
Dion dan Lina yang tiba lebih dahulu kebingungan melihat Teresia. Yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba seperti itu. Lina mencoba menyadarkan putrinya tapi usahanya sia-sia. Teresia menangis kesakitan. Lalu ia melarikan diri dari Lina dan Dion. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Ray mencegatnya.
Ray menangkap Teresia dan saat tangannya menyentuh tangan Teresia, roh yang ada di tubuh Teresia terpental keluar. Dan secepatnya kabur dari tempat itu. Teresia pingsan seperti orang tidur. Ray memeluk saudarinya untuk pertama kali.
Melihat adegan tersebut Lina dan Dion tersentuh. Mereka pun mendekat. Tapi saat mereka ingin memeluk keduanya Ray melepas Teresia dan menjauh. Lalu kembali ke kamarnya.
"Anak itu," ujar Dion yang kehabisan kata-kata.
Dengan cepat ia mendatangi kamar Ray, mengetuk pintunya. Ray membuka pintunya. Melihat tangan putranya, Dion mencoba menangkap tangan tersebut. Tapi dengan cepat Ray mundur.
"Ada apa denganmu? Apa kamu sangat membenci mama dan papa?" tanya Dion kesal bercampur rasa sedih.
Ray menggeleng.
"Lalu kenapa?" tanya Dion sambil melangkah mendekati putranya yang malah mundur.
"Jangan mendekat!" kata Ray tiba-tiba saat ia merasa tersudut.
"Memangnya kenapa?" tanya Dion tidak mau kalah.
Kini ia mencoba menangkap putranya yang terus menghindar dan mereka berputar-putar di ruangan tersebut seperti main kucing-kucingan.
"Papa jangan mendekat! Kumohon!" pinta Ray cemas.
"Katakan alasannya? Kamu bahkan memeluk saudarimu, tapi kenapa kamu tidak mau kami sentuh?" cecar Dion mencari penjelasan.
"Karena beda," jawab Ray yang masih berusaha mengelak dari papanya.
"Beda apanya? Kami juga keluargamu Ray!" kesal Dion merasa tidak dianggap.
"Bukan begitu," ujar Ray.
Lalu saat melihat peluang untuk kabur ia pun melarikan diri keluar dari kamar. Dan Dion mempercepat larinya sehingga Ray tertangkap olehnya. Ray menangis menutup matanya. Kesal!
"Papa! Papa akan celaka, sama seperti yang lainnya!" tangis Ray dalam pelukan Dion.
"Apa maksudmu?" tanya Dion tanpa melepaskan dekapannya.
"Jika papa menyentuhku, papa akan melihat yang tidak papa ingin lihat!"
__ADS_1
"Apa maksudmu?" ujar Dion memegangi kedua pipi Ray yang basah.
Tidak biasanya Ray seperti itu.
"Papa akan meninggal, atau pun setidaknya terluka. Karena setelah papa menyentuhku, papa akan melihat mereka dan mereka bisa melukai papa." isak Ray.
"Mereka siapa yang kamu maksud?"
"Apa papa tidak melihat mereka?" tanya Ray dengan suara yang mulai mereda.
"Siapa?"
"Mereka, roh halus yang memperhatikan kita saat ini." ujar Ray.
Dion melihat sekelilingnya.
"Apa yang mereka lakukan?"
"Saat ini mereka memang tidak melakukan apa pun pada papa, tapi nanti saat mereka punya kesempatan mereka akan menyakiti papa."
"Memangnya apa bedanya sekarang dan nanti?"
"Sekarang papa masih bersamaku, tapi saat papa jauh dariku, mereka pasti akan menyakiti papa seperti yang lainnya." isak Ray membayangkan hal yang buruk terjadi pada Dion.
Ray kehabisan kata-kata. Ia sudah tidak tahu harus berkata apa-apa dan semua sudah terlanjur saat Lina memeluknya dari belakang dan Dion memeluknya dari depan.
"Habis sudah," batin Ray mengutuk dirinya.
"Sudah jangan menangis lagi. Maaf papa dan mama membuatmu takut." ujar Dion.
"Aku tidak takut pada kalian, aku takut kehilangan kalian," batin Ray menjawab.
"Dan kami berjanji tidak akan menyakitimu, ya kan ma?"
"Iya pa, yang dikatakan papamu benar Ray. Kami menyayangimu. Jadi tidak perlu menjauh dari kami," ucap Lina sambil membelai rambut putranya.
"Tapi kalian dalam bahaya, mungkin kehangatan keluarga ini akan segera hilang saat kalian akhirnya harus meninggalkan dunia ini, tidak lama lagi." batin Ray berduka.
Ia pun kembali ke kamarnya setelah tangisnya reda. Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Pikirannya kalut. Tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Maafkan aku mama, maafkan aku papa." tangisnya.
Dion kini di kamar Teresia bersama Lina, menemani putrinya yang tertidur. Klara mendekati Lina dan mencoba menyentuhnya. Dia terlihat kebingungan. Tangannya tidak bisa menyentuh Lina. Diam-diam Dion melirik Clara yang tampak kebingungan. Lalu bersikap seolah-olah tidak melihatnya.
Ia sedang berpikir kenapa Teresia tiba-tiba jadi aneh. Lalu ia melihat jari-jari putrinya. Ternyata cincinnya sudah dilepas. Lalu ia melihat seluruh penjuru kamar dan melihat kotak kecil di atas meja. Saat dibuka ternyata isinya cincin.
Dion berpikir sejenak. Lalu memakaikan cincin tersebut ke jari manis putrinya. Dan seketika perlahan-lahan warna kulit putrinya kembali normal. Lina menatap seakan terkesima dan mereka akhirnya menyadari akan satu hal. Bahwa putrinya telah terikat takdir pada seseorang.
"Cincinya masih berfungsi," ujar mereka bersamaan.
Ada rasa lega tapi juga rasa cemas. Sampai kapan putrinya harus bergantung dengan cincin tersebut. Dan apakah saat ini Nicholas masih memakai cincinnya, sehingga cincin itu masih berfungsi. Dan jika tidak itu artinya Teresia hanya butuh cincin tersebut sebagai pelindungnya. Tapi jika iya maka akan menjadi masalah. Jika suatu hari Nicholas melepaskannya karena suatu alasan. Mungkin setelah ia mendapat tambatan hatinya, dan mau tidak mau harus melepas cincin tersebut, untuk menjaga hati kekasihnya.
Pelayanan yang mendengar keributan dan keluar akhirnya kembali ke kamar mereka masing-masing. Mereka masih sulit mencerna ucapan Ray. Tapi mereka berkesimpulan Ray tidak mau disentuh oleh siapapun.
Dion kini memikirkan ulang niatnya untuk menyekolahkan putrinya di luar. Mengingat putrinya yang ternyata masih memiliki masalah dan Lina setuju untuk tidak menyekolahkan Teresia dulu di sekolah biasa.
"Baiklah. Kita akan menyekolahkannya dari rumah, biar gurunya yang datang. Sehingga kita bisa mengawasinya." ujar Dion saat Lina mengatakan kalau Teresia tetap bisa sekolah. Tapi dari rumah seperti sebelumnya.
Hanya saja bedanya, kali ini ia akan diajari langsung oleh seorang guru, bukan hanya belajar sendiri di kamarnya. Sehingga sulit baginya untuk mengerti pelajarannya.
Esok harinya Teresia melakukan test untuk melihat seberapa banyak yang sudah ia pelajari. Sekaligus untuk tahu pelajaran kelas berapa yang cocok untuk diajarkan padanya.
Meski belajar dari rumah dan gurunya yang datang mengajar. Teresia tetap harus mengikuti peraturan sekolah. Belajar mengenakan seragam dan tidak boleh memakai perhiasan selama jam pelajaran. Tujuannya untuk memperkecil masalah jika saat proses belajar mengajar ada benda berharga yang hilang.
Tapi kemudian Dion dan Lina meminta ijin agar Teresia tetap boleh memakai cicin dengan alasan itu untuk kesehatannya. Dan akhirnya disetujui oleh guru yang membimbing Teresia secara langsung. Jadi Teresia besekolah di rumah dan tetap pakai cincin.
"Ingat, jangan pernah lepas cincin ini, walau apa pun yang terjadi," nasehat Lina pada putrinya.
Teresia pun mengangguk.
Sementara Ray kini pergi ke sekolah seperti biasa.
"Pa, kenapa anak itu masih ada di sekolah ini?" ujar anak kepala sekolah pada papanya.
"Pihak yayasan mengijinkannya setelah orang tuanya menyumbang peralatan olah raga untuk sekolah ini. Papa bisa apa?"
"Memangnya tidak ada cara ya untuk mengusirnya?" tanya gadis cantik tersebut.
"Ada, tapi kalau dia membuat masalah di sekolah ini. Masalah besar yang cukup membuatnya di keluarkan tanpa pertimbangan lagi. Setidaknya jika ada yang bisa membuatnya tampak seperti melakukan masalah besar." tutur kepala sekolah tersebut lalu duduk dan menyeruput kopinya.
__ADS_1
"Kalau masalah itu, serahkan saja padaku," ujar gadis itu tersenyum dengan licik.
Bersambung...