Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Empedu


__ADS_3

Setelah kejadian tersebut, tidak ada lagi yang berani mengganggu mereka. Dan kebalikannya, banyak yang mencoba mengakrabkan diri pada mereka. Tapi tentu saja percuma. Sebab mereka tidak membutuhkan seorang penjilat.


"Hai Esperanza," sapa seorang gadis di perpustakaan.


"Kamu." Esperanza berkata sambil mengingat-ingat kalau gadis itu yang menolongnya dan Gris saat terlibat dengan anak-anak nakal beberapa hari lalu.


"Kamu masih ingat?" tanya gadis itu tersenyum. Tapi Gris tidak suka melihatnya.


Esperanza mengangguk. Lalu gadis itu mengundangnya datang ke acara ulang tahunnya yang akan dilaksanakan tujuh hari lagi.


"Masih lama. Jadi masih ada waktu untuk mengatur rencana kencan kalian," ujar Gadis itu lalu pergi.


"Buang saja," kata Gris.


"Itu tidak sopan," jawab Esperanza sambil membaca nama gadis itu di kartu undangan.


Brillo dan Nicorazón mengawasi Esperanza dari luar Perpustakaan sambil menikmati cemilan mereka.


"Ya, ampun kalian menghabiskan waktu hanya untuk mengawasi orang pacaran?" kata teman-teman Brillo.


"Bukan urusanmu," jawab Brillo tanpa menoleh.


"Bodoh," ejek mereka.


Tapi Brillo dan Nicorazón tidak perduli. Saat ini mereka sedang bertarung dalam sebuah permainan yang sama.


"Aku menang! Kalau begitu, aku mau bermain dulu. Kamu yang awasi mereka!" seru Brillo.


Nicorazón memilih menyetel musik dan saat itu ia melihat Gris keluar perpustakaan. Ia pun memutuskan masuk ke perpustakaan. Mencari Esperanza yang ternyata sedang memilih buku. Saat melihat Esperanza kesulitan mengambil sebuah buku. Ia pun membantunya.


"Terima kasih," ujar Esperanza.


"Tidak perlu sungkan," jawab Nicorazón.


"Maaf ya, sudah merepotkan keluargamu. Aku juga minta maaf. Gara-gara aku kamu di marahi nenek."


"Siapa yang perduli dengan hal itu. Mereka juga keluargamu," kata Nicorazón.


"Benar, kakek Nicorazón juga kakekmu," ujar Gris yang tiba-tiba muncul dari belakang Ezperanza.


"Neneknya juga nenekmu. Papanya juga papamu dan mamanya juga mamamu. Saat kita menikah nanti dia akan jadi kakak iparku," celoteh Gris lebih lanjut yang membuat Nicorazón menjitak kepalanya.

__ADS_1


"Hei, kenapa kamu marah?" tanya Gris sambil mencoba membalas Nicorazón tapi dihalangi oleh Ezperanza.


"Hei, mau ke mana kamu, sini kalau berani!" tantang Gris.


Dan Nicorazón memperlihatkan tatapan tidak sukanya.


"Ah... baiklah, siapa yang tertua diantara kalian? Oh Esperanza ya. Wajar sih calon adik ipar itu sedikit jahil. Aku sebagai kakak ipar harus bisa sabar. Tapi tenang saja Esperanza. Aku pasti bisa meluluhkan hati adik iparku," pancing Gris dengan merangkul Esperanza.


Kali ini Nicorazón ingin menghajar Gris tapi dihalangi oleh Esperanza. Keributan pun terjadi. Sehingga mereka bertiga diusir penjaga perpustakaan.


"Kalian ini apa-apaan sih," dengus Esperanza kesal.


Lalu ia berjalan sambil membawa buku yang boleh ia pinjam setelah jadi anggota. Kemudian memilih duduk di bangku taman sambil melihat Brillo bermain bola basket. Dan Gris duduk di sebelahnya. Nicorazón mendekat lalu duduk di antara mereka berdua.


"Hei, apa-apaan kamu ini?" tanya Gris.


Sementara Esperanza bergerak menjauh. Agar Nicorazón bisa duduk. Gris memilih pindah tempat. Tapi sebelum pindah Nicirazón ikut pindah dan melakukan hal yang sama.


"Hei! Adik ipar! Minggirlah. Biarkan kakakmu dan kakak ipar berkencan!" tegas Gris.


"Kamu salah, akulah yang kakak. Dan sebagai kakak aku wajib menjaga adikku," ujar Nicorazón dengan spontan memeluk Esperanza.


Esperanza kaget. Nicorazón juga terkejut setelah sadar akan perbuatannya.


"Hey, lepaskan aku! Siapa yang adikmu?!" teriak Esperanza mendorong wajah Nicorazón.


"Kamu lihatkan dia tidak mau duduk di dekatmu?! Pergi sana!" usir Gris.


Secepatnya Nicorazón pergi meninggal sepasang insan tersebut. Sambil memegangi dadanya. Segera pergi ke toilet dan membasuh wajahnya yang bersemu merah.


"Astaga aku benar-benar gila. Kenapa aku bisa-bisanya memeluk Esperanza? Tapi harusnya tadi lebih lama," batinnya.


Akal sehat dan hatinya yang tidak sejalan membuatnya terkadang bingung. Merasa lega Esperanza tidak berpikir negatif tentangnya. Sementara Esperanza menutup wajahnya yang memerah. Degup jantungnya berdebar lebih kencang.


"Kenapa saat ia memelukku, aku merasakan seperti pelukan hangat saat berada di lubang gelap itu?" batin Esperanza bertanya.


"Sadarlah Esperanza, kamu sudah punya pacar!" seru Esperanza.


Gris yang berada di sebelahnya menyadari kalau Esperanza merona atas sikap Nicirazón yang barusan. Tapi ia tidak memperlihatkan rasa cemburunya. Ia mencoba memakluminya mengingat ikatan batin mereka yang sangat kuat.


"Esperanza. Haruskah aku mempertahankanmu pada cinta sejatimu?" gumamnya membelai rambut Esperanza.

__ADS_1


Saat gadis itu menoleh padanya, ia pun tersenyum. Sementara seorang gadis menatap kesal ke arah mereka dan berjalan dengan cepat. Dan berhenti di lemari penyimpanan milik Esperanza.


Nicorazón melihat gadis itu meninggalkan lemari Esperanza lalu melihat isi lemarinya. Ada benda asing di sana. Sebuah boneka. Saat Nicorazón tersenyum, boneka itu terbakar dan hilang tanpa bekas.


"Di kehidupan kali ini, tidak ada yang boleh menyakiti kekasihku," gumam Nicorazón dan saat itu manik matanya berubah menjadi berwarna merah.


Malam hari tiba, setelah selesai makan malam. Estrella mengajak mereka bermain. Permainan putar botol. Ia melihat empedu ikan yang dipanggang malam ini dan mengambilnya. Muncul ide untuk mengerjai semua orang.


"Ingat ya, peraturannya. Siapa yang tidak bisa menjawab atau melakukan tantangan, wajib makan empedu," ujar Estrella percaya diri.


Lalu mereka melakukan undi untuk menentukan siapa yang membuat pertanyaan atau tantangan pertama kali. Selanjutnya botol pun diputar. Dan Nicorazón benar-benar dikerjain.


Semua orang yang mendapat kesempatan memberi pertanyaan atau tantangan selalu menyuruhnya melakukan sesuatu. Lari di tempat. Push up. Dan melakukan berdiri jongkok.


"Hei, ini tidak adil, kenapa cuma aku yang kena terus?" protes Nicorazón.


"Itu lebih baik, bukan. Dari pada pertanyaan seputar sekolah, memangnya kamu bisa?" tantang Estrella.


"Sekarang giliranku putar botol!" seru Nicorazón. Botol mengarah ke Esperanza.


"Hah... bagus. Esperanza aku menyuruhmu untuk menjewer kedua telinga Brillo sampai merah!" ujar Nicorazón kesal karena dikerjai terus-terusan oleh Brillo.


"Tunggu apalagi? Ayo jewer!" perintah Nicorazón tidak sabar.


"Ayo jewer... atau kamu yang akan makan empedu itu!" ancam Nicorazón.


Putra Te Apoyo tidak menyangka kalau Esperanza sangat sungkan. Jadi ia memutuskan mengambil empedu.


"Hey, ayo jewer saja. Aku mengizinkanmu menyentuh pria lain!" seru Gris.


Entah kenapa Nicorazón tiba-tiba menarik tangan Esperanza dan menelan empedu tersebut. Lalu dengan cepat meminum sirup yang ada di meja. Gadis itu terbelalak.


"Kenapa kejadiaannya sama persis seperti di mimpiku?" batin Esperanza yang melihat masa lalu Nichorazon dan Te Espere.


"Wow, senjata makan tuan!" ujar Brillo dan Estrella cekikikan.


"Sekarang giliran Esperanza!" Botol mengarah ke Nicorazón.


"Beri dia pertanyaan yang sulit!" seru Estrella.


"Pertanyaan ujian untuk SMP pasti dia sudah lupa. Tanya itu saja," kata Brillo ikut menimpali.

__ADS_1


"Aku menantangmu. Untuk menyuapi empedunya padaku!" seru Esperanza pada Nicorazón dan semua orang terperangah.


Bersambung...


__ADS_2