
Gris melepaskan Tomi dan Malika bersamaan. Melihat keberadaan Gris, Dorado kelabakan. Jika sampai Gris mencurigainya tamatlah sudah. Ia tidak akan bisa lagi memanfaatkan anak itu.
"Kenapa kamu ada di sini? Dan apa kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan? Bukankah tugasmu di tempat lain?" ujar Dorado menutupi kegugupannya.
"Kamu sendiri sedang apa?" ujar Gris sambil memungut selembar foto Esperanza.
Ia menatap tajam ke arah Dorado. Dorado mencoba bersikap setenang mungkin. Gris menyimpan foto itu di saku jaketnya. Dan berjalan menuju Dorado.
"Aku datang ke mari memang untuk mencari gadis itu. Aku juga ingin tahu siapa dia," ujar Dorado berbohong.
"Sungguh? Kamu tidak tahu siapa dia?" tanya Gris menunjukkan muka tidak percaya.
"Ya," jawab Dorado singkat.
"Aku melihat ada dua Esperanza," ujar Gris.
"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Dorado berpura-pura polos.
"Aku tidak tahu, itu ada hubungannya denganmu atau tidak. Tapi melihatmu sangat ingin mencarinya membuatku curiga."
"Itu karena aku penasaran. Siapa dia sebenarnya dan kenapa dia punya kekuatan yang sangat dahsyat. Dan lagi pula belum tentu dia Esperanza. Bukankah Esperanza hanya gadis biasa?"
Tomi dan Malika diam memperhatikan perdebatan kedua keturunan ketujuh tersebut. Mereka tidak mau ikut campur. Lalu diam-diam mencoba kabur. Tapi pergerakan mereka sangat mencolok sebab mereka ada di tengah-tengah para penjahat.
Mereka melototi pasangan suami istri yang mencoba melarikan diri tersebut. Tapi kemudian pasangan suami istri itu kembali duduk di atas tanah seolah sedang menyaksikan film laga.
"Kalian berdua! Jawab aku! Apa kalian mengenal gadis ini?" tanya Gris pada sepasang suami istri tersebut.
Mereka memilih diam. Dorado tertawa mengejek Gris yang tidak mendapatkan jawaban.
"Apa kamu tidak tahu kalau Te Apoyo itu seorang dokter? Aku yakin ia tahu kenapa ada dua Esperanza. Esperanza yang asli dimanfaatkan untuk menggantikan posisi Esperanza palsu."
"Siapa yang kamu maksud dengan Esperanza palsu?" tanya Gris menanggapi ujaran Dorado.
"Tentu saja gadis yang menyerang kita. Sepertinya gadis itu adalah kekasih dari putra dokter tersebut."
__ADS_1
Malika dan Tomi yang mendengar ucapan Dorado mengernyitkan kening mereka berdua. Saat mendengar Dorado berbicara dalam bahasa negara kelahiran Gris.
"Dari mana kamu yakin?"
"Sudah jelaskan, gadis itu menyerang kita hanya untuk membawa putra dari dokter tersebut. Dan ia bilang kalau anak itu kekasihnya. Apa mungkin Esperanza yang asli akan mengatakan hal itu?" ucap Dorado panjang lebar.
"Dan jika ia adalah Esperanza yang asli dia tidak akan menyerangmu, bukan?" tanya Dorado lagi untuk menghilangkan keyakinan Gris kalau yang menyerang mereka adalah yang asli.
"Aku rasa, Esperanza sengaja ditipu. Lalu diatur cara membuatnya mati mengenaskan lalu mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan?" lanjut Dorado.
"Memangnya apa yang mereka inginkan dari Esperanza?"
"Organ dalamnya, mereka itu pasti butuh sesuatu dan hanya Esperanza yang asli memilikinya. Bagian tubuh untuk dicangkokkan. Mungkin Esperanza yang palsu adalah hasil rekayasa genetik dari rumah sakit itu!" jawab Dorado.
"Dan gadis itu mulai mengalami kerusakan akibat kekuatan yang ia miliki tidak sanggup ditopang oleh tubuhnya," ucap Dorado lebih meyakinkan.
"Hahaha, omong kosong apa yang kamu bicarakan nak?" ujar Tomi dengan nada mengejek pada Dorado dalam bahasa negara Gris.
Gris menoleh kebelakang. Tomi akhirnya berdiri tegak.
"Dan menurut bukti yang ada, Esperanza yang palsu itu merupakan orang suruhan Dorado! Sengaja disusupkan ke rumah Te Apoyo untuk melukai Nicorazón. Sementara Esperanza yang asli diculik oleh orang suruhan Dorado," tutur Tomi seperti seorang dosen memberi kuliah.
"Jangan mengarang cerita sembarangan!" teriak Dorado.
"Mengarang katamu? Aku bukan orang yang bicara sembarangan! Esperanza yang palsu menikap Nicorazón tepat ke arah jantungnya. Terekam jelas di kamera CCTV tapi beruntung pisau itu tidak mengenai jantung anak tersebut," jelas Tomi.
"Tidak ada alasan bagi gadis itu menyerang Nicorazón. Aku yakin jika dia Esperanza yang asli tidak mungkin ia menyerang Nicorazón, sebab Te Apoyo memberinya beasiswa," lanjut Tomi.
"Apanya yang tidak mungkin? Esperanza pasti sudah tahu kalau beasiswa itu bohongan dan menjadi kesal lalu membalas dengan menyakiti Nicorazón," jawab Dorado.
"Cukup!" ujar Gris kesal.
"Gris, biarkan aku membunuh mereka. Agar mereka berhenti bicara omong kosong. Mungkin mereka juga bersekongkol untuk meleyapkan Esperanza yang asli! Ayo balas perbuatan mereka," kata Dorado menghasut Gris.
"Dan mari bekerja sama membunuh Esperanza palsu itu!" lanjutnya.
__ADS_1
"Apa aku boleh memegang benda yang ada di belakangmu?" tanya Gris sambil menunjuk ke arah pedang yang muncul dari luka Nicorazòn.
"Untuk apa? Bila kamu ingin membunuh mereka biar aku saja yang melakukannya, untukmu."
Gris tersenyum mengejek. Dorado tidak suka melihat hal itu.
"Kenapa harus kamu yang membunuh mereka? Aku ingin membunuh mereka yang membunuh Esperanza dengan tanganku sendiri!" ujar Gris.
"Jadi berikan sekarang juga!" lanjutnya.
Dorado tersentak.
"Gris... pedang ini tidak boleh disentuh sembarangan. Jika kemampuanmu belum sempurna, maka energimu akan dihisap olehnya. Jadi minggirlah biar aku yang menghabisi mereka," ujar Dorado.
"Jika kamu bisa memegangnya, mengapa aku tidak bisa? Dari mana kamu tahu jika belum memberiku kesempatan. Jadi biarkan aku menggunakannya sekali saja," ujar Gris bersikukuh.
"Kalau energimu habis, kamu bisa mati!" ujar Dorado.
Tomi membaca raut wajah Dorado menyadari kalau anak itu berbohong. Dan Tomi bisa menebak kalau Dorado punya niat jahat pada Gris. Tomi juga merasa yakin jika Gris bisa diajak kerja sama.
"Sebelum energiku habis, aku yakin kamu akan menolongku untuk melepaskan pedang itu dari tanganku, iya kan?" kata Gris tersenyum penuh arti.
"Baiklah kalau itu yang kamu mau, aku akan membantumu melepaskan pedang ini dari tanganmu sebelum benda ini menyerap habis energimu," ujar Dorado berjalan mendekati Gris.
"Tapi sebelum itu, lebih baik kamu mati!" ujar Dorado mencoba menghunus pedangnya ke arah jantung Gris.
Malika yang sejak awal membaca gerak-gerik mencurigakan Dorado melompat ke depan Gris dan melemparkan serangan pada Dorado. Tapi percuma. Serangan itu sama sekali tidak ada gunanya. Dorado terus mendekat.
Hanya beberapa centimeter saja ujung pedang itu akan mengenai Malika jika Tomi tidak membentenginya dan mengorbankan diri. Tomi mendorong Malika dan ditangkap oleh Gris.
Tomi rubuh seketika saat pedang yang menembus tubuhnya di tarik. Dorado tidak berhenti ia masih mencoba menyerang Gris. Malika yang berada di depan Gris berguling kesamping dan saat itu Gris menangkap pedang tersebut dengan kedua tangannya.
Pedang itu belum mengenai jantungnya tapi kedua tangannya terluka parah. Jika ia tidak dengan cepat bergeser ke samping dan membuang pedang yang ada di tangannya maka tangannya pasti akan putus.
Bersambung...
__ADS_1