
Lalu Gina melihat pandangan Nicorazón teralihkan. Pandangan itu mengarah ke Esperanza dan Gris yang ada di taman.
"Apa kamu mau menyingkirkan anak itu?"
"Nenek! Nenek bilang apa? Memangnya Esperanza salah apa?" tanya Nicorazón terkejut.
"Bukan Esperanza, tapi anak yang di sebelahnya." Gina menunjuk ke arah Gris.
"Nenek, jangan bicara yang tidak-tidak. Apa untungnya buat nenek?" tanya Nicorazón tidak suka.
"Apa kamu tidak ingin bersama Esperanza? Apa kamu tidak menyukai Esperanza?" Nicorazón terdiam sesaat lalu menghela napas dengan berat.
"Nenek berhentilah menggodaku, dia sudah punya pacar. Untuk apa aku jadi orang ke tiga dalam hubungan mereka? Memangnya nenek suka ada orang ke-tiga dalam keluarga nenek?"
Gina terkejut mendengar jawaban Nicorazón seketika ia jadi ingat masa lalunya. Di mana suaminya suka selingkuh. Dan membuatnya hampir putus asa, sampai menelantarkan anak-anaknya. Untuk menghilang setres.
"Nicorazón sudah dewasa ya, sudah mendekati sifat Nicholas yang dulu," ujar Gina tersenyum.
"Nenek bicara apa?" tanya Nicorazón tidak suka dibandingkan dengan Nicholas.
Gina hanya tersenyum lalu membelai rambut Nicorazon dan kemudian mencubit pipi anak itu dengan gemas.
"Bukan apa-apa," jawabnya kemudian.
Setelah Gina pergi Nicorazón tetap tidak bisa melepas pandangannya dari Esperanza. Dan saat memandang gadis itu jantungnya berdebar-debar. Ada rasa senang di sana. Tanpa sadar ia membayangkan kalau ia dan Esperanza yang duduk di kursi taman itu.
*Plak
"Apa yang aku pikirkan?" gumam Nicorazón menampar pipinya sendiri.
Lalu ia membaringkan tubuhnya di sofa. Hal itu dilihat oleh Te Apoyo.
"Apa kamu lelah? Ayo papa antar ke kamar!"
"Kamar?" Sejenak Nicorazón teringat ketika bangun berada di ranjang yang bersebelahan dengan ranjang Esperanza.
Wajahnya tiba-tiba memerah.
"Kamu demam? Sepertinya fisikmu lebih lemah dari anak seumuranmu ya," ujar Te Apoyo saat membantu putranya berdiri.
"Papa, haruskah menghina putra sendiri baru papa puas?!" Nicorazón menjadi jengkel.
"Papa hanya perhatian kenapa dibilang menghina? Buat apa papa menghina putra papa sendiri?" Te Apoyo tetap membantu putranya berdiri dan berjalan ke arah kamar.
Tapi ke kamar yang berbeda dengan kamar tempat tidur Nicorazón saat terbangun.
__ADS_1
"Bukankah kamarku di sana?"
"Tidak lagi, di sana akan jadi kamar Esperanza dan Estrella."
"Apa Esperanza dan orang tuanya akan tinggal di sini?" tanya Nicorazón merasa senang.
"Iya, untuk sementara jika mereka tidak pulang ke negaranya." Seketika wajah senang itu hilang.
Te Apoyo mengetahuinya tapi diam saja. Sementara beberapa orang sedang menata beberapa barang-barang. Dan mengatur ulang posisi kamar.
"Apa tidak apa-apa mereka tidur terpisah?" tanya Primavera saat malam tiba.
"Tidak apa-apa. Kuharap dan semoga saja."
"Bagaimana kalau tengah malam salah satu dari mereka terbangun dan 'pasangan' mereka tidak ada?" tanya Primavera lagi pada suaminya.
"Sudahlah, pikirkan saja pasangan mama. Tidak bisakah kita berhenti memikirkan pasangan lain saat hanya kita berdua di kamar?"
Kata-kata pancingan yang membuat wajah Primavera memerah dan ke esokan paginya terlambat bangun karena lembur dengan kegiatan malam mereka. Untungnya Nicorazón dan Esperanza tidak ada yang terbangun satu orang pun.
Esperanza merasa lebih segar dan pagi-pagi ia sudah bangun. Namun belum terbiasa dengan kamarnya. Tempatnya tidur adalah yang ditiduri oleh Nicorazón sebelum pindah ke kamarnya sendiri. Sedangkan Estrella mengunakan tempat tidurnya selama ini.
"Aku tidak suka tidur di sebelah sana," ujar Estrella malam sebelum tidur.
Sadar kalau ini bukan kamarnya ia pun tidak banyak protes dan tidur di tempat Nicorazón selama ini berbaring.
Mengingat kejadian semalam, Esperanza segera beranjak dari tempat tidurnya. Membasuh muka lalu pergi ke dapur. Mendapati beberapa wanita sedang menyiapkan makanan.
"Sayang, kamu sudah bangun? Apa kamu lapar?" tanya Gina langsung menarik kursi kosong dan mendudukkan Esperanza di sana.
"Tidak nyonya, saya ha_" ucap Esperanza terputus karena Gina menempelkan jari telunjuknya di bibir gadis itu.
"Bukan nyonya, panggil saja nenek," pinta Gina membelai rambut Esperanza.
Lalu mencium pipi gadis itu, tanpa perduli jika Esperanza merasa heran. Namun mamanya tersenyum saja melihat ulah Gina pada putrinya.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Esperanza kemudian.
"Oh, tidak usah," jawab mama Esperanza saat putrinya datang dari belakang.
Dan Gina meletakkan ke dua tangannya di pundak Esperanza.
"Sayang, kamu duduk saja, dan itu sudah sangat membantu," kata Gina lagi.
"Atau kamu sudah sangat lapar ya?" tanya Gina kemudian. Esperanza dengan cepat menggeleng.
__ADS_1
Esperanza hanya duduk saja akhirnya di kursi tanpa tahu harus berbuat apa. Sebenarnya ia merasa sangat sungkan. Tapi Gina terus saja melarangnya setiap kali ia ingin membantu.
"Saya permisi dulu," ujar Esperanza kemudian.
Dia memilih keluar dari daerah dapur dan melihat Primavera yang sedang menemani Nicorazón. Anak itu masih kesulitan berjalan. Jadi dia masih melatih kekuatan otot-otot kakinya dan otot tubuh lainnya. Dan itu membuatnya cepat lelah.
"Apa kakimu masih kaku?" tanya Primavera.
"Ya tapi sudah lumayan."
"Cobalah berjalan satu kali putaran lagi, mama mau ke dapur mengambil air putih untukmu," ujar Primavera yang dijawab dengan anggukan.
Esperanza yang memperhatikan dari balik jendela. Gerakan Nicorazón mirip anak baru belajar berjalan. Hal itu membuatnya tertawa geli.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Gris tiba-tiba muncul dari belakang.
"Eh, Gris. Bukan apa-apa," jawab Esperanza cepat.
Gris menoleh ke luar jendela dan menatap Nicorazón yang sedang berjalan perlahan lahan dengan alat bantu.
"Apa dia terkena penuaan dini?" ejek Gris yang membuat Esperanza menyikut perutnya.
"Jangan bicara seperti itu!" ujar Esperanza cepat.
"Apaan sih, pacarmu itu, kan aku. Bukan dia."
"Tapi tidak boleh bicara yang tidak-tidak. Apalagi terkesan menghina. Tidak sopan," ucap Esperanza mengingatkan.
"Iya, iya baiklah. Tapi mau sampai kapan kita di sini terus?"
Esperanza menatap Gris menerka maksud pertanyaannya.
"Apa kamu tidak ingin pulang ke negara kita?" tanya Gris dengan wajah tampak meringis.
"Apa mereka menindasmu?" tanya Esperanza penuh selidik.
"Bukan masalah itu. Tapi aku memang tidak suka di sini," jawab Gris memeluk Esperanza.
Gina yang melihat adegan itu berdehem lalu mendekati Esperanza. Gris melepas pelukannya. Gina menarik tangan Esperanza.
"Makanan sudah siap, waktunya makan. Berpelukan saja tidak akan membuat perut kenyang," sindir Gina.
Lagi-lagi tanpa sadar Gina membuat Esperanza makin tidak nyaman. Sebab melihat Gris yang memasang wajah sedih. Jadi Esperanza berusaha menolak dengan halus.
"Nyonya, saya belum lapar. Kalian saja duluan yang makan. Kami bisa nanti saja. Oh iya, itu Nicorazón sendirian di luar. Apa tidak diajak makan?"
__ADS_1
Bersambung...