Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Tawaran


__ADS_3

Tangisnya terhenti saat ia merasakan rasa hangat. Seperti mantel membungkus tubuhnya. Ia mulai bisa bernapas dengan lega.


Perlahan-lahan tangan-tangan dingin itu melepaskan tubuh Esperanza. Suara berisik sudah tidak ada lagi. Dan sepasang tangan yang hangat menariknya ke luar.


Begitu ia melihat bayangan yang menariknya keluar dari kegelapan, dengan segera Esperanza menjulurkan tangan dan memeluknya. Saat ia membuka mata, yang ia lihat sebuah ruangan yang didominasi warna putih.


"Untunglah kamu baik-baik saja," ujar sebuah suara.


Perlahan Esperanza melepas pelukannya. Dan menyadari kalau Te Apoyo adalah orang yang ia peluk. Esperanza menarik kedua tangannya dan meletakkan di dadanya. Melihat sekelilingnya.


"Aku membawamu kembali," ujar Te Apoyo.


Esperanza diam saja, ia tidak tahu harus jawab apa. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum ia kesulitan bernapas dan kejadian di kegelapan yang terasa seperti mimpi.


"Terima kasih sudah menolongku," kata Esperanza kemudian. Te Apoyo tersenyum.


Di kamarnya Nicorazón tampak seperti orang bingung. Ia melihat dalam mimpinya seorang gadis kecil dipegangi oleh banyak arwah dan membuat gadis itu kesulitan bernafas.


Saat ia ingin menolong gadis itu wujudnya berubah. Menyeramkan jadi ia memutuskan memeluk gadis tersebut dari belakang untuk melindunginya. Dan melepaskan gadis itu ketika muncul sebuah cahaya.


Berbeda dengan Te Apoyo. Ia mengingat sepanjang perjalanan jantungnya berdegup kencang. Berharap tebakannya benar. Kalau Esperanza baik-baik saja selama ia dekat dengan Nicorazón. Dan seiring dengan jarak yang makin dekat ke rumah. Tubuh Esperanza mulai menghangat.


Gris kini hanya bisa diam seribu bahasa saat melihat Esperanza baik-baik saja setelah kembali. Kedua orang tua Esperanza merasa lega sekaligus merasa bersalah.


"Orang tuamu ada di luar, akan aku panggilkan," ujar Te Apoyo.


Esperanza melihat kedua orang tuanya yang sedih masuk. Sementara Te Apoyo meminta Gris untuk mengikutinya.


"Aku kamu masih yakin bisa melindungi Esperanza?" tanya Te Apoyo.


Gris diam. Lidahnya kelu.


"Aku berikan sebuah tawaran," kata Te Apoyo lagi.


Dalam tawaran itu Te Apoyo berjanji tidak akan mengusik hubungannya dengan Esperanza dan bahkan membiayai kebutuhannya selama ia tinggal dengan mereka.


"Kenapa anda tidak memperlihatkan vidio itu?" tanya Gris tanpa memberikan jawaban tentang tawaran Te Apoyo.

__ADS_1


"Karena saat ini, menjaga perasaan dan mental Esperanza adalah segalanya. Ia butuh seseorang yang bisa ia percaya. Aku hanya tidak ingin ia terluka, akibat ulah orang yang paling dia percayai."


"Kenapa melepas Esperanza pergi. Bagaimana kalau Esperanza tidak bisa diselamatkan. Apa anda sudah tahu kalau hal itu pasti terjadi?"


"Aku tidak yakin. Tapi sejak ingatanku kembali, aku hanya percaya kalau Esperanza pasti kembali. Itu sebabnya aku membawanya pulang," jawab Te Apoyo.


"Baiklah, aku tidak akan membawa Esperanza dari sini. Tapi aku tidak akan melepaskannya begitu saja pada putra anda."


Gris segera keluar ruangan. Saat hendak ke kamar tempat Esperanza berbaring ia melihat Nicorazón yang berdiri di depan pintu. Gris menghentikan langkahnya dan kemudian memutar haluan.


Tidak ada yang membahas tentang penyebab kembalinya Esperanza. Tapi semua orang yang ada di rumah itu senang Esperanza kembali. Walau malam itu Esperanza belum makan bersama dengan mereka.


Ke esokan paginya Esperanza datang menemui penghuni rumah besar itu dan meminta maaf.


"Kenapa harus meminta maaf?" tanya Te Apoyo tersenyum.


"Karena, saya sudah ... sudah merepotkan anda semua," jawab Espranza pelan.


Dengan cepat Gina menariknya duduk di sebelah Lina.


"Justru kami suka direpotkan... iya, kan?" Gina mengajak Lina memberi tanggapan.


"Ti-tinggal di sini?" Ulang Esperanza.


Setelah meminta pulang ke negaranya, Esperanza jadi semakin sungkan. Lina, Gina dan lainnya tentu menyadari hal itu.


"Iya, tinggallah di sini, ya... nenek mohon. Biar nenek punya teman untuk bicara," bujuk Gina.


Semua orang juga ikut membujuk Esperanza dengan cara mereka masing-masing. Bahkan Gris ikut menimpali.


"Tuan Te Apoyo berjanji akan memberiku beasiswa, jadi aku rasa tidak buruk tinggal di sini," katanya.


Esperanza diam dan melihat ketulusan semua orang yang ada di sana. Ia pun jadi terharu. Tidak menyangka menerima kehangatan sebanyak itu.


"Maaf ya, karena aku kita tidak bisa kembali," ujar Esperanza pada Gris kemudian saat di taman.


"Kamu bilang apa? Lagi pula mereka semua baik padamu. Keluargamu juga ada di sini. Memangnya butuh apalagi?" Gris menanggapi setenang mungkin.

__ADS_1


"Kamu tidak merindukan rumah nenek dan kakekmu?"


"Mereka sudah tiada. Rumah itu masih bisa aku kunjungi suatu hari nanti. Aku hanya perlu fokus untuk sekolah dan sesudah sukses aku akan melamarmu," ujar Gris. Meski kalimat terakhir tidak bisa ia yakini seratus persen.


Esperanza tersenyum mendengarnya. Ia merasa lega. Setidaknya mereka masih bisa bersama walau jauh dari rumah.


"Ah iya, aku masuk dulu. Aku akan membantu mempersiapkan makan malam dengan yang lainnya," pamit Esperanza. Gris tersenyum dan mengangguk.


Malam ini mereka mengadakan pesta kecil atas keputusan Esperanza untuk menetap di sana.


"Maaf, apa ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanya Esperanza pada Primavera yang sedang sibuk.


"Siapa yang mengajarkanmu memanggilku nyonya?" tanya Primavera melotot.


"Panggil tante saja, kalau panggil mama juga boleh," saran Primavera kemudian.


"Sayang, kamu jangan ke mari. Pesta ini untukmu. Kamu tidak boleh capek," ujar Gina menambahi.


"Nyo__"


"Bukan nyo-nya. Tapi ne-nek. Ok. Jangan lupa!" tegas Gina sebelum Esperanza memanggilnya nyonya.


Malam itu Esperanza juga mendapat hadiah selamat datang. Dan hadiahnya bermacam-macam. Semua kotak hadiah diletakkan di kamarnya secara diam-diam di atas tempat tidur.


Tadi siang Esperanza diberi kamar terpisah dengan orang tuanya. Dan saat tidur ia baru membuka pintu kamarnya. Di dinding terpasang hiasan yang bertuliskan selamat datang padanya.


Mulanya ia ingin mengucapkan terima kasih malam itu juga tapi pintu tiap kamar sudah ditutup. Esperanza pun membuka kotak kado itu satu per satu. Isinya barang-barang mewah dan perhiasan. Dan ia menjadi ragu saat membuka kotak besar.


Tapi karena itu satu-satunya kado yang tersisa maka ia pun membukanya. Isinya boneka beruang. Esperanza tersenyum lalu memeluk boneka tersebut.


"Siapa ya yang memberikan aku boneka? Kakak Estrellakah?" gumamnya tersenyum.


Lalu ia pun tidur dengan memeluk boneka tersebut. Sementara Nicorazón gelisah tentang pendapat Esperanza dengan hadiahnya yang terlalu sederhana.


"Seharusnya aku tidak belikan dia boneka," sesal Nicorazón khawatir Esperanza yang terlihat serius itu tidak suka boneka.


"Kotaknya besar pula, harusnya aku beli kado kecil tapi mahal. Cincin misalnya ... ah! Aku bicara apa?"

__ADS_1


Nicorazón berguling-guling di kamarnya memikirkan tentang kadonya sepanjang malam. Dan baru tertidur setelah jam menunjukkan pukul enam pagi.


Bersambung...


__ADS_2