Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Peti Ruang Rahasia


__ADS_3

Jarak antara rumah peninggalan kakek dan tempat tinggal Ben cukup jauh. Butuh waktu beberapa jam untuk Ben sampai ke rumah peninggalan kakek. Dan saat ia tiba, ia sudah di sambut oleh Maya.


Maya segera menuntunnya ke ruangan yang tersembunyi tersebut. "Hei jika ingin menggodaku, seharusnya kau katakan saat meneleponku." ujar Ben pada Maya. Maya mengangkat alis kirinya. "Jangan bercanda, ada yang lebih menarik dari hal itu, ayo ikut aku." ajak Maya.


Maya menarik sebuah buku dan terbukalah ruang rahasia. Dan mereka masuk bersama. Lalu Maya memperlihatkan sebuah peti, yang menarik perhatian Ben sejak awal ia masuk ke ruangan itu.


"Wow... apa ini? Benda bersejarahkah?" tanyanya kagum.


"Perhatikan apa yang tertulis di sini? Coba kau artikan!" kata Maya.


"Ini sejenis tulisan kuno, berapa usia peti ini?" gumam Ben.


"Aku tidak tau," jawab Maya.


"Di mana kau membeli peti ini?" tanya Ben lagi.


Lalu Maya menjelaskan tentang peti itu, yang ditinggalkan oleh pemiliknya begitu saja. Mungkin tidak ada barang berharga di sana sehingga pemiliknya tidak membawanya serta. Tapi Maya tertarik. Meski sekalipun peti itu kosong. Ia ingin melihatnya terbuka, walau hanya satu kali saja.


"Baiklah aku akan ambil fotonya, dan aku akan kirim terjemahannya secepat mungkin." ujar Ben lalu mengambil beberapa gambar dengan ponselnya. Dan kemudian ia mencoba mencicipi sedikit hidangan panas dari wanita yang ada di sampingnya.


"Hei... aku sedang tidak mau. Jika kau berhasil menerjemahkannya, jangankan hanya sepotong. Seutuhnya dapat kau nikmati." kata Maya.


"Baiklah nyonya, kau kikir sekali untuk diriku yang fakir miskin ini." kata Ben dengan wajah sedih.


Maya hanya memutar bola matanya tiga ratus enam puluh derajat. Lalu ia pergi dari ruangan itu dan diikuti oleh Ben dari belakang. Dan setelah itu ia mengantar Ben sampai ke depan pintu. "Setelah kau selesai menerjemahkannya, segera kirimkan padaku." kata Maya. Lalu menutup pintu.


"Ughh bahkan air putih saja tidak ada." ketus Ben. Ia yang membayangkan akan mendapatkan servis khusus, harus kecewa. Lalu secepatnya ia pulang untuk memeluk istrinya. Saat dia tiba di rumah, ia tidak mendapati istrinya dan ia menjadi kesal.


"Kau sudah pulang?" tanya istrinya.

__ADS_1


"Ya, dari mana saja kau?" tanya Ben.


"Bukan urusanmu." jawab istrinya.


"Kita sudah menikah, wajar kalau urusanmu adalah urusanku." kata Ben.


"Cukup... kepalaku pusing... aku capek..." jawab istrinya yang tidak lain adalah Gina pencuri bayi Lina.


Ben juga tidak memperpanjang perdebatan mereka, ia memilih menerjemahkan tulisan yang ada di ponselnya. Tapi saat ia memeriksa punselnya dan membuka galeri, ia terkejut. Tulisan itu hilang, meskipun foto peti itu ada.


"Aneh, tadi jelas-jelas tulisan itu terlihat saat aku mengambilnya." gumamnya lalu ia memeriksa foto yang lain dan hasilnya sama.


"Sial... apa-apaan ini," batinnya.


Ia lalu menelepon Maya dan menceritakan apa yang terjadi. Maya seketika ingat bahwa ia juga gagal menyimpan foto peti bersama dengan tulisannya.


"Lalu bagaimana sekarang, mungkin itu peti keramat, sebaiknya jangan mengusiknya. Bisa jadi isinya adalah hal buruk." ujar Ben mengingatkan.


"Tapi aku tidak punya salinannya. Aku harus ke sana lagi besok." ucap Ben.


"Ya tentu saja." kata Maya. Ben pun tersenyum ia jadi punya alasan untuk bertemu Maya. Ia senyum-senyum sendiri. Dan Gina istrinya memperhatikannya secara diam-diam. Gina sudah lama curiga pada suaminya. Dan ia tau kalau suaminya bukan tipe pria yang setia. Tapi demi keluarga dan anak-anaknya ia mencoba mempertahankan keluarganya.


Ke esokan harinya Ben pergi pagi-pagi sekali. Ia tidak makan masakan istrinya dan tidak mengantar anak-anak mereka ke sekolah. Dengan cepat ia masuk ke dalam mobil dan mengendarainya sampai ke rumah Maya. Setelah sampai ia mendapati Maya tengah duduk di teras menikmati minumannya.


"Oh wow tuan pekerja keras, kau datang cepat sekali." sindir Maya.


"Yah apa boleh buat, aku ingin segera mendapatkan bonusku." ujar Ben.


"Aku belum sarapan dari rumah." kata Ben lalu meminum minuman dari gelas yang di pegang Maya.

__ADS_1


"Hei..." kata Maya.


"Aku belum sarapan, dan aku tidak bisa bekerja sebelum sarapan." ujar Ben.


Maya menyodorkan roti yang sudah di beri selai pada Ben. Ben memakannya tanpa menyentuh roti tersebut. Tapi ia memegang tangan Maya lalu dengan nakal mencium tangan wanita itu.


Maya hanya tersenyum lalu ia bangkit dari tempat duduknya. Dan beranjak pergi dari tempat itu, ia berjalan menuju kamarnya dan melepas ikatan rambutnya. Lalu mereka berdua sudah berada di dalam kamar yang dulu di pakai oleh Dion dan Maya sebagai kamar mereka. Dan mereka pun melakukan hal yang sudah lama mereka tahan.


"Hei kau sudah mendapatkan sarapanmu. Ayo cepat lakukan tugasmu." ujar Maya ketika Ben masih mencoba merayunya, setelah menikmati pelayanan dari Maya.


"Huhhh ya ampun, apa aku tidak boleh tambah?" tanya Ben.


Maya hanya mendelikkan matanya. Ben mengerti lalu memunguti pakaiannya dan memakainya. Sebelum keluar ruangan itu ia merapikan dahulu rambutnya dengan sisir kecil yang terselip di saku jasnya. Maya juga perlahan-lahan memakai pakaiannya dan berpakaian. Setelah merapikan diri barulah mereka sarapan dalam arti yang sebenarnya.


Selesai sarapan Ben menunaikan janjinya. Ia membawa perlengkapan ya ia butuhkan untuk menerjemahkan tulisan tersebut. Saat hari sudah siang, ia masih belum selesai menerjemahkannya. Maya mengajaknya makan siang bersama setelah pelayannya menyiapkan hidangan di meja.


Selesai makan Ben beristirahat sebentar, sesekali ia menggoda dan merayu Maya untuk cemilan siang, tapi Maya menolaknya. Dengan langkah gontai Ben kembali ke tugasnya. Sebenarnya ia sudah berhasil menerjemahkannya. Tapi ia merahasiakannya pada Maya.


Ia berencana untuk menginap dengan alasan lembur. Tapi karena melihat wajah Maya yang merengut setelah bosan menunggu, Ben pun mengakui kalau ia sudah berhasil menerjemahkan arti dari tulisan yang terukir di kotak tersebut.


Dengan wajah cerah Maya menerima kabar gembira itu. Lalu dengan sangat antusias ia menunggu bibir Ben membacakan terjemahannya.


DENGAN SETETES DARAH PEWARIS ASLI PINTU AKAN TERBUKA. DI SANA AKAN TERLIHAT KILAUAN YANG MENYILAUKAN MATA. TIDAK AKAN ADA YANG SANGGUP BERPALING DARINYA.


Kata-kata terjemahan terlontar dari bibir Ben seperti mantra. "Itu saja?" tanya Maya. "Iya," jawab Ben.


Maya mengernyitkan jidatnya, dan tampak sedang berpikir untuk mencari makna tersembunyi. "Menurutmu apa artinya?" tantang Maya pada Ben.


"Mudah saja, sepertinya peti ini hanya bisa dibuka dengan darah pewaris asli. Hanya saja ini aneh." ujar Ben.

__ADS_1


"Ayo kita coba," tantang Maya.


Bersambung...


__ADS_2