
Gris menggunakan kekuatannya untuk memindahkan luka di tangannya pada salah satu penjahat. Dan membuat orang itu kesakitan. Melihat hal itu Dorado mengernyitkan keningnya seolah baru ingat sesuatu.
"Kemampuan itu tidak pantas berada di tanganmu! Matilah!" teriak Dorado sambil berlari mengejar Gris.
Gris berlari dan menghindar. Lalu para penjahat berusaha menangkapnya. Ia pun berpikir dengan cepat. Melihat suami Malika yang terbaring di tanah dan Malika yang berusaha menahan aliran darah tersebut memberinya sebuah ide. Ia memindahkan luka itu pada orang yang berhasil menangkapnya.
Saat itu ia meliha putra ketiga Gina sedang mencoba berdiri. Membuat Gris tersenyum.
"Semakin parah lukanya semakin bagus," gumam Gris dan memindahkan luka tersebut.
Kali ini bukan hanya memindahkan lukanya. Tapi ia juga melakukan hal yang sama pada orang-orang yang terluka lainya, sambil terus menghindari hunusan pedang tersebut.
Para penjahat satu persatu rubuh, akibat luka-luka berpindah ke tubuh mereka. Dorado sebagai pemilik kemampuan keturunan ketujuh tidak bisa dilukai dengan cara tersebut. Meski Gris berulang kali mencoba memindahkan luka-luka itu padanya.
Melihat orang-orangnya rubuh, Dorado makin berang. Dan menyerang tanpa ampun. Menyuruh mereka yang memiliki alat peledak di tubuhnya untuk maju mengejar Gris.
Gris berlari ke tengah hutan. Orang-orang tersebut terus mengejarnya tanpa menyadari apa yang mereka lakukan. Satu persatu mereka meledakkan diri. Tapi Gris tidak bisa mereka tangkap.
Hanya dalam hitungan menit Gris kembali ke pengungsian dalam keadaan utuh. Pada saat itu ternyata Dorado sedang menghadapi Malika dan yang lainnya.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Gris untuk menyerang Dorado dari belakang. Mereka yang tadinya hampir terhunus lagi-lagi selamat oleh serangan Gris yang diarahkan oleh Dorado.
Kini kembali Dorado harus bertarung dengan Gris. Saat di tengah pertarungan seseorang menyiramnya dengan air. Lalu melemparkan sebuah jaring kawat padanya.
Dengan kesal ia menangkap jaring tersebut dan hendak melemparkannya. Tapi terlambat! Aliran listrik menyengatnya. Ia harus menggunakan kekuatannya untuk meloloskan diri.
Aliran listrik yang berasal dari dinamo yang dipasang di sungai deras yang dekat dengan pengungsian padam. Dorado kini tersudut kedua musuhnya bekerja sama untuk mengalahkannya.
"Sial, Gris selalu menangkis seranganku. Dan parahnya mereka jadi saling melindungi. Orang-orangku jadi tidak berguna. Karena setiap kelompok mereka terluka maka, luka itu akan dipindahkan pada orang-orangku," gumam Dorado.
Akhirnya ia memutuskan untuk kabur. Gris terus mengejarnya. Hingga ia kehilangan jejak Dorado. Maka ia kembali ke penampungan.
"Katakan di mana Esperanza sekarang berada!" ujarnya.
"Aku tidak akan mengatakannya walau aku mengetahui keberadaannya, sekali pun kamu membunuhku!" ujar Malika.
"Baik aku akan memindahkan luka-luka penjahat itu pada orang-orang yang ada di sini!" ancam Gris.
__ADS_1
"Kenapa kamu mencari Esperanza? Apa tujuanmu sebenarnya?" tanya Tomi.
"Bukan urusanmu!" ujar Gris kesal.
Ia pun mendengus dengan kesal lalu mengatakan pada mereka satu kalimat.
"Aku sudah menolong kalian. Kelak aku akan mengambil bayaranku!" ujarnya lalu pergi.
Orang-orang yang ada di sana tertegun. Tapi kemudian mereka sadar kalau harus segera pergi dari lokasi tersebut. Maka dengan cepat mereka berkemas. Kini orang-orang sakit telah sembuh. Memudahkan mereka untuk bergerak. Maka perjalanan pun dilakukan saat itu juga.
"Lalu apa yang akan kita lakukan pada para penjahat ini?" tanya Tomi.
"Ikat saja mereka, kita tidak mungkin membawa mereka," ujar putra ketiga Gina.
Di tempat lain Dorado yang bertemu dengan para keturunan ketujuh mengatakan kalau Gris telah berhianat demi seorang gadis dan mereka harus menyingkirkannya. Sebelum Gris menghabisi mereka.
"Jadi Gris bersekongkol dengan musuh?" tanya Verde.
"Ya, jawab Dorado singkat.
"Dorado, bukankah kamun bilang kalau semua orang di negara ini tiada, maka tidak akan ada yang menjadi pelayan kita?" kata Verde mengingatkan.
"Dunia ini ada banyak orang, kita tidak perlu takut kekurangan pelayan," jawab Dorado.
Maka para keturunan ketujuh pergi menggerakkan semua orang yang terbelenggu dan menyuruh mereka melakukan aksi bunuh diri.
Ledakan kembali terjadi. Saat seseorang menghabiskan energinya untuk mengendalikan orang lain. Pada saat itu Dorado datang. Berpura-pura memberi bantuan, tapi kenyataanya, ia menusuk dari belakang.
"Dorado? Apa yang kamu lakukan? Bukankah kita teman?" ujar keturunan ketujuh yang baru saja mengerahkan kekuatannya secara besar-besaran.
"Aku berterima kasih atas kepercayaanmu tapi mulai sekarang, kemampuanmu akan jadi milikku!" ujar Dorado menekan pedangnya kian dalam.
Anak itu kehilangan kekuatannya perlahan-lahan dan diserap oleh pedang tersebut. Lalu dialirkan pada pemegangnya. Dorado bisa merasakan kekuatan baru yang mengalir di tubuhnya.
"Beristirahatlah dengan tenang saudariku! Aku tahu kamu menyukaiku sejak kita pertama bertemu. Tidak akan pernah terpikir olehmu kalau aku akan berhianat, bukan?"
Dengan penuh senyum Dorado pun meninggalkan gedung tersebut. Tapi sebelum itu, ia masih sempat melemparkan alat peledak ke arah gadis tersebut.
__ADS_1
*Duar! Duar! Duar!
Di mana-mana terjadi ledakkan. Semua orang merasakan seolah hidup di masa kepunanan umat manusia. Pasrah bagi mereka yang terjebak dan tidak bisa ke mana-mana.
"Tidurlah cucuku! hari masih gelap," ujarnya sambil menutup telinga cucunya yang masih kecil.
Dalam keadaan berpelukan keduanya pun akhirnya terbakar dalam sebuah ledakan.
Satu persatu para keturunan ketujuh dihabisi oleh Dorado. Semakin kuatlah ia. Dan kini yang tersisa tinggal Verde dan Gris saja.
"Apa kamu butuh bantuan?" tanya Dorado pada Verde.
Saat gadis yang sudah kehabisan tenaga menghancurkan satu kota tanpa tersisa. Verde tersenyum dan menunjukkan hasil kerja kerasnya.
"Kerja bagus, dan mulai sekarang biar aku sendiri yang melakukan semuanya untuk kalian," ujar Dorado.
Kali ini karena meyakini mampu mengalahkan gadis tersebut dengan mudah, maka Dorado tidak terburu-buru. Dengan perlahan ia mendekati gadis itu.
Lalu menghunuskan pedang tersebut kearah Verde. Saat menyadari hal itu Verde melompat mundur.
"Apa maksudmu melakukan hal itu? Apa kamu ingin menghabisiku?" tanya Verde.
"Ya, bukankah itu sudah jelas?" jawab Dorado dengan pertanyaan.
"Kalau begitu yang dikatan oleh Gris benar? Kalau kamulah penghiatan keturunan ketujuh yang sebenarnya?"
"Sekarang kamu sudah tahu, jadi aku tidak akan sungkan!" teriak Dorado lalu menyerang gadis tersebut.
Verde berkelit dan mundur beberapa meter dengan cepat.
"Masih punya tenaga untuk menghindar ternyata."
Gadis itu menyesal telah menyerang Gris yang datang untuk memperingatkannya untuk berhati-hati dengan Dorado. Tapi nasi sudah jadi bubur. Kekuatan yang tersisa bahkan tidak cukup untuknya kabur.
"Kalau kamu membunuhku, setidaknya beritahu aku kegunaan pedang itu?" tanya Verde yang telah kalah dan pasrah menghadapi kematiannya.
Bersambung...
__ADS_1