Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Kabur dari Rumah


__ADS_3

Saat Dion pergi, ternyata tanpa Lina sadari kalau Teresia kabur dari rumah. Jadi dia hanya fokus pada persedian toko yang mulai berkurang. Setelah memeriksanya dan mencatat barang yang akan dipesan, ia pun menghubungi pihak yang menyediakan pasokan bagi tokonya.


Setelah pekerjaan di toko selesai dan pengunjung mulai sepi, barulah ia kembali ke rumah, untuk menyiapkan makan malam. Tapi ia belum terpikir kalau Teresia tidak ada di rumah. Ia mengira putrinya sedang tidur setelah makan.


"Teresia, ayo makan sayang," panggilnya seraya mengetuk pintu. "Mama mandi dulu ya, nanti kita makan sama-sama, atau kamu duluan yang mandi?"


Tidak ada jawaban dan suara sama sekali, Lina mulai merasa tidak nyaman dan akhirnya mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci. Lina terkejut mendapati kamar putrinya yang kosong. "Sayang, kamu di mana?"


Lina mencari di setiap ruangan, siapa tau putrinya sedang menghindarinya. Tapi ternyata, setelah berkali-kali memeriksa ia tidak melihat putrinya. Saat memeriksa pintu belakang baru ia sadari ada tangga yang bersandar di dinding. Tidak seperti biasanya.


Mata Lina membelalak, rasa cemas menguasainya. "Teresia!!!" teriaknya sekuat tenaga. Sambil menaiki tangga ia terus memanggil putrinya. Dan setelah sampai di bagian tangga yang tinggi, Lina menoleh ke seberang dinding. Tidak ada siapa pun di situ. Tidak seperti yang disangkakan Lina, kalau Teresia mungkin terjatuh di balik tembok.


Teresia menuruni tangga lalu mengubah posisi tangga yang berdiri bersandar di dinding menjadi terletak di lantai. Tujuannya agar tidak ada pencuri yang memanfaatkan tangga tersebut. Lalu ia berlari keluar rumah sambil memanggil-manggil putrinya.


Ini pertama kalinya Teresia kabur dari rumah. Dan tentu saja Lina sangat panik, mengingat kalau putrinya marah padanya karena meninggalkannya di rumah keluarga yang bertukar cincin dengannya.


Lina menangis dan berteriak seperti orang gila di sepanjang jalan dan menarik perhatian orang sekitar. "Ada apa Lina? Putrimu kenapa?" tanya orang-orang yang mengenalnya. "Putriku kabur, apa kalian melihatnya?" tanya Lina pada mereka.


Dion yang tinggal tidak jauh dengannya jadi keluar dari tokonya. Dan menghampiri Lina, saat ia mendekati Lina dan menyentuhnya, istrinya justru menepisnya dengan kasar. "Ada apa, apa yang terjadi?" tanya Dion tanpa menghiraukan perlakuan Lina padanya.

__ADS_1


Lina diam saja sambil terus memanggil putrinya. Dion melihat ke sekeliling, mencari orang yang mencurigakan. Ia kuatir ada yang mengenal Lina dan dirinya dan ingin menyakiti mereka berdua. Dan mengira kalau putri Lina adalah anak mereka berdua. Dion semakin cemas. Ada rasa menyesal telah mendekati istrinya secara langsung. Karena merasa nasib sial pada istrinya adalah akibat kehadirannya.


Kemudian Dion menarik tangan Lina. Ia berniat membawanya masuk ke rumah Lina. Meski Lina meronta, tentu saja tenaga Dion lebih kuat. Merasa tidak mampu melawan, Lina menjerit dan minta tolong orang yang ada di sekitar.


"Hei mau kau apakan dia?!" teriak orang-orang yang ada di tempat itu.


"Lepaskan dia atau kami akan menghajarmu."


Ucapan-ucapan yang terlontar sebagai ancaman pada Dion. Tapi Dion tidak memperdulikannya sama sekali. Lina kemudian menggigit tangan Dion dan berhasil melepaskan diri. Dan hal itu dimanfaatkan orang-orang untuk menghajar Dion.


Mulanya Lina membiarkan hal tersebut sampai orang-orang semakin liar menghajar Dion. Bahkan ada yang sampai menggunakan kayu untuk memukul Dion. Melihat Dion berlumuran darah dan tidak mampu melawan lagi, barulah Lina menghentikan mereka. Dan akibatnya dia ikut terluka.


Pakaian Dion dibuka dan bekas luka jahitan di tubuhnya terlihat sangat jelas. Dan setelah memastikan bagian-bagian yang terluka dan mengobatinya, barulah ia boleh dikunjungi.


Lina mendatangi ruangan Dion setelah lukanya diobati dan diperiksa jika tidak ada luka serius yang dideritanya. Saat melihat Dion yang terbaring di ranjang rumah sakit, ia melihat banyak bekas jahitan di tubuh Dion.


Selama ini Dion menutupinya dengan memakai baju kaus dengan kerah tinggi dan memakai kemeja berlengan panjang di bagian luarnya. Sehingga tidak ada yang dapat melihat bekal luka yang hampir rata di tubuhnya.


Lina membelalakkan matanya seakan tidak percaya pada yang ia lihat. Tampak jelas lukanya dijahit dengan sembarang. Dan sepertinya berulang-ulang disayat di bagian yang sama. Tanpa terasa Lina merasakan mual di perutnya. Ia tiba-tiba ingat akan mimpinya tentang suaminya di sebuah ruang operasi.

__ADS_1


"Apa maksudnya ini, apakah mimpiku waktu itu benar-benar terjadi?" batin Lina. Ia pergi ke kamar kecil di ruangan tersebut. Mengeluarkan rasa mualnya. Kini ia benar-benar pusing dan akhirnya menelepon Ros, dan menceritakan apa yang baru saja terjadi.


Sementara teman Ben tiba di rumah sakit, setelah mendapat keterangan dari warga jika Dion dibawa ke rumah sakit. Tentu saja ia heran dan tidak percaya, tapi setelah memanggil nomor Dion, dan menemukan ponselnya ada di rumah, barulah ia mulai berpikir dua kali.


Sebelum ke rumah sakit, ia menutup toko. Dan segera meluncur ke rumah sakit terdekat tanpa sempat berganti pakaian lebih dahulu. Sebenarnya ia ingin sekali cepat tidur karena lelah bekerja seharian. Tapi mendengar kabar tentang Dion rasa lelahnya pun hilang.


Lina tekejut melihat teman Dion. Sebab selama ini dia tidak pernah muncul di hadapan Lina. Dan tidak lama kemudian Ros datang. Dan Ros terkejut melihat teman Dion. Ros tentu mengenalinya sebab ia dulu sering datang ke rumah Dion saat masih jadi karyawan Dion. Tanpa perlu memperkenalkan diri akhirnya mereka cuma diam dengan pikiran mereka masing-masing.


"Apakah sudah lapor polisi?" tanya Ros kemudian pada Lina untuk memecahkan kekakuan di ruangan itu. Teman Dion memilih diam dan tidak ikut campur. Yang ada di pikirannya adalah Dion segera siuman.


Ia juga tidak bertanya apa-apa pada Lina, sebab Dion telah menceritakan hubungannya dengan Lina menjadi buruk akibat salah paham. Ia tidak mau menambah suasana yang kacau menjadi keruh. "Pergilah biar Dion aku yang akan mengurusnya!" ucapnya datar.


Lina merasa bersalah dan tidak berani membantah. Ia keluar ruangan itu dengan Ros lalu pergi ke kantor polisi untuk melaporkan orang hilang. Tapi polisi mengatakan, sebelum tiga hari menghilang, laporan itu tidak bisa diterima.


Sementara di tempat lain, Teresia kedapatan mencuri makanan karena ia sangat lapar. Dan karena ia berbuat onar maka orang-orang yang ada di tempat itu mengikatnya setelah berhasil menangkapnya. Dan orang-orang yang melihat penampilan Teresia yang sangat menyeramkan menjadi sangat takut dan marah.


"Kita bakar saja dia!" teriak mereka.


Lalu orang-orang mengambil ban bekas dan menumpuknya di tanah lalu membuat api yang besar. Setelah api itu membesar mereka melingkarkan beberapa ban bekas ke tubuh Teresia dan hendak melemparkannya ke api. Merasa dirinya terancam Teresia berteriak dengan kencang.

__ADS_1


"No quiero!!!"


__ADS_2