
Pagi ini Ray di antar oleh Gina ke sekolah barunya. Dan sebelum pergi ia menitipkan Ray pada salah satu guru kenalannya di sekolah itu. Ray diantar ke ruang kelasnya dan diperkenalkan pada guru bidang study yang mengajar pagi itu.
Ray mendapatkan kursi kosong yang berada di bagian sudut belakang. Seluruh mata menatapnya heran, sebab ia memakai masker dan juga sarung tangan serta baju kaus berleher menutupi leher, di balik kemeja sekolahnya.
"Apa dia penyakitan?" murid-murid saling bertanya.
Saat Ray memulai pelajarannya, Nicholas sedang berpamitan pada pamannya yang seorang aparat keamanan.
"Loh tidak jadi liburannya di sini?" tanya tantenya.
"Ada urusan mendadak tante." jawabnya singkat.
"Ya sudah hati-hati di jalan," ujar tante melepas kepulangan Nicholas.
"Kapan-kapan aku traktir makan di restoran yang terkenal di sini." ujar sepupunya. Yang meninggalkan sepeda motornya, di rumah sakit untuk dipakai oleh Nicholas.
"Oh ini kunci mobilmu, bensinnya sudah kuisi full,"
Nicholas menangkap kunci yang dilempar ke arahnya. Lalu ia menaiki mobilnya dan melabaikan tangan dan pulang. Sebenarnya ia belum berniat untuk pulang. Tapi melihat wajah kuatir Lina dan pelukan hangat yang ia berikan pada putrinya, membuat Nicholas ingin segera pulang.
Sebab dari kemarin Gina terus saja mengirip pesan, menanyakan keberadaannya. Memang ia tidak mengatakan kalau ia di rumah pamannya. Yang merupakan adik kandung Gina sendiri. Sepanjang perjalanan ponselnya terus bergetar karena panggilan masuk. Dibanding menjawab ponsel tersebut, ia memilih fokus berkendara. Agar secepatnya tiba di rumah.
Setelah berkendara beberapa jam, tibalah ia di rumah. Tampak Gina yang tadinya duduk, langsung berdiri. Dan ia menyambut putranya yang baru saja tiba. Nicholas diam saja, membiarkan dirinya dipeluk oleh Gina. Kemudian ia melangkah masuk setelah Gina melepaskannya.
Ia tidak menyangka Gina akan benar-benar menyambutnya. Walau tadinya di sepanjang jalan ia selalu berpikir, seandainya Gina menyambut kepulangannya seperti Lina menyambut putrinya, walau hanya sekali saja. Tapi saat diperlakukan seperti itu, ia jadi malu. Dan untuk menutupi perasaannya ia pun cepat-cepat berjalan menuju kamarnya.
Ia tersenyum dan merasa konyol. Tapi juga merasa senang. Direbahkannya tubuhnya di kasur. Rasa kantuk mulai menguasainya, setelah lelah berkendara. Gina mengetuk pintu, dan saat melihat putranya berbaring, ia membatalkan niatnya. Tadinya ia ingin mengajaknya makan bersama.
Akhirnya ia makan sendirian. Makanan yang beraneka ragam telah ia siapkan menyambut putranya pulang. Teringat ia kejadian tadi pagi saat anak-anaknya pergi ke kampus dan sekolah, tanpa pamit padanya. Barulah ia menyadari jarak antara mereka sudah sangat jauh.
__ADS_1
Sejak melihat Emile menghembuskan napas terakhir, Gina selalu terbayang, jika suatu saat ia harus meninggalkan ketiga putranya untuk selamanya. Akankah mereka menangisinya, ataukah mereka acuh tak acuh. Sebab merasa sudah tidak memiliki mama sejak lama.
Selesai makan ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk. Berasal dari sekolah putra ketiganya. Segera ia bergegas menuju sekolah. Dan langsung menuju kantor kepala sekolah. Putranya dan 3 murid lainnya terluka. Mereka terlibat perkelahian.
Orang tua murid yang lain minta pertanggung jawaban dan biaya pengobatan. Putra ketiganya bersikap dingin padanya. Dan kepala sekolah menceramahinya. Gina menerima apa pun yang mereka katakan dan akhirnya putranya dikeluarkan dari sekolah.
Ini bukan yang pertama kalinya. Biasanya Gina akan emosi dan ikut memarahi putranya. Tapi kali ini tidak. Tidak ada wajah marah sedikit pun. Putranya diam saja sepanjang perjalanan. Gina membawanya ke rumah sakit.
"Lukanya tidak terlalu serius." ujar dokter. Dan saat dokter bertanya kenapa putranya terluka. Gina tidak menjawab dan hanya tersenyum tipis. Dokter lalu manggut-manggut.
Setelah itu Gina membawanya pulang. Dan saat tiba di rumah pun Gina tidak meluapkan emosinya.
"Apa kamu lapar?" tanyanya pada putra ketiganya. Ia tau putranya berangkat tanpa sarapan pagi ini.
Putranya diam saja. Membuang muka, dadanya bergejolak. Siap melakukan pembelaan jika Gina meluapkan emosinya. Tapi Gina justru menarik tangannya dengan lembut. Dengan gerak cepat anak itu menarik tangannya. Dipandangnya wajah mamanya. Lalu ia mengernyitkan keningnya.
"Kalau mau marah, marah saja, tidak usah pura-pura!"
"Kenapa? Tidak suka? Kalau tidak suka, pergi sana!"
"Mama sedang memasak, istirahatlah dulu, setelah masak, mama akan memanggilmu." jawab Gina santai.
"Kenapa?!"
"Apa?"
"Kenapa mama diam saja?! Kenapa tidak memarahiku?! Apakah aku ini sudah tidak ada bagimu?!" teriak putra ketiga Gina.
"Sayang, mama yang salah. Yang seharusnya kena marah itu mama. Apa terjadi hari ini murni kesalahan mama. Mama yang kurang memperhatikan kalian selama ini." jujur Gina.
__ADS_1
Putra ketiga Gina bingung dengan ucapan mamanya. Ia tidak menyangka hal itu keluar dari bibir mamanya.
"Jadi mama sudah tau kalau selama ini mama salah?"
Gina menatap lembut putranya tanpa menjawab. Di dekatinya putranya tersebut. Dan dipeluknya. Nicholas yang melihat hal tersebut kembali ke kamarnya. Ia sempat terbangun akibat suara keras dari kamar adiknya. Dan saat melihat keadaan baik-baik saja. Ia menarik napas lega.
"Katakan, hari ini kamu mau makan apa? Semua yang kamu minta akan mama masakkan."
"Sungguh?"
"Ya."
"Aku senang mama kembali," ujar putra ketiganya dan memeluk mamanya. Tetes air matanya mengalir membasahi pipinya.
Selama ini ia merasa kalau ia tidak pernah dianggap. Sebab sejak lahir dan sejak ia mulai mulai bisa mengingat. Ini adalah pertama kalinya ia dipeluk sehangat itu. Gina membencinya, sebab saat mengandung putra ketiganya suaminya kedapatan selingkuh. Jadi ia menelantarkannya sebagai balasan atas perselingkuhan almarhum suaminya.
"Jadi kau mau makan apa?" Gina mengulang pertanyaannya.
"Apa saja yang mama masak akan aku makan." jawab putranya. Lalu dengan cepat melepas pelukan Gina dan berbalik badan.
"Mama keluarlah aku mau berganti pakaian," pintanya untuk menutupi kenyataan kalau ia sedang menangis.
Gina tersenyum lalu keluar. Saat melewati ambang pintu, tak terasa air mata haru menetes di pipinya. Ia bersyukur belum kehilangan putranya dan berharap kedepannya bisa dekat dengan mereka.
Saat makan siang tiba, mereka bertiga berkumpul bersama di meja makan. Putra keduanya pulang. Gina menghentikan acara makannya. Segera disambutnya putra keduanya dan menariknya ke ruang makan.
"Mama salah makan obat ya hari ini? Tumben ada di rumah?" tanyanya sambil melirik Nicholas.
Nicholas mengangkat bahunya. Dan adiknya diam saja sambil mengisi piring dengan lauk kesukaannya.
__ADS_1
"Baiklah aku mau ganti pakaian dulu, jangan ada yang makan sebelum aku kembali!" perintahnya.
Bersambung...