Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Tidak Sia-Sia


__ADS_3

Akibat keributan tersebut, Nicholas dan Te Espere dipanggil ke kantor.


"Kami ini sudah bertukar cincin pak," jawab Te Apoyo.


"Tapi carilah tempat bermesraan yang lain," kata orang yang memanggil mereka bertiga.


"Baik pak kalau begitu kami permisi," ujar Nicholas.


Setelah Nicholas dan Te Espere pergi, anak rentenir mengajukan protes.


"Kenapa, Bapak membiarkan dosen, Bapak menindas mahasiswi di kampus ini?" tanyanya.


"Hei, siapa yang kamu maksud ditindas? Apa kamu tidak tahu siapa gadis itu?" ujar lawan bicara anak rentenir.


Lalu pemuda itu terkejut mendengar jawaban dari yang lawan bicaranya. Dan kemudian ia mengingat kalau pemilik pabrik sepatu bernama sama dengan papa Te Espere.


Segera ia mencari di internet dan ia menjadi lemas seketika. Karena ia mengira bisa mengandalkan kekayaan papanya. Yang ternyata tidak ada bandingannya dengan kekayaan papa Te Espere. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi muncul di kampus karena merasa malu.


Sebab setelah merasa malu ia memilih kembali ke kotanya dan memilih mabuk-mabukan sepanjang malam. Lalu ketika ia mengendarai sepeda motornya dan hendak pulang, sebuah kecelakaan tunggal terjadi.


Pasalnya ia yang berkendara dengan kecepatan tinggi di jalan sepi, tiba-tiba mendapat panggilab. Hanya beberapa detik pandangannya teralihkan dari jalan, tiba-tiba ia melihat orang banyak di jalan beramai-ramai.


Dan mereka terlihat seperti para pekerja pabrik yang meninggal akibat peristiwa kebakaran di pabrik sepatu. Energi yang kuat dari niat bekerja para arwah tersebut, meninggalkan energi yang kuat pada tiap jalan yang mereka lintasi. Sehingga jalanan tersebut akan memantulkan fatamorgana.


Dan beberapa orang akan melihat kejadian yang pernah terjadi di jalanan itu seolah terjadi lagi. Akan terlihat para pekerja pabrik penuh semangat, menapaki jalan menuju pabrik. Sambil bercengkrama tentang rencana mereka yang akhirnya pupus di tengah jalan.


Karena pemuda itu melihat rombongan pekerja tiba-tiba sangat dekat dengannya. Maka anak rentenir itu banting stir. Yang akhirnya mengakibatkan ia menabrak pembatas jalan dan masuk ke jurang. Ia selamat namun harus mengalami kelumpuhan dan kehilangan indra penglihatan dan pendengarannya.

__ADS_1


Seolah takdir menghukumnya, karena ia mendengar orang tuanya berniat jahat tapi diam saja. Dan melihat orang-orang suruhan kedua orang tuanya melakukan kejahatan tapi tidak bertindak. Tidak sekali pun ia menegur orang tuanya yang berbuat jahat. Tapi justru malah mendukungnya.


Karena luka yang ia derita cukup parah, orang tuanya terpaksa meminjam uang pada rentenir yang lebih kaya dari mereka. Sebab butuh dana cepat untuk menyelamatkan nyawa putra mereka.


Meski tertolong tapi putranya hanya bisa berbaring di kamar. Ia menjadi mudah marah dari sebelumnya. Sebab ia kehilangan matanya yang tertusuk ranting. Dan kehilangan pendengaran karena telinganya terbentur sangat keras saat ia terguling ke jurang.


Hal ini merupakan pukulan yang keras untuk kedua orang tuanya. Roda nasib perlahan berputar. Ia yang menjadi rentenir selama puluhan tahun. Kini harus mengemis meminta pinjaman pada rentenir A untuk membayar bunga pinjaman pada rentenir B.


Yang pada akhirnya terasa menjerat leher keduanya dan memilih bunuh diri dengan menggak racun tikus. Putranya yang lumpuh akhirnya meninggal karena kelaparan. Sebab idak ada yang datang mengunjunginya.


Sehingga tidak ada yang memberinya makan. Ia yang hanya berteriak memanggil orang tuanya, membuat orang berpikir kalau orang tuanya masih hidup. Dan tidak mengira kalau akhirnya pemuda itu mati kehausan dan kelaparan.


Orang-orang baru mengetahuinya setelah mencium aroma busuk. Dan menemukan tiga jenazah telah berbelatung. Jasad mereka pun di semayamkan, oleh para warga tanpa dihadiri keluarga terdekat mau pun yang jauh dari mereka.


Tapi dua minggu kemudian banyak orang datang mengaku sebagai kerabat dekat keluarga tersebut. Dan masing-masing mengakui kalau mereka yang berhak atas harta yang tersisa meski sudah tidak banyak lagi jumlahnya.


"Sudahlah kita tidak usah membicarakan keburukan orang lain, apa lagi yang sudah tiada. Cukup kita jangan seperti mereka. Agar tidak mengalami hal yang sama," ujar seorang wanita gemuk. Di saat tangannya mengemas sepatu ke dalam kardus.


"Iya, maaf kita khilaf," ujar wanita lain sambil menampar-nampar mulutnya sendiri, sebagai hukuman pada diri sendiri karena membicarakan keburukan orang yang sudah tiada.


Akhirnya mereka fokus bekerja, namun ada yang masih sering menatap ke arah langit-langit. Memastikan kalau tidak ada asap hitam di udara akibat benda terbakar. Sebab peristiwa kebakaran yang di alami saksi hidup, masih menyisakan rasa trauma yang dalam.


Terkadang saat tiba-tiba melihat asap yang berasal dari luar karena ada yang membakar sampah membuat mereka sontak melompat dari kursinya. Bahkan asap rokok seseorang yang duduk di bawah jendela di luar pabrik membuat beberapa ibu-ibu menjerit.


"Api!"


Yang membuat banyak orang jadi latah dan segera berlari. Walau setelah tahu itu berasal dari asap pembakaran sampah dan asap rokok, maka beberapa wanita akan keluar pabrik dan menghajar orang yang menyalakan api di luar, atau pun yang merokok.

__ADS_1


"Ampun!" teriak korban penganiayaan. Barulah para wanita itu berhenti memukuli punggung orang itu dengan sandal jepit mereka.


"Ughh, punggungku jadi merah," keluh sang korban penganiayaan.


Bukan dikasihani tapi malah ditertawakan oleh yang lainnya yang menyaksikan peristiwa pengeroyokan tersebut.


"Kan aku sudah pernah bilang, jangan bakar sampah di sekitar pabrik dan jangan merokok di bawah jendela, kamu yang bandel, dan tidak mau mendengar, jadi ya syukurin," ujar seseorang mengejek anggota baru tersebut.


Pada akhirnya dibuatlah larangan membakar sampah bagi pegawai yang ada di situ. Dan larangan merokok di dekat bangunan apa lagi dekat jendela. Agar tidak ada lagi korban kekerasan oleh para wanita yang masih trauma melihat asap.


Hingga akhirnya para pria merokok di tempat khusus. Di tempat peristirahatan di jam makan siang. Pada kursi yang berada di bawah pohon yang sengaja ditanam di sekitar pabrik. Tapi cukup jauh dari lokasi para wanita yang menyantap makan siang mereka, sambil bercengkrama.


Di saat mereka kembali bekerja ada peristiwa aneh yang mereka alami. Seseorang yang sedang sendirian di gudang mengangkat beberapa kotak bahan untuk pembuatan sepatu. Tapi karena saat itu punggungnya sakit, ia jadi kesulitan mengangkatnya.


"Biar saya bantu, Pak," ujar sesorang. Saat ia hampir menjatuhkan kotak besar yang ia angkut.


"Oh iya makasi ya, Bak," ujarnya sambil menoleh ke arah suara, dan ingin tahu siapa yang menolongnya.


Tapi setelah kotak itu diletakkan ia tidak melihat siapapun di sana. Namun ia pun meneteskan air mata, saat mengingat suara itu sangar mirip dengan suara yang ia kenal. Dan itu adalah suara seorang pemuda yang selalu membantu pekerjaannya.


"Kalau Aku berhasil mengumpulkan gajiku, selama setahun bekerja di sini, Aku mau membawa mamaku berobat ke rumah sakit yang lebih bagus," ujar anak itu.


Di kala ia masih hidup. Lalu dengan penuh semangat mengangkat kardus besar sendirian sambil terus cengar-cengir.


"Mamamu sudah sehat nak, tuan Dion sudah membawanya berobat. Rumah kalian yang sudah hampir rubuh juga telah di perbaiki. Ketulusanmu dalam bekerja tidak sia-sia sama sekali," gumamnya. Mengingat ucapan pemuda itu.


Seketika ia merasa tenaganya kembali seratus persen. Dan mulai bekerja dengan lebih tulus lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2