Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Berpindah Tempat


__ADS_3

Sesampainya di rumah, orang tuanya yang pulang larut malam terkejut melihat Lizie datang dari arah luar. Tapi tidak tahu mengapa mereka seakan terhipnotis oleh penampilan putrinya yang terlihat kurang sehat.


Lizie segera ke kamarnya. Di kamarnya ia duduk menghadap cermin lalu berdandan sepajang malam. Pagi hari tiba dan ia pun pergi mandi. Saat mandi belatung keluar dari setiap lubang yang ada di tubuhnya. Mengeluarkan aroma yang sangat busuk.


Pelayan yang lebih dahulu bangun dari pada yang lainnya merasa terganggu dengan aroma tersebut, lalu mencari asal aroma yang membuat perut menjadi mual tersebut.


Ia pun tiba di depan kamar Lizie, tapi rasa segan membuatnya enggan mengetuk pintu. Apalagi masuk tanpa permisi. Jadi ia kembali kepada tugas rutinnya. Sambil sesekali menutup hidungnya. Orang tua Lizie yang sedang tidur pun terbangun akibat bau tersebut.


Tapi saat mereka keluar kamar untuk mencari bau, aroma itu mulai menghilang. Sebab Lizie sudah mengeringkan tubuhnya. Lizie pun berpakaian dan menyisir rambutnya. Tapi rambut itu rontok setiap kali ia menyisirnya. Jadi ia hanya menatanya dengan penjepit rambut.


Ia pergi ke selolah tanpa sarapan pagi. Dengan alasan ada ujian. Dan ia takut terlambat sekolah. Mamanya menyuruh pelayan untuk membuatkan bekal untuk Lizie. Tapi saat diperjalanan, bekal itu dia berikan pada seorang nenek tua. Yang mengingatkannya sejenak tentang orang yang merawatnya dari bayi.


Lalu ia meminta supir melajukan mobil dengan lebih cepat. Agar ia bisa secepatnya tiba di sekolah. Dan saat tiba di sekolah, gerbang masih ditutup. Saat supirnya pergi barulah terlihat seorang satpam membuka gerbang. Lizie masuk dan langsung menuju kelas Te Apoyo.


Dan duduk di kursi Te Apoyo sambil membayangkan wajah Te Apoyo. Menempelkan pipinya di atas meja tersebut. Saat menikmati hayalannya ia dikejutkan oleh sesuatu. Mendadak ia bangkit saat mendengar derap langkah kaki. Dan ia berpapasan dengan teman sekelas Te Apoyo.


Teman Te Apoyo heran saat melihanya. Dan Lizie menundukkan kepalanya, serta berlalu dari ruangan itu. Menuju ruang kelasnya sendiri. Ia mengambil cermin hendak memperbaiki riasanya dan menyadari kulitnya mengelupas. Tanpa ia sadari kulitnya menempel di atas meja belajar Te Apoyo.


Te Apoyo terkejut saat tiba di mejanya dan melihat sehelai kulit ari yang menempel di mejanya. Dan teman sekelasnya mengatakan, kalau saat mereka tiba, ada gadis dari kelas lain, yang keluar dari ruang kelas mereka. Dan tingkah gadis itu aneh, jadi mereka menerka kalau itu ulah murid kelas sebelah.


Sementara Lizie akhirnya keluar lagi dari kelasnya. Menyadari kalau ia tidak bisa mengunakan tubuh tersebut lebih lama lagi. Sehingga ia memilih untuk tidak mengikuti pelajaran. Ia bersembunyi di tempat yang biasa dikunjungi Te Apoyo. Dan menunggu jam istirahat tiba.


Saat jam istirahat tiba, Te Apoyo datang dan Lizie langsung muncul di hadapannya. Te Apoyo menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan di mejaku?" tanya Te Apoyo begitu melihat wajah Lizie yang terkelupas.


"Itu adalah kecelakaan kecil," jawab Lizie.


"Apa sebenarnya tujuanmu kali ini?"


"Hey, kita baru bertemu, jangan langsung marah. Setidaknya kita berkenalan dulu," ujar Lizie mengulurkan tangannya.


"Klara, hentikan sandiwaramu itu," ujar Te Apoyo dengan kesal.


"Oh ternyata kamu mengenaliku, apa kamu tahu kalau aku akan segera meninggal. Jadi berpacaranlah denganku seperti kamu berpacaran dengan gadis sial itu," ujar Lizie seraya mendekati Te Apoyo.


"Sadarlah dengan kondisimu saat ini Klara," ujar Te Apoyo.


"Aku sudah pernah bilang kalau aku tidak mau berpacaran denganmu," ujar Te Apoyo sambil berlalu.


Ternyata jawaban Te Apoyo membuat Klara semakin kesal. Dan bertambah kesal saat melihat ada gadis lain yang menemui Te Apoyo di tempat itu.


"Ternyata kamu di sini ya? Ini aku bawa bekal yang banyak, kita makan bersama yuk," ujar gadis itu.


Gadis itu tidak memperhatikan Lizie yang menatap tajam padanya. Te Apoyo pun menolak gadis itu. Tapi tetap saja gadis itu tidak mau menyerah. Dan mengejar Te Apoyo serta menyamakan langkah kaki mereka.


Melihat hal tersebut Lizie tidak bisa menahan amarahnya dan menjambak rambut gadis tersebut. Gadis itu kesakitan dan menoleh pada Lizie. Te Apoyo juga menoleh padanya. Gadis itu mundur dan bersembunyi di balik punggungTe Apoyo. Klara makin kesal dan mengejar gadis itu tapi Te Apoyo menghardiknya.

__ADS_1


"Klara berhenti!" ujarnya sebelum Lizie menyakiti gadis itu.


Klara diam saja. Te Apoyo dan gadis itu melanjutkan perjalanan meninggalkan Klara. Gadis itu terus menatap kebelakang, kalau-kalau Klara mengejar mereka. Tapi ternyata Klara diam saja dan menunggu waktu yang tepat.


Saat melihat ada kesempatan dan situasi yang tepat ia pun melancarkan aksinya. Mulanya ia berpura-pura melewati Te Apoyo dan gadis tersebut. Tapi ia kemudian berhenti di tengah tangga. Lalu menoleh saat gadis itu dan Te Apoyo sudah dekat. Ia menarik kedua tangan gadis itu.


Tapi gadis itu menepis tangan Lizie dan jatuhlah Lizie. Kepalanya pecah saat mengenai sudut tangga yang tajam. Gadis tersebut terkejut ketakutan. Apa lagi saat banyak yang melihat kalau gadis itu seolah mendorong Lizie hingga jatuh.


Klara kini terbebas dari tubuh itu. Ia kini merasuki tubuh gadis lain yang terlihat sangat terkejut dengan jatuhnya Lizie. Dia adalah sahabat Lizie. Klara yang berada di tubuh sahabat Lizie berteriak dan berpura-pura menangis. Lalu menatap gadis yang bersama Te Apoyo dengan tajam.


Sementara murid-murid lain dengan cepat membidik kamera ponsel ke arah jasad Lizie, dan menyebarkannya di grup WA. Segera orang yang menerima kabar datang menuju lokasi untuk memastikan kebenaran tersebut. Lalu melakukan hal yang sama, mengambil gambar dan merekam video dan menyebarkannya di akun media sosial mereka.


"Pembunuh! Dasar pembunuh! Kau membunuh sahabatku!" teriaknya dengan bercucuran air mata palsu.


Gadis itu gemetaran dan segera berlari dari tempat tersebut. Lalu ia bersembunyi ketakutan di kelasnya. Klara tersenyum melirik Te Apoyo yang geram melihat tingkahnya.


"Akan lebih banyak korban jiwa lagi, jika kamu tetap menolak jadi kekasihku," batin Klara.


Guru pun datang ke tempat kejadian. Banyak orang datang dan pergi dari tempat tersebut. Karena jasad Lizie yang mengeluarkan bau busuk. Banyak yang heran dengan kondisi jasad tersebut. Sebab darah Lizie berwarna hitam dan dari mulut, hidung, telinga serta matanya keluar belatung. Seolah jasad tersebut sudah membusuk.


Polisi pun datang kesekolah. Te Apoyo dan gadis yang menawarkan makanan padanya dibawa ke kantor polisi. Dan beberapa saksi yang berada di lokasi tersebut. Sahabat Lizie melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah gadis itu. Dan Te Apoyo memandangnya dengan kesal.


Sekolah ditutup lebih cepat seluruh murid pulang lebih awal. Murid-murid memperbincangkan kejanggalan jasad Lizie di sepanjang perjalanan pulang. Mobil ambulan telah membawa jasad Lizie untuk melakukan otopsi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2