Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Berbicara dengan Arwah


__ADS_3

Malam itu Malika menghubungi Tomi. Lalu Tomi menghubungi jurnalis yang kemarin mendatangi rumahnya. Dan meninggalkan nomor yang bisa dihubungi.


"Apa kamu yakin nak?"


"Saya yakin bu, Malika tidak pernah bohong."


"Tapi bukankah ini aneh?"


"Jadi bagaimana, pelakunya masih di sekolah dan kami belum diijinkan masuk ke sekolah. Hanya ibu yang bisa kami andalkan. Polisi tidak akan percaya pada kami." tutur Tomi saat melakukan panggilan malam itu juga.


Ke esokan paginya Fika berkunjung ke rumah Ray. Dan menceritakan yang diceritakan oleh Tomi.


"Apa-apaan mereka, mengarang cerita sembarangan. Memangnya mereka punya bukti? Mereka bisa ditangkap atas tuduhun berita palsu. Untuk menyelamatkan diri seharusnya mereka tidak perlu melakukan hal ini." tutur Dion. Ia tidak terlalu gembira akan hal tersebut.


"Tomi mengatakan kalau Malika bisa melihat arwah dan berkomunikasi dengan mereka," ujar Fika kemudian.


"Ya, baiklah. Kita anggap ia punya indra ke-6 lalu apakah bisa dibuktikan kalau arwah-arwah korban yang mengatakannya. Juga bagaimana kita mengatakannya pada pihak berwajib?" tanya Dion ragu.


Fika teringat sesuatu. Ia ingat Malika adalah nama anak yang akan ia wawancarai tapi tidak jadi. Ia belum sempat bertemu dengannya. Jika saja ia bisa bertemu Malika dan membawanya ke rumah Dion. Mungkin bisa membantu, pikir Fira.


Akhirnya Fika kembali ke rumah Malika mencari tahu data tentangnya. Sekaligus menanyakan tentang kemampuannya. Tapi baru tiba di gerbang ia sudah di usir oleh penjaga di rumah tersebut. Maka ia pun mau tidak mau harus pergi lagi tanpa bertemu Malika.


Jadi ia pun mendatangi Tomi. Lalu mengajaknya ke rumah Ray atas ijin orang tua Tomi. Tapi orang tua Tomi tidak memberi ijin. Dia kuatir kalau Fika adalah orang jahat yang menyamar sebagai jurnalis.


Tapi Fika tidak kehabisan akal. Ia meminta Ray yang ikut dengannya ke rumah Tomi. Dion setuju tapi ia menyuruh seseorang untuk mengawal mereka. Dan akhirnya Tomi dan Ray bertemu kembali.


"Tapi jika tidak ada Malika aku bisa apa? Yang bisa berbicara pada arwah itu hanya Malika." ujar Tomi.


Ray masih belum buka suara. Tapi Fika kemudian menyuruh Tomi untuk menghubungi Malika.


"Malika kami sudah berkumpul di sini sekarang. Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Tomi.


Tomi juga menceritakan kalau tadi Fika datang ke rumahnya tapi di usir.

__ADS_1


"Ibu ini mau membantu kita, dan juga percaya pada kita." lanjut Tomi.


Malika mengirim pesan kalau ia ingin melihat wajah jurnalis yang Tomi maksud. Malika menghubunginya lewat video call. Malika memperhatikan wajah Fika. Mirip dengannya. Tapi kemudian ia memperlihatkan wajah yang ada di layar pada arwah yang ada di kamarnya.


Malika membuat isyrat sebagai pertanyaan, "Apa kalian mengenalnya?"


Arwah-arwah itu menggeleng. Maka percakapan pun dilanjutkan. Malika melihat Ray ada di sana. Tentunya ini akan membantu sebab Ray bisa melihat arwah. Jadi Malika menyuruh semua arwah yang ada di kamarnya pergi ke rumah Tomi.


Dan akhirnya arwah-arwah itu berada di rumah Tomi. Tapi tetap saja hanya Ray yang bisa melihatnya. Malika meminta Ray untuk menjadi penerus dari ucapan arwah tersebut kepada jurnalis yang berada di tempat itu.


"Jadi kamu bisa berkomunikasi dengan arwah?" tanya Fika. Ray menggangguk.


"Oh ok coba tanyakan bagaimana caranya mereka bisa diculik. Mungkin dari keterangan tersebut kita bisa mendapat informasi baru!" pinta Fika.


Ray sebenarnya enggan menunjukkan kemampuannya pada orang lain. Tapi karena itu harus dilakukan maka ia pun jadi perantara antara Fika dan arwah-arwah tersebut. Setelah berbicara panjang lebar, seseorang yang ikut bersama mereka jadi tertarik.


Ia sebenarnya seorang detektif yang menyamar. Dia mengenal Dion dengan baik. Sehingga ia setuju untuk ditunjuk mengawal putra Dion keluar rumah. Dari cerita yang disampaikan oleh Dion, detektif tersebut menyuruh seseorang memeriksa lokasi kejadian secara diam-diam.


Sayang sekali di hari itu tidak ada yang menemukan barang bukti. Jadi penyelidikan dihentikan untuk sementara. Dan Fika serta Ray pulang ke rumah Ray. Ternyata arwah para korban juga mengikuti mereka. Klara tidak suka akan hal itu.


"Tidak perlu, aku sudah menyuruh anak buahku untuk memeriksanya," ujar detektif itu dengan cepat.


Fika menatapnya dengan heran. Dan untuk menghilangkan keheranan Fika detektif tersebut pun memperkenalkan diri. Dan Fika pun lega. Dan akhirnya mereka bekerjasama untuk mencari cara menangkap pelaku kejahatan.


Setelah hari mulai gelap detektif pamit pulang. Dan ia menawarkan tumpangan pada Fika. Sementara arwah-arwah siswi tersebut mencari waktu yang tepat untuk meminta maaf pada Ray.


"Ray kami benar-benar minta maaf. Kami sudah salah paham padamu," tutur mereka.


Ray cuma diam saja. Ia tidak ingin terlihat berbicara dengan arwah. Meski kini kedua orang tuanya mengetahui kalau ia bisa berbicara dengan arwah. Klara yang merasa sudah lebih dahulu berada di sisi Ray mengusir mereka agar menjauh.


Jadi arwah-arwah tersebut kembali ke rumah Malika. Tapi Malika kelihatannya sedang dapat masalah. Ia diawasi oleh mamanya. Ponselnya disita. Lalu arwah tersebut berkelana dengan tujuan tanpa arah. Dan salah satunya pergi ke rumah putri kepala sekolah.


Di rumah putri kepala sekolah ternyata pelaku kejahatan sedang berdua dengan putri mengerjakan tugas sekolah. Putri yang tidak tahu tentang orang yang bersamanya tentu saja tidak melakukan waspada. Dan untungnya setelah selesai melakukan pekerjaan sekolah, penjahat tersebut pulang tanpa melukai putri kepala sekolah.

__ADS_1


"Tunggu aku akan menyuruh supir untuk mengantarkanmu pulang." ujar putri kepala sekolah.


"Tidak perlu, rumahku tidak terlalu jauh." tolaknya.


"Tapi,"


"Sudahlah jangan cemas. Aku pasti baik-baik saja." ujar murid laki-laki tersebut.


Tapi putri memaksa. Sehingga anak itu diantar oleh supir. Beberapa menit kemudian si supir pun kembali dan gerbang di tutup.


Putri yang sudah menyelesaikan tugasnya pergi ke kamarnya. Di bawah jendelanya tampak seorang pria berpakaian seperti supirnya mengawasi kamarnya.


"Untuk apa pak supir di situ?" gumamnya.


Ia lalu mengalihkan pandangannya pada tempat tidurnya. Merebahkan diri lalu bermain game di ponselnya. Lalu ia ketiduran. Tidak lama ia terlelap. Sebuah nada pesan masuk berbunyi. Putri kepala sekolah terkejut.


Dan lebih terkejut saat melihat sebuah video. Seorang anak laki-laki babak belur dan meminta pertolongannya. Tapi juga meminta agar ia jangan melapor pada polisi. Putri kepala sekolah diminta untuk datang ke sebuah alamat seorang diri.


Tentu saja ia tidak mau ambil resiko.Saat itu papanya tidak ada di rumah. Ia melihat keluar jendela. Tampak orang yang menjaganya sedang berpatroli di bawah jendela kamarnya.


Ia lalu keluar rumah dan menemui orang tersebut dan memperlihatkan video itu. Mulanya ia hanya menyuruh penjaga tersebut pergi bersama yang lain dan ia tidak ikut. Tapi penjaga itu justru memintanya ikut.


"Sebaiknya nona ikut denganku. Sebab jika aku pergi dengan penjaga yang lain. Mungkin penjahat yang sedang mengawasi akan tahu kalau nona tidak ada yang jaga."


"Baiklah kalau begitu. Aku berganti pakaian dulu." ujar putri kepala sekolah.


Saat putri kepala sekolah pergi berganti pakaian. Penjaga tersebut mendekati tubuh penjaga yang asli. Ia membunuhnya saat berpura-pura sebagai supir yang mengantar teman dari putri kepala sekolah tadi. Dan ia pun tertawa kecil. Lalu memasukkan jasad itu ke dalam mobil.


Putri kepala sekolah tidak mengenal wajah orang yang menjaganya. Karena ia hanya pernah melihatnya sekilas. Dan tidak terlalu ambil pusing setelah merasa lega karena ia memiliki penjaga. Dan jika dari jendela kamarnya, ia tidak bisa melihat dengan jelas sebab orang tersebut. Sebab orang itu punya kebiasaan memakai topi hitam.


"Aku sudah siap, ayo kita berangkat," ujar putri kepala sekolah.


Pintu mobil dibuka lalu ditutup kembali.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2