Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Calon Suami


__ADS_3

"Tentu saja, mereka tidak keberatan karena tidak harus menikah dan mereka bilang, mereka mau membantu saat Aku menceritakan masalah Teresia," ujar Ros.


"Tapi," Lina menahan ucapannya.


"Kenapa, apa karena penampilan Teresia, tenanglah Aku sudah memikirkan hal itu? Untuk mengatasi penampilan Teresia, Aku mempunyai kenalan yang bisa mendandani Teresia agar menjadi cantik," tutur Ros.


"Katakan saja kalau Kamu mau, Aku akan segera menelepon mereka," kata Ros.


Lina kebingungan, dibandingkan dengan penampilan Teresia, ia lebih memikirkan hal yang akan terjadi jika, Teresia jauh darinya. Ia ingat saat kejadian Teresia mengamuk di sekolah. Dan akhirnya harus menganti biaya pengobatan.


"Hei, Lina... apa yang kamu pikirkan lagi?" tanya Ros.


Lalu kemudian Ros mencoba menebak masalah yang dipikirkan oleh Lina. Dan kemudian ia berkata, "Apa Kamu takut kalau Teresia akan mengamuk di sana?" tanyanya. Lina mengangguk.


"Keluarga mereka cocok dengan syaratnya, Aku rasa Teresia juga akan cocok tinggal dengan mereka." Ros menghentikan ucapannya sejenak.


"Tapi bukan maksudku, Kamu tidak cocok tinggal bersama putrimu. Hanya saja seorang pasien tentu butuh dokter, dan saat ini keluarga mereka adalah dokter untuk Teresia," tutur Ros.


"Kita tidak akan meninggalkan Teresia begitu saja, kita akan membayar biaya makan dan biaya tempat tinggal di rumah mereka. Jadi anggap saja Teresia sedang menjalani rawat inap. Mungkin kita tidak bisa tinggal di sana dengan mereka, untuk mengawasi putrimu, tapi kita akan mengunjunginya setiap hari," hibur Ros.


"Baiklah kalau begitu," ujar Lina seraya menatap Teresia yang sedang bengong.


Roh wanita yang bersemayam di tubuh Teresia selama 10 tahun, sedikit mengerti ucapan mereka. Meski sulit baginya untuk melafalkannya. Apa lagi Lina juga jarang mengajaknya mengobrol. Saat ini Teresia sedang tidur karena kelelahan, tenaganya terkuras habis akibat roh-roh baru yang masuk ke tubuhnya.


Untungnya roh yang masuk ke tubuhnya segera musnah karena kekuatan mereka terlalu kecil untuk bertahan di tubuh Teresia. Roh wanita yamg ada di tubuh Teresia merasa penasaran dengan pria yang akan dijodohkan dengan raga yang ditempatinya. Ia mencoba membayangkan seperti apa rupa mereka.


"Teresia... ayo mandi sayang," kata Lina yang kemudian membuat wanita di tubuh Teresia tersadar dari lamunan.

__ADS_1


"Ini handuknya, mandi yang bersih ya, tapi jangan lama-lama," kata Lina.


Lina kemudian mempersiapkan keperluar putrinya. Tapi kemudian ia keluar dari kamarnya menemui Ros yang ada di ruang tamu.


"Ros bisakah kita pergi hanya untuk sekedar bertemu, maksudku kita tidak langsung meninggalkan Teresia di sana?" tanya Lina.


"Ya tentu saja, kita akan memastikan dulu, siapa tau mereka tidak seperti yang diceritakan," kata Ros.


Lina mengangguk dan tersenyum lega. Setidaknya ia akan memikirkan lagi jika mereka tidak seperti yang diharapkan nantinya. Ia berhenti mengepak barang keperluan Teresia. Lalu setelah melihat Teresia selesai mandi, ia pun mempersiapkan dirinya.


Setelah selesai, maka kini mereka berangkat. Dan hal yang pertama kali dilakukan adalah pergi ke salon kecantikan. Dan untuk menghindari pandangan orang lain, mereka menutupi kepala Teresia yang botak dengan topi. Dan karena Ros mengenal pemiliknya maka Lina dan Teresia dibawa ke ruang khusus.


"Huh, oh ya ampun!" ucap penata rias terperanjat.


Ini pertama kalinya ia melihat manusia seperti mayat hidup. Tapi kemudian ia menenangkan diri. Ia mulanya membiasakan diri melihat wajah yang menyeramkan milik teresia. Lalu perlahan mendandaninya. Ia memang cukup handal dalam hal riasan. Meskipun tidak secantik pemeran utama wanita di film, setidaknya penampilan Teresia tidak terlihat menyeramkan.


Ia yang selama ini terkurung di tubuh Teresia dan tidak boleh kemana-mana. Kini dapat melihat pemandangan di luar kamar Lina. Jadi dia berharap sekali kalau pertunangan ini berjalan dengan lancar. Jadi dia pun menjaga tingkah lakunya. Ia berencana bertingkah seanggun mungkin untuk menarik perhatian, yang akan dijodohkan padanya.


"Lina sepertinya Teresia sangat senang berpergian. Ia tidak henti-hentinya tersenyum," tutur Ros.


Lina hanya menanggapi dengan senyum, lalu mengelus kepala Teresia dengan lembut.


"Semoga semua akan berjalan lancar," batin Lina.


Tibalah mereka ditempat yang dituju, sebuah rumah yang sederhana. Di sana tampak sepasang suami istri menyambut mereka. Dan mereka pun saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri. Lalu mereka diajak masuk ke rumah tersebut.


Tampak tiga pemuda yang sudah menunggu di dalam rumah. Wanita yang berada di tubuh teresia terkejut. Pria yang ada di hadapannya berbeda dari yang ia harapkan. Meski pria itu bukan untuknya, entah kenapa ia merasa terbebani.

__ADS_1


Ingin rasanya ia membatalkan rencana mereka. Tapi ia tidak bisa kalau tiba-tiba langsung mengamuk. Ia sudah membayangkan hal-hal yang membosankan jika tinggal dengan mereka. Tapi untuk sementara ia mengikuti alurnya terlebih dahulu.


Ternyata keluar pria mengatakan mau menerima Teresia sebagai menantunya tapi dengan berbagai syarat. Lina dan Ros saling pandang. Syarat yang mereka tawarkan cukup tinggi.


"Kami ingin putra kami menikah dengan pesta yang meriah," kata si istri.


"Ya dan kami punya keluarga besar," kata suaminya menimpali.


Mendengar hal itu Ros jadi tidak merasa nyaman. Selain masih di bawah umur, mereka juga tidak berniat menikahkan Teresia pada salah satu putra mereka yang sudah berumur.


"Maaf tujuan kami ke sini hanya ingin menitipkan putri kami beberapa waktu saja, bukan untuk jadi menantu." ucap Ros kemudian. Ia tau kalau Lina pasti sedang bingung menjawab mereka.


"Haduh, menerima anak perempuan tapi tidak ada hubungan keluarga, apa kata tetangga bisa-bisa keluarga kami akan malu," ujar si istri.


Sebenarnya ketiga putranya sudah pernah menikah dan sudah ditinggal oleh istri mereka masing-masing karena tingkah mereka yang cuma ingin makan dan tidur. Di tambah lagi mereka suka mabuk-mabukan. Orang tuanya hanya berharap anaknya berkeluarga lagi agar bisa segera pergi dari rumah mereka.


Lina dan Ros saling pandang, terlihat jelas mereka kebingungan tapi kemudian Ros berkata, "Apa benar kami tidak bisa menitipkannya?"


"Kami akan bayar biaya kebutuhannya selama dia tinggal di sini. Dan kami akan bayar biaya perawatan dan juga tempat tinggalnya. Jadi kami harap putri kami hanya melakukan tukar cincin dengan salah satu putra kalian," lanjut Ros menjelaskan.


Kedua orang tua itu lalu saling berpandangan dan kemudian saling berbisik.


"Bagaimana ini, jika tidak menikah itu artinya anak-anak ini selamanya akan jadi benalu di rumah kita," bisik si Suami.


"Ah maaf kalau tidak mau menikah, kami tidak bisa menerima putri kalian untuk dititipkan di sini," tutur si Suami kemudian.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2