Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Kantor Polisi


__ADS_3

Gadis itu dibawa ke rumah sakit oleh beberapa orang yang menemukannya dan beberapa orang melaporkan pada keluarganya. Kedua orang tuanya terkejut dan merasa sedih. Lalu pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi putrinya.


"Aku sudah bilang, jangan melawan para preman, lihat sekarang keadaan putri kita. Pasti ini ulah mereka," isak si istri pada suaminya.


Suaminya sempat bercerita kalau ia dan para pekerja melawan para preman yang mengacau di proyek. Istrinya justru menjadi marah padanya setelah mendengar cerita suaminya.


"Mareka bisa saja balas dendam, apa kau tidak berpikir? Apa yang akan mereka lakukan nanti?" ujar si istri menyalahkan tindakan suaminya kala itu.


"Tapi jika kita diam saja, maka para preman itu akan semakin merajalela ma," ujar suaminya.


"Kau bukan pahlawan yang menumpas kejahatan. Kau lihat, bahkan aparat tidak berani bertindak sembarangan. Sekarang ditangkap, tapi nanti kembali dilepaskan begitu saja. Dan setelah lepas, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan pada kita,"


Suaminya mengingat kata-kata istrinya tempo hari. Ada penyesalan dalam dirinya melawan para preman tersebut. Tapi kini nasi sudah jadi bubur. Putrinya sudah menjadi korban kekejaman para preman tersebut.


Te Espere dan beberapa temannya yang mendapat kabar tentang gadis itu menjenguk ke rumah sakit. Tapi keluarga korban menolak kunjungan mereka. Sebab putrinya selalu berteriak dan menangis setiap kali ia bangun. Mereka akhirnya pulang tanpa bertemu dengan gadis itu.


Para pekerja di proyek pembangunan pabrik sepatu, yang mengetahui kabar buruk tentang, anak gadis dari salah satu rekan mereka, akhirnya memilih mengundurkan diri. Dan memilih kembali bekerja pada reintenir. Hal itu disambut dengan gembira oleh para reintenir.


Tapi sebagian dari mereka masih memilih bekerja seperti biasa. Dan kejadian yang sama terjadi pada keluarga yang bertahan. Anak mereka laki-laki mereka diculik dan dianiaya. Dan anak perempuan mereka jadi mainan para preman.


Papa Malika menjadi geram setelah mendengar hal tersebut. Ditambah lagi pihak berwenang yang dirasa melalaikan tugasnya.


Ia pun menemui mandor untuk memanggil keluarga yang menjadi korban penganiayaan. Tapi tidak ada keluarga yang berani menjadi pelapor. Mereka memilih bungkam. Dan papa Malika tidak bisa membuat laporan ke Kantor Polisi jika ia bukan keluarga korban.


"Maaf pak, bukan kami tidak menanggapi laporan bapak, tapi tanpa bukti dan saksi kami tidak bisa menangkap pelaku." ujar kepala polisi tersebut, pada papa Malika.

__ADS_1


Papa Malika keluar dengan perasaan kecewa. Akhirnya ia menghubungi Te Apoyo untuk membahas tentang pembangunan pabrik tersebut. Dan meminta agar untuk sementara pembangunan dihentikan terlebih dahulu. Te Apoyo pun tidak bisa menolak ide tersebut.


Mereka memberi santunan pada keluarga korban melaui mandor bangunan. Untuk meringankan sedikit beban keluar dari para pekerja. Dan memberikan juga santunan pada tiap orang yang pernah bekerja di proyek tersebut. Dua hari setelah proyek ditutup, bahan bangunan akhir dikembalikan ke toko bahan bangunan.


Siang itu Te Espere pulang dari sekolah bersama Te Apoyo dan yang lainnya. Mereka diganggu oleh beberapa preman. Sebelum pengawal mereka sempat menolong, sekelompok pemuda setempat datang. Mereka menghajar preman tersebut.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya pemuda-pemuda tersebut.


"Ya kami tidak apa-apa, terima kasih sudah menolong kami," ujar mereka.


Salah satu dari pemuda itu maju lalu memperkenalkan diri. Ia mengulurkan tangannya sambil menyebutkan namanya. Dan hal yang sama dilakukan oleh mereka. Kecuali Te Apoyo.


Saat Te Espere menjabat tangan pemuda tersebut. Ia pun terkejut melihat masa lalu pemuda itu. Dan menyadari kalau ternyata pemuda itu adalah anak dari salah satu reintenir di kota itu. Tapi karena ia menempuh pendidikan di kota besar, maka orang-orang tidak mengenalnya.


"Terima kasih sudah menolong kami, tapi apa yang akan kita lakukan pada preman tersebut?" tanya Te Apoyo tiba-tiba.


"Tentu saja kita akan melaporkannya ke pihak berwajib," jawab pemuda itu.


"Kalau begitu kami ikut untuk menjadi saksi," ujar Te Apoyo.


"Maaf kami harus pulang," ujar teman sekelas Te Apoyo yang ketakutan mendengar kata kantor polisi.


Mereka juga takut jadi saksi untuk membuktikan kejahatan preman tersebut. Sehingga hanya Te Apoyo dan Te Espere yang akhirnya menjadi saksi untuk melaporkan kejahatan para preman yang menganggu mereka. Pemuda tersebut sangat senang sebab Te Espere ikut dengannya ke kantor polisi.


Sesampainya di kantor polisi, para preman di serahkan ke polisi dan Te Apoyo serta Te Espere memberikan keterangan. Setelah memberikan keterangan kepala polisi datang. Ia menyambut dengan gembira pemuda yang menolong Te Espere dan teman-temannya.

__ADS_1


"Om bangga ternyata keponakan om punya jiwa pahlawan," ujarnya sambil menepuk-nepuk pundak pemuda itu. Dan pemuda itu melirik Te Espere.


Kepala polisi mengerti kalau keponakannya ingin disanjung di depan gadis yang ia sukai. Maka ia pun memuji-muji keponakannya itu yang menurut Te Apoyo sangat berlebihan.


"Permisi, pak apa kami sudah boleh pulang?" tanya Te Apoyo.


"Oh tentu saja," ujar kepala polisi tersebut.


Te Apoyo mengulurkan tangannya kepada kepala polisi dan kepala polisi menyambutnya dengan ramah. Te Apoyo pun memuji kepala polisi tersebut sebagai aparat yang baik dan sebagainya. Ia juga mengatakan rasa bangga bertemu kepala polisi yang tampak gagah dengan seragamnya.


Kepala polisi semakin merasa di atas awan. Ia tidak menyadari kalau Te Apoyo merencanakan pembalasan padanya setelah ia mengetahui kalau kepala polisi sengaja bertindak lambat pada laporan orang tua temannya yang diculik. Semua ia ketahui saat Te Espere lebih dahulu menjabat tangan polisi tersebut. Dan mereka saling berbagi informasi tanpa satu orang pun yang mengetahuinya.


Te Apoyo melihat banyak roh penasaran di ruangan itu yang penuh amarah dan dendam. Te Apoyo ingin membantu mereka untuk membalaskan dendam. Mereka adalah para tahanan korban salah tangkap. Dan juga sebagian dari mereka ditangkap atas kejahatan orang lain. Dan mereka meninggal saat sedang menjalani masa tahanan mereka di sel penjara.


Sebab mereka menjadi bulan-bulanan para tahanan yang ada di dalam sel. Mereka melakukan penganiayaan pada tahanan baru sebagai hiburan mereka selama menjalani masa kurungan. Dan pihak penjaga membiarkan hal itu terjadi berlarut-larut, hingga para tahanan baru yang tidak bersalah itu meregang nyawa.


Te Espere dan Te Apoyo diantarkan oleh pemuda tersebut. Dan di perjalanan pemuda itu bertanya tentang hubungan Te Espere dan Te Apoyo. Te Apoyo mengatakan kalau Te Espere adalah sepupunya yang pindah sekolah dari kota, karena keluarga mereka bangkrut.


"Tapi hanya Te Espere yang masih pindah lebih dahulu, sebab orang tuanya masih harus melunasi hutang-hutang mereka di kota," ujar Te Apoyo dengan wajah yang meyakinkan.


Seolah-olah ia sedang berada di panggung dan bermain drama di sekolahnya. Dan Te Espere memasang wajah sedih untuk membuat pemuda itu percaya pada bualan Te Apoyo.


"Memangnya berapa hutang orang tua Te Espere, siapa tahu kalau orang tuaku bisa membantu?" tanya pemuda tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2