Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Ulang Tahun


__ADS_3

Tidak terasa putra dan putri Lina kini berusia Lima tahun.


"Sayang ayo masuk," bujuk Emile pada putranya.


Putranya diam saja, pandangannya sejurus menuju satu tempat. Dia tidak menghiraukan ucapan mamanya yang memanggilnya untuk merayakan perayaan ulang tahunnya. Ada hal lain yang menarik perhatiannya dibandingkan dengan suasana di dalam rumah.


"Sayang..." panggil Emile lagi.


Dia bisa saja menarik putranya secara langsung ke dalam, tapi ia takut kalau saat menyentuh putranya, ia akan melihat hal yang ia takutin. Jadi dia memanggil putranya lebih dekat untuk mengalihkan perhatian putranya. Dan ia berhasil. Kini putranya memalingkan muka ke arahnya.


Emile memiringkan kepalanya empat puluh lima derajat. Lalu tersenyum, sambil mengatupkan ke dua tangannya, dan memiringkan ke dua tangannya searah dengan kepalanya.


"Ayo masuk, acaranya akan dimulai," katanya.


Putranya mengikuti kata-katanya dan masuk ke rumah. Di rumah segala hiasan untuk merayakan ulang tahunnya telah dipasang dan beberapa hiburan ikut meramaikan acara ulang tahunnya. Sengaja badut dan pesulap diundang ke acaranya.


Saat badut melakukan atraksi semua anak-anak yang ada di situ bersorak kegirangan. Dan untuk membuat acara lebih meriah, ia juga membagikan permen di tengah-tengah atraksi sulap.


Anak-anak yang lain bersorak gembira, tapi tidak dengan putra Emile. Dia hanya diam saja di kursinya sejak ia masuk. Tidak ada raut wajah yang menggambarkan suasana hatinya. Wajahnya datar. Tidak tampak sedih atau pun senang. Badut-badut berusaha menampilkan atraksi terbaiknya namun semua itu tidak mengubah raut wajahnya.


Dan saat pertunjukan sulap berlangsung juga tetap sama saja. Ia tetap diam. Padahal acara ulang tahun ini, sengaja diselengarakan secara meriah untuk membuatnya gembira.


Bukan hanya badut dan pesulap yang berusaha mencari perhatiannya, roh halus juga ikut serta. Tapi tidak ada dari mereka yang berani menyentuhnya.


Tibalah puncak acara yaitu pemotongan kue, dan semua anak bernyanyi untuknya. Dan ia hanya bergerak dari kursinya saat ibunya menyuruhnya memotong kue. Dan untuk membimbing putranya, ia harus memegang tangan putranya tersebut.

__ADS_1


Dan untungnya keadaan aman terkendali. Baju lengan panjang dan sarung tangan membuat Emile tidak menyentuh kulit putranya. Dengan begitu ia tidak akan melihat penampakan apa pun juga.


Kemudian tiba saatnya putra Emile membuka kado khusus pemberian keluarganya. Anak-anak bersorak dan bertepuk tangan, untuk setiap kotak yang dibuka. Tapi lagi-lagi raut wajah itu tidak berubah.


Acara terasa berjalan lambat bagi putranya, tapi tidak bagi Emile. Sebab kini akhirnya adalah bagian dari acara bersalaman dengan yang berulang tahun, sebelum mendapat bingkisan dan pulang. Emile sangat was-was. Dia berharap sarung tangan yang dipakai putranya bisa membantu.


Ide itu ia dapatkan ketika tanpa sengaja ia menyentuh putranya tanpa menyentuh kulitnya. Jika dulu, ia terpaksa menyentuh putranya untuk mengganti popoknya, dengan cara memejamkan matanya. Sebab walau tidak bersentuhan secara langsung ia tetap melihat penampakan.


Namun semakin putranya tumbuh semakin besar hal itu berubah. Ia tidak melihat penampakan semudah dulu saat bayinya baru lahir. Dan akhirnya Emile menyadari satu hal dan mendapatkan sebuah ide. Ide untuk menyembunyikan kebenaran, tentang melihat roh halus, bagi siapa saja yang bersentuhan dengan putranya.


Beruntung pada akhirnya seluruh acara berjalan dengan lancar. Pesta sudah usai dan anak-anak pulang ke rumah bersama orang tua yang mengantarnya. Atau yang mengantar lalu pulang, dan datang menjemput mereka kembali.


"Ray ayo buka kadonya," kata orang-orang yang tinggal setelah para tamu pergi.


Tapi Ray diam saja. Ia sama sekali tidak pernah tertarik akan hal tersebut. Tapi karena disuruh terus-menerus maka ia membuka kado itu juga. Dan setelah acara buka kado selesai ia pun pergi ke luar.


Ray atau putra dari Dion dan Lina diam saja dan tetap memilih berada di luar. Mau tidak mau Emile menariknya masuk.


"Sudah malam, anak kecil tidak boleh di luar," kata Emile.


"Tapi dia masih di luar." kata Ray menunjuk ke suatu arah.


Angin berhembus menyentuh kulit Emile dan membuat buku kuduknya merinding. Ia menggosok tengkuknya lalu menarik lengan baju putranya.


Di tempat lain acara ulang tahun tidak dirayakan secara mewah oleh Lina untuk putrinya yang hanya bisa terbaring lemah. Tubuhnya bertambah tinggi tapi ototnya tidak bertambah. Siapa pun melihat akan merasakan perasaan yang tidak menyenangkan. Antara iba atau takut.

__ADS_1


Bola mata menonjol seperti akan keluar kapan saja dan tulang yang hanya terlihat seperti di balut oleh kulit saja. Warna hitam dan kehijau-hijauan layaknya zombie. Untuk menutupi hal itu Lina selalu memakaikan pakaian yang tebal untuk putrinya.


Hari ini ulang tahun putrinya, Ros membelikannya gaun merah jambu yang akhirnya hanya dipakai satu kali. Bahkan untuk mengabadikannya pun ia tidak tega. Sebab tampak sangat tidak cocok dan entah kenapa terasa menyedihkan memandangnya.


Tapi Lina berbesar hati ia tetap memakaikan gaun itu dan memakaikannya pada putrinya. Namun sebelum itu, terlebih dahulu ia memakaikan baju kaos berlengan panjang sebagai penutup kulit putrinya. Dan tidak lupa memberi polesan pada wajah putrinya. Setelah itu ia mengambil foto putrinya.


"Aku pulang dulu ya." kata Ros kemudian.


"Iya makasi ya, atas kadonya kata Lina.


Mereka tidak tinggal bersama lagi, Ros telah menikah dengan pemilik restoran tempatnya bekerja. Dan Ros membantu Lina untuk membuka kios kecil dengan memberikannya pinjaman lunak. Bayarannya dapat Lina cicil dari keuntungannya berjualan.


"Teresia, selamat ulang tahun sayang..." kata Lina.


Tidak terasa air matanya berlinang dan seketika ia teringat akan suaminya. Kemudian mengingat-ingat lagi saat ia menziarahi makam putranya. Putra Emile yang disangkanya sebagai putranya. Dan tentu saja ia sekalian menziarahi makam bibi Mery yang menemaninya di masa-masa sulit saat sedang mengandung.


Saat mengingat-ingat hal tersebut tanpa sadar ia tertidur. Untungnya saat Ros pulang ia telah mengunci pintu. Dan di saat tidurnya ia memimpikan bibi Mery.


Dalam mimpinya bibi Mery tampak seperti berada di acara pesta. Pesta yang meriah dan tampak putrinya duduk di sebuah kursi memakai gaun pemberian Ros. Ia tampak cantik sekali.


Lina tersenyum akan mimpinya itu. Tapi senyumannya berubah saat ia seperti berada di sebua lorong yang hanya menuju satu arah. Ada sebuah lampu yang mengarahkan langkah kakinya.


Di dalam mimpinya Lina menelusuri lorong tersebut dan melihat sebuah ruangan. Tampak seperti ruang operasi. Ia juga melihat seseorang terbujur kaku di tempat tidur dengan selang infus di sekujur tubuhnya. Lina juga melihat banyak bekas sayatan di kulit orang tersebut. Dan bekas jahitan yang sebagian belum kering.


Saat melihat lebih dekat...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2