Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Dihukum walau Tidak Bersalah


__ADS_3

Saat ia terbangun, gadis itu sudah berada di rumah Te Apoyo. Tepatnya di kamar Te Apoyo. Dia terkejut, karena dia tidak berpakaian. Dan melihat Te Apoyo tanpa pakaian.


Dan benak si gadis mengira kalau Te Apoyo sudah memaksanya untuk tidur. Jadi dia menangis. Te Appyo yang cuek dan memakai pakaiaan tanpa rasa bersalah membuatnya kesal.


Lebih kesal lagi saat Te Apoyo menarik selimutnya. Dalam kenyataan Te Apoyo hanya menarik selimutnya lalu melipatnya. Namun yang terlihat oleh gadis itu ialah Te Apoyo menarik selimut yang ia pakai untuk menutupi badannya yang tanpa busana.


"AAARRRGGGHHH!" teriak gadis itu kesal.


Ia menangis sejadi-jadinya dan berhenti saat melihat Te Apoyo melangkah keluar. Gadis itu mencari pakaiannya, namun ia tidak menemukannya. Lalu ia membuka lemari Te Apoyo dan mengambil pakaian Te Apoyo lalu memakainya.


Pada kenyataannya ia tidak pernah membuka lemari pakaian Te Apoyo, apalagi memakai pakaian Te Apoyo.


Lalu gadis itu keluar dengan mengenakan pakaian Te Apoyo, seperti di dalam benaknya. Tapi kenyataannya tidak. Dan melihat Te Apoyo yang sedang sarapan bersama kedua orang tuanya.


Gadis itu sedih, dia diperlakukan seperti tidak ada oleh siapa pun. Jadi ia pergi keluar begitu saja. Dan menangis di depan teras Te Apoyo. Saat itu kebetulan Malika datang dan melihat gadis itu menangis.


Malika mengernyitkan keningnya. Sekilas gadis itu melihat ke arah Malika dan mereka saling beradu pandang. Malika diam saja lalu masuk ke dalam rumah Te Apoyo.


Ia datang untuk mengirimkan surat udangan. Dan ia yang datang di saat Te Apoyo dan keluarga sedang makan, maka ia pun ikut makan. Hal itu dilihat oleh gadis tersebut dan ia terbakar rasa cemburu.


Malika merasakan kalau tatapan seperti seseorang di belakangnya seperti menusuk-nusuk punggungnya. Dan langsung saja ia berbicara dengan keras.


"Om, tante, jangan lupa ya datang ke pernikahanku! Te Apoyo juga! Jangan sampai tidak datang, atau aku dan Tomi akan sangat marah!" teriaknya.


Yang dengan jelas di dengar oleh gadis tersebut. Dan tatapan menusuk darinya sudah tidak lagi dirasakan oleh Malika. Gadis itu seperti merasa lega mendengarnya.


"Te Apoyo, hari ini aku ikut denganmu ke rumah sakit ya!" pinta Malika.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Te Apoyo.


"Aku mau mengundang kak Alicia juga, kudengar suaminya bekerja di rumah sakitmu," jawab Malika.


"Baiklah, tunggu aku di mobil. Ada berkas yang harus aku ambil di kamar," ujar Te Apoyo.


Saat Te Apoyo ada di kamar, Malika menemui gadis itu. Sambil mengeluarkan ponselnya dan berpura-pura mengetik pesan Malika berbicara pada gadis itu.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Malika sambil berbuat seolah sedang mengetik ucapannya di ponselnya.


"Aku?" tanya gadis itu.


"Ia, siapa lagi? Bukankah hanya ada kamu di sini?"


"Bukan urusanmu!" jawab gadis itu kesal.


"Bukan urusanmu!" jawab gadis itu lagi.


"Apa Te Apoyo sudah menyakitimu?" tanya Malika dan kini pandangan Malika sejurus ke arah wajah gadis itu.


Gadis itu menjawabnya dengan anggukan lalu menangis. Malika tahu ada yang tidak beres dengan roh gadis ini. Dan ini bukan pertama kalinya ia bertemu dengan roh yang seperti gadis itu.


Roh yang keluar dari raganya saat masih dalam keadaan hidup. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, gadis itu selamat. Atau ia akan menjadi hantu gentayangan setelah tubuhnya benar-benar mati. Dan biasanya arwah itu tidak akan sadar kalau ia telah tiada.


Dan ia akan terus mengikuti jalan pikirannya, dan mengira setiap orang melakukan hal seperti dalam bayangannya. Ia mengira semua pria akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh pria yang menyimpan raganya. Jadi saat jiwanya terbangun, ia berada di kamar Te Apoyo dalam keadaan tanpa busana. Dan menanggap Te Apoyo sudah menikmati tubuhnya.


Malika yang tahu kalau ini akan jadi masalah besar bagi Te Apoyo, mencoba untuk menolong gadis tersebut. Agar gadis itu bisa mengetahui fakta yang sebenarnya. Dan jika beruntung ia bisa kembali ke raganya dan sadar. Atau pun jika ia benar-benar meninggal, setidaknya rohnya tidak akan mengikuti Te Apoyo kemana pun.

__ADS_1


Jika saat Te Apoyo masih punya kemampuan melihat roh, mungkin roh gadis ini tidak akan jadi masalah bagi tubuh Te Apoyo. Tapi sekarang Te Apoyo hanya manusia biasa, terlalu sering berada dengan roh yang gentayakan tidak baik bagi tubuhnya.


"Aku akan berbicara pada Te Apoyo nanti. Jika perlu, aku akan memberinya pelajaran!" ucap Malika mencoba menghibur gadis itu.


Lalu Te Apoyo muncul dan mengajak Malika, tapi tidak mengajak gadis itu.


"Apa hanya kita yang pergi? Lalu bagaimana dengan gadis itu?" tanya Malika yang membuat Te Apoyo bingung.


"Apa? Siapa?" tanya Te Apoyo.


"Jangan pura-pura bodoh atau kuhajar kamu nanti! Kamu harus bertanggung jawab tahu!" ujar Malika dengan nada marah.


Te Apoyo semakin bingung, tapi kemudian ia ingat kalau Malika bisa melihat arwah. Jadi ia mendiamkannya saja. Lalu menaiki mobilnya. Malika membuka pintu depan. Te Apoyo mengira Malika akan duduk di depan dengannya.


"Kamu duduk di sini, aku akan duduk di belakang dan mengawasinya. Kalau dia macam-macam aku akan memukul kepalanya!" ujar Malika tegas.


Gadis itu tersenyum, dan melakukan seperti apa yang Malika katakan. Te Apoyo mengernyitkan keningnya. Ia tidak melihat apa pun. Ia hanya melihat Malika berbicara pada angin. Membuatnya tanpa sadar geleng-geleng kepala.


Yang diartikan oleh gadis itu sebagai rasa tidak sukanya terhadap gadis tersebut. Malika menjitak kepala Te Apoyo dari kursi belakang. Membuat Te Apoyo terkejut setengah mati. Tidak tahu salah apa, tiba-tiba kena jitak. Ia ingin protes, sambil mengusap bagian kepalanya yang kena jitak, namun saat melihat Malika melototinya, ia hanya bisa cemberut seperti anak kecil sehabis dipukul mamanya.


Te Apoyo tidak punya pilihan, ia menghidupkan mesin dan melajukan kendaraannya. Malika tidak berbicara sepatah kata pun di atas mobil. Dan begitu tiba di parkiran rumah sakit Te Apoyo langsung turun.


"Hei, buka pintunya!" perintah Malika yang sudah turun pada Te Apoyo yang pergi begitu saja.


Te Apoyo seperti orang bodoh menekan remotnya dan terdengar kunci mobilnya terbuka. Malika membuka pintu depan dan seolah berbicara dengan lembut pada seseorang, yang dalam pandangan Te Apoyo ia seperti orang yang tidak waras. Karena berbicara sendirian. Tanpa sadar Te Apoyo menertawainya.


Membuat Malika menendang kakinya. Sebab roh gadis itu cemberut, karena mengira Te Apoyo tertawa untuk mengejeknya. Tapi setelah Malika memberi pelajaran pada Te Apoyo ia pun merasa senang. Sementara Malika merasa bersalah pada Te Apoyo yang tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2