Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Musuh dalam Selimut


__ADS_3

Seorang pelayan pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuk tuannya. Saat di dapur ia melihat salah satu pelayan menyembunyikan sesuatu di dalam lemari penyimpanan.


"Hei...apa itu? Aku belum pernah melihat itu sebelumnya?" tanya pelayan yang baru datang.


"Oh, ini... mmm itu... i-tu," jawab yang ditanya gelagapan.


"Hei...apa ini? Bukankah ini obat herbal yang seharusnya sudah dibuang? Vivina, mau kamu apakan obat ini?" tanyanya lagi.


"Ma-maafkan, Aku. Bibi Kinan... tolong jangan salah paham. Aku memang tidak membuangnya, tapi Aku justru menyimpannya untuk diriku sendiri," jawab Vivina.


Seorang pelayan yang lain masuk ke dapur karena mendengar suara ribut dari arah sana.


"Bibi Kinan dan Vivina ada apa? Kenapa berisik? Apa kalian tidak tahu kalau nyonya sedang beristirahat?"


"Ros, untunglah kamu datang. Lihatlah, ia menyimpan barang yang sudah disuruh dibuang oleh tuan," adu Bibi Kinan pada Kepala Pelayan di rumah itu.


"Aku hanya merasa sayang kalau dibuang, jadi kupikir tidak apa kalau kusimpan untukku," jawab Vivina yang masih mencoba membela diri.

__ADS_1


Ros memperhatikan barang yang menjadi perdebatan tersebut. Lalu ia mendesah.


"Sudahlah, biarkan saja dia Bibi Kinan. Bukankah tuan meminta, Bibi untuk membuatkannya sarapan, cepatlah lakukan! Sebelum tuan marah!" ujar Ros dengan nada memerintah.


"Dan kamu Vivina, tuan sudah menyuruh kita untuk membuangnya. Jadi seharusnya, Kamu jangan menaruhnya di tempat yang sama, dengan tempat penyimpanan bahan makanan, yang akan dikonsumsi oleh tuan." Bibi Kinan memperingatkan.


"Jika, Kamu masih ingin menyimpan untuk dirimu sendiri, maka simpanlah saja di kamarmu! Atau di mana saja yang merupakan tempat kamu menyimpan barang-barang milikmu. Kalau sampai tuan tahu kalau benda itu masih ada di rumahnya maka ia pasti akan marah. Apalagi jika ia melihat benda itu di sini," celoteh Ros tanpa henti


" Apa, Kamu sudah mengerti?" tanya Ros kemudian pada Vivina.


Vivina hanya berani mengangguk kecil. Lalu ia pun segera mengeluarkan barang yang dimaksud. Kemudian membawanya pergi dari dapur.


Setelah makanan selesai, Bibi Kinanlah yang mengantarkan makanan tersebut ke kamar Dion. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu dan setelah dipersilahkan masuk barulah ia masuk.


Dion begitu terkejut saat melihat Bibi Kinan. Lagi-lagi bayangan hitam mengikutinya. Dion ragu untuk bertanya. Sejenak ia memandang istrinya. Bibi Kinan meletakkan makanan di meja yang ada di kamar itu. Dan setelah Dion memberi isyarat untuk keluar barulah ia keluar.


Dion mencoba menenangkan pikirannya dan melahap sarapannya. Perut yang bernyanyi akan membuatnya sulit untuk berpikir jernih, begitulah menurutnya. Setelah selesai bersantap ia menghubungi salah satu dari daftar kontaknya.

__ADS_1


"Halo apa Kamu sibuk?" tanya Dion pada lawan bicaranya.


Di tempat lain Vivina yang berada di kamarnya menyimpan barang yang seharusnya sudah di buang ke dalam lemarinya. Dan saat hendak mengunci lemarinya ponselnya berbunyi. Dia melihat kiri dan kanan setelah melihat nama kontak yang ada dilayar ponselnya.


"Maaf, Nyonya hari ini Saya sangat sibuk. Jadi Saya tidak bisa membalas pesan nyonya. Oh baik nyonya. Saya akan ke sana siang ini," ucap Vivina lalu mematikan ponselnya.


Siangnya Vivina pun meminta izin pada Ros untuk keluar dengan alasan menjenguk bibinya. Tidak lupa dia membawa sebuah tas berukuran sedang. Ros sebagai kepala pelayan pun mengijinkan Vivina pergi. Akan tetapi dengan satu syarat. Yaitu hanya boleh keluar selama dua jam saja. Vivina mengangguk mengerti setelah mendengar syarat tersebut lalu ia pun pergi.


Sesampainya di tempat tujuan. Vivina langsung mencari seseorang, yang dia panggil nyonya saat ada panggulan masuk di ponselnya. Dan setelah menemukannya dia pun mengeluarkan barang yang dibawa dari dalam tas.


"Bagaimana?" tanya orang itu.


"Saya berhasil memberikan kepada dua orang itu. Dan mereka sudah meminumnya tanpa mereka sadari, Nyonya. Tapi masalahnya adalah, Saya hampir ketahuan. Jadi, Saya berbohong. Untungnya mereka masih percaya pada ucapan, Saya," ujar Vivina sambil melihat sekelilingnya.


"Kalau begitu, katakan sekarang bagaimana hasilnya, setelah Kamu berhasil membuat mereka berdua meminumnya?" tanya orang itu.


"Sepertinya, nyonya Lina mengalami hal yang aneh. Dia selalu berteriak-teriak sejak pagi. Aku melinya tampak sangat ketakutan," jawab Vivina.

__ADS_1


"Hahaha... sepertinya...


Bersambung...


__ADS_2