Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Rumah Besar


__ADS_3

Lina menoleh dan melihat Dion berdiri tidak jauh dari tempat mereka. Lina terkejut dan dengan cepat membawa putrinya masuk ke rumah. Dan tidak lupa mengunci pintu. Dion yang ditinggalkan begitu saja, hanya bisa garuk kepala.


Dia berhasil menyewa sebuah ruko yang kebetulan berdekatan dengan tempat tinggal Lina. Dan kini ia membuka sebuah usaha fotokopi. Dan sambil menjalankan usaha barunya, ia menyempatkan diri mengawasi istrinya. Dan mencari tau siapa gadis kecil yang bersamanya.


Dari keterangan warga, Dion mendapat kabar kalau Lina tidak pernah membawa pria mana pun kerumahnya, mereka menganggap kalau Lina itu janda. Dan ada yang bilang kalau dia mantan wanita panggilan. Dan ada yang bilang kalau Lina hamil di luar nikah. Tapi itu membuat Dion berpikir kalau Lina tidak pernah menikah lagi.


Keesokan paginya di tempat tinggal Ray yang baru, Gina mengajaknya untuk mengambil berkas Ray di sekolah lama dan mengurus surat pindah. Dan hal itu membuat pemilik sekolah mengetahui kalau Ray masih bernyawa.


"Kenapa kalian belum menghabisinya?!" umpatnya kepada penjahat yang disewanya.


"Kami sedang dicari polisi, jadi kami tidak bisa mengawasinya. Beri kami waktu untuk menyelesaikan tugas kami." jawab penjahat tersebut. Mereka jadi buronan akibat melakukan perampokan di sebuah toko. Sehari setelah melakukan penganiayaan pada Ray dan Emile.


Dengan begitu Ray dan Gina tidak mendapat masalah apa pun pada hari itu, dan Ray berhasil dipindahkan ke sekolah yang dekat dengan tempat tinggal Gina. Ada satu hal yang menarik perhatian Ray saat pergi ke sekolah barunya. Sebuah rumah yang tampak jelas di dalam mimpinya berada di dekat kawasan sekolahnya. Dan mereka melewati rumah tersebut.


Rumah yang besar, namun tidak terawat. Dan Ray dapat melihat banyak roh halus menempati tempat itu. Dengan berbagai bentuk dan ukuran. Mereka bertingkah seolah sedang berada di taman milik mereka sendiri.


"Ray sebelum pulang kita pergi berbelanja dulu ya, tante mau membeli pakaian." ujar Gina pada Ray yang tidak berpaling sedikit pun dari rumah besar yang ia lihat di mimpinya. Ray menoleh dan cuma mengangguk sebentar.


Tibalah mereka di sebuah toko pakaian. Gina mengajak Ray ke toko pakaian pria. Lalu menyuruh Ray untuk memilih yang ia suka. "Tidak usah tante, pakaianku masih ada." jawab Ray.

__ADS_1


"Eh ini hadiah tante, karena Ray masuk sekolah baru, jadi jangan menolak." tutur Gina. Senang sekali rasanya bisa berbelanja dengan seseorang. Sudah lama ia hanya berpergian seorang diri. Tanpa mereka sadari ada yang mengawasi mereka.


"Nicolas, lihat mamamu belanja dengan berondong." tutur teman putra tertua Gina. Nicolas yang tadinya ingin membeli pakaian, kehilangan niatnya. Dengan kasar ia letakkan pakaian yang hendak ia beli, ketempatnya semua. Lalu ia bergegas pergi dari tempat itu.


Di tempat lain, di kediaman Lina, Teresia sedang dibujuk oleh mamanya agar mau tinggal dengan keluarga yang bertukar cincin dengannya. Teresia terus menolak dan mengurung diri di kamarnya. Akhirnya Lina menyerah, saat Teresia memilih tidak mau makan, jika terus disuruh tinggal dengan orang lain.


"Iya baiklah, mama tidak akan memaksamu sayang, percayalah sama mama. Ayo buka pintunya."


Teresia diam saja dan mengunci pintu kamarnya dari dalam. Sebenarnya ia merasa sangat lapar. Tapi ia memilih diam saja dan menutup dirinya di atas tempat tidur. Ingin rasanya ia menyerah dan membuka pintu. Namun ia tidak percaya pada ucapan mamanya.


Ia mengira mamanya sudah tidak menyayanginya lagi dan ingin memberinya pada orang lain. Hal ini sering ia saksikan di televisi. Seorang anak dibuang karena orang tuanya malu.


Roh wanita dalam tubuhnya terkejut, karena ia kembali ke kamar yang paling ia benci. Ia sangat senang saat ditinggalkan di rumah keluarga yang bertukar cincin dengan Teresia. Tapi sekarang, ia sudah berada di kamar Teresia lagi. Segera ia membuka pintu. Dan tentu saja Lina merasa senang meliharnya keluar.


Lina memeluknya. Tapi ia di dorong oleh pengguna tubuh putrinya. Bukan dorongan yang kuat. Tapi sebuah penolakan. Ia tidak mau dipeluk. Rasa lapar membuatnya bergegas ke dapur dan makan. Melihat tingkahnya Lina geleng-geleng kepala.


"Aneh, tadi dia bersikeras tidak mau makan, tapi sekarang ia makan lahap sekali." batin Lina. Tapi ia juga bersyukur karena akhirnya putrinya makan juga, setelah mengurung diri dari pagi.


Lina kembali ke tokonya, seorang pelayan toko yang bekerja padanya sedang melayani pembeli. Yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Dion tersenyum manis pada pelayan wanita tersebut. Dan hal itu membuat Lina kesal. "Dasar buaya, dulu hanya untuk menikah lagi, tega sekali kau membuang kami ke laut." batin Lina.

__ADS_1


Dengan geram ia menatap Dion. Sadar diperhatikan oleh Lina, Dion akhirnya mengalihkan pandangannya pada Lina. Segera Lina membuang muka. Dion menghela napasnya panjang. Dengan angkuh Lina berjalan dan mendekat. "Maaf tuan di sini tempat berbelanja, bukan tempat pacaran." tegur Lina dengan sorot mata yang tidak bersahabat.


"Kalau sudah selesai berbelanja silahkan pulan, dan jangan mampir lagi."


"Oh aku lupa, aku belum beli shampo!" ucap Dion menepuk jidatnya.


"Tolong ambilkan aku shampo yang itu," tunjuk Dion pada deretan shampo. Lina menatapnya dengan tajam. Dion cuek saja. Pelayan itu mengambilkan untuk Dion lalu menyerahkannya. Dion lalu memberikan uang untuk bayarannya. Dan pelayan tersebut menerimanya dan mengembalikan kembaliannya.


"Aku baru ingat, sikat gigiku sudah tidak nyaman untuk dipakai," kata Dion lagi. Lina melotot kesal. Dion menunjukkan sikat gigi yang ingin ia beli. Lalu pelayan itu mengambilkannya lagi. Dion kembali membayar dan pelayan tersebut mengembalikan kembaliannya.


Dan ternyata Dion tidak berhenti di situ saja, ia memesan hal-hal lain lagi secara terpisah. Dan membayarkannya secara terpisah. Dan untuk pesanan yang terakhir kalinya, Lina sudah tidak dapat mengendalikan emosinya. "Tuan pesan sekarang yang anda perlukan, tugas kami bukan untuk melayani anda seorang!"


"Tapi aku belum tau apa yang aku butuhkan lagi, jadi aku pesan yang itu saja dulu." jawab Dion. "Maaf toko akan kami tutup," ucap Lina kemudian. Dan ia menyuruh pelayan wanita itu mengangkat barang-barang yang disusun di luar toko ke dalam. Dan berbuat seolah-olah hendak menutup toko.


"Silahkan keluar!" bentak Lina. Dion akhirnya menyerah. "Baiklah aku akan keluar, jadi tidak usah menutup tokonya." ujar Dion. Sambil melangkah perlahan dengan membawa barang belanjaan yang sebenarnya tidak ia butuhkan saat ini.


Saat Dion pergi, ternyata tanpa Lina sadari kalau...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2