Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Tinggal Bersama


__ADS_3

"Ray?!" tanya Dion.


"Iya, dia adikku," ucap Nicholas.


Nicholas masih belum tahu kalau Dion adalah papa kandung dari si Ray. Meski pernah terpikir olehnya, kalau kemungkinan dulu mamanya pernah selingkuh dengan Dion. Sebagai balasan atas perselingkuhan papanya.


"Dia kenapa?" tanya Dion saat Nicholas mendadak berdiri hendak berpamitan.


"Maaf Om dan Tante semua, saya harus segera ke rumah sakit. Adik kami bertiga sakit," ucap Nicholas. Lalu memberi kode pada saudaranya dan untuk ikut berpamitan.


"Kami ikut," kata Lina kemudian.


Nicholas bingung. Tapi kemudian ia mengangguk. Mungkin mereka penasaran tentang Ray karena pernah bermasalah di kasus yang sama, pikir Nicholas. Dan mereka pun berangkat bersama.


Setibanya di rumah sakit, Gina melihat mereka dengan heran. Ia tidak mengerti kenapa mereka bisa datang bersama-sama. Dan dokter menyarankan agar hanya beberapa orang yang dapat masuk. Atau dengan kata lain masuk bergiliran. Dion dan Lina segera masuk dan mau tidak mau, Nicholas dan saudaranya mengalah dan menunggu di luar.


Teresia sangat penasaran dengan rupa Ray, benarkah Ray yang bertelepati dengannya adalah Ray yang sama dengan yang ada di vidio. Sebab mereka dapat berbagi penglihatan, namun mereka tidak bisa saling melihat.


"Teresia cobalah bercermin," ujar suatu hari.


"Untuk apa?" tanya Teresia.


"Aku ingin tahu, seperti apa wajahmu?"


Teresia melakukan yang diminta oleh Ray. Dia berdiri di depan cermin yang cukup besar.


"Maaf wajahku membuatmu takut," ujar Teresia saat tidak ada reaksi dari Ray.


"Kamu benar-benar masih hidup?" tanya Ray kebingungan.

__ADS_1


"Ya tentu saja," jawab Teresia.


"Tapi kenapa aku hanya melihat cermin dan tidak melihat bayangan manusia di sana?" tanya Ray.


Lalu ia pun pergi ke depan sebuah cermin besar. Ia juga penasaran. Bisakah Teresia melihatnya jika ia bercermin. Tapi ternyata Teresia mengalami hal yang sama. Ia hanya melihat cermin tanpa ada pantulan manusia di dalamnya. Dan sejak saat itu mereka tidak berpikir untuk melihat satu sama lain.


Giliran berikutnya Nicholas yang masuk dengan adik-adiknya. Tapi tiba-tiba Teresia ikut masuk ke dalam. Nicholas menegurnya dan menyuruhnya keluar.Tapi Teresia memohon ijin untuk melihatnya sebentar saja. Kedua adik Nicholas pun keluar dan kini hanya ada Nicholas dan Teresia sebagai pengunjung di dalam.


Teresia mendekat lalu untuk pertama kalinya melihat Ray. Saat melihat Ray tanpa ia sadari tangannya bergerak menyentuh kening Ray. Dan hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya terjadi. Roh wanita dan semua roh yang ada di tubuhnya mental keluar dari tubuhnya. Dan untuk pertama kalinya ia melihat jelas roh yang sering menggerakkan tubuhnya.


Roh itu menyeringai dan merasa senang lalu menjauh dari ruangan tersebut. Sekilas ia memandang Teresia dan Nicholas sebelum menembus dinding ruangan tersebut bersama roh yang baru saja keluar dari tubuh Teresia.


Teresia memandangi telapak tangannya sendiri. Dan ia kini secara perlahan menyentuh kening Ray untuk yang kedua kalinya. Tampak olehnya mimpi yang dilihat oleh Ray. Gadis cantik di dalam kobaran api. Ia pun secepatnya menarik tangannya dan memuntahkan darah.


"Teresia kau kenapa?" tanya Nicholas lalu membawanya keluar.


Teresia kebingungan. Ia bisa melihat alam sadar Ray. Dan hal itu menguras tenaganya. Ia pun bertambah pucat. Lalu ia dibawa ke dokter dan diperiksa. Teresia terlihat lemah. Lalu ia meracau.


Lina dan Dion saling pandang, mereka seolah saling bertanya, apa yang dikatakan oleh Teresia. Lalu hanya bisa membiarkan dokter menangani putri mereka. Setelah itu mereka menemui Gina dan meminta Gina untuk berbicara dengan mereka masalah Ray.


Mereka akhirnya memutuskan untuk membawa Ray pulang bersama mereka jika Ray telah siuman. Dan sebagai gantinya mereka meminta Gina untuk mengakui perbuatannya di depan anak-anaknya. Pengganti hukuman atas kejahatannya.


Tiga hari kemudian Ray siuman, dan dapat bernafas secara normal. Ia heran, karena melihat Lina dan Dion berada di sampingnya dan juga Teresia.


Sementara Gina justru duduk di tempat yang jauh darinya. Ray memandang Gina dengan wajah penuh tanda tanya. Gina kemudian mendekatinya. Dan perlahan-lahan mengatakan kalau Dion dan Gina adalah orang tua kandungnya. Ray tentu tidak percaya begitu saja. Tapi kemudian Dion memperlihatkan akta kelahirannya. Serta hasil tes DNAnya yang cocok dengan Dion dan Lina.


Ray pun dibawa pulang kerumah Dion. Setelah Gina mengakui perbuatannya di rumahnya sendiri. Di hadapan semua orang. Keluar Dion, ketiga putranya dan keluarga Ros juga sebagai saksi. Nicholas marah besar. Adik-adiknya juga. Mereka meninggalkan ruang tempat semua orang berkumpul.


Yang akhirnya hanya menyisakan Gina yang menangis sendiri. Setelah satu per satu orang yang menyasikan pengakuannya pulang. Dan Ray masih tidak dapat mencerna keadaan yang terjadi terlalu cepat. Tapi setidaknya kini ia merasa lega, karena orang yang sering berkomunikasi dengannya adalah saudari kembarnya sendiri. Walau ia tidak menyangka kalau saudarinya mempunyai rupa yang tidak pernah ia bayangkan.

__ADS_1


Dion dan Lina mengantarkan Ray untuk beristirahat di kamar barunya. Dan meninggalkan Ray agar ia bisa beristirahat. Ray merasa canggung untuk pertama kalinya berada di tengah keluarga yang baru ia temui. Ia masih sulit menerima kalau Kelly ternyata bukan mama kandungnya.


Pikirannya melayang.


"Kamu sedang apa?" kontak Teresia melalui batinnya.


"Tidak ada, kenapa mengontakku kalau kamu sedang belajar?" batin Ray menjawab kontak dari saudarinya.


"Aku hanya iseng buka buku, tidak benar-benar belajar." jawab Teresia.


Lalu Teresia menceritakan apa yang ia lihat saat menyentuh kening Ray. Ray tersentak lalu duduk di ranjang barunya.


"Kamu bisa melihatnya?" tanyanya.


Lama tidak ada jawaban Ray heran kontak batin dan berbagi penglihatan terputus. Ternyata Teresia kelelahan. Tubuhnya menjadi lemas. Lalu memilih berbaring di tempat tidurnya. Sementara Ray menjadi cemas, tapi ia tidak tahu harus berbuat apa.


Perlahan ia keluar dari kamarnya. Dan berpapasan dengan Lina. Lina tersenyum hangat dan di tangannya ada sebuah nampan berisi kue dan minuman hangat.


"Ini mama bawakan untukmu," ucap Lina.


Lalu Lina masuk ke kamar Ray dan meletakkannya di atas meja di kamar Ray. Putranya hanya bisa memandanginya saja tanpa bisa berkata apa-apa. Dan saat Teresia hendak menyentuh pipinya, dengan cepat ia mundur untuk menghindari terjadinya sentuhan.


Lina terkejut atas respon Ray. Tapi kemudian ia mencoba untuk maklum. Putranya masih ragu padanya. Atau mungkin masih tidak ingin disentuh orang yang asing baginya. Tapi kemudian Ray justru meminta maaf atas tindakannya.


"Maaf saya hanya sedikit terkejut," ujarnya pelan.


Dia masih merasa sungkan pada Lina. Dan kuatir kalau Lina akan mengalami hal yang mengerikan.


"Ka, kalau boleh tau, Teresia ada di mana? Dan dia sedang apa?" tanya Ray ragu-ragu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2