Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Maut


__ADS_3

Tiba-tiba seorang anak perempuan datang dengan memegang gagang sapu. Dan berteriak dengan kencang, sambil memukuli anak-anak nakal itu. Sehingga Tomi terlepas dari genggaman mereka.


Namun sungguh malang, Tomi sudah tidak bergerak lagi. Meski tubuhnya sudah dilepaskan. Dan ia tidak sanggup lagi mengangkat kepalanya.


"Tidak! Putraku!" teriak anak perempuan itu dengan histeris.


Lalu secepatnya ia menarik keluar tubuh Tomi. Dan meletakkannya di lantai. Menekan pada bagian perut sehingga Tomi memuntahkan air yang tertelan olehnya.


Tapi ia tetap tidak bereaksi. Kemudian gadis kecil itu memberi napas buatan. Sambil menangis. Namun usahanya gagal.


Seorang guru tiba dengan seorang murid. Lalu membawa tubuh Tomi yang tidak bergerak lagi, ke UKS. Anak perempuan itu masih menangis sejadi-jadinya. Karena merasa usahanya sia-sia.


Lalu ia menatap mata seorang anak laki-laki dengan penuh amarah. Mengangkat jari telunjuk dan mengarahkan pada Ray.


"Ray, kamu jahat! Kamu sudah membunuh putraku!" teriaknya.


"Aku sudah meminta bantuanmu sejak awal. Tapi kenapa kamu hanya diam saja? Lihat, sekarang kamu datang! Tapi semua sudah terlambat!" erangnya makin kencang.


Lalu dari raga anak perempuan, itu keluar roh wanita, yang merupakan roh dari mama Tomi. Dan selama ini memperhatikan Tomi. Ia tidak bisa berkomunikasi dengan Tomi putranya. Karena Tomi tidak memiliki indra keenam. Jadi dia hanya menikmati saat melihat putranya bergerak lincah kesana kemari.


Dia adalah wanita yang menjadi korban mall praktek. Sehingga saat mengetahui ada orang yang diperlakukan dengan semena-mena ia menjadi sangat marah. Namun sayang ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Kali ini dia bahkan tidak bisa menolong putranya. Saat sedang diganggu oleh teman sekelasnya yang usil. Sehingga merenggut nyawa putranya. Sementara guru pengawas justru asik dengan ponsel mereka. Dan mengunduh foto diri terbaru mereka. Serta sibuk membalas komentar yang ada di status terbaru akun media sosial mereka.


Sedih sekali rasanya. Kini roh putranya telah keluar dari jasadnya. Meski kini putranya bisa melihatnya. Ia tetap merasa sangat pilu.


"Anda kenapa, Tante?" tanya roh Tomi yang tidak menyadari kalau ia sudah tiada.

__ADS_1


Roh wanita itu makin terisak lalu ia memeluk roh putranya. Anak wanita yang ia rasuki ikut menangis. Roh mama Tomi, teringat saat meminta bantuan kepada anak itu.


"*Nak, tante minta tolong. Putra tante sedang diganggu lagi sama temannya. Dan kali ini mereka lebih kasar dari biasanya," ujar roh wanita itu pada Malika.


"Di mana mereka tante?" tanya Malika.


"Ayo ikuti tante*!"


Malika berlari sekencang mungkin tapi dengan kaki kecilnya membuatnya tidak bisa tiba dengan cepat. Tentu saja karena jarak langkah kakinya cukup terbatas.


Lalu mama Tomi, mengingat Malika hanya seorang diri. Pasti sulit melawan anak-anak nakal terebut.


Lalu ia meminta ijin pada Malika agar ia bisa merasuki tubuhnya. Malika setuju. Dengan kekuatan roh dari mama Tomi, Malika bisa berlari lebih cepat ke tempat Tomi di ganggu. Tapi ternyata mereka sudah pindah tempat. Tomi sudah dibawa ke kamar kecil khusus untuk anak laki-laki.


Saat mengetahui putranya di dalam kamar kecil Malika langsung masuk dan memukuli anak-anak nakal itu. Dan putranya terlepas dari genggaman anak-anak nakal tersebut. Tapi sayang dia sudah terlambat roh putranya sudah terlihat meninggalkan raganya.


Tangisannya pecah dan ia pun keluar dari raga Malika. Dan saat itulah Ray datang dengan seorang guru. Melihat Malika menangis Ray menyadari kalau ia telah terlambat. Asap putih perlahan-lahan berubah wujud menyerupai Tomi.


Raga Tomi dibawa ke UKS tapi rohnya tertinggal. Dan saat roh itu membuka matanya. Ia heran melihat Malika dan seorang wanita sebaya mamanya menangis di sampingnya.


Sementara tubuh Tomi yang tidak bereaksi apa pun. Akhirnya dibawa ke rumah sakit. Lalu dokter mengatakan kalau ia telah tiada. Guru itu menjadi pucat. Sebab anak itu luput dari pengawasannya. Tubuhnya gemetaran lalu perlahan-lahan menekan nomor kepala sekolah dan memberi kabar buruk.


Bahwa salah satu murit didik mereka telah menghembuskan napas terakhirnya. Dan berita itu disampaikan pada orang tua angkat Tomi. Secepatnya mereka datang ke rumah sakit lalu dengan emosi meminta pertanggung jawaban.


Putra mereka satu-satunya telah tiada. Jasad Tomi dibawa pulang oleh keluarga angkat Tomi diiringi isak tangis sepanjang perjalanan. Guru-guru menelepon orang tua murit yang melakukan kejahatan. Mereka mendapatkan laporan dari Malika saksi mata saat kejadian berlangsung.


Dengan angkuh orang tua anak-anak nakal itu masih berani mengangkat kepalanya di depan orang tua Tomi. Lalu memberikan sebuah amplot untuk biaya tutup mulut. Agar nama keluarga mereka tidak tercemar.

__ADS_1


Mama angkat Tomi menjadi geram. Tidak perduli kalau banyak orang menyaksikan. Dengan penuh emosi ia menjambak rambut dan mencakar wajah salah satu dari orang tua murid nakal tersebut.


Banyak orang yang melihat, mulanya begong. Mereka bingung dengan kejadian yang terjadi secara tiba-tiba. Sampai akhirnya wanita itu berteriak kesakitan. Karena rambutnya berpindah ke tangan mama Tomi.


Setelah berhasil dilerai, para orang tua anak nakal itu justru semakin sombong dan menghina orang tua angkat Tomi.


"Dasar pasangan mandul. Jika tidak bisa menjaga anak jangan memungut anak dari pembuangan sampah! Dan sekarang ia jadi sampah!"


"Apa katamu?!" teriak mama Tomi yang tidak terima dihina.


Hampir saja ia berhasil menjambak rambut wanita itu lagi. Kalau saja ia tidak dipegangi dengan erat oleh tetangganya.


"Sabar, nak... sabar..." ucap orang-orang yang menahan tubuh mama Tomi.


"Aku bersumpah, anak-anakmu akan menderita! Mereka tidak akan pernah sukses dan kau juga akan menanggung akibat dari kenakalan putramu sendiri!" isak mama Tomi.


Hal itu disaksikan oleh mama kandung Tomi dan Tomi sendiri. Ia dibawa oleh roh mamanya ke kediamannya. Untuk membuktikan kalau dia sudah tiada.


Malam itu roh Tomi dan roh mamanya menyadari sedalam apa rasa cinta dari kedua orang tua angkatnya. Mama kandung Tomi sangat bersyukur karena masih ada orang yang tulus mencintai putranya. Tapi kini putranya telah bersamanya.


Dan berpisah alam dengan mama kandungnya. Agar Tomi tidak terluka lebih lama. Maka ia mengajak putranya meninggalkan kediaman rumah orang tua angkat Tomi. Tapi di tengah perjalanan roh Tomi perlahan-lahan sirna. Roh mamanya sangat heran. Ia bukan hanya kehilangan putranya dua kali. Tapi tiga kali.


Pertama saat ia harus menghembuskan napas terakhirnya. Kedua saat putranya menghembuskan napas terakhirnya. Dan ketiga saat roh putranya lebih cepat sirna dan menghilang dari muka bumi ini.


Wanita yang menyanyangi Tomi merasa berduka dan tidak tau harus berbuat apa. Hingga tangannya merasakan sesuatu bergerak dalam genggamannya. Jari-jari kecil Tomi memperlihatkan tanda-tanda. Kalau ia kembali ke dunia manusia. Yang tentunya membuat wanita yang tidak melepaskan gengamannya itu sedetik pun menatapnya heran.


Diusap-usapkannya tangan yang dingin itu. Seolah membagi kehangatan tubuhnya. Dan untuk memastikan kalau ia tidak berhalusinasi. Menciumi tangan itu dan menangis hingga ia mendengar sebuah suara.

__ADS_1


"Ma, kenapa menangis?"


__ADS_2