Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Di Pengungsian


__ADS_3

Setelah puas menghancurkan kota-kota besar di negara tersebut, Dorado memanggil Verde mengajaknya ke suatu tempat. Di sana telah berkumpul para keturunan ketujuh, kecuali Gris.


"Baiklah semua yang ada di sini, aku meminta kalian semua untuk mengerahkan seluruh roh yang ada pada kalian, untuk mencari keberadaan gadis yang bernama Esperanza," ujar Dorado setelah memastikan kalau Gris tidak mengetahui pertemuan rahasia itu.


Dorado mengirim pesan pada tiap nomor kontak yang hadir. Masing-masing penerima, memeriksa ponsel masing dan melihat sebuah foto dari sebuah pesan. Kemudisn semua keturunan ketujuh kembali berpencar. Ternyata Gris baru kembali dari kota yang ia hancurkan mencurigai sesuatu. Tapi ia mencoba bersikap tenang, dan berpura-pura tidak tahu.


"Di mana semua orang? Apa aku terlambat?" tanya Gris basa-basi.


"Semua orang belum tiba. Aku rasa mereka bersenang-senang sampai lupa waktu," jawab Dorado lalu meninggalkan Gris.


"Di mana pedang legenda itu?"


"Di tempat yang aman," jawab Dorado tanpa menoleh.


"Apa aku boleh melihatnya, menyentuhnya, dan menggunakannya? Aku juga ingin bersenang-senang memakai benda itu."


Dorado berhenti sejenak. Lalu berbalik badan.


"Kekuatan pedang itu belum sempurna. Tidak boleh berpindah tangan sebelum mencapai kesempurnaan."


"Lalu bagaimana cara menyempurnakannya?"


"Saat ini aku belum tahu. Aku belum membaca cara menyempurnakannya."


Dorado menunggu reaksi Gris. Tapi tidak ada reaksi apapun. Sehingga ia berpaling meninggalkan Gris di sana sendirian. Tanpa sepengetahuan Dorado, Gris juga mengutus para roh yang terikat padanya mencari keberadaan Esperanza.


"Apa kamu pikir aku percaya padamu?" batin Gris


Di tempat pengungsian banyak orang-orang sibuk berlalu lalang. Saling membantu satu dengan yang lain. Tenaga medis dari negara lain telah tiba.


Pada saat itu Esperanza dan Nicorazón belum juga sadarkan diri. Lina bertugas menjaga mereka sampai tertidur. Sebab hari mulai malam.


"Mama sebaiknya beristirahat di tenda lain. Tenda ini khusus tempat pasien. Biar aku yang menjaga cucu mama, sekalian membantu mereka yang butuh bantuan. Jangan sampai sakit," ujar Primavera.


"Baiklah, mama istirahat dulu," ujar Lina lalu pergi ke tenda sebelah.


Di sana ada Gina dan anggota keluarganya. Mereka sudah lebih dahulu diungsikan ke sana oleh putra kedua Gina. Melihat Lina datang ia menyambut wanita itu dengan wajah penasaran.


"Bagaimana keadaan Nicorazón?" tanya Gina.


"Masih belum sadar," jawab Lina singkat.


"Sabar ya, semoga ia secepatnya sadar," hibur Gina. Lina mengangguk.


Keduanya lalu berbaring bersebelahan. Dan mulai menikmati saat tenang tersebut. Tapi perasaan itu terasa sangat samar. Mengingat kejadian yang menakutkan seharian. Lalu keduanya tertidur karena kelelahan.


Di tenda tempat Nicorazón berada, tiba-tiba muncul sesosok mahluk halus. Ia merupakan roh Riani. Keinginannya yang kuat untuk bertemu Nicorazón menghantarnya bertemu dengan Esperanza.


"Ternyata kamu di sini," gumam roh Riani.

__ADS_1


"Aku harus melapor kalau aku sudah menemukan gadis yang bernama Esperanza." Segera ia bergerak dan bersiap pergi.


"Tapi... aku masih punya waktu. Aku tidak tahu apakah masih bisa bertemu dengan Nicorazón. Seandainya bisa, aku ingin sekali lagi menyentuhnya saja. Aku tidak akan meminta lebih," gumam Riani.


Ia pun menjulurkan tangannya ke arah pipi Nicorazón. Dan saat rohnya menembus kulit Nicorazón, Esperanza terbagun.


"Beraninya kamu menyentuh tunanganku!" ujar Esperanza yang tiba-tiba berada di samping roh gadis itu.


"Jangan coba-coba untuk melukainya lagi. Karena aku tidak akan tinggal diam!" bentak Esperanza.


Melihat rantai yang ada di leher Riani, membuat Esperanza menjadi geram. Dengan kasar ia menarik rantai yang hanya bisa dilihat para keturunan ketujuh. Begitu juga mereka yang memiliki indra ke-enam. Rantai itu putus. Dan menghilang dari leher roh gadis itu.


"Sekarang kamu tidak akan bisa kembali kepada tuanmu! Kamu mencariku lalu berencana memberi tahukan keberadaanku pada tuanmu, kan?" tanya Esperanza seperti sudah tahu banyak hal.


"Tapi sayang, aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini," lanjutnya.


"Esperanza? Kamu sudah sadar?" tanya Primavera yang baru kembali dari mengambil air hangat.


"Esperanza? Siapa yang nyonya panggil Esperanza?" tanya Esperanza sambil melihat kiri dan kanan.


Esperanza melihat orang-orang berbisik-bisik sambil menatapnya. Ia pun mengernyitkan keningnya lalu melepaskan cengkramannya pada roh Riani.


"Terima kasih banyak! Terima kasih banyak!" seru Riani senang. Ia akhirnya terbebas dari belenggunya selama ini.


"Kali ini kamu kulepaskan. Tapi tidak lain kali," bisik Esperanza.


Roh itu pun meninggalkan tenda tersebut. Dan Malika mengejarnya. Ternyata roh Riani belum terlalu jauh meninggalkan tenda tempat Nicorazón berada.


"Tunggu, aku mau bicara!" ujar Malika menangkap roh gadis itu dengan cepat.


"Kamu tidak bisa seenaknya pergi dari sini," ujar Malika sambil melirik kiri dan kanan.


"Apa yang anda inginkan nyonya?" tanya roh Riani.


"Ayo ikut aku!" perintah Malika.


Mama Brillo kemudian menanyai banyak hal pada Riani. Sementara itu di tenda Esperanza marah pada Primavera yang membelai dan mencium kening putranya.


"Jangan menyentuh tunanganku dengan tangan kotormu itu nyonya!" bentak Esperanza.


"Esperanza? Kamu kenapa?" tanya Primavera heran dengan tingkah gadis itu.


Bukannya menjawab, Esperanza justru mendorong Primavera menjauh dari Nicorazón.


"Beraninya anda mencium tunangan orang lain yang sedang tidur!" marah Esperanza.


Kali ini dia tidak perduli dengan tatapan orang-orang. Sebab ia berhadapan dan berbicara dengan manusia. Ia tidak perlu takut dianggap aneh.


"Nona, tenangkan diri anda dan jangan berisik di tenda ini," ujar seorang dokter.

__ADS_1


Namun Esperanza terus saja marah dan kesal. Membuat orang yang berada di luar tenda mendengar teriakannya. Sedangkan Primavera hanya bengong.


"Apa pikirannya terganggu?" batin Primavera.


Saat itu putri Malika yang berada dekat dengan tenda tersebut datang dan mendekati dua wanita tersebut.


"Esperanza, kamu sudah sadar?" tanya putri Malika.


Esperanza menoleh. Ia memicingkan matanya memperhatikan gadis itu. Tersenyum dan berhambur padanya.


"Malika!" serunya lalu memeluk putri Malika.


"Aku sangat merindukanmu!" ujarnya lagi.


"Aku bukan Malika. Aku putrinya," jawab Estrella yang kebingungan.


"Malika, kamu bercanda?" tanya Esperanza sambil tertawa kecil.


Tapi kemudian ia marah saat melihat Primavera beranjak dari tempatnya berdiri. Sebab saat itu Nicorazón telah terbangun dan Primavera ingin menghampirinya.


"Hei! Saya sudah memperingatkan anda untuk tidak menyentuh tunangan saya!" bentak Esperanza.


Primavera tercekat. Begitu juga dengan Estrella. Orang-orang yang ada di dalam tenda kebingungan dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Nona tenanglah sedikit. Jangan berisik, ini sudah malam."


"Hey nona, kenapa anda marah-marah tidak jelas?"


Beberapa orang angkat bicara atas keributan tersebut.


"Apa kalian bisa tenang jika tunangan kalian digoda wanita tua?" tanya Esperanza pada orang-orang yang ada di sana.


"Malika, beritahu mereka! Kalau aku adalah tunangan kakak Nicholas!" ujar Esperanza sambil memegangi bahu Estrella.


Esperanza kemudian membalikkan badan lalu memeluk Nicorazón.


"Kak Nicholas, untunglah kamu sudah sadar!" ujar Esperanza.


"Te Espere?" tanya Nicorazón.


"Iya, aku Te Espere! Kakak aku merindukanmu!" ujar Esperanza menangis.


"Esperanza, siapa Te Espere dan siapa Nicholas?" tanya Estrella yang kebingungan.


"Malika? Apa kamu lupa padaku? Aku Nicholas, tunangannya Te Espere." Jelas Nicorazón pada Estrella.


Dan membuat Primavera serta Estrella melongo.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2