
"Ya kamu benar, tapi terus berada di rumah sakit ini juga tidak baik. Bagaimana kalau para keturunan ketujuh muncul tiba-tiba?" tanya Tomi.
Mengingat kalau para keturunan ketujuh bukanlah tandingan mereka setelah berkali-kali gagal menangkap mereka. Dan mereka belum tahu banyak tentang kemampuan lawan mereka.
"Saya rasa para keturunan ketujuh itu tidak akan muncul untuk sementara. Tapi untuk berjaga-jaga aku akan mengerahkan anggotaku," ujar putra ketiga Gina.
"Bukankah kamu sudah lihat sendiri kalau anggotamu juga tidak bisa berkutik di hadapan mereka?"
"Saya tahu. Tapi anggotaku berguna untuk mencari alat peledak yang mungkin berada di suatu tempat di daerah ini. Dan kami cukup membantu untuk melakukan penjinakan alat peledak itu."
Tomi menghela nafas dengan kasar. Lalu putra ketiga Gina mengerahkan anggota yang ada untuk mencari alat peledak. Dion meminta anak buahnya untuk ikut membantu.
Setidaknya mereka harus bertahan di sana sampai Nicorazón siap dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Ternyata dugaan putra ketiga Gina benar. Banyak alat peledak yang telah di pasang.
Satu persatu mereka menjinakkan alat tersebut tapi di tengah pekerjaan mereka serentetan alat peledak menghancurkan gedung-gedung tinggi. Masyarakat kucar-kacir dan tidak tahu harus bersembunyi di mana.
Mayat-mayat bergelimpangan, darah berceceran di mana-mana. Isak tangis menambah keharuan suasana tersebut. Rumah sakit tempat Nicorazón berada dalam sekejap menjadi penuh. Karena banyak orang yang terluka akibat terkena ledakan maupun puing dari benda-benda yang hancur.
"Astaga, sampai kapan semua ini akan berakhir," ujar Lina di samping suaminya.
Tidak lama beberapa gedung lainnya mulai hancur akibat ledakan. Melihat dari pola ledakan akhirnya putra ketiga Gina bisa membaca daerah mana lagi yang akan menjadi lautan api.
Dengan segera ia mengerahkan anggotanya ke tempat berikutnya. Mereka menyadari pola ledakannya membentuk lingkaran. Tujuannya agar tidak ada yang bisa keluar dari kota tersebut karena telah dikelilingi lautan api.
Dan gedung-gedung yang rubuh akan menutup akses untuk keluar. Maka mereka harus memotong pola tersebut. Satu ledakan akan memicu ledakan berikutnya. Tapi jika berhasil memutus satu dari mereka maka ledakan akan berhenti. Tapi mereka kalah cepat.
"Gawat, ini bisa menjadi lebih buruk," ujar putra ketiga Gina.
"Semuanya mundur!" teriak putra ketiga Gina.
__ADS_1
Setelah ia menyadari ada yang tidak beres saat melihat sebuah drone melayang dan mengikuti mereka.
"Kita dipermaikan!" umpatnya.
Para penjinak alat peledak mundur. Dan ledakan kembali mengikuti pola awal setelah beberapa menit yang lalu ledakan terjadi secara acak.
"Dorado sebaiknya kita pergi dari sini secepatnya sebelum gadis itu kembali!" ujar Verde.
Dorado menatapnya sekilas lalu berbalik ke arah Verde. Semua keturunan ketujuh akhirnya meninggalkan kota tersebut. Tapi Dorado masih menyempatkan diri meledakkan alat peledak secara acak sekali lagi sebelum akhirnya jiwanya kembali ketubuh aslinya.
Tubuh asli Dorado dan Verde kini berada di sebuah pesawat. Setelah meninggalkan tubuh yang mereka pinjam, pemilik asli tubuh tersebut sangat ketakutan karena berada di tengah kobaran api. Dan akhirnya mati karena gedung tempat mereka rubuh dan menimpa tubuh mereka.
"Ayo kita ke pangkalan militer dan berperang melawan orang-orang yang menjadi penghalang kita!" ujar Dorado pada pilot yang merupakan komplotannya.
Mereka kini yang berada di pusat kota tersebut sudah tidak bisa kemana-mana. Ledakan di mana-mana membuat mereka yang selamat berkumpul di satu tempat dan pasrah saat melihat satu persatu gedung-gedung diledakan.
Tapi baru saja mengatakan hal itu beberapa helikopter terbang mendekati mereka. Lalu beberapa orang turun sebelum helikopter itu benar-benar mendarat menggunakan tali. Putra ketiga Gina maju kedepan dan menyambut kedatangan saudara sepupunya.
"Maaf kami terlambat!" ujar sepupu putra ketiga Gina.
"Semuanya yang terluka akan diungsikan terlebih dahulu!" teriak keponakan Gina tersebut.
Tapi mereka yang ada di sana malah berebutan untuk naik helikopter setelah benda besar itu mendarat. Aksi dorong mendorong pun terjadi.
Sehingga tidak ada pilihan selain menembakkan timah panas ke udara. Maka suasana jadi lebih tenang. Dan mereka yang terluka parah diangkut ke helikopter. Tapi tidak dengan Nicorazón.
"Helikopter terlalu penuh, ia tidak bisa berada di sana," ujar seorang dokter.
Beberapa helikopter telah berangkat. Ledakan terus terjadi. Dan kedatangan bala bantuan sangat lambat. Sebab peledakan terjadi tidak di satu kota saja. Kota terdekat juga telah menjadi sasaran ledakan.
__ADS_1
"Malika dan kalian semua ikutlah naik di helikopter berikutnya. Sebab kalian tidak boleh mati di tempat ini," ujar putra ketiga Gina saat helikopter sudah beberapa kali hilir mudik mengungsikan orang-orang.
"Lalu bagaimana dengan Nicorazón?" tanya Malika.
"Kami akan menunggu helikopter berikutnya," ujar Te Apoyo.
Mereka yang sehat diungsikan ke hutan terdekat. Sebab tempat itu merupakan tempat teraman untuk saat ini. Dan diungsikan lewat jalur darat menuju tempat pengungsian darurat berikutnya.
Berbeda dengan yang terluka parah, mereka langsung diungsikan ke tenda pengungsian dan mendapatkan penanganan secara langsung.
Maka pada saat kedatangan helikopter berikutnya Malika dan putrinya, Dion dan Lina serta Primavera, naik helikopter tersebut. Tapi Tomi dan Brillo memilih tetap berada di tempat tersebut. Membiarkan yang lain berangkat lebih dahulu.
Mereka yang sehat diungsikan ke hutan terdekat. Sebab tempat itu merupakan tempat teraman untuk saat ini. Dan diungsikan lewat jalur darat menuju tempat pengungsian darurat berikutnya.
Berbeda dengan yang terluka parah, mereka langsung diungsikan ke tenda pengungsian dan mendapatkan penanganan secara langsung.
Para pria yang masih kuat tetap tinggal membuat parit dan tempat berlindung seandainya ledakan makin mendekat. Mereka juga merusak keran-keran di tiap tempat agar air yang keluar lebih besar. Dan mengisi parit yang mereka gali.
Sedangkan para polisi memeriksa alat peledak di setiap tempat yang belum mengalami kehancuran. Dan memutus rantai penyebaran. Lalu membuat benteng untuk berlindung bagi mereka
Dan ledakan beruntun terus terjadi. Tapi dampaknya semakin kecil akibat banyaknya galian yang telah diisi dengan air. Air yang sudah membanjiri parit buatan dan beberapa tempat memperkecil terjadinya kebakaran.
Bahkan lubang yang dihasilkan oleh ledakan dengan segera terisi air. Api yang padam tidak sempat membakar sumbu bahan peledak yang selanjutnya.
Dan ledakan akhirnya berhenti dan menyisakan api di mana-mana. Helikopter mulai berani mendekat lagi setelah ledakan terakhir berhenti. Mengungsikan orang-orang yang tersisa. Nicorazón akhirnya bisa naik helikopter yang lapang dan mendapatkan perawatan dipengungsian.
Kemudian negara tetangga ikut membantu. Saat pemimpin negara tersebut membuat pernyataan resmi untuk meminta bantuan.
Bersambung...
__ADS_1