Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Bersentuhan


__ADS_3

Di saat Dion dan temannya sedang mencari cara untuk mengambil kembali perusahaannya. Ray kini mulai berbaikan dengan mamanya. Kelly mulai bersikap baik pada Ray, walau hatinya terluka jika mengingat ucapan Gina untuk mengembalikan Ray pada orang tua kandungnya.


Terkadang ia berharap kalau keluarga Ray sudah tidak ada, dengan begitu ia bisa bersama Ray untuk selamanya. Tanpa kuatir seseorang akan mengambil dan membawa Ray jauh darinya.


Sudah lima hari Emile dirawat di rumah sakit dan sudah diijinkan pulang ke rumahnya. Ray merasa heran, pagi ini saat ia membuka mata, sosok mahluk yang belum pernah ia lihat berada di sekitarnya muncul di balik punggung mamanya. Terlihat seperti tengkorak berjalan yang memakai jubah hitam panjang menutupi kakinya. Dan tengkorang tangan kanan memegang gagang sabit yang panjang.


Ray tidak tau itu sosok mahluk apa. Bahkan sosok tersebut seperti tidak pernah mengalihkan pandangannya kemana pun selain kepada Emile. Ray mencoba mengusirnya, namun sosok itu seperti tidak mendengarkannya dan tidak takut padanya.


Hari ini Ray dan Emile pulang diantarkan oleh Gina sampai ke rumah kontrakan mereka. Setelah membantu Ray membersihkan rumah, Gina membawa Ray pergi berbelanja bahan makanan. Ray mulanya ragu untuk pergi sebab mahluk berjubah itu tidak mau pergi dari sisi mamanya. Tapi dia bingung mengatakannya pada Gina, dan akhirnya ikut membantu Gina berbelanja.


Selesai berbelanja, Ray tidak sabar ingin pulang. Melihat Ray yang tampak gusar membuat Gina berbelanja seadanya. Setelah sampai di rumah mereka memasak bersama. Dan bersantap siang bersama.


"Oh iya, aku harus pulang dulu ya, anak-anakku mungkin sudah pulang sekarang." ujar Gina setelah selesai membantu Ray membersihkan peralatan makan.


"Iya, makasi ya Gin," ujar Emile lemah.


Ray mengantarkan Gina sampai ke depan pintu, lalu mengawasi Gina sampai mobilnya menghilang di ujung gang. Saat tinggal mereka berdua di rumah rasa canggung mulai datang. Dan Emile yang menyadari hal itu berpura-pura tidur.


Melihat Emile tidur, Ray cuma bisa diam saja, ia mencoba menyibukkan diri dengan membuka buku pelajarannya. Tanpa ia ketahui ada orang yang berniat jahat padanya.

__ADS_1


Dan orang tua teman-temannya sedang mencarinya untuk membalas dendam. Lalu para orang tua murid itu sepakat, untuk menyewa orang yang akan menghabisi Ray seperti anak-anaknya. "Berapa pun harga yang diminta akan kami bayar, asalkan orang ini segera meregang nyawa!" ujar mereka geram.


Malam hari tiba, sosok mahluk yang menatap Emile dengan lekat masih setia menemani Emile. Ray sesekali mencuri pandang pada mahluk itu. Ia tidak tau harus berbuat apa. Jadi ia cuma bisa mengawasinya saja. Dan karena ia berbagi penglihatan pada Teresia, maka saudari kembarnya pun bertanya padanya.


"Siapa itu yang ada di belakang mamamu yang ada di rumahmu?" tanya Teresia.


"Aku juga tidak tau, ia muncul pagi ini saat aku membuka mataku," jawab Ray.


Teresia dan Ray berbagi penglihatan di saat-saat tertentu dan oleh sebab itu Teresia tidak melihat saat Ray dipukul oleh mamanya. Dan terkadang yang melihat adalah roh wanita yang tinggal di tubuhnya. Saat rohnya tertidur, tentu saja apa pun yang roh wanita itu lihat tidak dapat ia lihat. Tapi ia akan melihatnya di dalam mimpinya. Maka saat ia bangun, apa yang dilihat oleh roh di tubuhnya akan ia ingat. Hanya saja ia akan berpikir kalau itu adalah mimpi.


"Aku dulu pernah melihat yang seperti itu dan anehnya, dia tidak terserap ke dalam tubuhku." ujar Teresia mengingat-ingat.


Ray yang kelelahan mengawasi mamanya akhirnya tertidur di lantai. Ia biasa tidur beralaskan sehelai tikar. Sebab Emile tidak membelikannya kasur. Dan saat Emile terbangun dan mendapati Ray tidur di depan pintu kamarnya terkejutlah ia. Semakin ia merasakan perih di dadanya, betapa ia berbuat tidak adil selama ini.


"Ray...bangun..." panggilnya dengan lembut. Ray yang mendengar namanya dipanggil terkejut dan dengan cepat bangun dari tidurnya. Emile terdiam sesaat karena sudah membangunkan Ray yang tertidur.


"Jangan tidur di sini," ujarnya kemudian.


Ray yang merasa dilarang tidur di depan pintu mamanya, menggulung tikarnya dan beranjak pergi. Saat ia pergi Emile menarik tangannya. Kulit mereka pun saling bersentuhan. Menyadari tindakannya Emile pun melepas pegangannya dengan segera. Lalu melirik kiri dan kanan. Beruntung ia tidak melihat siapa-siapa di sana.

__ADS_1


Semua itu karena Ray mengusir roh yang selalu mendekatinya. Dan Emile juga tidak bisa melihat sosok tengkorak berjubah yang mengikutinya. Emile mengulang kembali tindakannya. Ia tidak yakin dengan yang ia lihat sekarang. Maka ia mengambil tangan putranya sekali lagi. Dan tidak melepaskannya.


Ray bisa merasakan apa yang dipikirkan oleh mamanya, saat wanita yang di depannya melirik ke setiap sudut ruangan. Tapi ia lega sebab mamanya tidak ketakutan. Meski demikian ia heran saat Emile tiba-tiba memeluknya dengan erat.


Ingin rasanya membalas pelukan hangat itu. Tapi ia bingung dan akhirnya hanya diam saja. "Tidurlah dengan mama," ujar Emile kemudian.


Ray diam saja, sepertinya ia salah dengar. Lalu kemudian Emile menariknya ke ranjangnya. Dan mendudukkan Ray di sana. "Tidur di sini!" perintahnya. "Lalu mama akan tidur di mana?" tanya Ray penasaran. "Mama juga tidur di sini," jawab Emile.


Segera ia naik ke ranjang dan berbaring. "Ayo tidur, tunggu apa lagi?"


Ray masih bingung dan tidak percaya, tapi ia ikut berbaring di sisi mamanya. Matanya menatap langit-langit. Tingkah mamanya terasa aneh untuknya. Ia pun mencoba memejamkan matanya. "Seandainya ini mimpi, aku harap esok pagi, semua baik-baik saja." gumamnya dalam hati.


Melihat Ray memejamkan matanya, Emile pun menyelimuti putranya tersebut dengan perlahan agar ia tidak terbangun. Saat hendak memejamkan matanya ia lebih dahulu melihat kiri dan kanan. Setelah merasa aman barulah ia memejamkan matanya.


Mulanya ia kesulitan, sebab bayang-bayang mahluk halus terus membayan di pikirannya. Jadi dia membuka matanya lagi. Dan lagi-lagi ia melihat setiap sudut kamar. Saat melirik Ray yang tidur nyenyak, tangannya bergerak menyentuh pipi putranya tersebut.


Dan pandagannya berkeliling, seperti pencuri. Saat ia yakin tidak ada yang berubah, ia menggeser tubuhnya lebih dekat pada putranya. Dan memberanikan diri memeluk putranya. Saat memeluk putranya dengan lembut, ia pun mencoba memejamkan matanya.


Setelah beberapa menit akhirnya ia tertidur, dan saat ia tertidur Ray terbangun kembali.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2