Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) H E L P


__ADS_3

Nicorazón tersentak kaget. Ia tidak mengenal gadis itu. Bingung dan tidak bisa berkata-kata.


"K-kamu membunuhnya?" tanya gadis itu terbata-bata.


"Bukan! Aku tidak membunuhnya," ujar Nicorazón.


"Lalau kenapa ada darah, dan ia tidak bergerak? Aku akan panggil guru."


"Jangan!"


Tapi terlambat gadis itu sudah berlari dan memangil guru. Nicorazón kebingungan, lalu ia pun berniat pergi mencari bantuan. Saat melangkah pergi, orang-orang datang beramai-ramai. Karena mereka mendengar gadis yang berteriak-teriak sepanjang jalan tersebut.


"Tolong... ! Ada pembunuhan... !" teriak gadis itu di sepanjang jalan menuju ruang guru.


"Nicorazón, apa yang terjadi?" tanya teman-teman Nicorazón yang datang setelah mendengar teriakan gadis tersebut.


"Riani tiba-tiba menyerangku dan jatuh. Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Nicorazón. Para guru datang.


"Itu dia, gadis itu yang aku maksud!" teriak murid perempuan itu pada para guru yang mengikutinya.


Mereka tampak ragu menyentuh tubuh gadis yang sudah bersimbah darah itu. Hingga akhirnya salah satu dari mereka menyentuh nadi yang terletak di leher gadis itu.


"Gawat! Ini gawat! Dia, sudah tiada."


Mendengar pernyataan dari guru yang memeriksa denyut nadi gadis itu, guru yang lain menjadi semakin gugup. Menanyai Nicorazón sambil mengguncang tubuh anak itu, dan akhirnya membawa putra Te Apoyo ke kantor guru.


"Nicorazón ayo mengaku, katakan dengan jujur yang telah kamu perbuat!"


"Benar, jika kamu mengaku, hukumanmu akan lebih ringan."


"Ayo mengaku! Jangan diam saja!"


Para guru berteriak di kantor, saat menanyai putra Te Apoyo. Karena takut dan cemas, jika nama baik sekolah akan tercemar dan mereka akan terkena imbasnya.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang. Gadis yang menjadi korban sudah dibawa ke rumah sakit. Apa kita laporkan dia ke polisi?" tanya seorang guru pada guru lain sambil menatap Nicorazón.


"Tunggu! Sebaiknya kita lapor ke kepala sekolah dulu atau ke pihak yayasan," jawab salah satu dari mereka.


"Tidak! Kita lapor ke orang tuanya dulu," yang lain menyahut.


"Tapi bagaimana kalau ini hanya sebuah kecelakaan," sambung yang lain pula mencoba menjadi penyeimbang.


"Sebab terkadang kesalah pahaman sering kali terjadi. Dan peristiwa yang merenggut nyawa, tidak selamanya pembunuhan," ujarnya menjelaskan.


"Walau sekalipun ini hanya kecelakaan, tapi ini sudah merenggut nyawa seseorang. Kita tetap harus lapor polisi," kata yang lain lagi.


Beberapa guru saling berdebat sampai kepala sekolah akhirnya datang. Orang itu memutuskan memanggil kedua orang tua yang bersangkutan. Dengan nomor kontak yang ada, seorang guru menghubungi para orang tua murid. Dan berita itu sampailah ke telinga orang tua murid.

__ADS_1


"Apa? Putraku membunuh?! Omong kosong apa itu? Baik, saya akan segera ke sana!" jawab Te Apoyo saat menerima panggilan.


Hatinya sangat gusar. Dan saat tiba di sekolah ia melihat putranya sudah pucat pasi. Ia tidak bertanya apapun kecuali memeluk dan menepuk pundaknya. Tidak lama kemudian polisi datang menjemput Nicorazón. Sebab orang tua Riani melaporkannya ke pihak berwajib.


"Putraku tidak bersalah, kenapa kalian membawanya?"


"Semua akan dibuktikan nanti di kantor polisi. Mohon kerja samanya. Karena setiap kata dan perbuatan anda, bisa memberatkan putra bapak sendiri," jawab pria berseragam polisi tersebut.


Te Apoyo hanya bisa pasrah melepaskan putranya digiring ke kantor polisi. Dan Brillo juga ikut dibawa ke kantor polisi atas pernyataan Nicorazón, yang mengatakan ia ikut membantu Riani untuk membunuhnya. Akibatnya Brillo kehilangan kesempatan untuk menangkap anjing yang menolong Nicorazón.


Anjing itu terus berlari hingga tiba di rumah Brillo. Saat tiba di rumah itu, Malika sudah berada di kantor polisi untuk mendampingi Brillo. Di sana Brillo tidak membuka mulutnya sedikit pun. Membuat polisi kesulitan untuk menanyainya.


Anjing itu mondar-mandir di depan rumah Malika. Ia kesulitan melompati pagar rumah Malika yang tinggi. Putri Malika melihat anjing tersebut lalu menyuruh pelayan untuk mengusirnya. Namun saat diusir, anjing itu justru menerobos masuk ke dalam rumah.


Orang-orang yang ada di rumah itu mencoba mengusir anjing yang tidak mereka kenal. Tapi dengan mudah ia berkelit dan suasana di dalam rumah jadi berisik. Anjing itu pun berlari pergi ke kamar Brillo. Dan secara kebetulan putri Malika melihatnya masuk.


"Hei, keluar!" bentak putri Malika dengan menggerakkan jari telunjuknya, dari arah kepala anjing ke arah pintu.


Tapi anjing itu justru menundukkan kepala dan telungkup di lantai. Saat para pelayan hendak memukul anjing itu, putri Malika mencegahnya. Sebab ia merasa anjing itu tidak bermaksud menyerang siapa pun. Ia mengira kalau mungkin anjing yang masuk ke rumah mereka adalah anjing salah satu tetangga.


"Hei, anjing pintar... ayo keluar dari kamar ini," ujar Putri Malika. Dengan ragu-ragu ia mendekat.


Anjing itu menggoyang-goyangkan ekornya, sebagai tanda kalau ia tidak akan mengigit. Membuat Putri Malika makin mendekat. Ia mengusir hewan yang tidak dikenal itu dengan cara baik-baik.


"Berikan sapu itu padaku," pintanya pada pelayan yang memegang sapu.


"Hei, ayo keluar!" teriak putri Malika. Kini ia kesal.


Namun tetap saja anjing itu tidak mau keluar. Lalu ia melihat kotak mainan Brillo saat kecil di bawah kolong. Ia mengambil mainan yang berbentuk huruf. Lalu menggigitnya dan membawa ke luar. Ia meletakkan huruf itu begitu kepalanya muncul.


Putri Malika masih belum mengerti dan masih mengusir anjing itu dengan mendorongnya keluar dari kolong tempat tidur dengan sapu tersebut. Hingga beberapa kali anjing itu keluar masuk kolong tempat tidur. Dan menyusun beberapa huruf.


"Anjing ini kenapa tidak mau keluar? Dari tadi mengeluarkan mainan Brillo. Apa- ?" ucapan terakhirnya terputus saat melihat huruf-huruf yang tersusun di luar kolong tempat tidur.


H E L P


Putri Malika memiringkan kepalanya membaca hurup itu. Mulanya ia tidak percaya dengan penglihatannya. Dan menunggu anjing itu keluar lagi. Tapi anjing itu tidak keluar lagi. Putri Malika meletakkan sapu yang ada di tangannya. Lalu menyuruh para pelayan keluar.


"Siapa kamu?" tanya Putri Malika kemudian.


Gadis tersebut mengernyitkan keningnya dan mencoba menebak. Lalu menggelengkan kepala. Ia tidak mampu menebaknya. Putri Malika pernah melihat orang yang segaja merasuki hewan untuk meminta pertolongan. Dan sebab itu putri Malika menganggap kalau ini adalah kejadian yang sama.


Anjing itu mulai meletakkan satu huruf B. Putri Malika mulai was-was tapi mencoba tetap tenang.


"Tidak mungkin Brillo, dia masih hidup dan baik-baik saja di sekolah," gumamnya.


Dengan sabar ia menunggu anjing itu keluar masuk untuk menyusun huruf-huruf satu persatu. Setiap satu huruf diletakkan anjing itu, setiap kali itu pula detak jantung gadis itu berpacu makin cepat.

__ADS_1


B. R. I. L. L.O.


"B-brillo... ja-jadi kamu Brillo!" ujarnya membaca nama tersebut.


Putri Malika membelalakkan matanya, seakan tidak percaya. Mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Tanpa memastikan pikirannya, yang menduga kalau Brillo telah tiada dan merasuki tubuh seekor anjing, untuk meminta bantuan. Ia tidak menyadari dan tidak bisa menebak, kalau sebenarnya Brillo dan anjing itu bertukar jiwa.


"Ada apa sayang, Mama lagi di kantor polisi?" tanya Malika pada putrinya.


"Ma, aku rasa mama harus cepat pulang. Ada hal penting yang menyangkut tentang Brillo," jawab putrinya.


Malika mengernyitkan keningnya. Ia tahu kalau putrinya tidak akan menghubungi jika bukan masalah penting. Ia memutuskan meninggalkan suaminya dan Te Apoyo di kantor polisi, dengan alasan putrinya memanggil.


"Baiklah, hati-hati dijalan," ujar Tomi.


Malika pun pergi pulang. Setelah tiba di rumah, tanpa buang waktu, ia langsung menuju kamar Brillo. Sebab putrinya mengatakan kalau mereka ada di sana. Begitu pintu dibuka ia melihat putrinya dan seekor anjing. Malika berjalan perlahan-lahan.


"Kenapa memanggil mama, ada apa dengan adikmu? Dan kenapa ada anjing di sini?" tanya Malika.


"Dalam tubuh anjing ini, ada jiwa Brillo, Ma."


"Apa?! A-apa benar kamu putraku?!" tanya Malika secara langsung.


Anjing itu mengangguk. Degup jantung Malika seakan berhenti. Ia menutup mulutnya. Dan terduduk lemas.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" gumam Malika.


"Ma, tenanglah. Brillo masih hidup," ujar putri Malika.


Gadis itu menjelaskan apa yang terjadi. Dan Malika mulai bernapas dengan lega. Malika menarik tangan putrinya dan mengajaknya keluar. Tapi sebelum itu, ia terlebih dahulu mengunci anjing tersebut agar tidak ada yang masuk ke kamar.


Begitu pintu di kunci. Anjing itu pergi ke kamar mandi dan mengisi bak mak mandi lalu menceburkan diri dalam bak tersebut. Membersihkan kotoran yang menempel ditubuhnya.


"Ma apa ini ulah dia?" tanya putri Malika, setelah mereka berada di luar rumah.


Sebab saat ini keluarga mereka sedang menyelidiki hal-hal mistis. Di negara mereka banyak terjadi keanehan. Dan Tomi serta Malika mendapat tugas untuk menyelidiki hal tersebut. Hal ini dilakukan secara rahasia.


"Sebenarnya seberapa hebat kemampuan orang itu?" tanya Putri Malika lebih lanjut.


"Mama tidak tahu. Mama tidak menyangka kalau ada kekuatan seperti itu. Dan saat ini tubuh Brillo sedang dalam masalah. Kita tidak bisa menukar mereka sekarang," jawab Malika di tempat sepi tersebut.


"Jadi, apa yang bisa kita lakukan sekarang, Ma?"


"Mama tidak bisa putuskan sekarang. Tubuh Brillo sudah ditempati oleh roh lain. Dan kita tidak tahu apa saja yang sudah dilakukannya dengan tubuh adikmu."


"Kita akan memberitahukan hal ini pada papa. Semoga tubuh Brillo akan baik-baik saja di sana. Atau adikmu akan jadi anjing selamanya."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2