
Di rumah Malika, Te Espere yang menyadari kalau, kelakuan Alfredo ada hubungannya dengan dia. Jadi ia berpikir untuk menyerahkan diri pada Alfredo.
"Apa yang kamu pikirkan saat ini?" ujar Te Apoyo.
"Apa lagi yang bisa kita lakukan sekarang. Kita hanya diam saja dan kak Nicholas menjadi korban selanjutnya?"
"Tapi kita tidak bisa bersikap gegabah," ujar detektif menengahi perdebatan kedua anak kembar tersebut.
Te Apoyo setuju dengan ucapan detektif. Tapi kemudian Te Espere mengatakan, kalau ia melakukan ini bukan tanpa perhitungan. Dia berpikir seandainya pun ia tewas, mungkin ia bisa membantu Te Apoyo dalam menyelamatkan kedua orang tua mereka.
Setelah perdebatan detektif setuju. Dan sekarang mereka sedang bekerja sama dengan Om Nicholas yang merupakan seorang aparat keamanan. Mereka pun menyuruh Te Espere memakai alat penyadap dan kamera tersembunyi. Lalu Te Espere keluar dari rumah Malika.
Te Espere berjalan cukup jauh, sebab menurut perkiraan mereka, Te Espere sedang dalam pantauan mata-mata Alfredo. Dan kemudian sebuah mobil menghampirinya. Lalu membawanya masuk. Rencana detektif berhasil.
Mereka memantau keberadaan Te Espere melalui komputer. Namun sayangnya di tengah perjalanan, alat yang dipasang di tubuh Te Espere telah dilepaskan dan dibuang. Detektif kebingungan sebab penculik mengetahui rencana mereka lebih cepat. Tapi Te Apoyo tidak, ia sudah menitipkan Te Espere pada Klara. Jadi Klara mengikuti mobil penjahat tersebut.
Te Espere tidak bisa berbagi penglihatan pada Te Apoyo sebab matanya ditutup. Tapi bisa berbagi pendengaran. Sesampainya di tempat penculikan, mata Te Espere dibuka. Dan ia melihat Nicholas sudah babak belur. Te Apoyo pun menyampaikan kondisi Nicholas yang ia lihat dari mata Te Espere.
"Selamat datang tuan putriku!" ujar Alfredo.
Te Espere berusaha tetap tenang, sebab detektif mengingatkannya agar tidak menunjukkan rasa takut yang ingin dilihat oleh Alfredo. Sebab seorang psikopat menyukai hal tersebut. Nicholas memandang Te Espere sesaat namun kemudian ia buang muka.
__ADS_1
Klara yang merasa sudah mengetahui lokasi penculikan kembali ke tempat Te Apoyo dengan cepat. Dan detektif serta Om Nicholas pun menggerakkan anak buah mereka. Namun saat tiba. Di lokasi sudah tidak ada siapa-siapa.
Di tempat lain Alfredo tertawa terbahak-bahak. Ia menyadari ada sesuatu dengan roh Klara, saat roh tersebut melihat Te Espere seperti memberi kode untuk berpamitan.
"Kalian pikir aku bodoh! Aku tahu kalau Malika bisa melihat arwah. Jadi saat melihat arwah Klara ikut bersamamu, aku sudah membuat rencana baru. Aku penasaran apa yang akan mereka lakukan untuk menemukan lokasi baru ini." ujar Alfredo.
Te Espere terkejut saat menyadari kalau Alfredo bisa melihat roh halus. Dan berharap kalau Alfredo tidak menyadari kemampuannya dengan kemampuan Te Apoyo yang terhubung. Tapi Te Espere lupa untuk menyimpan emosinya. Rasa terkejutnya menarik perhatian Alfredo, untuk melihat expresi yang lain di wajah Te Espere.
Ia pun mengambil cambuk dan menggunakannya di tubuh Nicholas yang terikat dalam keadaan berdiri. Sedangkan Te Espere terikat di kursi. Te Espere menatap tanpa berkedip, menahan rasa marahnya.
Setelah tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, Alfredo berhenti bermain dengan cambuk di tubuh Nicholas. Lalu mendekati Te Espere.
"Ada apa denganmu hari ini? Kamu tampak berbeda, biasanya hanya dengan melihatku kamu sudah gemetaran."
"Kenapa? Kenapa kau sangat takut setelah kusentuh? Hahaha ini luar biasa."
Te Espere melihat semakin dalam kehidupan Alfredo. Dan saat Alfredo mencium pipinya untuk memancing rasa marah pada Nicholas, Te Espere bahkan mampu melihat kehidupan generasi sebelum Nicholas lahir. Dan dalam bayangan tersebut tampak putri yang menyerahkan Cresentia ke lapangan pembakaran.
Te Espere sesak napas. Energinya terkuras habis dan ia pun pingsan. Karena ia pingsan maka Alfredo melepas ikatannya dan membaringkannya di tempat tidur. dengan kedua tangan diikat di tempat tidur.
Te Apoyo juga mengalami hal yang sama, saat mereka berbagi penglihatan yang terlalu banyak. Ia kehilangan fokus dan juga pingsan di tengah perjalan.
__ADS_1
Alfredo menunggu Te Espere siuman sambil bermain permainan di ponselnya. Dan ketika melihat Te Espere siuman ia pun menghentikan mainannya. Ia memanggil seseorang untuk membawa seorang tawanan. Tawanan tersebut sudah tidak utuh lagi. Di letakkan di atas meja. Seorang gadis yang merupakan teman sekelas mereka berdua yang sudah sekarat.
Lalu Te Espere kembali di ikat di kursi dan duduk di dekat meja tersebut. Te Espere buang muka. Tidak mampu menyimpan perasaannya. Meski sudah sekuat tenaga berusaha. Air matanya bahkan tidak berhenti mengalir.
Bertingkah seperti koki, Alfredo menguliti tubuh tersebut. Dan tanpa pembiusan Alfredo mengeluarkan hati gadis itu. Dan gadis itu menghembuskan napas terakhirnya setelah mengejang. Pemandangan yang paling Alfredo sukai. Dan ia meminta seseorang untuk merekam video saat ia beraksi.
Te Espere muntah. Tidak sanggup menyaksikan hal yang tidak manusiawi tersebut. Namun ia dipaksa untuk menyaksikannya. Dan Alfredo menyuruh orang-orang yang ada di situ kecuali Nicholas untuk pergi. Ia membersihkan bekas muntahan Te Espere dan juga melucuti pakaiannya. Sambil melirik Nicholas yang buang muka.
Ia merasa senang sekali melihat reaksi mereka berdua. Lalu ia memakaikan sebuah gaun yang cantik pada Te Espere dan merapikan rambut Te Espere. Kemudian ia melanjutkan acara masak-masaknya. Ia menata potongan-potongan kecil tubuh temannya di piring. Lalu membubuhinya dengan saus.
Menyicipinya lalu menawarkannya pada Nicholas. Nicholas menolak dan menutup mulutnya rapat-rapat. Lalu Alfredo menawarkan pada Te Espere. Te Espere menolak.
"Aku sudah membuatnya dengan susah payah. Tapi kalian berani menolak. Kalian harus dihukum. Bagaimana kalau dengan memangkas jari-jari kalian yang tidak rapi."
Ia mengambil gunting besi yang besar. Yang biasa digunakan tukang kebun untuk merapikan ranting pohon. Saat ia mengarahkannya pada Nicholas, Nicholas hanya tersenyum. Alfredo kesal dan menambah mangga muda di wajah Nicholas. Lalu ia mengarahkan gunting itu ke jari Te Espere. Te Espere gemetaran dan ia tertawa terbahak-bahak.
Kembali ia tawarkan daging mentah tersebut. Lagi-lagi Te Espere menolak. Tapi saat Alfredo mengacam akan menyayat nadi Nicholas. Te Espere berteriak dan berjanji akan memakan daging mentah tersebut. Alfredo pun menyuapkan daging mentah itu ke mulut Te Espere. Dengan gemetaran Te Espere membuka mulutnya.
"Kunyah dengan benar, dan jangan dimuntahkan, aku tidak suka pada orang yang tidak menghargai jerih payahku," ujar Alfredo setelah daging itu berpindah ke mulut Te Espere.
Te Espere gemetaran. Lagi-lagi ia melihat masa lalu dari pemilik potongan daging tersebut. Bagaimana ia disiksa. Te Espere merasa mual dan memuntahkan daging mentah tersebut. Alfredo menjadi kesal lalu mengambil pisau dapur dan menyayat leher Nicholas.
__ADS_1
"Tidak!" teriak Te Espere.
Bersambung...