
Nicorazón berusaha melihat ke bawah, mencari tahu siapa yang memegangi kakinya, namun ia tidak melihat apa-apa. Ia berusaha naik ke permukaan tapi kakinya kini tidak bisa ia gerakkan. Semakin ia berusaha berenang ke permukaan semakin ia tertarik ke dasar danau.
Ia hampir putus asa karena hampir kehabisan tenaga, hingga ada sebuah tangan menariknya ke permukaan dan membawanya ke tepi danau. Dia di baringkan di atas tanah. Seseorang memanggil-manggilnya dan menepuk pipinya.
Nicorazón terbatuk-batuk dan memuntahkan air yang sempat ia minum. Beberapa orang mengitarinya dan tapi ada banyak orang menatap ke arahnya. Mereka bersyukur melihat Nicorazón berhasil keluar dengan selamat.
Saat ia tenggelam orang-orang yang tadinya sedang asik bermain di tepi danau yang berair dangkal segera berlari ke luar danau. Sebab beberapa petugas penyelamat di danau tersebut memerintahkan agar semuanya segera keluar. Ada air berputar terlihat di tengah danau menandakan akan ada orang yang jadi tumbal hari ini.
"Kamu lihat tadi? Airnya tiba-tiba menjadi aneh," ujar pengunjung yang tadinya bermain di tepi di bagian yang berair dangkal.
"Iya aku juga lihat," kata pengunjung itu ketakutan.
Seketika danau yang tadinya membuat pusaran air kembali tenang. Beberapa orang yang sempat mengabadikan kejadian itu mengunggahnya ke akun sosial media mereka.
"Mana mungkin! Itu pasti editan!" komentar orang yang melihat kiriman tersebut.
"Aku pernah ke sana, mana ada pusaran air!" komentar yang lain menimpali.
"Kalau tidak percaya ya sudah!" jawab pemilik akun.
Nicorazón kini sudah bisa bernapas dengan normal. Pemandunya dan regu penyelam merasa tenang. Semua orang di suruh menjauh dari tepi danau. Beberapa orang yang ada di sana saling berbisik.
"Aku pernah dengar kalau danau ini selalu mengambil tumbal, tapi baru kali ini aku melihat kejadian yang mengerikan seperti tadi," ujar pengunjung yang memakai kaca mata.
"Ia, aku juga sering dengar kalau danau ini selalu mengambil tumbal, tapi anehnya danau ini selalu ramai dikunjungi wisatawan," timpal wanita bermata sipit.
__ADS_1
"Itu karena di hari tertentu meski kamu berenang dari ujung ke ujung kamu akan baik-baik saja," ujar seorang pria tua yang membawa pernak-pernik yang terbuat dari tempurung kelapa.
"Sepertinya anak itu, bukan orang sini. Dia pasti mengalami hal-hal yang aneh," kata pria penjual pernak-pernik tersebut.
"Kejadian seperti apa kek?" tanya gadis yang berkaca mata.
"Macam-macam. Kalau berfoto di patung gadis yang ada di sana, ia bisa merasakan kalau patung itu bernapas seperti hidup. Dan jika ia pergi ke kedai yang sebelah sana, ia akan melihat ibu dan anak makan seperti orang kelaparan," kata kakek itu menjawab.
"Dulu katanya di danau itu ada istana yang megah. Pemiliknya seorang raja, yang menikahi seorang gadis lalu mengurungnya di menara agar tidak ada yang melihatnya. Sepanjang hari gadis itu menangis. Hingga suatu hari air matanya menetes ke tanah. Dari tetesan air matanya terbentuk sebuah kawah yang membuat istana amblas masuk ke tanah," kisah kakek itu lalu minum seteguk air mineral sebelum melanjutkan ceritanya.
"Meski istana telah amblas gadis itu tetap tidak bisa keluar dari menara, walau tinggi menara sudah sama dengan tanah yang ada di sekitarnya. Karena kakinya di ikat dengan rantai," tutur kakek tersebut sambil memegang dagunya.
"Lalu?" tanya gadis bermata sipit.
Dua gadis itu pun membeli kalung yang terbuat dari tempurung kelapa tersebut. Dan si kakek pergi lagi ke tempat lain. Mencari seseorang yang akan mendengarkan ceritanya yang berakhir membeli dagangannya.
"Huh, berdagang itu memang berat kalau hanya mengandalkan tempurung kelapa yang dibentuk jadi perhiasan, tapi kalau dijual dengan mitos, laris juga ternyata," gumamnya.
Tanpa ia sadari kisah yang ia karang adalah kisah yang pernah terjadi.
Nicorazoón dan pemandunya memilih pulang setelah kejadian tersebut. Dalam keadaan basah kuyup. Mereka melintas di jalan daerah gadis berkepang dua berjualan. Tidak tahu dari mana seekor kucing hitam melompat di bagian depan mobil sebelum melompat lagi ke seberang dan akhirnya terlindas oleh mobil truk.
Pemandu wisata menghentikan kendaraan mereka. Ia merasa akan ada masalah jika mereka terus melanjutkan perjalanan. Maka mereka akan ke sial.
Ia turun ke jalan, mengambil bangkai kucing yang sudah seperti adonan kue. Remuk dan tidak berbentuk. Lalu menguburkan kecing tersebut di tanah. Dan menandai gundukan tanah tersebut dengan membuat pagar ranting mengelilinginya.
__ADS_1
Esperanza melirik ke arah luar melihat ada mobil parkir di tepi jalan di depan toko tempat ia bekerja. Ia sempat melihat wajah Nicorazón sesaat. Dan saat ia memalingkan mukanya, Nicorazón berpaling ke arah toko obat herbal dan melihat gadis itu sedang melayani pembeli.
Di kediamannya Dion dan Lina sedang kuatir, karena nomor Nicorazón tidak bisa dihubungi. Ponselnya jatuh di dasar danau begitu juga dengan dompetnya.
"Apa yang anak itu lakukan sekarang? Kenapa tidak bisa dihubungi? Nomor orang yang mengantarkannya juga tidak bisa dihubungi," ujar Dion cemas.
Pasalnya Primavera sudah dari tadi menghubungi nomor Nicorazón karena ia merasakan firasat buruk. Namun Nicorazón tidak mengangkat ponselnya. Dan Te Apoyo juga jadi ikut tidak tenang, mengingat anak itu suka ugal-ugalan.
"Papa, apa keberadaan Nicorazón sudah diketahui?" tanya Te Apoyo.
"Belum, kata istri dari pemilik kendaraan yang ia sewa, nomor suaminya juga tidak bisa dihubungi," jawab Dion yang membuat putranya malah semakin cemas.
"Pasti terjadi sesuatu!" gumam Te Apoyo.
Ia pun pulang dari rumah sakit secepat mungkin lalu pergi bersama istrinya ke negara Esperanza. Rasa kuatir mengalahkan rasa kesalnya meski beberapa minggu lalu putranya menyebabkan kecelakaan beruntun yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban luka-luka.
Sehingga Te Apoyo harus merawat dan membayar uang ganti rugi pada pihak korban. Meskipun tidak sampai menimbulkan korban jiwa tapi Nicolas hampir saja dijebloskan ke penjara akibat tingkah lakunya. Mengingat nama baik Te Apoyo cukup dikenal banyak orang, membuat pihak korban bersedia melakukan jalur damai.
Saat ini dalam benak Te Apoyo kalau putranya juga melakukan hal yang sama. Sehingga ia ingin membawa putranya pulang secepatnya. Sebab jika tidak ia kuatir putranya akan benar-benar masuk penjara kali ini. Dan ia pun tidak yakin bisa menolong putranya.
Nicorazón kini melanjutkan perjalanan pulang setelah pemandunya kembali sehabis menguburkan jasad kucing tersebut. Dan ternyata di sebuah tikungan, mobil mereka ditabrak oleh truk yang membawa kayu besar.
Mobil truk yang membawa kayu tersebut oleng saat sang supir berusaha berbelok. Sehingga posisinya kini bagian depan kedaraan yang ditumpangi Te Apoyo berada tepat di samping mobil truk. Tali yang mengikat kayu lepas dan mengakibatkan kayu-kayu tersebut menimpa mobil yang ditumpangi Nicorazón.
Bersambung...
__ADS_1