
Esperanza yang mengerti akan ucapan mereka mundur ke belakang. Tampaknya hal itu membuat kedua pria itu semakin bersemangat. Mereka pun akhirnya menyergap Esperanza. Dan mencoba melepas pakaian gadis itu.
Tapi tiba-tiba terdengar suara ledakan. Ada seorang pria yang menarik pelatuk dan meledakkan sebuah ruangan. Pria itu sempat menjalani tahap pencucian otak. Tapi sebelum itu terjadi, ia sudah lebih dahulu mematahkan jarinya.
Sebab ia tahu apa yang akan dilakukan padanya. Jadi ia membuat dirinya merasa kesakitan. Dan saat pencucian otak terjadi, rasa sakit menguasainya. Maka pencucian otak padanya pun menjadi gagal.
Hanya saja ia bersikap seolah dirinya, telah menjadi sama seperti yang lain. Dan ketika mendapat kesempatan, ia pun meledakkan gudang persenjataan para komplotan penjahat. Bersamaan dengan suara ledakan itu para pria yang telah menunggu kesempatan masuk ke tempat Esperanza disekap menyerbu tempat tersebut.
Dua orang pria yang hendak melakukan perbuatan jahat pada Esperanza berlari keluar. Melihat beberapa orang bersenjata masuk dan menembaki mereka. Dan pria bersenjata itu juga menemukan gudang tempat Esperanza disekap.
"Apa kalian baik-baik saja?" ujar pria bersenjata tersebut setelah memperhatikan Esperanza dan wanita yang bersamanya.
Esperanza diam saja. Tapi wanita yang bersamanya menjawab dan meminta tolong.
"Apa kalian datang untuk menolong kami? Tolong aku tidak bisa berdiri!" ujar wanita itu.
"Di sini juga ada korban!" teriak orang itu pada yang lain.
Esperanza dibawa ke suatu tempat. Bersama dengan wanita yang bersamanya. Seseorang membawa wanita itu dengan cara menggendongnya.
Dorado yang melihat kejadian tersebut melalui CCTV memilih untuk meninggalkan tubuh yang sedang ia tempati. Lalu mengajak Verde melakukan hal yang sama, yaitu meninggalkan tubuh yang ia rasuki.
"Kenapa kita tidak melawan mereka?" tanya Verde.
"Untuk apa?" tanya Dorado balik.
"Bukankah mereka menghancurkan gudang persenjataanmu?"
"Itu bukan gudang persenjataan yang sebenarnya. Biarkan mereka mengira kalau mereka telah menemukan tempat persembunyian kita. Dan dengan menangkap tubuh yang kita pinjam, mereka akan mengira sudah menangkap dalang peledakan selama ini. Hahaha!"
__ADS_1
Mendengar penuturan Dorado, Verde ikut tersenyum. Ia mengakui kelicikan dari Dorado yang memanfaatkan segala hal. Tapi kemudian ia tersenyum mengejek. Sebab melepaskan Esperanza yang katanya akan menjadi alat untuk mengatasi Gris.
"Hebat sekali, tapi apa kamu tahu kalau Esperanza kini bersama para pria berseragam itu!" ujar Verde.
"Kamu benar, tapi aku sudah punya salinannya," ujar Dorado.
Kini Dorado telah kembali ke tubuh aslinya. Tubuh aslinya berada di tempat yang jauh dengan tempat Esperanza disekap. Dengan tubuh aslinya, ia mengajak Verde yang juga sudah kembali ke tubuh aslinya ke sebuah ruangan operasi. Di sana tampak seorang gadis yang mirip dengan Esperanza.
"Dia yang akan mengantikan posisi gadis itu."
"Maksudnya?"
"Belum saatnya aku memberitahumu," jawab Dorado.
Beberapa jam kemudian tersiar berita tentang penangkapan penjahat yang merupakan orang yang selama ini dicari-cari pihak keamanan negara Te Apoyo. Dan ia juga merupakan penjahat yang dicari oleh seluruh dunia. Banyak negara yang merasa lega atas penangkapannya.
Para tim penyelamat yang berhasil menyelamatkan orang-orang yang diculik dan dijadikan sukarelawan untuk meledakkan diri mendapatkan penghargaan. Salah satu dari mereka adalah putra ketiga Gina.
Setelah mendapat penghargaan ia langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk orang-orang yang diculik. Mereka mendapatkan perawatan. Sebab banyak dari mereka yang terluka saat aksi penyelamatan.
Sulit untuk mengembalikan mereka pada keluarganya, sebab telah mengalami pencucian otak yang membuat ingatan tentang keluarga mereka hilang. Dan mereka harus melakukan terapi untuk mengembalikan ingatan mereka.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya putra ketiga Gina pada wanita yang bersama Esperanza.
"Aku sudah merasa lebih baik," jawab wanita itu.
Sebenarnya putra ketiga Gina masih ingin menanyai banyak hal pada mereka. Tapi tiba-tiba ia mendapat panggilan dari atasannya yang mengharuskannya pergi dari rumah sakit itu. Dan berpamitan pada wanita dan gadis yang menjadi korban tersebut.
Setelah putra ketiga Te Apoyo pergi, wanita itu mencari cara untuk menghubungi Te Apoyo. Dan ketika mendapatkan kesempatan, ia menghubungi Te Apoyo dan mengatakan kalau ia dan Esperanza baik-baik saja. Dan saat itu juga Te Apoyo mendatangi rumah sakit tempat mereka berada.
__ADS_1
Saat melihat Esperanza baik-baik saja, Te Apoyo merasa sangat lega. Tapi Esperanza tidak mengingatnya. Sebab mereka hanya bertemu sesaat di negara Esperanza.
"Kamu tidak mengenalku? Aku adalah Te Apoyo pemilik rumah sakit dan sekolah yang memberikanmu beasiswa," ujar Te Apoyo menyalami Esperanza dengan menggunakan bahasa negara Esperanza.
Wanita yang bersama Esperanza mengangguk. Barulah Esperanza menerima uluran tangan tersebut. Ia masih tampak gugup dan takut terhadap orang asing.
"Jangan takut. Sekarang kamu sudah aman. Kamu boleh menghubungi keluargamu agar mereka tidak kuatir," ujar Te Apoyo.
Setelah mendengar ucapan Te Apoyo gadis itu pun menerima ponsel yang diberikan oleh Te Apoyo. Mulanya ia bingung. Tapi kemudian Te Apoyo menghubungi pihak sekolah Esperanza. Dan pihak sekolah menerima panggilan tersebut.
"Esperanza?! Kamu selamat?!" tanya kepala sekolah Esperanza melompat dari kursinya.
Ia tidak menyangka Esperanza yang menaiki pesawat yang meledak kini tiba di negara tujuan dengan selamat. Hal itu segera disampaikan pada keluarga Esperanza. Dan disambut dengan gembira oleh kedua orang tua tersebut.
Kepala sekolah yang telah berada di rumah Esperanza kembali menerima panggilan setelah mengirim pesan pada Te Apoyo kalau ia telah tiba di rumah Esperanza.
"Halo, apa benar ini putriku?" tanya mama Esperanza dari seberang panggilan.
Mendengar suara lembut mamanya, Esperanza pun menangis haru. Dan mereka akhirnya melakukan panggilan vidio. Dengan menggunakan ponsel Te Apoyo dan ponsel kepala sekolah.
Melihat wajah putrinya, kedua orang tua itu merasa sangat bersuka cita, sebab selama ini mengira kalau putri mereka telah tiada. Menyesal telah memberi izin pada putri mereka untuk bersekeloh di luar negri.
Tapi kini mereka menyadari kalau itu sudah bagian dari takdir putri mereka. Sebab pada akhirnya, putri mereka tiba di negara tersebut. Dan yang lebih membahagiakan adalah, putri mereka baik-baik saja.
Kabar bahagia itu tidak diketahui oleh Gris yang kini telah berada di negara Te Apoyo. Sebab pemuda itu telah pergi meninggalkan negaranya dan ingin menuntut balas pada Te Apoyo.Saat melihat Te Apoyo keluar dari rumah sakit miliknya, ia pun memasuki rumah sakit tersebut. Ia tidak tahu kalau saat itu Te Apoyo mendapatkan berita baik tentang keberadaan Esperanza.
Gadis itu kini berada di rumah sakit lain Dan sedang bersama Te Apoyo. Orang tua Esperanza tidak bisa menghubunginya, sebab anak itu telah mengganti nomornya saat tiba di negara itu. Dan belum memberi kabar pada orang tua Esperanza. Sebab ia merahasiakan kalau dirinya pergi ke negara tujuan Esperanza.
Bersambung...
__ADS_1