Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Mencari Pelaku


__ADS_3

Ke esokan harinya, tibalah waktu Dion melakukan cek kesehatan pada dokter keluarganya. Dari hasil tes darah ditemukan zat yang berbahaya bagi tubuhnya. Alangkah terkejutnya Dion dengan fakta tersebut.


"Apa bapak mengkonsumsi obat-obatan tertentu? Saya menyarankan bapak untuk menghentikannya sekarang juga. Itu tidak akan baik untuk kesehatan bapak dan juga keturunan bapak nantinya. Saya kuatir mereka bisa mengalami cacat mental nantinya kalau bapak terus mengkonsumsi obat tersebut." kata Dokter.


"Obat apa yang dokter maksud, saya tidak sakit, jadi untuk apa saya mengkonsumsi obat?" tanya Dion.


Dokter lalu menjelaskan ini dan itu kepada Dion. Ia juga menjelaskan zat yang terkandung dalam darahnya dan bagian vital apa yang diserang. Dion yang selama ini meresa sehat tentu terkejut dan tidak menyangka. Tapi ia bingung, kenapa zat itu ada di dalam darahnya sementara ia tidak pernah mengingat mengkonsumsinya.


Dan setelah hasil cek up Lina keluar Dion sadar, kalau ada yang sudah menaruh obat-obatan tersebut pada makanan atau pun minuman yang mereka konsumsi. Saat itu sadarlah mereka berdua kalau yang di alami Lina adalah bagian dari pengaruh obat tersebut.


Tentunya itu adalah dua kabar yang berlawanan. Kabar baiknya Lina ternyata tidak benar-benar diganggu mahluk halus dan kabar buruknya ada yang manusia yang mengganggu mereka. Tapi siapa mereka dan kenapa? Itu adalah pertanyaan yang berputar-putar di dalam kepala Dion seketika itu juga.


Mereka pun jadi was-was akan janin yang dikandung oleh Lina. Tapi untungnya saat di periksa janin yang ada di dalam kandungan Lina ternyata baik-baik saja.


Mereka pun pergi setelah itu, mereka tidak langsung pulang ke rumah. Dion yang merasa was-was memutuskan membawa Lina ke suatu tempat. Tempat yang menurutnya aman dari orang yang akan mencelakai Lina. Dion berpikir kalau, sebelum ia menemukan orang yang telah meracuni mereka, sebaiknya Lina tidak pulang ke rumah dulu.


Dion tentu saja curiga pada para pelayan di rumahnya.Tapi ia tidak bisa menerka siapa pelakunya. Jika Bibi Kinan pelakunya tentu kasus ini hanya bisa di tutup. Tapi kalau ternyata pelakunya orang lain, maka kasus ini harus diusut tuntas. Dan orang tersebut harus mendekam di sel tahanan.


Dion melajukan mobilnya ke sebuah Vila yang terletak di tepi danau yang indah. Pemandangan yang asri sangat menyegarkan bagi setiap mata yang memandang. Vila itu di jaga oleh sepasang suami istri. Tempat itu sering Dion kunjungi kalau sedang berlibur. Ia dan teman-temannya sering menginap di situ.


Lina pun akhirnya diperkenalkan pada mereka berdua. Ini pertama kalinya Lina datang ketempat itu, tapi karena keakraban yang mereka suguhkan Lina jadi merasa seperti sudah lama tinggal di situ. Banyak foto-foto Dion yang terpajang di situ. Baik foto saat ia sendirian mau pun foto dengan teman-temannya. Juga ada foto-foto orang tua Dion. Tapi tidak ada foto dari anak-anak kakek yang lainnya.


Lalu Dion membawa Lina ke sebuah kamar yang luas, kamar tersebut adalah kamar yang sering Dion pakai, atau tempati jika ia sedang ke vila itu. Meskipun tidak di tempati, kamar itu sangat bersih, karena di rawat dan di bersihkan setiap hari. Dulu Dion suka datang tiba-tiba, oleh karena, itu sepasang suami istri yang menjaga rumah itu, tidak terjejut atau pun heran saat tuannya datang tiba-tiba.

__ADS_1


Mereka justru senang dan selalu berharap tuannya datang, agar vila itu ramai. Hanya saja kalau datang maka pekerjaan jadi bertambah. Tapi setelah itu mereka pun mendapat bonus. Jadi mereka tidak pernah mengeluh sama sekali.


"Sayang aku pamit dulu, sekarang kamu pasti sudah lebih bisa berpikir jernih. Semua yang kamu lihat hanyalah pengaruh obat bukan kenyataan, mengerti?" pamit Dion.


"Iya, aku mengerti." jawab Lina.


Dion pun melangkahkan kakinya keluar vila itu. Berat baginya meninggalkan Lina sendirian di situ. Ia menimang-nimang apakah membawa Lina ikut degannya lalu kembali lagi ke vila. Tapi kemudian saat ia berpaling Lina melambaikan tangannya dan tersenyum. Senyuman yang mengatakan kalau ia baik-baik saja.


"Hati-hati ya sayang..."


Dion pun akhirnya melangkah maju dan menyetir mobilnya dan pulang sendirian. Sesampainya di rumah para pelayan kebingungan karena hanya tuannya yang pulang. Seorang pelayan menawarkannya minuman, namun ia tolak. Kini semua pelayan jadi tersangka sebelum Dion menemukan pelakunya.


"Nyonya dimana tuan?" tanya seorang pelayan.


Dion bahkan tidak mau siapa pun yang ada di rumah itu tau keberadaan istrinya. Ia kuatir mereka akan mengganggunya pula nanti di sana. Dion berfikir lebih baik extra hati-hati agar tidak ada yang akan ia sesali nantinya.


Dion segera melangkah ke kamarnya dan beristirahat sejenak. Tidak terasa hari sudah petang, dia ketiduran. Dion pun melanjutkan aktifitasnya seperti biasa. Makan malam sudah siap dimasak di dapur. Saat itu Dion mengingat ucapan dokter keluarganya.


"Apakah anda mencurigai seseorang yang menaruh obat ini ke dalam makanan atau pun minuman anda. Karena zat ini rasanya tawar, dan ia tidak akan mengubah rasa asli dari makanan tersebut, meskipun dicampurkan dalam jumlah yang banyak. Itu adalah ke istimewaan zat ini. Dan juga tidak berbau."


Dion segera pergi ke ruang kerjanya. Ada layar monitor di sana. Dion pun memutar rekaman CCTV yang dipasang di setiap sudut ruangan. Beberapa menit ia menatap layar monitor dan belum menemukan hal yang mencurigakan. Ia pun mengusap wajahnya dan bersandar di sandaran kursinya.


Setelah sekian lama ia pun merasa lapar. Ia keluar dari ruang kerjanya dan mengunci ruangan itu. Saat keluar ruangan, Vivina ternyata ada di depan pintu ruangan kerjanya.

__ADS_1


"Makan malamnya sudah siap tuan," kata Vivina.


"Tadi saya ke kamar untuk memanggil tuan, dan juga sudah berkali-kali mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Jadi saya kemari." celoteh Vivina.


"Aku ada janji makan di luar." kata Dion singkat.


Dan Vivina mengerti akan maksud tersebut bahwa, tuannya tidak akan makan malam di rumah malam ini. Vivina tentu merasa kecewa. Ia mendenguskan napasnya dengan kasar, saat tuannya sudah berlalu.


Dion memakai setelan kemeja biru dengan celana panjang warna hitam. Ia terlihat tampan bak model malam itu. Lalu ia pun pergi keluar untuk makan malam. Para pelayan yang menyaksikan tuan merasa ada yang lain dari tuannya. Tidak biasanya ia seperti itu.


Sejak dulu Dion bukanlah anak yang suka makan di luar. Karena dulu ia justru lebih sering mengajak teman-temannya makan-makan di rumah kakek. Mereka akan memanggang daging dan membakar jagung di halaman belakang rumah kakek. Dan setelah menikah Dion juga tidak pernah makan di luar.


"Apa tuan dan nyonya bertengkar? Makanya nyonya tidak pulang ke rumah."


"Wah jangan-jangan nyonya di pulangkan ke rumah orang tuanya."


"Lina mana punya orang tua, dia itu anak yang di besarkan di panti asuhan." kata Vivina.


"Hei Vina, jaga ucapanmu, kau tidak boleh sembarangan menyebut nama nyonya seperti itu, tidak sopan tahu!" kata Ros.


Vivina mendengus kesal karena ditegur oleh Ros di depan teman-temannya. Segera ia pergi dari tempat itu lalu menelepon majikan keduanya.


"Hallo nyonya...ada kabar baru yang ingin aku sampaikan," katanya pada nyonya keduanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2