Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Akhir Pertunjukan


__ADS_3

Baru saja ia membuka halaman pertama, suara keras terdengar dari arah dapur. Klara spontan terkejut. Hantu yang ada di sekitarnya tertawa melihat tingkah Klara.


"Dasar, aku dikerjai," batin Klara.


Tapi justru itu membuatnya mendapat ide, dan meneruskan actingnya. Ia pura-pura membalikkan badan lalu, melihat kiri dan kanan. Menutup buku yang ia baca.


"Sepertinya di sini makin seram, apa aku pulang saja ya?" ujarnya bertanya di depan kamera.


Lalu ia mengambil ponselnya dan membaca komentar. Banyak komentar negatif tentangnya. Ada yang bahkan bertaruh kalau Klara hanya bertahan sampai setengah jam, ada yang bertaruh beberapa menit. Yang jelas komentar itu tidak membuat Klara puas.


Dan ternyata jumlah penontonnya berkurang. Karena mereka merasa siaran langsung Klara tidak menarik sama sekali. Hal itu tertuang di beberapa kolom komentar.


*Pulang saja sana, pemburuan hantu apaan. Mana aksinya, dari tadi cuma "trik" saja yang ditampilkan.


Iya pulang sana, mencari uang tidak gampang, jual ginjal sana. Dan kalau mau terkenal, buat video tanpa busana. Pasti cepat viralnya.


Ih masih kecil mau menipu orang dewasa. Aku tidak yakin malah kalau itu di rumah yang terkenal angker. Bisa saja itu rumahnya sendiri yang sedang ada pemadaman listrik bergilir*.


Klara meletakkan kembali ponselnya dan mengaturnya agar bisa menangkap seluruh isi ruangan. Lalu ia berpura-pura mengemas barang-barangnya. Sambil memberi kode pada para hantu untuk melakukan aksinya.


Mulanya sebuah tali jatuh ke atasnya, ia yang baru selesai mengemasi barangnya tersentak kaget dan tiba-tiba mundur. Tas yang hendak ia gendong di punggung ia jatuhkan.


"Tali apa itu! Dari mana asalnya?" ujarnya sambil menatap kamera.


Lalu para hantu melilit kakinya dengan tali.


"Akh... tolong... mereka menangkapku!"


"Lepaskan aku, lepaskan!" teriaknya kuat-kuat.


Klara melakukannya sambil menahan tawa. Ia harus terlihat benar-benar ketakutan. Orang yang menyaksikan siaranya bertambah, komentar baru bermunculan.


*Eh lihat talinya bergerak sendiri!


Ah bohong. Itu 'trik', tapi hebat juga aktingnya.


Sepertinya itu bukan 'trik' coba perhatikan! Tidak ada siapa pun di sana dan ikatannya makin ke atas dan makin kencang!


Lihat dia makin ketakutan. Dia minta tolong itu! Ayo lapor polisi! Dia dalam bahaya*!


Ray yang juga menyaksikan siaran langsung itu makin gusar. Akhirnya ia mencoba keluar dari kamarnya. Saat ia keluar dari kamarnya, ia bertubrukan dengan Nicholas.

__ADS_1


"Maaf," ujarnya singkat.


"Mau kemana?" tanya Nicholas saat melihat Ray mengenakan jacketnya.


Ray bingung menjelaskanya lalu muncul ide di benaknya kalau ia hendak memfotokopikan lembaran soal.


"Aku tidak melihatmu membawa sesuatu," ujar Nicholas.


"Aku ingin minta ijin pada tante dulu," jawabnya Ray.


"Oh mama sedang pergi, kalau mau memfotokopi, pergilah!" kata Nicholas.


Ray kembali ke kamar membawa sebuah buku, yang menjadi sebuah 'alasannya' untuk pergi keluar. Ray pun pamit. Tapi Nicholas menahannya sesaat, lalu memberikannya uang untuk fotokopi. Ray menerimanya dan berterima kasih. Lalu berjalan keluar rumah secara wajar.


Karena menyadari dirinya sedang diawasi oleh Nicholas, mau tidak mau ia harus berpura-pura berjalan ke tempat fotokopi, yang masih buka pada malam hari. Dan saat melihat Nicholas sudah tidak mengawasinya lagi, ia pun keluar. Lalu masuk lagi.


"Pak tolong fotokopi ya 10 lembar. Nanti saya ambil saat saya kembali," katanya pada seseorang.


Lalu Ray keluar dan segera mencari angkutan umum, yang menuju ke rumah tempat Klara sekarang berada. Saat ini tampak Klara masih menjerit sambil menangis. Tapi respon orang-orang menganggap itu sebuah kebohongan.


Rasanya laju angkutan yang ia tumpangi sangat lambat. Akhirnya ia memilih turun. Dan menaiki sebuah ojek pangkalan sebagai transportasinya.


Klara kini terlepas dari lilitan tali. Ia mencoba mengambil ponselnya begitu ia mendapatkan kembali tenaganya. Tapi baru saja ia berdiri, kakinya ditarik dengan cepat ke belakang. Ia terbentur ke lantai.


"Tolong!!!" teriaknya sekuat mungkin sambil menangis.


Tubuh mungilnya kini diseret menjauhi kamera. Kakinya ditarik dengan kasar. Dan ia mencoba menggapai apa saja yang ia dapat. Dan satu arwah mengambil ponselnya lalu mengikuti kemana tubuh anak itu di seret.


"Cukup...! Hentikan...! Aku mohon... dasar hantu sialan!" makinya.


Lalu satu kakinya diikat lagi dengan tali dan ia pun kini tergantung di ruang dapur. Klara meronta-ronta. Penonton terkesima dengan mulut menganga.


"Aku mohon... ampun... ampuni aku... tolong...! Siapa saja... tolong selamatkan aku!" pinta Klara kini memelas.


Satu kakinya yang tidak terikat ditarik ke bawah. Klara menjerit kesakitan. Lalu bibirnya kirinya terlihat robek sampai ketelinga. Seolah tersayat. Klara menutup mulutnya dengan tangannya. Darah mengalir deras.


Lalu tangannya di tarik ke arah yang berlawanan. Klara meronta. Mulutnya kembali menganga, dan kini bibirnya kanannya terlihat robek. Satu persatu giginya tanggal. Ia meronta tanpa henti.


Dan mulut itu terlihat perlahan-lahan menyatu dengan benang yang saling menembus dari lubang-lubang kecil di sekitar mulutnya. Penoton mulai pucat menyaksikan pemandangan itu. Komentar menjadi sepi.


Dan kini matanya keluar satu persatu. Dan bergelantungan bersama rambutnya yang menjadi berwarna merah. Banyak penonton seperti terhipnotis bingung harus berbuat apa.

__ADS_1


Beberapa penonton tersadar saat pundaknya ditepuk oleh seseorang. Lalu menunjukkan video itu.


"Ini tindak kriminal, ayo lapor polisi. Pasti ada orang di balik semua ini. Anak itu pasti kena tipu oleh seorang psikopat," ujar orang yang baru saja menyaksikannya.


"Orang apa? Tidak ada orang di sana, hanya ada anak itu."


"Itu di mana?"


"Di rumah angker yang terkenal dekat sekolah kami."


"Kau mengenal anak itu?!"


"Dia teman sekelasku."


"Aku akan lapor polisi!"


Sebagian masih mengira itu adalah perbuatan manusia. Kini beberapa orang mulai menyadari ada yang salah dengan siaran langsung tersebut. Dan bahkan ada yang menanyakan langsung hal tersebut pada seorang paranormal.


"Nenek coba lihat ini, apa benar ia diganggu hantu?!" tanya seorang cucu paranormal.


"Hah! Kenapa dia bisa ada di situ. Gawat dia dalam bahaya. Seseorang harus menyelamatkannya. Ini di mana?"


Cucunya memberitahukan sebuah alamat pada si nenek. Dan si nenek minta diantar oleh cucunya. Mereka berangkat setelah si nenek membawa perlengkapannya.


Ray tiba di gerbang saat terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Tukang ojek yang mengantarnya kabur dengan sepeda motornya. Ia mengira kalau itu suara penunggu rumah angker tersebut.


Ray masuk ke dalam rumah itu. Menghidupkan senter ponselnya. Mengikuti jejak darah yang berceceran. Sampailah ia di dapur dan Klara sudah tewas. Ponsel Klara jatuh dan kameranya tepat mengambil wajah Ray.


Perlahan Ray mendekati tubuh Klara yang sudah terbagi beberapa bagian. Tampak seperti dipisahkan dengan cara ditarik berlawanan arah. Ray melihat ponsel Klara yang masih menyala. Lalu mengambilnya dan mematikan siaran langsung tersebut.


*Astaga kalian lihat, ada orang lain selain anak itu.


Jadi itu bohongan?


Itu bohongan yang berakhir pembunuhan.


Lapor polisi cepat*!


Ray yang melihat Klara tercabik-cabik akhirnya menghabisi seluruh roh yang ada di tempat itu. Dan juga roh anak yang mati bunuh diri dengan melompat dari atas gedung sekolahnya.


"Angkat tangan!!!" teriak polisi yang akhirnya datang setelah mendapat laporan pembunuhan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2