Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Ruang Berdarah


__ADS_3

Di rumah sakit tempat Dion dijadikan sebagai kelinci percobaan gempar oleh kabar hilangnya Dion. Ditambah lagi Maya putri dari pemilik rumah sakit sedang sekarat. Meski tidak menggaruk bagian tubuhnya yang membusuk perlahan-lahan, tetap saja ia tidak bisa menahan laju perluasan daerah yang mengalami pembusukan.


Bagian yang membusuk bahkan mulai bernanah dan berbelatung. Papanya kebingungan melihat hal itu. Meski mulai membusuk, Maya belum kehilangan kesadarannya. Kini ia mulai melihat hal-hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sosok menyeramkan dengan luka di mana-mana.


Mereka menatap Maya dengan deretan gigi yang berjejer rapat dan mata merah melotot. Maya ketakutan dan hendak menjerit, tapi rasanya sakit sekali. Pembusukan berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Papanya yang kebingungan, akhirnya mengeluarkan ide gila.


Ia ingin mengeluarkan otak putrinya dan memasukkannya ke kepala orang lain. Dan tentu saja ide gila itu tidak diterima oleh para dokter yang lain. Kemungkinan gagal seratus persen. Tapi papa Maya yang sedang kalut tidak dapat berpikir jernih.


Saat sedang kalut keadaan pikirannya sempat kosong. Dan hal itu digunakan oleh arwah yang sudah menantikan hal tersebut. Merasuki tubuh papa Maya beramai-ramai. Lalu menggerakkan tubuh itu dengan bebas.


"Ayo kita lakukan sekarang!" kata papa Maya yang sudah dirasuki tersebut.


Papa Maya mengambil alat bedah dan mulai bertindak di tubuh Maya tanpa pembiusan terlebih dahulu. Para dokter mencoba menghalanginya. Tapi kekuatan papa Maya lebih kuat akibat arwah yang merasukinya. Dan ia berhasil melepaskan cengkraman para dokter lain yang ada di situ.


"Sadarlah dok! Itu putri anda sendiri!"


"Memangnya kenapa? Ayo bantu aku mengeluarkan otaknya!"


"Ini gila, kita tidak akan berhasil, itu belum pernah berhasil."

__ADS_1


"Kali ini pasti berhasil."


Para dokter saling pandang lalu mereka pun akhirnya mengikuti perkataan papa Maya. Tapi mereka bingung, karena justru Maya yang diperlakukan dengan semena-mena tanpa pembiusan.


Maya menangis kesakitan, karena berkali-kali pembedahan ia terima, tanpa adanya pembiusan terlebih dahulu. Pada akhirnya ia menjerit kesakitan dan mengakibatkan pembuluh nadi di lehernya yang mulai membusuk pecah dan mengeluarkan darah serta nanah.


Perlahan tubuhnya kejang. Dokter melihat itu seperti pemandangan yang mengerikan. Tapi papa Maya justru menikmati melakukan mall praktek di kepala Maya seperti mengelupas kulit bawang. Maya mulai kehilangan banyak darah, akhirnya menghembuskan napas terakhir.


Saat itulah para arwah yang merasuki papa Maya keluar dari raganya. Papa Maya tersadar dan terkejut melihat tetesan darah serta belatung yang merayap di tubuh Maya. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya. Ia mengira itu ulah dokter yang lain. Meski saat itu hanya pisau yang di tangannya yang berdarah.


Rasa emosi membuat papa Maya kalut dan menyerang para dokter yang ada di situ. Dia menyerang tiap nadi mereka. Para dokter yang tidak siap dengan serangan tersebut terkejut dan tidak mampu melawan. Sayatan benda tajam di nadi mereka membuat mereka ambruk perlahan-lahan. Sebagian mereka mencoba melarikan diri tapi sebelum berhasil keluar ruangan, ubun-ubunnya jadi sasaran alat operasi.


Melihat tidak ada pilihan, para dokter ikut balik menyerang, dan akhirnya mereka saling serang dengan alat-alat operasi. Papa Maya yang seorang akhirnya rubuh karena kalah melawan dua dokter yang belum sempat terluka sedikit pun.


Ia heran kenapa tiba-tiba bisa berada di ruangan tersebut. Seingatnya ia sedang berbaring di sebuah kamar dengan pasien lain. Tapi kamar biasa, bukan kamar yang penuh lampu. Ia yang dibawa kerumah sakit akibat pingsan karena Anemia oleh anggota keluarganya, dan hampir jadi korban mall praktek.


Setelah papa Maya terkapar kedua dokter tersebut hendak melarikan diri dan berpura-pura tidak terjadi sesuatu, lalu bergegas membuka pintu. Dan saat pintu di buka, polisi ternyata sudah ada di depan ruangan tersebut. Yang mendapatkan laporan dari teman Dion.


Kedua dokter diborgol dan dibawa ke kantor polisi. Sedangkan calon korban mall praktek memilih pindah rumah sakit, setelah memberikan kesaksian. Karena teman Dion meminta agar datanya dan data Dion tidak dipublikasikan, tidak banyak yang tau kalau Dion dan temannya termasuk korban.

__ADS_1


Dan perlahan-lahan para korban mall praktek yang tidak sampai mengalami kematian namun mengalami cacat, mulai buka suara. Dan akhirnya rumah sakit tersebut dicabut ijinnya, dan ditutup. Pasien yang masih berobat memilih rumah sakit terdekat sebagai tempat perawatan selanjutnya.


Dan teman Dion memilih merahasiakan keberadaan Dion dari awak media yang haus oleh berita dengan bantuan temannya. Juga merahasikan hal tersebut dari Kelly yang sudah memecatnya, setelah mengambil alih perusahaan Dion.


Dan itu sebabnya teman Dion beralih profesi sebagai kurir antar barang, namun saat mau mengambil barang yang untuk diantar dia malah kecelakaan di depan rumah sakit Dion berada.


Sungguh suatu kebetulan yang tidak diduga, karena tidak mendapat pekerjaan di tempat lama, dan memilih pindah ke kota lain, justru membuatnya bisa menyelamatkan Dion. Kini ia mengerti kenapa panggilannya tidak pernah sekali pun diangkat oleh Dion.


Selama ini dia mengira Dion bersikap tidak adil padanya. Tanpa tau apa salahnya diberhentikan begitu saja. Kini setelah tau muncul niat balas dendam pada Kelly. Yaitu dengan membantu Dion sembuh kembali. Mungkin tidak akan bisa dengan sekejab mata, tapi cepat atau lambat ia pasti segera pulih.


Dan di rumah yang dibeli Maya, darah Ben yang menghitam menghilang, dan peti itu tertutup kembali, serta isinya kembali pada posisi semula. Rumah yang tidak di tempati itu perlahan mulai tidak terawat. Sebab pembelinya belum ada dan penjualnya telah tiada.


Tapi kemudian setelah harta kekayaan Maya berpindah tangan maka rumah yang telah Maya beli dijual lagi oleh keluarga jauhnya yang menjadi ahli waris, setelah mengalami hal-hal mistis di rumah itu. Dengan menjual dengan harga miring, salah satu dari anak-anak kakek membelinya.


Tapi setiap yang menempati rumah itu mendapat ganguan dari mahluk halus dan juga terkena penyakit yang aneh. Tubuh mereka melepuh seperti dibakar api. Dan akhirnya rumah itu dijual lagi pada yang lain. Tapi kejadian yang sama terus berlanjut dan akhirnya rumah itu dikenal sebagai rumah hantu dan tidak ada yang berani membelinya.


Sepuluh tahun berlalu, Dion sadar dari koma, namun ia masih belum pulih seutuhnya. Tapi perlahan lahan-lahan ia mulai mengingat siapa dia. Trauma saat menjadi kelinci percobaan membuat sebagian ingatannya hilang. Namun dengan seiringnya waktu ia mendapat ingatannya kembali.


Tapi ia tidak ingat tentang jiwanya yang sempat keluar dari raganya dan bertemu keluarganya. Hingga suatu hari kejadian yang ia alami saat jiwanya keluar dari raganya masuk ke dalam mimpinya. Mimpi itu membuatnya terbangun dan keringat menguncur deras dari pori-porinya.

__ADS_1


"Aku harus mencari keluargaku," batinnya.


Bersambung...


__ADS_2