
"Sayang, aku benar-benar mencintaimu!"
"Bohong!"
"Aku tidak bohong, akan kulakukan apa saja untuk membuktikan kejujuranku!"
"Kalau begitu, berikan aku jantung dan hatimu! Adikku satu-satunya harus mendapatkan tranplantasi jantung dan hati secepatnya!"
Terdengar sebuah siaran televisi menayangkan siaran kesukaan seorang wanita yang tengah duduk manis di depan layar kaca. Ketika muncul iklan di layarnya dengan cepat ia mengganti siarannya.
"Bibi!"
"I-iya Nyonya! Eh, Nona! Ada perlu apa?" tanya wanita itu melompat dari kursinya.
"Seragamku bibi taruh ke mana?"
"Hah! Ya ampun bibi lupa!" ujarnya sambil menepuk jidat.
"Ya ampun Bibi! Aku bisa telat! Cepat strika sekarang juga!"
"I-iya Nona," ujarnya berlari.
Setelah 7 menit kemudian wanita itu muncul di kamar putri majikannya dengan seragam di tangan. Gadis itu merengut dengan bibir melengkung ke bawah dan dengan cepat merampas seragam itu lalu memakainya. Berdandan secantik mungkin. Lalu keluar kamar dengan percaya diri.
"Mama, Papa, selamat pagi. Aku berangkat dahulu!"
"Tidak sarapan?"
"Telat, Ma. Nanti di kantin saja!" ujarnya sambil berlari.
"Maju, Pak!" ujarnya pada supir.
Setibanya di sekolah dengan cepat ia menuju kelasnya. Tapi di saat melintasi sebuah kelas ia memperlambat jalannya. Memainkan rambut bergelombangnya. Menatap salah satu penghuni di kelas tersebut dengan dada berdebar-debar.
__ADS_1
Ketika ia menoleh sekilas ke arah murit laki-laki yang membuat jantungnya berdebar, tiba-tiba sesuatu membuat terjungkal. Orang-orang yang berada di sana secara spontan tertawa melihatnya terjerembab di lantai. Dengan wajah merah padam ia segera bangun dan menutupi wajahnya karena malu.
Murit yang menarik perhatian gadis itu baru saja kembali dari liburannya saat merayakan ulang tahunnya yang ke-17. Ia tidak melihat gadis itu jatuh tepat di depan pintu kelasnya. Karena ia sedang mendengarkan musik di ponselnya. Dan membaca komentar-komentar teman sosial medianya.
"Nicorazón! Kamu tidak lihat? Tadi murit perempuan di kelas sebelah terjungkal gara-gara memperhatikanmu! Ahahaha! Lucu sekali!"
"Hah? Apa? Kamu bilang apa?"
"Hah... bukan apa-apa!" ujarnya kesal.
Nicorazón melanjutkan kegiatannya sampai guru bidang studi datang dan memberikan pelajaran pertama pagi itu. Sementara gadis yang terjerembab di depan kelasnya meringis kesakitan, pada kedua tangannya. Dan satu roh mengawasi gerak-geriknya.
Roh anak perempuan yang menyukai Nicorazón semasa hidup. Dan belum pergi ke alam yang seharusnya dia tempati. Sebab ia belum menerima kepergiannya begitu saja.
Jam istirahat tiba, Nicorazón dan kelompoknya pergi ke kantin bersama. Di sepanjang jalan Nicorazón selalu jadi bahan cuci mata para gadis. Dan hal itu dinikmati juga oleh teman-teman Nicorazón. Ada kesenangan tersendiri rasanya berjalan bersama seorang idola sekolah.
Mereka membeli makanan dan seperti biasa mereka akan memakannya di atap gedung sekolah mereka. Piring, mangkuk dan gelas sudah bertumpuk di atas sana. Mereka terlalu malas mengantarkan piring kosong mereka ke kantin.
Biasanya Nicorazón melakukan hal yang sama. Tapi kali ini ia membawa piring kosongnya. Lalu menyuruh yang lain melakukan hal yang sama. Membuat teman-temannya heran. Tapi meski demikian mereka tetap menuruti perkataannya.
Sesampainya di kantin mereka segera meletakkan piring kosong di atas meja. Pekerja di kantin cuma bisa geleng-geleng kepala, sambil mengusap dada.
"Sekarang kita ke mana, Boss?" tanya anak yang berada di samping kanan Nicorazon.
"Ke kelas!"
"Huh?"
Benar seperti yang Nicorazón katakan. Ia pergi menuju kelasnya. Mengikuti mata pelajaran sampai akhir dan pulang seperti anak sekolah lainnya. Semua itu dia lakukan bukan tanpa alasan.
Sejak kejadian yang menimpanya di negera Esperanza dia sudah banyak berubah. Sebab saat perawatnya menukik tajam, ia bersumpah akan jadi anak yang penurut pada kedua orang tuanya.
Mobil jemputan sudah menunggu di gerbang. Ia menawarkan tumpangan pada teman-temannya namun mereka menolak. Karena mereka masing-masing membawa kendaraan mereka ke sekolah.
__ADS_1
Sampai di rumah Nicorazón tidak disambut oleh mamanya seperti biasa. Sebab mata mamanya bengkak. Ia tidak mau memperlihatkan wajahnya pada putranya dan membuat hati Nicorazón cemas. Ia berpura-pura tidur saat putranya mendatangi kamarnya. Sehingga anak itu makan siang sendirian.
Sambil makan ia masih asik melihat layar ponselnya. Dan membaca tiap komentar tentang postingannya. Sampai ia menemukan satu komentar yang menarik perhatiannya.
Komentar dari orang yang ia kenal dari kecil. Temannya yang bisa melihat mahluk tidak kasat mata. Mengatakan di tiap fotonya ada penampakan roh halus. Nicorazón menghentikan suapannya. Saat ia meneruskan bacaannya. Yang mengatakan kalau roh di sekitar Nicorazón bisa saja sedang berada di sampingnya.
Nicorazón melirik ke kiri dan ke kanan. Takut kalau ia melihat sesuatu. Pasalnya tadi malam ia bermimpi tentang tenggelam di danau. Membuat ia ingin tahu tentang danau itu.
Sementara Te Apoyo masih menunggu kabar tentang gadis yang bekerja di toko obat, di negara tempat putranya kecelakaan. Tanpa menyadari kalau perbincangannya dengan seorang utusannya yang mencari Esperanza, terdengar oleh istrinya secara tidak utuh. Membuat istrinya yairu Primavera salah paham.
Yang kini masih sedih dan merasa takut ditinggalkan. Ia ingat saat setelah pernikahan dadakan mereka, ia berkata kalau tidak keberatan diceraikan. Juga tidak keberatan jika suaminya menikahi gadis lain. Tapi setelah mendengar suaminya mencari gadis dari negara lain, ia seakan tidak rela melakukan janjinya.
Ia berpikir keras bagaimana mempertahankan keluarganya. Sampai-sampai ia benar-benar tertidur. Sehingga ia tidak menyadari kalau suaminya pulang ke rumah.
Te Apoyo membersihkan tubuhnya sebelum membangunkan istrinya yang tertidur lelap dengan sebuah ciuman. Hal yang membuat istrinya merasa kalau suaminya masih mencintainya. Dan ia masih punya kesempatan untuk mempertahankan rumah tangganya.
"Sayang, kamu sudah pulang? Maaf, aku tidak menyambutmu pulang," kata Primavera.
"Matamu bengkak? Kenapa? Apa kamu mimpi hal yang membuatmu sedih?" tanya Te Apoyo saat melihat mata istrinya yang sembab.
"Iya, eh tidak. Aku tidak apa-apa."
"Sayang kalau ada masalah cerita ya sama aku. Jangan dipendam," ujar Te Apoyo sambil membelai rambut istrinya.
"Sayang, apa kamu mencintaiku? Sedikit saja?" tanya Primavera tiba-tiba.
"Kenapa tanya sedikit? Jika seluruh hatiku sudah kuberikan seutuhnya untuk kamu dan putra kita."
Primavera merasa senang dengan jawaban Te Apoyo dan langsung memeluknya erat. Tapi kemudian ia lanjut bertanya.
"Sayang, siapa wanita yang kamu cari itu?" tanya Primavera lagi pada suaminya.
Te Apoyo terdiam sejenak. Sepertinya ia mengerti kenapa mata istrinya bengkak. Istrinya sudah salah paham padanya. Tapi ia tidak tahu memperkenalkan Esperanza sebagai apa pada istrinya.
__ADS_1
Bersambung...