Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Melarikan Diri


__ADS_3

Seekor tikus mengigiti sebuah kotak kayu, kotak yang berisi pakaian gadis itu saat pergi dari rumah. Tikus tersebut menarik pakaian yang ada di dalam kotak tersebut. Ia menarik pakaian yang berbentuk segitiga berenda dan ada bekas bercak darah yang menempel di sana.


Tikus itu bermaksud menggunakan benda itu menjadi sarangnya. Saat tikus itu keluar dari kotak dan membawa pakaian berbentuk segitiga berenda itu keluar rumah tersebut, seekor kucing melihatnya dan hendak menerkamnya. Lalu tikus tersebut meninggalkan pakaian berenda itu. Di pintu depan.


Pada hari itu, Te Apoyo mendatangi rumah teman semasa kuliahnya pada saat siang menjelang sore hari. Dan ia melihat pakaian berenda di depan pintu rumah tersebut. Ia merasa sangat canggung melihat benda itu berada di tempat yang tidak semestinya.


Tapi sekilas ia sempat memperhatikan kalau kain berenda itu memiliki noda darah yang sudah mengering. Te Apoyo pun mengernyitkan dahinya. Ia hampir saja menyentuh benda itu jika seseorang tidak menepuk pundaknya.


"Te Apoyo! Sedang apa kamu di sini? Dari mana kamu tahu kalau aku tinggal di sini?" tanya pemuda yang tinggal di rumah itu.


"Aku? Oh, aku sengaja mencarimu. Dan aku pernah melihatmu masuk ke arah gang ini. Jadi aku bertanya pada beberapa orang yang aku temui, dan mereka mengatakan kalau kamu tinggal di sini," jawab Te Apoyo.


"Oh iya, apa kamu tinggal sendirian di sini?" tanya Te Apoyo seperti penyilidik.


"Ehm? Ada apa?" tanya pemuda tersebut heran.


Pemuda itu sempat berpikir, kalau teman semasa kuliannya ini mendengar suara dari dalam rumah. Te Apoyo berdehem lalu menunjukkan pakaian berenda itu. Pemuda itu melirik Te Apoyo sekilas. Lalu ia menjadi pucat, secepatnya ia mencari jawaban yang masuk akal.


"Maaf sepertinya, aku ketahuan," ujarnya cemas.


Lagi-lagi Te Apoyo mengernyitkan keningnya.


"Aku mohon, tolong rahasiakan hal ini dari siapa pun. Sebenarnya aku punya kelainan, aku punya rasa tertarik pada pakaian bekas wanita. Aku, benar-benar berusaha untuk merubahnya. Dan aku sedang mengikuti terapi psikologi," ujar pemuda itu dengan nada sedih.


Te Apoyo jadi merasa canggung. Ia berdehem dua kali, sebelum akhirnya angkat bicara. Kalau ia akan merasahasiakan kelainan temannya itu. Dan mendukungnya untuk merubah kebiasaan dari kelainan yang diidap teman kuliahnya tersebut.

__ADS_1


Lalu Te Apoyo pun pergi setelah mengatakan kalau ia sebenarnya ingin mengajak temannya tersebut bekerja dengannya. Tapi setelah mengetahui kalau temannya memiliki kelainan, ia pun menundanya.


"Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu," ujar Te Apoyo pamit.


Baru saja beberapa menit Te Apoyo pergi dari tempat itu, pemuda itu langsung memungut pakaian itu secepat mungkin. Lalu membuka pintu dengan terburu-buru. Masuk ke kamar tempat gadis itu disekap.


Melihat gadis itu masih terikat dan mulutnya masih tertutup perekat, ia pun merasa lega. Ia menempelkan jari telunjuknya di antara bibir dan hidung gadis itu. Merasakan hembusan napas yang cukup pelan.


Ia melepaskan ikatan gadis tersebut. Lalu membangunkannya. Dan menyuruhnya untuk makan roti yang ia bawa. Tidak ingin dipaksa, gadis itu pun menurut saja. Setelah selesai makan ia pun kembali diikat.


Tapi tidak diikat di tempat tidur. Karena pemuda itu membawanya diam-diam ke suatu tempat. Gadis itu terlalu lemah untuk melawan. Jadi ia hanya bisa pasrah, saat pemuda itu memasukkannya ke dalam mobil.


Di tengah perjalanan, gadis itu mengatakan kalau ia ingin buang air kecil. Gadis itu berpikir mungkin ia bisa kabur jika ia berhasil keluar dari mobil tersebut. Mulanya pemuda itu tidak memperdulikannya, hingga akhirnya gadis itu tidak menahannya lagi.


Ia sengaja mengeluarkan air asin tepat di tengah jalan yang tidak ramai, tapi juga tidak sepi. Sebab jika terlalu ramai, besar kemungkinan pemuda itu akan tetap memilih meneruskan jalan. Tapi jika terlalu sepi gadis itu tidak akan bisa meminta pertolongan siapa pun. Mobil pun dihentikan di tempat itu juga, sesuai dengan perkiraannya.


Pemuda melepas ikatan gadis itu, karena tadinya kedua tangan gadis itu diikat kebelakang. Dan pemuda itu memilih keluar saat gadis itu membersihkan air asin tersebut. Saat mengeringkan air pesingnya, gadis itu menyempatkan diri membuka laci mobil itu, dan menemukan benda yang menurutnya akan berguna.


"Sudah selesai atau belum?!" tanya pemuda itu sambil melihat ke dalam mobil.


Lalu pemuda itu pergi kebagian belakang mobil untuk mengambil pengharum ruangan. Saat ia kembali ke depan ia tiba-tiba diserang oleh gadis itu. Matanya di tusuk dengan pena, dan karena tidak waspada gadis itu lari lewat pintu yang lain.


Dengan gemetaran gadia itu berlari menjauh dari mobil tersebut sambil berteriak minta tolong. Pemuda itu menangkap dan membekap mulutnya. Namun teriakan gadis itu sudah menarik perhatian orang-orang yang ada di kedai yang berada di pinggir jalan.


"Hei, ada apa ini?" tanya orang yang tadinya ada di kedai.

__ADS_1


"Bukan apa-apa pak, dia adik saya dan dia kurang waras," jawab pemuda itu.


Gadis itu menggigit tangan pemuda itu sekuat mungkin. Ia berpikir pemuda itu akan melepaskan mulutnya. Namun ternyata pemuda itu justru menahan mulutnya lebih kuat.


Gadis itu meronta-ronta, membuat orang yang ada di situ merasa kuatir. Apalagi mata pemuda itu berdarah.


"Nak ayo ke kedai saja, biar kami panggilkan dokter, bahaya berkendara dengan kondisi seperti itu," pesan orang-orang yang ada di situ.


Tapi ia tidak memperdulikan ucapan orang tersebut. Saat itu ada orang yang mengenali gadis tersebut. Ia adalah pemilik kedai. Tidak tahu kenapa tiba-tiba pemilik kedai berteriak.


"Penculik! Dia itu penculik!" pekiknya.


Orang-orang yang ada di situ saling pandang. Pemuda itu bersiap melarikan diri. Setelah gadis itu masuk ke dalam mobil. Ia hendak menyalakan mobipnya dan kabur.


Gadis itu membuka pintu yang lain dan karena mulutnya bebas ia kembali berteriak minta tolong. Pemuda itu menarik rambut gadis itu. Pemuda itu memukulnya dan menyuruhnya diam. Gelagat pemuda itu semakin mencurigakan, membuat orang yang ada di situ menariknya keluar dari dalam mobil.


"Hei! Kalian mau apa?! Lepaskan aku!" teriak pemuda itu.


"Jangan dilepaskan! Dia itu pasti penculik!" ujar pemilik kedai.


Pemuda itu merasa kalau ia tidak dapat lagi mengelak, dan mencoba melarikan diri. Tapi para warga tidak melepaskannya begitu saja. Beramai-ramai mereka memaksanya untuk mengaku. Apalagi saat itu gadis tersebut pingsan.


Pemuda itu dilaporkan ke pihak berwenang, yang kebetulan saat itu laporan diterima oleh paman Nicholas. Dan secepatnya ia menuju lokasi.


Paman Nicholas mengenali gadis tersebut, dan karena kondisinya yang memprihatinkan, ia pun dibawa ke rumah sakit terdekat yaitu rumah sakit milik Te Apoyo.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2