
Ternyata mereka adalah polisi yang datang bersama Malika. Lillo yang mengenali Malika langsung berhambur pada wanita itu. Membuat Malika kesulitan berdiri.
Kemudian perhatian dialihkan pada Esperanza. Gadis itu diam tidak bergeming. Tapi ia merasa lega melihat polisi yang datang dengan Malika.
"Esperanza ayo ikut bersama kami," ujar Malika.
"Anda tahu nama saya?" tanya gadis itu.
"Tentu saja, nanti saja ceritanya," kata Malika.
Mendengar kata ikut, seketika Esperanza bergidik ngeri.
"Bagaimana kalau mereka penipu?" batin Esperanza.
"Jangan takut kami tidak akan menyakitimu," ujar Malika.
Setelah menimang-nimang baik buruknya, gadis itu setuju mengikuti mereka yang datang menjemput Lillo. Mereka pun berangkat dari rumah pasangan tua itu setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan.
"Sayang sekali," gumam nenek tersebut.
"Tidak apa, hari ini kita sudah kedatangan tamu yang cukup banyak," kata si kakek sebelum akhirnya mereka pergi melanjutkan istirahatnya.
Selama perjalanan, Esperanza terus berada di dekat Lillo. Karena saat ini yang ia percayai hanyalah anjing tersebut. Namun dilain pihak Brillo meminta Lillo untuk menunjukkan lokasi Esperanza disekap. Maka di tengah perjalanan Lillo dan beberapa polisi pergi ke tempat tersebut.
Sedangkan Esperanza dan Malika masih melanjutkan perjalanan menuju kota. Malika mengetahui kalau sejak anjing itu turun Esperanza merasa takut. Jadi Malika mencoba menenangkannya dengan merangkul gadis itu.
"Berapa bahasa yang kamu kuasai?" tanya Malika di tengah perjalanan.
Esperanza terdiam sejenak. Lalu menjawab dengan pelan namun cukup jelas.
"Apa di sekolahmu kalian mempelajari bahasa itu?"
Esperanza menggeleng.
"Jadi dari mana kamu tahu? Apa keluargamu ada yang berasal dari negara lain?" Lagi-lagi Esperanza menggeleng.
Malika menatap Esperanza lekat-lekat. Melihat gadis itu jadi kikuk, ia pun mencoba untuk tidak bertanya apapun lagi. Namun beberapa menit kemudian ia bertanya lagi.
__ADS_1
"Apa kita pernah bertemu, kenapa rasanya kita sudah lama mengenal. Oh, ya namaku Malika."
Mendengar nama itu Esperanza mencoba mengingat-ingat nama tersebut. Terlintas bayangan anak perempuan sebayanya. Namun ia tidak bisa mengingat wajah anak itu.
Mereka pun tiba. Malika dan Esperanza turun di kantor polisi. Lalu dengan segera menuju ruangan khusus. Di sana ada Tomi dan Brillo yang telah menunggu.
Melihat Brillo, Esperanza mundur selangkah. Ia mengenal anak itu. Juga mengetahui kalau hubungan Brillo dan Te Apoyo cukup baik. Ia pun berpikir kalau ia sudah dijebak dan mencoba untuk kabur. Belum sempat Brillo mengatakan sesuatu, gadis itu segera berlari menuju pintu.
"Tolong! Tolong buka pintunya!" teriak Esperanza setelah mencapai pintu.
Malika dan Brillo melongo. Pintu itu sudah tertutup sejak ia masuk. Dari pintu lain seorang pria masuk. Ia adalah putra ketiga Gina.
"Ada apa ini?" tanyanya setelah mendengar Esperanza berteriak.
Brillo dan Malika belum sempat bicara, Esperanza sudah mulai menangis. Putra ketiga Gina mendekat membuat gadis itu makin berteriak kencang.
"Tenang-tenang! Aku seorang polisi! Kami hanya ingin membantumu!" ujarnya sambil menunjukkan lencananya.
Esperanza masih menangis dan tidak mau didekati oleh siapapun.
"Biar ia tenang dulu. Sebaiknya kita membahas masalah lain."
Malika mencoba mendekati Esperanza, namun gadis itu berteriak histeris. Membuat Malika mundur. Lalu Lillo dan beberapa polisi masuk ke ruangan itu.
"Lillo bujuk gadis itu pergi dari sini dan bawa ke ruangan sebelah!" ujar Brillo melalui batin dengan anjing itu.
Dan tebakan Brillo benar, meski takut didekati oleh yang lain. Namun gadis itu diam saja saat Lillo mendekat. Ia bahkan memeluk anjing itu. Menganggapnya seperti sahabat.
Anjing itu lalu bergerak. Menarik pakaian Esperanza lalu melepasnya. Dan pergi dari sana. Melihat Esperanza tidak bergeming, ia melakukan hal yang sama.
Akhirnya Esperanza berdiri tegak dan mengikuti anjing tersebut sambil berjalan merapat ke dinding. Orang-orang yang ada di sana berpura-pura tidak melihat. Dan akhirnya Esperanza tiba di sebuah kamar.
Setelah mereka masuk ke ruangan tersebut, pintunya tertutup secara otomatis. Esperanza berlari ke pintu dan mencoba membuka pintu. Dan berhenti setelah mendengar Lillo menggongong.
Esperanza melihat anjing itu kini berada di atas kasur sambil mengibas-kibaskan ekornya. Seolah merasa dipanggil Esperanza pun mendekat.
"Tempat apa ini sebenarnya?" gumam Esperanza.
__ADS_1
Perlahan ia meletakkan tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang. Dan matanya menyapu seluruh ruangan. Seseorang datang. Ia adalah putri Malika.
"Jangan takut, aku tidak bawa senjata. Bisakah kamu meletakkan benda itu?"
Lillo yang melihat putri Malika segera turun dan menjilat tangan gadis yang baru masuk itu.
"Lillo... untunglah kamu selamat! Kamu sudah makan?" tanya gadis itu.
Lalu gadis tersebut membuka lemari pendingin dan mencari makanan di sana. Ia menemukan sepotong daging dan memberikannya pada Lillo. Melihat keakraban gadis dan anjing itu, Esperanza perlahan-lahan menurunkan benda logam yang dipegangnya.
Tapi begitu putri Malika mendekat ia mengangkat benda itu lagi. Memasang wajah siaga. Putri Malika tersenyum.
"Perkenalkan namaku Estrella," ujar putri Malika memperkenalkan diri.
"Aku adalah kakak perempuan Brillo," ujarnya lalu terdiam saat Esperanza melotot marah.
Dan Esperanza semakin marah saat Estrella mengatakan hubungannya dengan Te Apoyo.
"Diam...! Kalian orang-orang jahat...!" teriak Esperanza kesal dan menangis.
"Keluarkan aku dari sini, aku mau pulang! Pulang ke negaraku!" teriaknya histeris.
Estrella diam. Ia menyadari kalau kondisi mental Esperanza saat ini sangat buruk. Jadi ia pun keluar. Tapi saat Lillo ingin ikut dia menahan anjing itu.
"Tidak Lillo kamu tetap di sini dulu ya. Kami masih banyak tugas," kata Estrella pada Lillo dan dijawab dengan kibasan ekor oleh Lillo.
"Ada banyak makanan di kulkas dan ada pakaian di lemari. Di sana ada kamar mandi. Jika butuh sesuatu bicaralah di alat ini," ujar Estrella sambil menunjukkan benda-benda dan tempat-tempat yang ia maksud.
Setelah itu Estrella pergi ke luar. Sesaat ia keluar Esperanza menghantam pintu itu dengan benda logam yang ada ditangannya. Tapi pintu itu terlalu kuat. Berkali-kali pun ia memukul benda logam berbentuk piala tersebut tidak membuahkan hasil. Dan ia pun menyerah.
"Apa kita beritahu pada Te Apoyo tentang hal ini?" tanya Malika pada Tomi.
"Tidak, lebih baik ia jangan diberi tahu dahulu. Agar Esperanza palsu itu mengira kalau ia belum ketahuan."
"Tapi Nicorazón bisa dalam bahaya," kata Malika lagi.
"Mama tenang saja, Nicorazón membenci gadis itu, yang asli maupun palsu pasti tidak akan bisa mendekatinya," ujar Brillo ikut campur.
__ADS_1
Kini mereka sekeluarga bergabung dalam kelompok yang bertugas menangkap para keturunan ketujuh. Dan mereka mengumpulkan para cenayang yang bersedia jadi sukarelawan untuk melawan para roh yang berada dibawah kekuasaan para keturunan ke tujuh.
Bersambung...