Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Pengawas


__ADS_3

Sudah lebih dari sehari orang yang diminta mengawasi Esperanza belum memberi kabar. Ditambah lagi masalah di rumah sakit yang makin rumit. Banyak keluarga pasien yang dinyatakan sembuh, tiba-tiba harus menjalani operasi untuk bertahan hidup.


"Aku minta temui orang itu dan kirimkan segera kabar tentang Esperanza padaku."


Orang yang mendapat perintah dengan segera mendatangi kediaman orang yang tiba-tiba lumpuh tersebut. Berkali-kali pintu diketuk dan nomor ponselnya dihubungi, namun tidak ada tanda-tanda kalau ia ada di rumah. Mereka pun pergi dan mengawasi Esperanza sebagai pengganti orang yang mengawasi Esperanza.


"Apa pengawal pertama mengalami hal buruk ya?" tanya Pengawal kedua pada pengawal ketiga.


"Aku tidak tahu. Tapi ini aneh, dia sampai bisa kebobolan ATM tanpa sadar. Dari rekaman dilihat kalau dia sendiri yang menguras ATM miliknya. Tapi kenapa ia harus mengurasnya sampai habis?"


"Kamu benar, itu uangnya dan ia tidak perlu takut pada siapapun. Tidak akan ada yang menangkapnya jika pun uang itu tetap di rekeningnya. Meski dulu dia mantan preman."


"Hah, entahlah. Menurutmu siapa anak laki-laki yang ada di samping gadis itu?"


"Setahuku kalau anak itu teman sekelas Esperanza."


"Apa ada yang mencurigakan dari anak itu, kalau ia akan melukai Esperanza?"


"Aku rasa tidak, kita sudah mengirim kabar tentang Esperanza. Sekarang sebaiknya kita mencari pengawal pertama!"


Maka keduanya pun melakukan pencarian. Melewati jalanan yang ada di kota itu.


"Apa kamu sudah menemukan jejaknya?" tanya pengawal pertama.


"Belum, aku sedang berada di daerah terpencil. Siapa tahu ia terkena masalah dan dibuang kemari."


Kedua petugas pengawal berpencar untuk mencari pengawal pertama. Tujuannya untuk mempersingkat waktu. Namun hasilnya percuma saja. Dan saat malam tiba mereka kembali ke rumah yang ditempati pengawal pertama. Mereka mengira kalau pengawal pertama sudah pulang.


Mereka pun mengetuk pintu sambil memanggil nama samaran pengawal pertama. Tapi tetap tidak ada jawaban.


"Apa mungkin dia pergi lagi?"

__ADS_1


"Kita tunggu saja di sini kalau begitu."


Sudah hampir 2 jam mereka menunggu tetap tidak ada yang datang. Akhirnya mereka bosan dan muncul ide yang tidak terpikirkan dari tadi oleh mereka yaitu menerobos masuk dengan cara paksa. Sebab mereka tidak berhasil mengunakan kunci palsu untuk membuka pintu yang mengenaka kode rahasia tersebut.


Pintu pun dihancurkan tepat dibagian kunci. Tapi tetap saja pintu belum terbuka. Pengait dari dalam terlalu kuat untuk mengunci pintu dari dalam. Sehingga mereka memilih untuk menghancurkan pintu tersebut sekalian dengan palu besi.


"Hey kamu! Kami dari tadi di luar dan kamu enak-enakan tidur di dalam!"


"Ugghh ini bau sekali! Apa kamu ngompol dicelana?"


"Ini aneh, kenapa dia diam saja?"


Mereka berdua pun memeriksa pengawal pertama dan mengetahui kalau denyut jantungnya sangat lemah. Dan terlihat bibirnya sangat kering. Orang itu sekarat. Segera mereka membawanya ke rumah sakit terdekat. Sehingga pengawal pertama mendapatkan perawatan yang lebih baik.


Setelah mendapatkan perawatan, keesokan harinya ia pun membuka matanya. Rasa senang melihat rekan kerjanya terlihat dari binar mata pengawal itu. Namun kemudian ia menjadi sedih setelah menyadari kalau ia mengalami lumpuh total.


"Tuan, kami mendapat kabar buruk. Pengawal pertama ternyata mengalami kelumpuhan. Sangat sulit baginya untuk berbicara."


Maka Te Apoyo mengirimkan orang yang akan menjemput pengawal pertama. Begitu tiba di negaranya Te Apoyo sendiri yang membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit, orang itu melakukan serangkaian tes. Dan mengejutkan bagi Te Apoyo, bahwa pengawal yang sehat tiba-tiba mengalami lumpuh total.


"Tidak masuk akal. Riwayat kesehatannya sangat bagus. Tapi kenapa bisa tiba-tiba lumpuh total."


Te Apoyo menjadi sangat pusing. Masalah di rumah sakit makin bertambah. Karena ia dituduh melakukan 'Mall Praktek' oleh keluarga pasien. Pada akhirnya ia harus membayar uang damai dengan keluarga pasiennya.


Bukan hanya itu pasien mulai meragukan kualitas rumah sakit itu. Dan memilih memindahkan keluarga mereka yang masih sakit. Meski masih ada yang bertahan di sana karena mereka memegang kartu gratis berobat. Yaitu orang-orang yang tidak mampu.


Saat Te Apoyo sedang pusing memikirkan masalah pasiennya, ternyata Nicorazón memiliki masalah juga di sekolahnya.


Saat ia pergi ke kamar kecil ia melihat kepala di dalam kloset saat ia hendak menyiram air kecil. Dan karena ketakutan ia segera keluar dari ruang sempit tersebut. Mencoba berpikir jernih, ia pun mencuci mukanya, dan tiba-tiba ia melihat darah mengalir dari saluran air.


"Huh? Sebenarnya apa kemampuannya? Ilusi seperti itu saja sudah membuatnya takut," gumam seorang Pemuda keluar dari persembunyiannya.

__ADS_1


Sementara Nicorazón mengirim pesan pada Brillo dan memintanya keluar dari kelas. Tapi Brillo tidak mau. Karena saat ini dia sedang mengawasi kamera pengawas. Sehingga Nicorazón akhirnya pergi ke kelas.


Cukup lama ia berdiri di luar kelas karena ragu. Dan Brillo bisa melihatnya dari kamera pengawas. Lalu putra Malika tersebut mengirim pesan pada Nicorazón, menyuruhnya agar ia masuk ke kelas.


Nicorazón berjalan perlahan.


"Hei, kamu!" ujar Guru yang sedang mengajar pada jam itu.


Nicorazón terkejut dan berhenti di tempat. Ia mengira kalau gurunya melihat darah yang membasahi wajahnya.


"Kenapa masuk tanpa mengetuk pintu? Keluar!" perintah Guru tersebut.


Nicorazón keluar lalu mengetuk pintu. Sebelum dipersilahkan masuk, dia tetap berdiri di ambang pintu. Dan masuk setelah dipersilahkan.


"Kenapa baru masuk sekarang? Bukankah dari tadi jam masuk kelas sudah berbunyi?" tanya Guru itu lagi.


"Maaf Pak, bakso yang sama makan hari ini terlalu pedas, jadi saya harus mengeluarkan air besar," ujar Nicorazón tanpa ragu.


Teman-temannya tertawa mendengar kebohongannya. Ia bahkan tidak berani makan bakso pesanannya saat melihatnya seperti bola mata dan mie yang ada di dalam mangkuknya terlihat seperti cacing. Dan kuahnya terlihat seperti darah. Pada saat itu Brillo tidak sedang bersamanya. Karena ia sedang berada di kantor kepala sekolah.


"Lain kali jangan menghubungiku jika kita di sekolah," kata Brillo saat di rumah Nicorazón.


Tapi ucapannya tidak didengarkan oleh Nicorazón yang sedang kesal. Ia masah karena Brillo menjauhinya seharian. Bahkan tidak mau datang saat disuruh datang.


"Hei, jangan salah paham. Hari ini aku ke kantor kepala sekolah untuk menaruh alat perekam dan kamera pengawas di sana."


Nicorazón menghentikan kegiatannya yang pura-pura belajar.


"Kamu dengar tidak? Aku tidak mau ada yang mengetahui kemampuanku. Jadi kalau kamu sedang ada masalah cobalah menghubungiku secara sembunyi-sembunyi. Jangan pernah memanggil namaku saat kamu ada masalah," kata Brillo.


"Iya, aku tidak akan pernah minta bantuanmu. Jadi sekarang juga kemas barang-barangmu dan pergi dari kamarku!" usir Nicorazón yang sedang salah paham dengan maksud Brillo.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2