
Anak kecil itu pun tersenyum saat air laut sudah mencapai leher Lina. Ketika air laut sampai ke hidungnya barulah Lina sadar. Ia pun mencoba menggapai apa yang bisa dia tangkap. Ia pun berteriak minta tolong. Tapi ombak yang kuat menariknya ke tengah laut.
Di saat itu barulah orang melihat kalau Lina tenggelam. Untungnya Lina berhasil diselamatkan oleh orang yang kebetulan ada di dekatnya.
Seorang pria membawanya ke tepi pantai, beruntung Lina belum pingsan. Ia terbatuk akibat menelan beberapa air laut.
"Hei bunuh diri jangan di sini!" bentaknya.
"Haduhh nih cewek bikin susah. Apa di putusin cowoknya?"
"Iya nih, hamil di luar nikakkah, maka sampai-sampai mau bunuh diri?"
"Hei...minggir-minggir, dia putriku!" kata seorang wanita.
Lina yang dari tadi menunduk dan terbatuk-batuk tengadah mencari arah suara. Ternyata itu adalah pemilik gubuk. Wanita tersebut mengandeng tangan Lina dan membawanya pergi dari situ.
"Huhhh kalau punya anak cewek itu dijaga, jangan sampai hamil di luar nikah!" kata orang-orang yang tidak tau apa-apa.
Lina dibawa ke gubuk yang ia tinggalkan tadi. Dengan cepat wanita itu mencari pakaian ganti untuk Lina. Dan Lina pun berganti pakaian.
"Apa yang kau lakukan tadi?" tanyanya pada Lina.Tapi Lina diam saja sambil mengganti pakaiannya.
"Kenapa kau diam saja? Apa laki-laki itu mencampakkanmu sampai-sampai kau mau bunuh diri?"
Tapi Lina masih belum tau harus bilang apa. Pandangannya kosong dan lagi ia melihat anak kecil itu datang lagi. "Kenapa bibi tidak mengambilkan bolaku?" tanya anak itu.
"Oh," kata wanita itu singkat setelah melihat ada seorang anak laki-laki di dekat Lina menarik tangan Lina. Dengan kesal wanita itu mencengkram leher anak itu. Dan anak itu pun memutar lehernya kebelakang.
"Kau melihatku...bibi?" tanyanya dengan wajah yang sudah berubah dan suara yang berat.
"Kenapa kau mengganggunya." tanya wanita itu.
__ADS_1
Tapi anak kecil itu justru memberi pukulan ke perut wanita itu. Wanita itu tersungkur. "Ayo bibi kita cari bolaku." katanya lagi pada Lina.
Wanita itu pun menarik tangan anak kecil tersebut dan menjauhkannya dari Lina. Kini ia berada di antara Lina dan bocah itu. "Bibi siapa dia?" tanya Lina.
"Mana aku tau," jawab bibi itu.
Anak itu mengeluarkan taringnya dan menerjang wanita tersebut dan hendak mengigit lehernya. Dan wanita itu pun menghalagi mulut anak itu dengan tangannya. Lalu sekuat tenaga menendang bagian perutnya.
Anak itu pun melayang dan kemudian menempel di langit-langit gubuk tersebut dan merangkak seperti laba-laba. Lagi-lagi dia ingin menyerang wanita itu dan setepat mungkin wanita itu mengeluarkan sesuatu dari dalam laci yang ada di dekat tempat itu. Sebuah tongkat yang terbuat dari bambu kuning ia tusukkan masuk ke mulut anak itu.
Anak itu berteriak kesakitan dan perlahan tubuhnya seperti plastik yang terbakar dan meleleh lalu menghilang. Wanita itu pun terengah-engah seperti kehabisan tenaga. Lina tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia lihat.
Setelah mengatur napas wanita itu lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam laci. "Makan ini!" perintahnya. "Apa itu?" tanya Lina.
"Ramuan ini untuk melenyapkan yang ada di dalam kandunganmu." katanya.
"Aku tidak mau." jawab Lina spontan.
"Kenapa aku harus membunuh bayiku hanya karena takut mati. Bukankah para ibu merelakan nyawanya untuk melahirkan anak mereka?" ujar Lina.
"Terserah kau saja, itu urusanmu. Tapi jika terjadi hal itu lagi. Maka jangan salahkan aku jika membiarkanmu. Karena aku sudah memperingatkanmu." ujar wanita itu kesal.
"Kenapa bibi perduli padaku. Siapa bibi sebenarnya?"
"Haaahhh aku sudah pernah memperingatkanmu untuk...ah sudahlah. Aku lelah." ujarnya. Lalu ia pergi ke kamar mandi yang penuh dengan ember berisi air tampungan hujan. Setelah bebersih dan berganti pakaian ia pun mengeluarkan dua bungkus nasi. Satu bungkus ia berikan pada Lina.
Lina menerimanya lalu berkata, "Terima kasih". "Makan yang banyak, dan jangan berkomentar apa pun." kata wanita itu. Lalu dengan lahap menyantap nasi bungkus bagiannya. Lina pun membuka bagiannya. Isinya Nasi putih dan sepotong tahu serta sepotong tempe dan sedikit sayuran.
"Kenapa?" tanya wanita itu. "Bersyukurlah masih ada yang dimakan." katanya lagi. Lina pun menyantap makanannya. Ia tidak masalah dengan isinya. Dibandingkan saat di panti asuhan ini masih bisa dibilang mewah buatnya.
Meskipun sudah menikah dengan Dion, ia tidak pernah menjadi lupa akan masa lalunya. Dan itu sebabnya juga ia tidak pernah menyisakan sedikit pun makanannya di piring.
__ADS_1
Malam semakin menantang mata setiap orang yang berjaga, termasuk wanita itu. Ia masih sibuk memilah barang bekas yang berhasil ia kumpulkan. Tapi rembulan yang bersinar terang sedang mengintipnya dari celah-celah gubuknya dan melaporkan pada sang malam kalau masih ada yang terjaga.
Dan sang malam pun merayu si wanita untuk segera tidur di peraduannya. Lelah dan kantuk menyerang dan si wanita kalah. Lagi-lagi mimpi pun mengusiknya. Mimpi kejadian saat Lina diculik dan saat Lina terombang-ambing di laut. Tidak sanggup melihatnya wanita itu pun bangun.
"Dasar anak nakal, apa kau tidak tau betapa kesulitannya aku. Padahal aku ingin hidup tenang setelah sekian lama." gumam wanita itu mamandang Lina.
Wanita paruh baya ini bisa melihat masa depan dan masa lalu seseorang melalui mimpinya. Dan hal itu selalu membuatnya kesulitan.
Ia ingat saat memulung di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak kecil. Saat pertama kali memulung di sana ia selalu bermimpi hal aneh. Mimpi seorang pria tertembak di laut.
Mulanya mimpi itu samar-samar namun kemudian dia bisa melihat dengan jelas wajah orang tersebut. Wajah itu adalah penghuni rumah tempat ia baru-baru ini memulung.
Pemilik rumah tersebut memiliki banyak tato di badannya. Dan ia selalu marah setiap kali melihat wanita itu membongkar tong sampah di depan rumahnya.
"Hei heii...pergi dari sini." katanya.
"Aku hanya mengambil sampah." ujar wanita itu.
"Aku tidak perduli cepat pergi sekarang juga!" ujar orang itu.
"Huhh sampah saja kau pelit, apa lagi uangmu." kata wanita itu dan berlalu.
Keesokan harinya saat pintu rumah itu tertutup wanita itu mencoba memulung lagi di tempat itu. Dan ketahuan lagi, karena penghuninya datang. Ia seperti baru pulang dan meliat wanita itu mengais tong sampahnya.
"Hei dasar wanita tua, awas kalau kau datang lagi." ancamnya saat wanita itu segera pergi.
Setiap hari wanita itu selalu mencuri sampah yang ada di rumah itu dan setiap kali ia ketahuan. Meski sudah mengancam berkali-kali pria itu hanya membentak wanita tersebut setiap mendapatinya mengambil sampah tanpa ijin.
Hingga suatu hari ia menerima panggilan, belum sempat ia memakan makanan yang ia pesan, ia harus segera berangkat. Dan ia berpikir akan membuang makanan itu. Tapi saat hendak membuang makanannya ia melihat lagi wanita itu mengais sampahnya.
Wanita itu menyadari kalau dirinya ketahuan dan beranjak pergi. Namun penghuni rumah memanggilnya. Tapi wanita itu malah mempercepat jalannya. Pria itu pun mengejarnya...
__ADS_1