Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Kerasukan


__ADS_3

Saat ia terlepas dia pun berlari menuju bayi Lina. Namun kakinya ditangkap oleh si pencuri bayi. Gadis itu terjerembab dan kepalanya terbentur di lantai keramik ruangan itu.


Akibatnya gadis itu mengalami pendarahan yang hebat, dan tidak sadarkan diri. Orang-orang yang berada di tempat itu ketakutan. Dan yang lain teriak histeris. Sebagian pergi meminta pertolongan dan sebagian malah memvideokannya dan mengunduhnya ke akun media sosialnya.


Gadis itu tidak membawa indentitas apa pun padanya. Sehingga sulit untuk menghubungi pihak keluarganya. Meski sempat mendapat pertolongan, gadis itu akhirnya menghembuskan napasnya.


Karena kamar yang di tempati oleh ibu palsu dari anak Lina menjadi lokasi kejadian perkara, maka ruangan itu harus dikosongkan. Polisi tiba setelah mendapat laporan. Dan si pencuri bayi dibawa ke kantor polisi beserta beberapa saksi.


Setelah mengumpulkan keterangan tentang kejadian perkara serta bukti yang ada, maka si pencuri bayi dilepaskan begitu saja. Lalu polisi melakukan penyelidikan tentang keluarganya. Dan saat di selidiki ternyata ia adalah salah satu anggota keluarga pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut.


Mendengar berita kematian si gadis maka pasien yang merupakan ibu si gadis syok dan menyusul putrinya. Ia memiliki penyakit jantung. Dan karena belum memiliki cukup uang ia belum melakukan operasi. Dan hal itu membuat putrinya jadi sering melamun, dan membayangkan seandainya ia punya uang.


Dan akibat kurang waspada ia pun dengan mudah dirasuki oleh roh halus. Dan pada akhirnya ia mengalami hal tragis. Meninggal tanpa tau penyebabnya, ketika membuka mata untuk terakhir kalinya, yang ia lihat hanyalah darah yang mengalir dari kepalanya. Lalu kemudian pingsan dan menghembuskan nafas terakhirnya.


Ruangan itu di kosongkan.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya pencuri bayi pada temannya.


"Aku tidak tau harus bilang apa," jawab teman pencuri bayi.


"Apa aku menghubungi suamimu saja, agar perasaanmu lebih tenang?"


"Tidak ada gunanya menelepon suamiku sekarang, aku yakin ia sedang bersama wanita lain."


"Emile apa maksudmu?" tanya si pencuri pada temannya.

__ADS_1


"Dia punya wanita lain di luar sana. Dan baginya kami sudah tiada." jawab wanita yang bernama Emile itu.


"Tidak apa, pulanglah, terima kasih sudah menjagaku sampai saat ini." kata Emile lagi.


Ia tau kalau tidak mungkin terus-menerus mengharapkan bantuan temannya. Temannya sudah menikah dan punya kehidupannya sendiri, juga keluarga yang perlu ia rawat.


"Gina pulanglah, jika aku butuh bantuan, aku akan meminta bantuan suster." kata Emile.


Dia berusaha menyakinkan temannya kalau dia akan baik-baik saja. Mulanya Gina tidak tega meninggalkan Emile tapi karena ia sudah mendapatkan pangilan berkali-kali mau tidak mau ia pun pulang.


Tapi sebelum pulang ia menemui seorang perawat untuk memperhatikan kebutuhan Emile, dan sebagai gantinya ia memberikan uang tip pada perawat tersebut. Dan perawat itu melakukan seperti yang dipesankan padanya.Saat Emile ingin ke kamar kecil, dengan sigap ia membantunya.


"Suster sepertinya bayiku haus, ini sudah dua jam sejak terakhir kali ia minum." kata Emile.


Suster tersebut membuatkan susu untuk bayi Lina dan kemudian meminumkanya pada bayi Lina. Dan setelah selesai memberinya minum, suster itu kembali ke tempat duduknya.


Untuk mengganti popoknya, perawat itu harus menggendong si bayi dan mengeluarkannya dari keranjang bayi. Tapi saat ia menggendong bayi Lina ia melihat sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah ia lihat. Dengan wajah berlumuran darah dan kepala yang pecah menatapnya dari sisi kiri Emile. Perawat itu gemetaran.


"Ada apa suster?" tanya Emile.


Suster itu tidak mampu menjawab. Iya mencoba bersikap tenang dan berpura-pura tidak melihat apa pun. Dan begitu selesai menggantikan popok tersebut ia pun mengembalikan bayi Lina ke keranjang bayi.


Dan saat ia melepas bayi Lina, sosok menyeramkan yang ada di samping Emile pun menghilang. Perawat itu akhirnya menghebuskan napas dari mulutnya karena merasa lega. Ia tidak mengatakan hal apa pun pada Emile. Sebab ia tidak mau Emile ketakutan.


"Saya sudah memberinya susu dan mengganti popoknya. Kalau begitu ijinkan saya pergi dulu. Nanti kalau ada apa-apa hubungi saya. Ini nomor saya." kata perawat itu.

__ADS_1


Emile mengaguk lalu ia pun mulai memejamkan matanya. Sementara perawat tersebut pergi ke toilet untuk mencuci muka. Ia berpikir kalau ia sudah mengantuk dan akibatnya ia jadi berhalusinasi.


Selesai mencuci muka ia tidak kembali ke kamar Emile, melainkan pergi menemui para perawat yang mendapat giliran jaga. Mereka mengisi waktu kosong dengan bergosip tentang pasien yang mereka tangani.


Di ruang operasi Lina telah selesai mendapatkan perawatan. Dan akhirnya ia kembali ke kamarnya setelah sadar. Bayinya sudah di keluarkan dari inkubator. Dan Lina menghangatkan bayinya di dadanya.


Pasien yang sekamar dengannya menasehatinya agar ia bisa tabah. Lina pun berusaha menenangkan dirinya. Ia masih memiliki satu bayi lagi untuk dia perhatikan. Jadi dia merasa kalau ia harus tegar.


Meski berusaha tampak tegar, Lina belum bisa melepaskan kesedihannya. Ia berharap bibi Mery segera datang. Akan tetapi bibi Mery tidak pernah datang. Sekejab Lina merasa kalau mereka sudah ditinggalkan oleh bibi Mery.


Tidak terasa air matanya jatuh. Ia juga berpikir tentang biaya persalinan. Dan juga berpikir cara menghalau roh jahat yang akan mengganggu mereka. Saat memikirkan roh jahat, seketika Lina menyadari kalau setelah ia siuman mereka belum satu kali pun muncul di hadapannya.


"Apa mungkin bibi Mery yang mengusir mereka?" ia bertanya pada dirinya sendiri.


"Tapi di mana dia?" batin Lina lagi.


Lelah menunggu kedatangan bibi Mery ia pun akhirnya tertidur. Saat ia tidur suami dari pasien yang sekamar dengannya mendekat. Ia di rasuki saat tengah tertidur nyenyak. Roh jahat yang merasukinya mengerakkan tubuhnya untuk mencekik bayi Lina.


Tapi sebelum itu terjadi dua orang perawat masuk untuk melakukan cek up. Saat melihat suami si pasien lain ia pun menegurnya. "Maaf pak, bisa minggir sebentar, kami mau memeriksa ibu ini dulu."


Suami dari pasien lain itu pun berpaling dengan mata melotot ke arah mereka. Perawat itu bergidik ngeri. Tapi mencoba bersikap tenang. "Pak tolong minggir ya, kami mau cek ibu," katanya mengulang kalimat yang sama. Mereka mengira pria itu suami Lina.


Mendengar suara yang asing si istri bangun begitu juga Lina. Lina heran melihat suami pasien yang baru masuk ada di dekatnya. Tapi karena pria itu membelakanginya, ia tidak tau seperti apa ekspresinya.


Si istri mengucek matanya karena mengira kalau ia salah lihat. Tapi kemudian melihat dengan jelas kalau itu adalah suaminya. "Ayah...ngapain di situ?" tanyanya istrinya heran.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2