Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Dorado


__ADS_3

Te Apoyo yang berada di ruangannya mendapat kabar tentang pasien tersebut. Lalu mendatanginya. Ia merasa heran, pasien yang sudah boleh pulang pada hari esok, kini malah sedang sakit parah. Keluarga pasien pun menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.


"Maaf untuk saat ini, saya belum bisa memberikan jawaban," jawab Te Apoyo.


Lalu memeriksa pasien tersebut dan memeriksa riwayat kesehatannya. Dan ternyata di ruanganan lain juga mengalami hal yang sama. Orang-orang yang dinyatakan sembuh tiba-tiba memperlihatkan gejala penyakit parah.


"Hahahaha, rasakan akibat mendekati gadisku!" ujar Roh Sahabat Esperanza.


Setelah puas mempermainkan kesehatan orang lain, maka sahabat Esperanza keluar dari tubuh yang ia rasuki dan kembali ke tubuhnya sendiri. Memandangi foto Esperanza yang ada di kamarnya. Lalu meraba di bagian pipi sambil tersenyum.


"Selamat malam sayang, semoga mimpi indah!" ujarnya. Dan ia pun pergi tidur.


Esok paginya Esperanza pergi ke sekolah seperti biasa dan sepulang sekolah ia akan membuka toko obat yang kuncinya diserahkan padanya. Sahabatnya kini sudah bekerja di sana, dan hal itu membuat masalah semakin bertambah. Setiap kali ada yang menyapa atau pun berbincang dengan Esperanza, maka sahabatnya akan kesal dan melakukan sesuatu pada mereka.


"Permisi, apa toko ini menjual obat herbal?" tanya seorang pelanggan baru.


"Ya itu benar," jawab Esperanza tersenyum.


Pelanggan itu membaca bukunya lagi. Dan membacakan apa yang sudah ia tulis. Esperanza dengan senang hati melayaninya. Berbeda dengan sahabatnya yang menatap tajam pada pelanggan baru tersebut. Sahabat Esperanza menebak kalau ia sepertinya tidak berasal dari negara mereka.


"Tunggu sebentar biar saya ambilkan obatnya," ujar Esperanza.


Saat Esperanza mengambil pesanan, Sahabatnya langsung menyerang pelanggan baru tersebut. Ia mengeluarkan roh yang menjadi budaknya untuk menyerang orang itu. Tapi orang itu tersenyum lalu mengeluarkan roh yang menjadi budaknya. Dan terjadilah baku hantam. Tapi segera hal itu dihentikan saat Esperanza muncul.


"Ini pesanan yang anda minta Tuan, apa ada lagi yang anda butuhkan?"

__ADS_1


"Tidak, terima kasih," jawabnya setelah membaca buku yang merupakan kamus dua bahasa.


Lalu ia membayar harga obat-obat tersebut. Saat keluar dari toko ia menatap tajam pada Esperanza yang sedang mencatat penjualan hari itu. Sahabat Esperanza merasakan ada sebuah ancaman. Dan dengan cepat ia melakukan sesuatu untuk mengusir orang tersebut.


"Ternyata tebakanku benar, dia adalah kelemahanmu, bodoh sekali," batin pelanggang yang memiliki usia sebaya dengan Esperanza dan sahabatnya.


Sementara sahabat Esperanza menyadari kalau pelanggan itu adalah orang yang berniat mencelakai mereka tempo hari.


"Aku tidak akan membiarkanmu mendekati gadisku!" batin sahabat Esperanza menatap tajam ke arah pelanggan yang baru saja keluar dari toko tersebut.


Setelah toko ditutup Esperanza dan sahabatnya pulang tapi di tengah perjalanan sebuah mobil truk kehilangan kendali dan hampir menabrak Esperanza. Dengan cepat sahabatnya menarik Esperanza sehingga tabrakan pun terhindari. Tapi hal itu tidak membuat sahabat Esperanza merasa tenang.


"Ayo kita harus cepat pulang," ujar sahabat Esperanza sambil menarik tangan gadis itu pergi.


Banyak orang yang menyaksikan kejadian itu, mengerumuni kendaraan yang telah menabrak sebuah batang pohon. Untuk melihat keadaan si supir. Sedangkan Esperanza melangkah ke depan dengan pandangan mata menggarah ke belakang. Ia ikut merasa penasaran.


"Apa maumu sebenarnya? Aku beri waktu sampai 24 jam untuk meninggalkan negara ini!" ujar sahabat Esperanza.


"Ternyata kemampuanmu cukup lumayan. Bagaimana kalau kamu bergabung denganku! Aku janji tidak akan mengganggu kekasihmu. Sesama keturunan ketujuh, sebaiknya kita bekerja sama," ujar pelanggan yang tadi ke toko tempat Esperanza dan sahabatnya bekerja.


"Perkenalkan namaku Dorado, siapa namamu?" tanyanya pelangan tadi siang pada sahabat Esperanza.


Meski cara pengucapannya kurang lancar, sahabat Esperanza bisa memahami ucapan Dorado. Tapi bukan menjawab ia malah menyerang Dorado.


"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Dorado terkejut.

__ADS_1


Meski serangan itu diluar dugaannya dia tidak terluka sedikit pun. Sebab roh yang terikat padanya, melindungi saat itu juga. Sahabat Esperanza terus saja menyerang, namun Dorado hanya melindungi dirinya, dan tidak menyerang sama sekali.


Merasa kesal sahabat Esperanza menyerangnya secara lagsung, tapi di luar dugaannya, Dorado balas menyerang. Dengan satu pukulan dari Dorado anak itu pun terpental jauh. Tubuh yang ia rasuki terluka. Dengan cepat ia melarikan diri dari sana.


Setelah ia melepaskan rohnya dari tubuh yang ia rasuki, tubuh itu langsung rubuh. Pemiliknya sadar dan kesakitan. Tulang punggungnya patah. Hal itu dapat dilihat oleh Dorado dengan sangat jelas. Meskipun jaraknya sangat jauh dan pandangannya dihalangi oleh pohon dan atap gedung. Dorado tersenyum.


"Aku rasa liburanku kali ini sudah cukup, saatnya ke tempat target yang sesungguhnya. Bukankah begitu?" ujarnya pada roh yang terikat padanya.


"Waktunya berangkat."


Dorado pun berangkat ke negara Te Apoyo, sepanjang jalan ia mempelajari bahasa negara Te Apoyo. Menulisnya di kertas lalu merekamnya. Sehingga ia bisa mendengarnya saat sedang bermain permainan di ponselnya.


Sementara sahabat Esperanza merasa sangat kesal. Ini pertama kalinya ia bertemu orang yang memiliki kekuatan yang setara, atau mungkin lebih kuat darinya. Rasa cemas membuatnya berpikir untuk lebih memusatkan perhatian untuk menjaga Esperanza.


Untuk memudahkan pekerjaannya, ia mencari tubuh orang yang lumpuh dari kepala hingga ujung kaki. Lalu memindahkan kelumpuhan orang itu pada orang suruhan Te Apoyo, yang bertugas untuk mengawasi Esperanza dan mengabarkan keadaannya. Sehingga orang itu tiba-tiba tidak bisa bergerak dari tempat tidurnya saat mendengar suara ponselnya yang berdering.


Pria itu mulanya masih bersikap tenang, ia pikir hal itu tidak akan berlangsung lama. Ia mengira mungkin otot-otot tubuhnya sedang kaku. Tapi setelah sekian lama, ia tetap tidak bisa bergerak dan ia mulai was-was. Rasa sakit menahan diri untuk tidak ke kamar kecil membuatnya putus asa.


Ia mencoba sekuat tenaga untuk mengerakkan tubuhnya, namun satu jaripun tidak bisa ia gerakkan. Saat siang hari tiba, ia masih mencoba untuk bertahan. Namun setelah sore hari ia memutuskan membuang air kecil di celananya.


Dan karena ia tinggal menyendiri dan tidak ada yang mengenalinya ia hanya bisa berharap dapat bergerak esok hari. Ia menahan lapar dan haus. Setelah lelah berteriak dan tidak ada orang yang mendengarnya. Jadi ia memutuskan untuk lebih banyak tidur agar bisa menghemat tenaga.


Namun di hari kedua ia tidak lebih baik. Ia terbangun lagi karena bunyi panggilan di ponselnya. Dan ia tidak bisa tidur lagi meskipun ponselnya sudah tidak berdering. Batrai ponsel itu telah habis.


"Apa yang terjadi padaku? Kemarin kartu ATMku tiba-tiba terkuras habis. Sekarang tubuhku tiba-tiba tidak bisa bergerak sama sekali!" batinnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2