Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Malam Bertabur Timah Panas


__ADS_3

Tapi sayangnya tidak ada anjing di sekitar tempat itu. Brillo memerintahkan Lillo untuk kabur. Dan berlari secepat mungkin, saat hendak ditembak oleh orang yang ia gigit.


"Sudah! Biarkan saja anjing itu. Jangan buang-buang peluru!" ujar pria berotot.


Lalu mereka melanjutkan perjalanan. Membawa semua orang ke tempat mereka berkumpul. Mengabarkan bagian informasi kalau buruan sudah tertangkap.


Dorado yang mendapatkan kabar tersebut merasa heran dan tidak percaya. Hingga akhirnya ia melihat sebuah vidio kiriman. Maka ia tersenyum penuh arti.


"Bagus! Tahan pemuda yang satu itu. Dan buat dia jadi cacat. Agar tidak bisa ke mana-mana!" perintah Dorado.


Lalu ia bersiap untuk mendatangi tempat Esperanza berada.


Malam itu setelah para pasukan penjahat selesai makan, mereka melepaskan ikatan Nicorazón. Lalu mengajaknya untuk berduel dengan salah satu dari mereka.


"Apa yang ingin kalian lakukan pada putraku?!"


Te Apoyo berusahan menghentikan para penjahat itu untuk menyakiti putranya.


"Kalau kalian hebat, lawan aku saja!"


Para penjahar tersenyum mengejek ke arahnya. Lalu menarik Nicorazón yang ketakutan ke arena. Dan memberinya satu pukulan. Tentu saja dengan satu kali pukulan anak itu tumbang.


Esperanza yang melihat hal itu berteriak dan menangis. Berusahan melepaskan ikatannya. Nicorazón memuntahkan darah dari mulutnya. Lukanya yang sudah kering terasa ngilu. Sebab pukulan tepat diarahkan ke sana. Dan kemudian diam tidak berdaya lalu pingsan.


"Huh membosankan!" ujar yang memukul Nicorazón.


"Ayo bangun, bocah!"


Te Apoyo dan semua orang yang melihat hal itu menjadi marah. Kemudian memaki-maki para penjahat tersebut begitu juga dengan Brillo. Dengan sengaja memancing emosi para penjahat.


Para penjahat kesal mendengar makian dan sikap menantang Te Apoyo serta Brillo. Akhirnya melepas ikatan tali mereka dan mengajak berduel. Pertarungan dua pasang pun berlangsung setelah Nicorazó diseret keluar arena.


Di tengah pertarungan seekor anjing melompat ketengah arena dan menyalak. Lalu satu per satu anjing-anjing muncul. Ternyata mereka adalah anjing-anjing polisi yang sedang melakukan pelacakan.


Berkat Lillo mereka tiba di tempat itu. Polisi menyerang markas tersebut dan mencoba menyelamatkan sandra. Tembak-tembakan dari dua belah pihak tidak bisa dihindari. Brillo dan Te Apoyo melepas ikatan Estrella dan Esperanza.


"Cepat pergi dari sini!" perintah para polisi pada para sandra.

__ADS_1


"Semuanya! Cepat naik mobil!" perintah polisi yang menunggu di luar.


Semua sandra naik ke mobil. Tapi Te Apoyo mengajak Brillo dan Esperanza serta Estrella menuju mobil lain. Sampai di mobil Nicorazón yang pingsan dibaringkan dan diperiksa. Lillo muncul dari arah markas sambil menggigit sebuah senjata. Dan diterima oleh Brillo.


"Untungnya dia hanya pingsan," gumam Te Apoyo setelah memeriksa denyut jantung putranya.


Lalu mereka secepatnya meninggalkan tempat tersebut. Kali ini Estrella yang memyetir. Setelah mobil mereka melaju cukup jauh, markas penjahat diledakkan oleh polisi dengan bahan peledak yang mereka persiapkan untuk saat-saat genting.


Tanpa menoleh kebelakang mereka terus melaju. Tapi di tengah perjalanan mereka kehabisan bahan bakar. Dan memilih turun dari mobil.


"Om di sana ada bangunan. Mungkin sebaiknya kita ke sana saja," ujar Brillo.


Te Apoyo mengangguk dan menggendong putranya ke sana. Mereka membuat api unggun. Setengah jam kemudian putranya siuman. Tidak ada makanan apa pun disana. Ketika mereka mendengar suara mesin mobil, terpaksa api itu dipadamkan.


"Sepertinya mobil itu berhenti karena melihat mobil yang kita tumpangi," bisik Brillo.


Lalu ia menyuruh Lillo untuk menyelinap dan melihat siapa yang datang. Dengan mata Lillo Brillo melihat beberapa orang berseragam turun dari mobil. Mereka menyusuri tempat persembunyian Te Apoyo dan lainnya.


Dengan menggunakan kaca mata yang bisa melihat dalam gelap, mereka berjalan mendekati tempat Te Apoyo berada. Membuat suasana sepi itu terasa mencekam. Tiap langkah orang-orang itu, membuat degup jantung mereka yang bersembunyi berdetak makin kencang.


Putri Malika dengan cepat menutup mulut gadis itu. Dan menariknya berlari lebih jauh dari tempat tersebut. Te Apoyo berlindung di balik dinding bersama putranya yang masih belum kuat berlari.


"Siapa di sana! Keluar!" teriak orang-orang itu.


"Keluar! Atau kami tembak!" perintahnya lagi.


"Satu! Dua! Ti__"


Te Apoyo dan yang lainnya menembak arah datangnya suara. Tembak-tembakan pun terjadi.


"Tahan!" ujar seseorang yang baru datang.


"Sepertinya aku kenal siapa mereka!" ujarnya.


Brillo dan Estrella mengenal suara itu dengan baik. Dan semakin was-was. Karena itu adalah suara Gris. Satu serangan diluncurkan pada Estrella dan Brillo secara bersamaan. Mau tidak mau, kedua anak Malika keluar dari persembunyian mereka.


Sambil menembak ke arah Gris yang telah maju ke depan untuk menyerang mereka berdua. Tapi tembakan itu meleset semua. Sebab Gris menggunakan kekuatannya menghalau peluru tersebut. Akhirnya senjata itu kehabisan peluru.

__ADS_1


"Akhirnya muncul juga."


"Kamu merindukanku?" tanya Brillo dengan asal.


Merasa kesal Gris berlari dan menyerang Brillo. Meski gelap. Penglihatan Brillo lebih terang dengan bantuan mata Lillo. Tapi Gris kini sudah lebih lebih kuat. Dengan cepat ia mampu melumpuhkan Brillo. Saat itu Estrella yang menolong Gris ikut terpental akibat satu pukulan.


"No!" teriak Esperanza yang keluar dari persembunyiannya.


Melihat Esperanza, Nicorazón ikut keluar dari balik tembok persembunyiannya juga. Pengawal Gris menodongkan senjata. Dan menembak ke arah Nicorazón. Tembakannya meleset karena Gris dengan cepat menangkap tangan orang itu dan mengarahkan ke atas.


"Hentikan!" teriak Gris pada anak buahnya.


Lalu mendekati Esperanza. Tapi gadis itu mengambil bongkahan reruntuhan dan melempar Gris.


"Esperenza! Ini aku! Gris!" ujarnya.


Tapi Esperanza terus menangis dan melemparinya. Para anak buah Gris kebingungan. Tapi hanya bisa diam saja. Gris berjalan terus sambil melindungi kepalanya.


"Esperanza! Dengarkan aku!" teriaknya lagi.


Saat ia makin dekat Estrella dan Brillo menyerangnya. Tapi kali ini Gris tidak melawan. Ia hanya bertahan. Estrella berhenti menyerang. Begitu juga dengan Brillo. Lalu dengan cepat melompat mundur.


Nicorazón mendekati Esperanza yang menangis lalu memeluknya untuk menenangkannya. Gris terkejut dan juga marah atas kelakukan Nicorazón. Hampir saja ia menyerang anak itu jika tidak memikirkan Esperanza.


"Esperanza! Kemarilah! Aku tidak akan menyakitimu! Aku sudah lama mencarimu!" teriakmu.


Tapi gadis itu tidak mau karena saat ini pribadinya hanyalah anak kecil, dan namanya bukan Esperanza. Yang ia kenal hanyalah Nicorazón temannya.


Gris menyalakan sebuah kembang api yang besar lalu melemparkannya ke suatu arah. Dan tempat itu menjadi terang. Ia membuka kaca mata yang mampu melihat jelas dalam gelap tersebut dan menjulurkan kedua tangannya ke arah Esperanza.


"Sayang... ini aku. Esperanza kemarilah...! Apa kamu lupa padaku?" ujarnya sedih karena Esperanza tidak mau mendekat.


Lalu ia menghela napas dengan kesal. Suasana jadi hening. Tiba-tiba Gris berjalan dengan cepat dan mendekati Esperanza. Hal itu dihalangi oleh Estrella dan juga Brillo. Tapi keduanya kembali terpental. Tinggallah Nicorazón dan Estrella dihadapannya.


"Lepaskan tangan kotormu itu dari kekasihku! Atau kupatahkan!" ujarnya kesal bercampur cemburu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2