
"Kenapa sih berisik sekali? Ini masih malam."
"Malam kata siapa? Ini sudah siang. Di negaraku jika jam segini belum bangun itu memalukan. Ayo bangun," ujar putra Malika.
Dengan malas-malasan Nicorazón bangun lalu bergegas ke kamar mandi. Dan menyempatkan tidur beberapa menit di sana.
"Woi! Kamu sedang apa?!" teriak putra Malika.
Sontak Nicorazón terkejut lalu buru-buru mandi. Rasa dingin air di tubuhnya membuat rasa kantuk berkurang. Dan menghilang saat ia telah memasuki tahap menyikat gigi. Saat ia keluar dari kamar mandi putra Malika sudah tidak ada di sana. Dengan cepat ia segera berpakaian dan menyambar ransel yang ada di meja, membawa tas sekolahnya keluar kamar.
"Sayang, kamu sudah bangun? Cepat sekali?" ujar Primavera.
Ia yang kebetulan baru saja mengantar kantung sampah ke depan melihat putranya sedang mengenakan kaus kaki. Biasanya ia kesulitan membangunkan putranya. Tapi saat ini putranya sudah terlihat rapi. Dan mendengar ucapan mamanya, Nicorazón cuma diam saja.
"Aku yang membangunkannya tante," ujar putra Malika yang duduk di sebelah putra Te Apoyo.
"Oh..., begitu ternyata."
Di hari pertama masuk sekolah, putra Malika terlihat sangat bersemangat.
"Nanti di sekolah, jangan gunakan bahasa dari negara kelahiranmu!" ujar Nicorazón mengingatkan.
"Tenang saja. Aku biasa menggunakan bahasa dari negara kelahiran mama papa saat di negara kelahiranku."
"Tapi setidaknya kamu biasakanlah dari sekarang!" ujar Nicorazón yang berbicara dengan bahasa kelahiran teman seperjalanannya.
Supir yang sedang konsentrasi mencoba mengartikan ucapan kedua orang yang duduk di belakang. Karena tidak paham, ia pun cuma bisa mengangkat alisnya dan pura-pura tidak mendengar. Mereka pun akhirnya tiba di sekolah.
__ADS_1
Begitu turun Nicorazón langsung disambut oleh teman-temannya. Dan saat putra Te Apoyo ingin memperkenalkan putra Malika pada teman-temannya, anak itu malah sudah mendekati para gadis-gadia di sekolah itu.
"Halo gadis cantik, namaku Brillo," ujar putra Malika dalam bahasa di negara kelahirannya.
Sontak gadis itu menjadi gugup dan hanya bisa membisu. Melihat hal itu Nicorazón langsung menarik Brillo. Dan segera mengajaknya ke ruangan Kepala Sekolah. Dari sana mereka tahu kalau mereka sekelas. Jadi langsung saja putra Te Apoyo mengajak Brillo ke kelasnya.
Teman-teman sekelas Nicorazón, memandang pada anak baru, yang masuk ke kelas mereka. Memandang satu sama lain dan bertanya-tanya. Nicorazón menyuruh teman sebangkunya untuk pindah. Dan mempersilahkan Brillo untuk duduk di sebelahnya. Semua yang memandang Brillo merasa heran karena untuk pertama kalinya mereka melihat anak itu di sekolah, dan di kelas mereka.
Selain tampan ia juga sangat ramah pada tiap orang yang baru ia temui. Dengan cepat ia mendapatkan banyak kawan. Tapi sebenarnya ia melakukan hal tersebut karena satu alasan. Orang yang ia sapa memiliki roh yang menempel pada mereka. Dan saat Brillo menyapa merangkul para gadis, sesungguhnya ia sedang mengibaskan roh yang memempel di pundak para gadis.
Tapi Nicorazón dan yang lainnya menganggap kalau Putra Malika itu adalah seorang 'play boy'. Nicorazón hanya bisa berpura-pura tidak perduli saat Brillo memperkenalkan diri pada setiap gadis yang ia ranggkul. Sedangkan beberapa anak laki-laki memandangnya dengan iri, beberapa dari mereka adalah teman-teman Nicorazón sendiri.
Jam pelajaran pertama, Brillo harus berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri. Dan pada jam itu di hari tersebut, mereka akan melakukan olah raga di lapangan. Semua berganti pakaian, kecuali Brillo.
"Kecuali Brillo, semuanya keliling lapangan sebanyak 5 putaran!" ujar Guru bidang studi.
Kemudian para murit berlari keliling lapangan dilanjutkan dengan beberapa kalimat pengarahan. Lalu pemilihan anggota tim basket. Setiap kelompok diacak dan ditandingkan. Kelompok yang menang akan ditandingkan ulang.
Saat bola dioperkan padanya, tiba-tiba ia melihat bola itu menjadi kepala si Pesulap. Sontak ia pun terkejut, dan segera melemparkan bola itu secara sembarangan.
"Boss, aku di sini, bagaimana Boss ini?" ujar salah satu tim Nicorazón.
Putra Malika memperhatikan wajah Nicorazón yang mendadak pucat. Ia tampak tidak bisa berkonsentrasi. Cara pandangnya tidak fokus dan mirip orang linglung.
Brillo segera mencari tahu penyebabnya dengan kemampuan khususnya. Ia memusatkan perhatian lalu menutup dan membuka mata dengan cepat. Tampaklah olehnya kepala si Pesulap sedang dilempar-lempar oleh para pemain basket.
Dan itu hanya bisa dilihat oleh orang-orang khusus. Beberapa orang sedang bersembunyi sambil memperhatikan Nicorazón dan tersenyum penuh arti. Sementara putra Te Apoyo hanya seperti orang linglung yang membuat kelompoknya marah. Sebab semua bola yang dilempar ke arahnya tidak ditangkap dengan baik. Dan malah ditangkis seolah ia merasa takut untuk memegangnya.
__ADS_1
"Maaf Pak, Nicorazón saya bawa ke ruang kesehatan!" ujar Brillo.
Guru bidang studi melongo dan akhirnya mengangguk. Permainan dilanjutkan dengan anggota tim Nicorazón yang telah berkurang satu orang.
"Di mana ruang kesehatan di sekolah ini?" tanya Brillo pada Nicorazón, dan dijawab dengan jari telunjuk mengarah ke satu tempat.
"Mukamu pucat sekali, kamu kenapa?" tanya Petugas Kesehatan.
"Dia cuma kelelahan Bu, boleh dia istirahat sebentar?" tanya Brillo setelah menjawab pertanyaan Petugas tersebut.
Setelah mendapat ijin, Nicorazón berbaring di tempat tidur. Brillo memandang sekitar mereka, ada banyak roh halus yang memperhatikan dengan pandangan tajam. Karena mereka tampaknya tidak akan melakukan sesuatu, maka Brillo menutup dan membuka matanya kembali agar penglihatannya kembali normal.
"Apa kamu mau pulang? Biar aku yang meminta ijin untukmu. Mau aku panggilkan supir?"
Putra Primavera cuma menggeleng kepala dengan posisi lengan kiri menutup matanya. Rasanya pusing dan mual, saat melihat kepala yang berlumuran darah itu dilempar-lempar. Meski mencoba meyakinkan dirinya kalau itu adalah bola, tapi tetap saja yang ia lihat adalah kepala.
"Gawat, baru masuk saja aku sudah melihat kejadian seperti ini. Apa mungkin mereka sudah tiba lebih dulu di negara ini? Siapa mereka? Aku harus melakukan sesuatu sebelum mereka melakukan hal yang tidak diharapkan pada Nicorazón," batin Brillo.
Brillo segera melihat kamera ponselnya yang telah terhubung dengan kamera CCTV di sekolah itu. Selama jam pertama ia sudah mengutak-atik ponselnya dan dengan mudah menghack sistem keamanan di sekolah itu. Dari ponselnya ia bisa melihat apa saja yang direkam oleh alat pemantau itu.
"Sial, sepertinya mereka tidak sembarangan. Aku tidak bisa melihat orang-orang yang mencurigakan," batin Putra Malika lagi.
Sementara sahabat Esperanza kini merasa cukup puas bisa mengganggu Nicorazón. Mengandalkan rasa takut pada diri Nicorazón dan mencampurkan ilusi. Sehingga putra Te Apoyo melihat hal yang paling ia takuti. Dan tidak cukup sampai di situ, sahabat Esperanza juga mengganggu para pasien Te Apoyo. Memindahkan penyakit dalam dari pasien di rumah sakit lain pada pasien Te Apoyo yang mulai sembuh.
"Arrgghkk!" teriak keluarga pasien melihat mamanya tiba-tiba muntah darah.
Dokter yang sedang bertugas segera ke ruangan itu setelah melihat lampu pengawas hidup dari ruangan tersebut. Saat tiba ia langsung memeriksa kondisi pasien dan betapa terkejutnya dia.
__ADS_1
"Kenapa bisa begini? Suster ambil darahnya dan segera periksa, secepatnya berikan hasil tesnya padaku!" ujar dokter tersebut.
Bersambung...