Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Dion


__ADS_3

Paranormal sudah tidak berkutik, dan dengan geram si nenek bermaksud menyerang Ray. Ini kesempatan langka, yang tidak akan di sia-siakan roh tersebut. Tapi saat ia menyerang Ray dengan tubuh mertua Emile, mama Ray menghalanginya. Dan terjadi pergumulan. Papa Ray berusaha memisahkan istri dan mamanya.


Ray yang melihat kejadian itu jadi ketakutan. Dan untuk pertama kalinya ia mengeluarkan ekspresi di wajahnya. Ia menatap dengan ngeri sekaligus marah. Suasana hatinya yang bergejolak membuat gelombang udara yang kuat. Yang hanya mampu di rasakan oleh roh yang ada di rumah itu.


Ray ingin menghentikan hal yang mengerikan yang ia lihat saat itu. Dan tanpa sadar ia menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya.


"Berhenti...!" teriaknya kuat.


Seperti tsunami menghantam apa saja yang ia lalui, demikian gelombang yang dibuat oleh Ray untuk menghalau para roh yang ada di sekitar itu. Dan roh-roh itu kesakitan akibat terkena gelombang tersebut. Dan akibatnya para roh yang terkuat berusaha menahan gelombang itu dengan kekuatannya. Kekuatan yang saling beradu membuat benda-benda pecah belah di tempat itu retak.


Semua yang melihat hal itu terkejut. Nenek yang tiba-tiba sadar jadi kebingungan, karena putranya dan menantunya berada di dekatnya dalam posisi yang aneh. Ke dua tangannya dipegangi dengan kuat oleh Lina, dan tubuhnya dirangkul oleh putranya dari belakang.


BRUK!!


Ray rubuh setelah meluapkan emosinya.


"Energi yang luar biasa." gumam paranormal tersebut dalam hati.


Dadanya yang terasa sesak akibat terpental tadi, kini tidak terasa sesak lagi. Perlahan ia bangkit dan ingin melihat Ray lebih dekat. Tapi Emile yang telah melepas ke dua tangan mertuanya, telah lebih dahulu berlari untuk mendapatkan Ray.


"Ray...!" panggilnya.


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya mertua Emile.


"Tadi mama kerasukan dan sepertinya Ray ketakutan." jawab suami Emile.


"Hah,,,tadi mama lihat...lihat...a ada hantu..." kata mertua Emile.


"Tapi sekarang sudah tidak ada," lanjutnya.

__ADS_1


Seluruh penghuni di rumah itu diam sejenak, seolah memikirkan apa yang barusan terjadi. Paranormal tidak melepaskan pandangannya pada Ray. Ada sesuatu yang ia rasakan saat melihat anak kecil seperti Ray, sanggup menghalau seluruh roh yang ada di situ.


Ray diangkat papanya lalu dibawa ke kamar. Emile tidak bisa melarangnya, ia pun kebingungan saat itu. Para roh tidak terlihat meski ia menyentuh putranya. Meskipun ia tetap was-was. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, roh-roh itu meraung kesakitan sebelum lenyap dan tidak muncul lagi.


"Apa ini ada hubungannya juga dengan putraku?" batinnya.


Berbeda dengan keadaan di rumah Emile yang menjadi tenang, keadaan di rumah kakek Dion tidaklah begitu. Banyak orang hilir-mudik dan keluar masuk dari rumah tersebut. Ternyata rumah itu telah di jual oleh Kelly, kepada orang lain yang memiliki selera seni yang tinggi. Ia tertarik dengan ukiran-ukiran yang khas dari rumah tersebut.


Kelly yang mengira suaminya tidak akan pernah bangun lagi membuat seluruh harta milik Dion menjadi miliknya. Mengunakan status sebagai istri sah Dion. Dan memanfaatkan Dion yang sedang koma. Membuat cap jempol menempel di tiap surat penjualan properti Dion.


Dan ia pun berselingkuh, lalu mengatakan kalau anak-anak yang ia lahirkan adalah anak-anak Dion.


Sementara Dion terbujur kaku di ruang operasi. Sayatan hampir terdapat di tiap jengkal tubuhnya, yang dijadikan sebagai eksperimen. Terkadang Dion yang dibius masih bisa merasakan rasa sakit saat kulitnya tersayat. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Tidak tau sudah berapa lama. Matanya terpejam dan tidak melihat betapa menyilaukannya cahaya lampu yang ada di atas tubuhnya.


Dan pengalaman baru akhirnya ia rasakan, saat ia tidak dapat lagi menahan rasa sakit. Rohnya keluar dari jasadnya. Dan tiba-tiba berada di tempat-tempat yang tidak ia kenali. Meski rohnya keluar dari raganya, jantungnya tetap menunjukkan adanya kehidupan pada raga itu. Meskipun sangat lemah. Dion tidak tau ada di mana. Rasanya seperti melayang dan ia tidak merasakan rasa sakit lagi.


Ia terkejut melihat di atasnya seorang anak kecil yang menyeramkan menatapnya dengan tajam. Dan benda-benda berada di posisi yang terbalik Lalu ia juga terkejut saat mendengar suara lembut yang sangat ia rindukan.


"Teresia...sudah bangun ya?" ujar Lina.


"Lina?" batin Dion.


"Sayang...kamu lihat apa, dari tadi lihat ke atas terus? Memangnya ada apa?" tanya Lina sambil melihat ke arah atas.


Mendengar ucapan Lina, Dion jadi berpikir dan memperhatikan posisinya. Ternyata dia tebaring di langit-langit.


"Agghhhkk!" teriaknya ketakutan.

__ADS_1


Ia takut kalau ia akan terjatuh. Tapi ternyata ia tetap melekat di langit-langit. Lina yang tidak melihat suaminya, membawa putrinya ke luar kamar.


"Ayo saatnya makan siang," katanya pada putrinya.


Dion yang di tinggalkan di kamar itu berusaha meraih Lina, dan akhirnya turun dari langit-langit kamar itu.


"Apa aku sedang bermimpi?" pikirnya, lalu menampar pipinya.


"Tidak sakit, berarti ini mimpi," batinnya.


Saat menikmati wajah Lina yang ia rindukan, tiba-tiba ia merasakan jantungnya sakit. Ternyata seseorang menempelkan alat kejut jantung ke tubuhnya. Dan setelah detak jantungnya normal barulah orang itu berhenti. Dion kembali kesakitan. Air matanya mengalir.


"Hei lihat, dia menangis, sepertinya percobaan kita kali ini berhasil." kata salah seorang dari mereka.


"Huh," jawab yang lain dengan singkat.


"Aku bahkan tidak berharap dia sadar, memangnya untuk apa dia hidup dan sembuh."


"Hahaha, ini jauh lebih menyenangkan. Kita bisa memakai tubuh ini sebagai bahan."


Terdengar celoteh orang-orang yang ada di situ. Rasanya lebih menyayat dan pilu dibandingkan bekas benda tajam yang merobek pembungkus tulangnya. Ingin rasanya Dion melihat wajah orang-orang yang menertawakannya.


Ia tidak pernah membayangkan keadaannya yang seperti itu, perih di mana-mana. Dan di mana istrinya Kelly. Tidak pernah sekali pun ia mendengar suara istri ke duanya itu. Dan ketika ia berpikir tentang Kelly, ia jadi teringat tentang Lina. Mengira kalau yang ia lihat sebagai mimpi. Sedikit rasa rindunya terobati.


Lalu ia pun berpikir siapa anak kecil yang menyeramkan dalam mimpinya. Kenapa anak itu bisa ada dalam mimpinya, dan kenapa Lina tidak menyadari keberadaannya di dalam mimpi itu. Dengan mengingat istrinya Lina saja, rasa sakit yang Dion rasakan berkurang.


Dan ia mulai membayangkan jika seandainya istrinya ada di sampingnya. Dia juga jadi teringat, saat-saat ia pertama kali jatuh cinta dan pada akhirnya memberanikan diri menyatakan perasaanya. Mengingat saat berbulan madu. Dan menghayalkan jika saja anak-anak mereka terlahir.


Dion menghayal untuk mengurangi rasa sakitnya dan mengalihkan pikirannya. Meski dengan bersusah payah. Karena terkadang rasa perih itu muncul lagi dan mau tidak mau Dion harus kembali pada kenyataan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2