Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Kamar


__ADS_3

Nicorazón bangkit dari tempat tidur dengan malas. Lalu melangkah dengan gontai. Tapi lagi-lagi dia bebalik ke tempat tidur, karena melihat papanya tidak mengikutinya.


"Buku tugasku tertinggal di kelas," ujarnya.


"Jangan banyak alasan. Sekarang juga kerjakan! Kamu tetap bisa mengerjakannya di buku lain," ujar Te Apoyo dengan tegas.


Lalu menarik tangan putranya dan menyeretnya sampai ke kamar Nicorazón. Sampai di kamar putranya Te Apoyo ikut masuk. Dan masih mengawasi putra tunggalnya itu mengeluarkan buku yang sesuai dengan jadwal besok.


Nicorazón mencuri pandang ke arah papanya. Memastikan kalau ia tidak akan ditinggalkan. Lalu ia memasukkan buku-buku untuk pelajaran besok ke dalam tas. Te Apoyo mengernyitkan keningnya menyaksikan tingkah putranya.


Ternyata setelah menyusun buku pelajaran untuk besok, Nicorazón melarikan diri menuju keluar kamar.


"Hey, mau ke mana?" tanya Te Apoyo mengikuti putranya.


Ternyata Nicorazón kembali ke kamar orang tuanya. Di sana ia mengeluarkan buku-bukunya di meja yang ada di kamar itu. Primavera heran melihat tingkah putranya.


"Kenapa kamu melarikan diri ke sini? Kamu bisa mengerjakannya di kamarmu sendiri," ujar Te Apoyo setelah tiba di kamarnya sendiri.


"Aku mau mengerjakannya di sini. Memangnya tidal boleh?"


"Tentu saja tidak boleh, mama butuh istirahat. Kalau kamu belajar di sini, tentu akan mengganggu mamamu," ujar Te Apoyo kesal.


"Boleh ya ma?" pinta Nicorazón pada mamanya.


Te Apoyo menggeleng saat Primavera menatapnya. Membuat wanita itu kebingungan untuk mendengarkan siapa. Tapi melihat putranya memelas padanya membuatnya tidak tega. Jadi dia menganggukkan kepalaya pada Nicorazón, membuat Te Apoyo menepuk jidadnya.


"Rusak sudah rencanaku, akibat anak bodoh ini!" batin Te Apoyo geram.


Mau tidak mau ia pun mengajari Nicorazón di kamar itu. Primavera sangat senang melihat suami dan putranya bisa meluangkan waktu bersama. Te Apoyo menanyakan tugas apa yang harus dikerjalan putranya.


"Ayo kerjakan. Yang tidak tahu tanya padaku!"


Nicorazón tidak ambil pusing dengan tatapan kesal papanya. Dia hanya membolak-balikkan halaman bukunya dan tidak menyelesaikan satu soal pun. Te Apoyo makin kesal. Segera ia memeriksa buku putranya.

__ADS_1


"Selama ini kamu belajar apa? Kenapa dari tadi cuma bolak-balik dan tidak mengerjakan apa-apa?" ujar Te Apoyo.


"Yang mana tugasnya? Jangan diam saja!" geram Te Apoyo.


Dengan santai Nicorazón menunjuk soal-soal yang harus ia kerjakan dengan ujung penanya. Soal yang harus ia kerjakan sangat-sangat banyak. Membuat Te Apoyo melongo.


"Hah? Sebanyak itu?"


"Iya," jawab Nicorazón dengan santai.


Ia sudah sering tidak mengerjakan tugas, sehingga tugasnya menjadi bertumpuk. Di tambah lagi ia menambahkan soal-soal yang sebenarnya belum dipelajari dan bukan tugas yang harus ia kerjakan malam ini.


Te Apoyo memijat jidadnya. Lalu ia menarik napasnya dalam-dalam. Merasa sudah kalah. Akhirnya ia mengangkat kursi dari meja rias istrinya. Dan meletakkannya di samping meja tempat putranya sekarang berada.


Ia pun mengajari putranya. Supaya cepat selesai ia memilih mendiktekan saja jawabannya. Tidak perduli putranya mengerti atau tidak yang ia kerjakan. Tujuan utama Te Apoyo hanya agar tugas putranya cepat selesai dan ia bisa melanjutkan tugas berikutnya. Tugas seorang suami pada istrinya.


Ternyata saat mengira tugas putranya sudah selesai. Anak itu malah mengeluarkan buku tugas yang lain. Te Apoyo benar-benar kesal. Tapi ditahan. Karena ia harus jadi papa yang baik malam ini. Tugas demi tugas dikerjakan. Jari-jari Nicorazón sudah kebas dari tadi. Tapi ia belum mau pergi dari ruangan itu.


"Sekarang tugasmu sudah selesai. Pergi ke kamarmu sekarang juga," ujar Te Apoyo.


"Hey, apa-apaan ini?" tanya Te Apoyo.


"Aku ngantuk pa," jawab Nicorazón.


"Pergi ke kamarmu sana!" usir Te Apoyo.


Tapi Nicorazón tidak perduli dan tetap memejamkan matanya. Te Apoyo menarik kaki putranya. Tapi putranya tidak mau bergeming.


"Sayang, sana pergi ke kamarmu," bujuk Primavera, ia tidak ingin putra dan suaminya ribut.


Tapi Nicorazón bertahan tidak mau pergi ke kamarnya dengan berbagai alasan.


"Aku tidak mau tidur di kamarku. Lampunya rusak."

__ADS_1


"Rusak apanya? Tadi saja tidak rusak," timpal Te Apoyo sambil melempar bantal ke kepala putranya.


"Ada tikus di kamarku. Mereka mau menggigit kakiku," ujar Nicorazón lagi.


"Mana? Mana yang digigit tikus?" tanya Te Apoyo sambil menarik kaki putranya.


"Sayang, ayolah sana pergi ke kamarmu. Papa kamu mau istirahat," bujuk Primavera.


Nicorazón yang kehabisan akal akhirnya memilih pura-pura sudah tidur. Bahkan ia tidak perduli saat Te Apoyo menggulingkannya sampai terjatuh dari tempat tidur.


"Sayang!" pekik Primavera saat mendengar suara benturan di lantai.


Nicorazón tidak perduli. Ia memilih memejamkan matanya sambil mengumpat papanya dalam hati. Te Apoyo kehabisan akal. Dan akhirnya membiarkan putranya berada di bawah tepat di samping tempat tidurnya.


Primavera merasa tidak tega. Akhirnya mengeluarkan selimut tebal untuk putranya. Menatanya sedemikian rupa supaya nyaman untuk ditiduri.


"Sayang ayo pindah. Biar mama taruh alasnya," kata Primavera.


Nicorazón segera bangkit dan menempati selimut yang menjadi alas untuknya tidur. Saat ia tidur dalam keadaan terlentang mamanya melihat kening putranya membiru. Ia merasa kasihan dan dengan cepat ia mencari kotak obat.


"Sakit?" tanya Primavera. Namun yang ditanya diam saja.


Te Apoyo memperhatikan tingkah istrinya. Dan melihat Primavera mengoleskan krim pereda rasa nyeri pada kening putranya. Ada rasa bersalah muncul dalam hati kecilnya, tapi ia memilih untuk diam saja. Sebab ia merasa kalau itu bukan kesalahannya seutuhnya.


Akhirnya Primavera memberikan selimut tambahan dan bantal untuk digunakan oleh Nicorazón. Tanpa banyak permintaan Nicorazón hanya memakai pemberian Primavera dan melanjutkan tidurnya.


Primavera kembali naik ke atas tempat tidur setelah mengoles kening putranya. Menatap suaminya. Lalu memberikan senyum tipis pada pria yang menikahinya itu. Karena ia tidak bisa menyalahkan Te Apoyo.


Te Apoyo memeluk istrinya dan mencium kening istrinya. Mencoba bersabar, meski malam ini dia tidak mendapatkan pelayanan dari istrinya. Yang disebabkan keberadaan putranya. Dan mencoba memejamkan matanya.


Tapi satu jam kemudian ia dan istrinya ternyata belum juga berhasil memejamkan mata. Hingga akhirnya mereka memilih untuk mencari solusi. Yaitu pindah ke kamar tamu dan berolah raga malam di sana.


Tanpa mengetahui satu sosok roh seorang gadis membelai wajah putranya. Menatapnya lekat-lekat dan hendak menciumnya. Namun sosok Putri penunggu danau tiba-tiba muncul dan mencengkram leher roh tersebut. Hingga roh itu lenyap.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2