
Dion tidak langsung pulang ke rumahnya setelah ia selesai makan. Ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memastikan hubungannya dengan Lina. Dan dengan ragu-ragu ia bertanya tentang Lina selama jauh darinya. Akhirnya mereka saling bertukar kisah.
"Jadi dia putri kita?"
Lina mengangguk. Dion bernapas lega, prasangkanya tentang Lina menikah lagi sirna. Meski selama ini banyak bukti kalau istrinya belum menikah lagi.
"Maukah kamu kembali padaku?"
"Bagaimana dengan istrimu, kamu sudah menikah." jawab Lina sedih.
"Kau adalah istriku, dan kita belum bercerai. Aku akan akan menggugat cerai Kelly."
"Tidak semudah itu, bagaimana perasaannya?"
"Kenapa kamu memikirkan perasaannya setelah semua yang ia lakukan padaku?"
"Entahlah, aku sangat bingung."
*Ehem. Teman Dion berdehem. Ingin rasanya ia ikut campur tapi ia ragu. Jadi ia melihat seisi ruangan tersebut lalu menata kata-kata yang tepat.
"Maaf kalau aku ikut campur. Tapi bukankah kalian masih saling mencintai, lalu kenapa tidak tinggal bersama saja. Lagi pula benarkan kalian belum bercerai." ujar teman Dion.
"Meskipun Kelly berbuat tidak adil pada Dion, bagaimana dengan nasip anak-anak yang lahir saat mereka hidup bersama?"
Lina menyadari rasanya hidup tanpa orang tua. Pasti anak-anak Kelly akan sedih jika tau kedua orang tuanya bercerai.
"Sebenarnya Kelly sudah menikah lagi sejak lama." kata teman Dion.
"Bukankah itu artinya, hubungan mereka sudah berakhir. Dion menikahi Kelly karena berpikir kamu sudah tiada."
Dion hanya diam seribu kata, tidak disangka tujuan awal hanya untuk memanfaatkan Kelly untuk membongkar kejahatan tantenya berujung petaka.
"Saat ini aku butuh waktu, dan jika hubungan Dion dan Kelly berakhir, aku ingin lihat sendiri surat cerainya." jawab Lina kemudian.
Lina masih bingung dengan pikirannya sendiri. Di satu sisi ia ingin kembali rujuk dengan suaminya tanpa syarat. Tapi jika memikirkan suaminya saat ini berstatus suami orang, berat baginya menerima status dimadu.
Saat semua orang di ruangan itu terdiam Ros datang. Iya langsung masuk saat melihat pintu terbuka. Dan saat melihat Teresia, ia langsung memeluknya.
"Teresia ketemu di mana? Bagaimana dia bisa pulang?" tanya Ros antara senang, lega dan penasaran.
Suami Ros juga ikut kali ini, ia berniat ikut membantu mencari Teresia. Tapi saat ia masuk dan melihat Teresia, ia pun mencari sofa kosong untuk diduduki tanpa dipersilahkan. Ia juga melirik Dion yang terlihat dalam kondisi tidak baik.
__ADS_1
"Dia siapa? Dan kenapa?" tanyanya heran.
"Kau yang siapa?" tanya Dion.
Sifat tidak bersahabat muncul begitu saja. Ros geleng-geleng kepala melihat tingkah laku mantan majikannya.
"Dia suamiku? Kenapa?" tanya Ros tanpa rasa segan.
Lalu teman Dion berdehem. Ia mencoba mengingatkan para orang dewasa yang ada disitu untuk saling menjaga sikap.
"Oh iya, bagaimana dengan Teresia?"
"Dia baik-baik saja, tadi pagi ia diantar pulang oleh seorang pemuda," tutur Lina.
Lalu Lina menceritakan hal-hal yang ia rasa patut untuk diketahui oleh Ros. Ros dan suaminya bernapas lega dan manggut-manggut.
"Kalau begitu, bukan mereka dong, yang mengantar Teresia, lalu buat apa mereka disini?" gencar Ros.
Ada rasa kesal di dada Ros dan tidak nyaman melihat Dion duduk bersama dengan mereka. Dion mencoba bersabar kali ini. Tidak ingin terlihat buruk di depan istrinya. Tapi teman Dion tidak bisa tinggal diam.
"Tentu saja mereka mau rujuk." ucapnya tegas.
Suami Ros jadi tidak enak hati, ia menyadari kalau istrinya saat ini sedang menyulut api. Jadi ia menepuk pundak istrinya, dan memutar kepala istrinya ke hadapan Teresia.
"Lihat Teresia baik-baik saja, bukankah itu kabar gembira. Seharusnya kita merayakannya. Bagaimana kalau kita makan di restoran istriku? Semuanya biar aku yang bayar. Semua boleh bergabung tanpa terkecuali." ujarnya seraya melirik Dion.
"Maaf aku undur diri dulu," ujar Dion kemudian lalu beranjak hendak pergi.
Tapi sebelum pergi ia mendekati Teresia. Tanpa banyak bicara, ia mendekati putrinya. Meletakkan kedua tangannya di pipi putrinya. Lalu mencium keningnya.
"Papa pulang dulu, nanti papa datang lagi," ujarnya.
"Bolehkan?" tanyanya sambil berpaling ke Lina.
Lina pun menggangguk pelan, tapi masih dapat terlihat jelas, oleh semua orang yang ada di situ. Teresia memandang mamanya. Ia hamya diam saja. Tidak tau apa yang harus ia ucapkan. Dion melepaskan putrinya lalu ia pulang ke kediamannya diikuti oleh temannya.
Setelah kepergian Dion suasana tiba-tiba sangat hening. Mereka akhirnya hanya memandang satu sama lain. Tapi kemudian saling membuka mulut.
"Kamu duluan," ujar Ros mengalah
"Aku ingin mengantar Teresia ke rumah keluarga yang bertukar cincin dengannya."
__ADS_1
"Hah, bukankah ia kabur karena," Ros menghentikan ucapannya saat Lina menggeleng.
Lina pun menceritakan kondisi putrinya, tentang roh lain yang menempati raga putrinya. Sehingga putrinya terkadang bersikap aneh. Ros pun mengangguk tanda mengerti.
"Jadi kapan kita akan mengantarkannya?"
"Sebaiknya, jangan buru-buru," ujar suami Ros kuatir.
Ia kuatir kalau keluarga tempat Teresia dititipkan belum mampu mengatasi hal buruk yang akan terjadi jika, raga Teresia digerakkan oleh roh lain yang merasuki Teresia.
"Bagaimana jika ia kabur lagi dari mereka, apa sudah pasti Teresia akan baik-baik saja di sana?" tanya suami Ros yang belum paham.
"Mereka itu bukan keluarga sembarangan pa, teman mama bilang, mereka itu orang baik kok. Kita akan coba lagi terlebih dahulu." tutur Ros.
"Jika mereka bisa membuat Teresia nyaman tinggal dengan mereka, barulah ritual tukar cincin dilaksanakan." lanjut Ros.
"Ini juga demi kebaikan Teresia, ya kan Lina?"
Lina menganguk.
"Iya dan Teresia sudah setuju. Cincinnya sudah kami persiapkan. Serta uang penitipan Teresia juga sudah kami siapkan." ucap Lina meneruskan kalimat-kalimat Ros.
Suami Ros pun kini mengerti. Ternyata selama ini kesibukan istrinya, tidak lain adalah untuk menolong Lina mengobati putrinya. Hatinya pun tergerak ingin ikut terjun membantu.
"Oh iya, jika keluarga ini tidak cocok dengan Teresia, aku akan mencarikan keluarga lain untuk Teresia." ucapnya tulus.
Selama ini dia sangat sibuk mengurus restoran di luar kota, jarang ada waktu untuk memperhatikan tingkah istrinya. Asal istrinya selalu mengangkat panggilannya, saat ia menelepon, itu sudah cukup baginya. Tidak ada cemburu, tidak ada curiga.
Keesokan harinya Teresia diantar ke rumah keluarga yang akan merawat Teresia. Teresia terlihat sangat tenang, setelah semalaman Lina bertanya. Apakah ia benar-benar siap atau belum. Ataukah sebaiknya ditunda dulu. Tapi melihat putrinya dengan tegas menyetujui rencana awal mamanya. Lina pun jadi tidak ragu lagi.
Tibalah mereka ditempat yang dituju, pertukaran cincin dilakukan bersamaan dengan beberapa mantra yang dilontarkan seorang paranormal yang menyarankan Lina mencarikan pasangan putrinya.
Setelah ritual selesai, tibalah saat membayar biaya jasa paranormal tersebut. Dan membayar biaya hidup Teresia selama satu minggu di sana. Sebab paranormal mengatakan dalam seminggu Teresia akan menjadi normal.
Setelah itu pulanglah Lina dan Ros, saat-saat mengharukan terjadi. Tapi dengan cepat semua itu berlalu, berganti dengan pikiran optimis jika putrinya akan segera normal.
Sesampainya di rumah Lina pun menawarkan Ros dan suaminya untuk singgah minum sebelum lanjut ke rumah mereka. Tapi dengan lembut Ros dan suaminya menolak. Maka pulanglah mereka segera.
"Mana putriku?" tanya Dion saat melihat Teresia ikut pergi tapi tidak ikut pulang.
Bersambung...
__ADS_1