia membawa makanan ke kamar Brillo. Anjing itu tampak bersemangat melihat nasi dengan lauk-pauk di sebuah piring.
Malika memilih menyuapi anjing tersebut. Tapi ternyata mulut anjing itu berdarah. Ada luka di sekitar bibir anjing tersebut seperti tersayat. Anjing itu diam saja saat Malika melihat luka itu. Tapi kemudian memutuskan memberinya makan terlebih dahulu.
Setelah selesai makan, maka luka di sekitar bibir anjing tersebut diobati.
Luka tersebut sebenarnya disebabkan dengan sengaja oleh anjing itu sendiri. Anjing yang memiliki jiwa Brillo itu mengingat kalau, hewan anjing memiliki penyakit menular.
Penyakit yang membuat mereka memuntahkan darah dan menyebabkan kematian jika terlambat ditangani.
Dengan pengetahuan itu, Brillo yang berada di dalam tubuh anjing tersebut mengambil duri ikan dengan kakinya. Lalu menggores bibirnya sampai berdarah. Bercampur dengan liur maka darah itu jadi terlihat banyak.
Dan akibat liur tersebut, maka tampaklah seolah anjing yang berisi jiwa Brillo mati karen penyakit. Membuat wanita paruh baya terpedaya oleh acting anjing tersebut dan berhasil meloloskan diri.
Ia sempat mendengar percakapan orang yang menukar jiwanya, berbica dengan wanita paruh baya tersebut. Bahwa mereka akan membuat Nicorazòn dalam bahaya. Sehingga begitu bebas, yang pertama kali dalam benaknya adalah pergi ke sekolah. Untuk mencari Nicorazón, walau ia tidak yakin apa yang bisa ia lakukan.
"Tega sekali mereka melukaimu," ujar Malika dengan suara sedih, saat mengobati luka anjing itu.
__ADS_1
Ia mengira kalau luka itu disebabkan oleh orang lain. Dan anjing itu tidak bisa berbicara dan terlalu malas untuk bergerak saat ini, menjelaskan tentang bagaimana lukanya ia dapatkan. Lalu lebih memilih tidur, sebab ia merasa sangat lelah hari ini.
Tidak sadar, ia tidur cukup lama. Ketika ia bangun, ternyata Tomi sudah ada di sampingnya. Melihat suami Malika, anjing itu mengibas-kibaskan ekornya. Hal yang tidak ia lakukan secara sengaja. Sebab itu hanya terjadi begitu saja, saat ia merasa senang, atau pun merasa aman.
"Besok barulah bisa diketahui, apakah tubuhmu bisa bebas atau tidak. Sebab mereka menggunakan tubuhmu untuk melukai Nicorazón," ujar Tomi sambil membelai anjing itu.
"Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang?" tanya Malika.
"Beritahu Te Apoyo tentang hal ini, meminta mereka bekerja sama. Kita tidak bisa terus merahasiakan masalah ini. Meski pun tidak bisa dibuktikan kalau ada orang yang mengincar putranya, tapi kita harus tetap mencoba," ujar Tomi.
Ia sudah memeriksa hal-hal yang mencurigakan di kamar putranya dan tidak mendapatinya. Juga berkat bantuan para roh yang mereka kenal, mereka bisa yakin kalau saat ini rumah mereka aman.
"Jadi benar kalau Brillo mencoba melukai putraku?" tanya Te Apoyo.
Setelah dihubungi untuk datang bersama istrinya. Mereka diajak ke ruang kerja Tomi yang kedap suara. Sehingga hanya orang yang berada di dalam, yang bisa mendengar suara tersebut. Hanya ada lima orang di dalam dan seekor anjing.
Anjing itu berbicara mengunakan komputer, mengetik kalimat yang ingin ia ucapkan. Meski sedikit kesulitan sebab jari-jarinya belum terbiasa. Akibat perubahan bentuk dan ukuran.
"Selagi kalian ada di sini, aku ingin memberitahukan kalian berdua, tentang masalah yang lebih besar. Tentang pewaris keturunan ke tujuh," ujar Tomi lagi.
"Maksudnya?" tanya Te Apoyo.
"Ada keturunan ke tujuh yang mengincar putra kalian Nicorazón," jawab Malika.
Te Apoyo dan Primavera masih bingung dan saling pandang. Lalu pandangan mereka fokus ke Tomi dan Malika.
"Apa hubungan mereka dengan kami? Apa mereka adalah keturun kakekku atau kakek istruku? Dan mereka ingin mengincar Nicorazón untuk mendapatkan warisan? Begitukah?" tanya Te Apoyo.
"Tapi tidak ada lagi harta warisan, bukankah papaku dan papa Malika merintis usaha mereka dari nol," lanjut Te Apoyo.
__ADS_1
"Masalahnya bukan seperti itu. Tapi ini hal yang diluar logika manusia normal," ujar Tomi.
"Kamu ingat peristiwa, pasienmu yang sudah bisa pulang, tiba-tiba sakit?" tanya Malika pada Te Apoyo.
"Apa itu ada kaitannya? Siapa pelakunya?" tanya Te Apoyo penuh antusias.
"Kami belum tahu pelakunya, tapi sepertinya pewaris keturunan ke tujuh mempunyai kemampuan yang seperti itu," jawab Malika.
Saat Malika membicarakan hal itu, tiba-tiba anjing itu bercerita tentang orang yang menukar jiwanya. Bahwa pelakunya seorang gadis yang sebaya dengan dia dan Nicorazón. Dari penilaian anjing tersebut, gadis itu bersekolah di sekolah mereka.
"Kamu yakin?" tanya Tomi setelah semua orang membaca yang diketik oleh anjing tersebut.
Lalu anjing itu menyuruh Tomi untuk mencuri data murid di sekolahnya. Yang merupakan murit pindahan. Ditemukan ada enam murit pindahan. Dan mereka semua tidak berada di kelas yang sama.
Anjing itu menunjukkan satu foto seorang gadis, yang menukar jiwanya. Semua orang yang ada di sana terperanjat, sebab anak itu terlihat sangat muda dan lugu. Mereka tidak bertemu dengan gadis itu di kantor polisi, sebab setelah memberi kesaksian gadis itu diperbolehkan pulang.
Tapi saat pulang ke rumahnya, gadis itu terkejut, sebab rumahnya telah dipasang garis polisi. Pelayan setianya sudah berada di dalam sel dan dituduh sebagai pencuri barang antik.
Dengan kekuatannya ia menarik para roh yang terikat padanya. Mereka dengan paksa mendekat pada gadis itu. Dan gadis itu membawa mereka ke tempat sepi.
"Apa yang terjadi di rumah?! Kenapa tidak ada dari kalian yang memberitahukanku ke sekolah?! Di mana pelayanku?!" tanyanya dengan murka.
Para roh tidak menjawab, membuat gadis itu murka. Dan dengan menyiksa para roh yang terikat padanya, akhirnya ia mengetahui kalau pelayannya dibawa polisi.
"Cepat bawa aku, atau aku akan membuat kalian merasakan sakit yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya!" ancamnya pada para roh yang terikat padanya.
Maka gadis itu pun di bawa pergi ke kantor polisi. Dan ia memakai kekuatannya. Membuat orang melihatnya sebagai orang yang berbeda. Tidak ada dari mereka yang berjaga, bertanya siapa dia, apa maunya dan kenapa dia bisa berada di sana. Padahal saat itu bukanlah waktu untuk berkunjung. Dan tidak ada yang boleh keluar masuk kecuali petugas.
"Buka pintunya," ujar gadis itu.
__ADS_1
Polisi yang terkena hipnotis hanya bisa melakukan seperti yang diperintahkan gadis itu. Dan wanita paruh baya yang ada di dalam sel pun bebas melenggang, keluar dari tempat tersebut. Setelah meninggalkan kantor polisi, kedua orang itu pergi ke tempat yang aman untuk mereka berdua berbicara.
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi Bibi."