Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Tertukar


__ADS_3

Nicorazón menghubungi Brillo dan mengadukan hal itu.


"Apa? Dia sudah ada di rumahmu?" tanya Brillo.


"Jangan pura-pura tidak tahu, kamu masang CCTV di rumahku, mana mungkin tidak tahu," ujar Nicorazón kesal.


"Hahaha, aku tidak memasangnya. Aku cuma pinjam kamera yang sudah ada di situ kok," jawab Brillo jujur. Karena ia hanya menghack CCTV di rumah Te Apoyo.


"Ah sebentar, aku belum lihat CCTV hari ini. Aku chek dulu," ujar Brillo kemudian.


"Cantik ya orangnya," puji Brillo.


"Hah... kamu tidak ingat kalau-"


"Kalau apa? Jangan bilang kalau kamu masih menganggap om Te Apoyo selingkuh. Om tidak selingkuh. Dan anggapanmu tentang om menyingkirkanmu dengan cara menikahkanmu itu salah," ujar Brillo memotong ucapan Nicorazón.


"Iya, iya, iya, baiklah. Tapi bisa saja, gadis itu akan merebut orang tuaku."


"Nicorazón berhentilah bersikap kekanakan."


Brillo menutup panggilan lalu fokus memperhatikan layar laptopnya. Sebab ia dan kakaknya membantu pekerjaan kedua orang tua mereka untuk mencari jejak penjahat yang membuat banyak negara mengalami kerugian.


Keesokan harinya, Esperanz didaftarkan ulang di sekolah barunya, begitu pula dengan Nicorazón dan Brillo. Mereka pindah ke sekolah lain. Dan ini merupakan sekolah milik Te Apoyo.


Mulanya Te Apoyo tidak ingin menyekolahkan putranya di sana, agar anak itu tidak berbuat semena-mena, tapi ternyata ia justru suka berbuat onar saat bersekolah di sekolah lain.


"Esperanza akan bersekolah di sini, jadi aku harap para guru akan membantunya. Sebab ia berasal dari negara lain," ujar Te Apoyo pada para guru di sekolah tersebut.


Maka sejak itu mereka bertiga bersekolah di sekolah yang sama. Dan berada di ruangan yang sama.


"Halo, namamu Esperanza ya?" tanya seorang murid.


"Iya, namanya Esperanza, memangnya kenapa?" tanya Nicorazón.


Saat mendengar seorang murid laki-laki menyapa gadis yang menumpang di rumahnya, ia mendekat. Lalu menjawab beberapa pertanyaan mereka.


"Kami menanyainya, kenapa kamu yang jawab?"


"Karena dia tidak tahu apa yang kamu bilang," jawab Nicorazón.


"Oh, iya... dia berasal dari luar ya. Tapi, masa dia tidak tahu sedikitpun. Namun berani masuk negara ini."

__ADS_1


"Mana aku tahu, tapi kalian sudah tahu. Jadi jangan ganggu dia lagi," ujar Nicorazón.


Esperanza menatap Nicorazón cukup lama setelah orang-orang yang datang menyapanya pergi.


"Kenapa? Suka?" tanya Nicorazón.


Esperanza diam saja. Dan akhirnya memilih pergi ke perpustakaan. Ternyata Nicorazón mengikutinya.


"Semua yang ada di sini, ditulis dalam bahasa negara ini. Jadi lebih baik, tidak usah datang ke sini," ujar Nicorazón.


Esperanza menarik mengela napas. Ia tahu anak yang bersamanya ini sebenarnya ingin mengganggunya. Nicorazón berbicara dalam bahasa gadis itu. Karena mengira gadis itu tidak tahu bahasa negaranya.


Sepulang sekolah mereka dijemput oleh supir. Kebetulan ketiganya dijemput oleh supir yang sama. Sepanjang perjalanan Brillo dan Nicorazón berbincang tentang Esperanza. Tapi mereka menggunakan bahasa negara kelahiran Brillo.


Tampa mereka sadari kalau yang mereka gosipkan sebenarnya mengerti ucapan mereka. Tapi Esperanza masih memilih diam saja. Karena ia tidak mau ribut.


"Kamu yakin dengan beasiswa ini? Apa kamu tahu kalau cuma kamu yang dapat?" ujar Gris kala itu.


"Jadi menurutmu pihak sekolah menipuku? Dan dari mana kamu tahu kalau hanya aku yang mendapat beasiswa?"


Sesaat Esperanza melamun tentang percakapannya dengan Gris sebelum ia ke negara tersebut. Dan mengingat kenangan buruk yang ia alami sebelum bertemu Te Apoyo.


Sedan asik melamun, ia dikejutkan oleh supir, karena ia belum turun padahal sudah sampai.


"Maaf tuan, saya tidak menyadari kalau sudah sampai," ujarnya kemudian turun.


"Nona Esperanza bisa bicara bahasa negara ini?" tanya si supir pada dirinya sendiri.


"Baguslah kalau begitu," ujar supir kemudian.


Dua jam kemudian, majikannya memanggilnya, dan meminta untuk mengantarkannya dan Esperanza ke toko pakaian. Dan ia memilih berbelanja di toko terdekat namun lengkap.


Saat berbelanja, Primavera memilih beberapa pakaian. Dan menyuruh Esperanza untuk memakainya. Ia mengetik beberapa kalimat dan menerjemahkannya dengan aplikasi. Lalu memperlihatkannya pada Esperanza.


Esperanza mengambil pakaian itu lalu mencobanya. Ketika ia sedang di ruang ganti, seseorang yang mirip dengannya datang menghampiri Primavera.


"Cepat sekali?" ujar Primavera.


"Bagus, ayo kita bayar ke kasir," ajak Primavera pada gadis yang mirip dengan Esperanza.


Ketika Esperanza keluar dari ruang ganti, ia tidak melihat istri Te Apoyo. Saat sedang celingak-celinguk, seorang wanita berseragam penjaga toko mengajaknya ke sudut yang tidak terjangkau oleh kamera. Lalu menutup mulut dan hidung Esperanza.

__ADS_1


"Tugasku sudah siap. Matikan kamera agar aku bisa membawanya keluar toko dengan bebas."


"Tentu. Serahkan padaku."


Penculikan Esperanza terjadi tanpa sepengetahuan Primavera. Sebab saat ini Esperanza yang palsu sedang bersamanya. Dan yang asli di bawa ke sebuah tempat yang jauh dari tempat tinggal Te Apoyo.


"Esperanza pasti lelahkan. Istirahatlah di kamarmu," tunjuk Primavera.


Gadis itu pun melakukan yang diperintahkan padanya. Ia mengamati sekitar untuk menyesuaikan diri. Lalu merebahkan diri dan beristirahat. Setelah mengirim pesan pada orang yang menyuruhnya menggantikan posisi Esperanza.


"Aku di mana?" gumam Esperanza ketika sudah sadar.


Ia menuju pintu dan berusaha untuk membukanya. Lalu berteriak meminta tolong. Beberapa orang yang berjaga di luar mengacuhkannya. Dan meski Esperanza berteriak sekuat mungkin, tetap saja tidak ada yang memperdulikannya apalagi untuk menolongnya.


Pagi hari tiba, Gris yang terbangun dari tidurnya telah mendapatkan kekuatannya kembali. Lalu mendatangi rumah sakit Te Apoyo. Ia menggunakan kemampuannya untuk mengunakan tubuh seorang dokter. Memberi obat yang salah pada para pasien.


"Setelah ini, apa akan masih ada orang yang mempercayai rumah sakit ini?" gumam Gris setelah menempati raganya dengan jiwa yang utuh.


"Jadi kamu pelakunya?" gumam seseorang yang berada di belakang Gris.


Gris tidak menyadari seseorang mengikutinya dari belakang. Dan orang itu melaporkan perbuatannya pada Malika dan Tomi. Segera Tomi dan Malika melapor pada polisi. Untuk menangkap anak itu.


"Angkat tangan," ujar seorang polisi pada Gris saat pemuda itu berada di tempat yang sepi.


Saat itu polisi telah mengepungnya dari segala arah. Gris tidak memperdulikannya, dan polisi menembakkan satu peluru ke langit.


"Menyerahlah, anda sudah dikepung," ujar polisi tersebut.


Gris membalikkan tubuhnya. Dan dengan menggunakan kekuatannya, menyuruh roh yang bersamanya untuk menggerakkan tangan polisi tersebut. Membuat polisi itu mengarahkan pistol ke kepalanya sendiri.


"A- apa yang terjadi? Kenapa tanganku bergerak sendiri?" tanya polisi itu heran.


Dan ternyata bukan hanya dia yang mengalami hal serupa. Satu persatu para polisi melakukan hal yang sama. Melihat kejadian aneh itu para polisi menjadi ketakutan.


DORR!


Terlepas satu tembakan. Beruntung saat itu Malika ada di sana. Ia menggunakan kekuatannya untuk membebaskan para polisi tersebut dari roh yang merasuki mereka. Gris terkejut melihat tindakannya digagalkan oleh seseorang.


"Siapa yang berani menggangguku?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2