
Saat itu putra Te Apoyo melakukan perjalanan dengan pemilik kendaraan tersebut. Sebagai supir, ia juga sebagai pemandu wisata pada perjalanan Nicorazón di tempat tersebut.
"Tuan, seperti apa tempat wisata yang paling tuan sukai?" tanya pemilik kendaraan.
"Aku suka yang berhubungan dengan sesuatu yang memacu adrenalin. Tapi saat ini aku ingin tempat wisata yang biasa saja. Seperti ...," ujar Nicorazón terhenti.
Ia melihat penjual barang-barang antik. Lalu meminta untuk turun. Sekedar melihat-lihat barang-barang yang dijual. Ketika menyadari itu barang antik tiruan ia pun meninggalkannya begitu saja.
"Di negara ini sangat terkenal dengan barang-barang mistis," ujar pemilik kendaraan.
"Tapi tentunya tidak semua benda yang dijual di sini punya aura mistis," lanjut pemilik kendaraan.
Putra Te Apoyo mengangguk lalu ia menaiki kendaraan yang mereka tinggalkan sebentar untuk melihat barang antik yang ternyata barang tiruan.
"Ada sebuah danau yang indah, namun terkenal angker di tempat ini. Meski terkenal angker banyak wisatawan mengunjunginya. Kalau hanya sekedar berfoto tempat itu aman. Tapi buat pendatang disarankan agar tidak menyentuh airnya," kata pemilik kendaraan.
Biasanya sebuah tempat wisata yang ramai dikunjungi menyimpan cerita unik untuk menarik para wisatawan manca negara atau pun lokal. Semakin menyeramkan kisah itu terkadang justru semakin menarik hati para pengunjung.
Cucu Dion pun tertarik akan hal itu. Dan meminta agar diantarkan ke tempat tersebut. Sepanjang perjalanan si pemilik kendaraan sekaligus pemandu wisata mengingatkan agar jangan menyentuh air danau.
"Tenang saja, aku hanya akan mengambil gambar. Lagi pula aku masih ingin melihat-lihat tempat lain. Dan tidak ingin pakaianku basah," jawab Nicorazón sambil melirik ke kiri dan ke kanan.
Di lokasi yang sama seorang gadis dengan rambut panjang ikal dikepang dua sedang melintasi jalan tersebut. Ia sedang menuju sebuah toko. Toko yang menjual obat-obat herbal.
Setelah masuk ia tidak terlihat keluar meski sudah satu jam berada di dalam. Sementara orang yang baru masuk saja sudah keluar sebelum sepuluh menit berada di dalam. Tapi gadis itu masih sibuk menimbang dan membungkus obat-obat tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih," ujarnya pada setiap pelanggan dengan ramah.
Ia melakukan pekerjaan tersebut di setiap hari minggu dan hari libur. Pemilik toko adalah teman baik kedua orang tuanya. Yang memperlakukannya seperti putri mereka sendiri.
Nicorazón kini tiba di daerah yang menjadi tujuan mereka. Ia segera turun dari kursinya karena area wisata tidak boleh dimasuki oleh kendaraan. Jadi mereka harus berjalan kaki dan memarkirkan kendaraan di tempat khusus.
"Ramai sekali tempat ini," ujar Nicorazón saat pertama kali tiba.
Dan terlihat ada banyak orang yang berenang-berenang di tepi danau. Baik yang tua mau pun yang kecil. Melihat pemandangan itu Nicorazón memandang pemilik kendaraan dengan wajah tidak senang. Ia merasa seperti kena tipu.
"Ehm. Aku hanya menyampaikan saran. Jangan menatapku seperti itu," ujar sang pemilik kendaraan cengengesan.
Nicorazón hanya mengangkat sebelah alisnya lalu bergerak melangkah lebih dekat ke tepi danau. Airnya sangat jernih. Belum tercemar sama sekali.
"Konon katanya patung gadis ini bisa bergerak di malam hari dan menangis," ujar pengelola tempat wisata tersebut.
Nicorazón memandang sekilas pada pemandunya yang merupakan supirnya dan pemilik kendaraan yang ia sewa. Orang itu hanya berdehem dan buang muka. Nicorazón hanya tersenyum mendengarkan cerita tersebut.
Dan tiba juga akhirnya giliran untuk berfoto dengan patung yang menjadi primadona di tempat tersebut selain air danau. Mulanya Nicorazón hanya berdiri membelakangi patung wanita tersebut. Sambil menyelipkan tangannya di saku celana kiri dan kanan.
"Coba ambil foto sambil memeluk patung itu, seperti yang lain!" usul sang juru foto di tempat itu.
Tanpa pikir panjang Nicorazón melakukan hal yang sama. Tangannya melingkar memeluk patung tersebut. Juru foto menghitung sampai tiga sebelum membidik kameranya. Tiba-tiba seorang anak kecil menyenggolnya sehingga hasil jepretannya goyang.
Nicorazón masih memeluk patung tersebut sambil menunggu sang juru kamera mengatur posisinya kembali. Tapi kemudian ia terkejut saat merasakan kalau patung tersebut bernapas di telinganya.
__ADS_1
Ia menoleh ke arah wajah patung itu pada hitungan yang ketiga. Seperti terhipnotis Nicorazón terus memandangi patung itu tanpa berkedip. Juru foto mengira kalau Nicorazón ingin beberapa foto diambil dalam posisi yang sama.
Jadi juru foto bergeser untuk mengambil foto dengan posisi yang sama dari sudut yang berbeda. Nicorazón kini bisa merasakan detak jantung patung tersebut. Dan ia pun segera melepaskan tangannya dari pinggang patung tersebut.
Ia mundur sambil menatap patung itu tanpa berkedip. Supir sekaligus pemandunya menepuk pundaknya dan ia pun mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Jangan lama-lama, yang lain juga mau mengambil foto. Ayo kita ke tempat lain dulu sambil menunggu hasilnya jadi. Di sini ada jual makanan khas daerah ini. Tepatnya di sana!" ujar pemilik kendaraan seperti seorang pemandu wisata yang sudah propesional.
Saat ia melangkahkan kakinya ia mendengar suara wanita yang sangat pelan. Yang berasal dari belakang. Nicorazón berpaling ke belakang dan melihat ke arah patung itu.
"Tenanglah, fotomu akan segera dicetak. Saat kita kembali pasti sudah jadi," ujar pemandunya.
Nicorazón mengikuti kata-kata pria yang menemaninya menuju ke sebuah tempat yang menjual aneka macam hidangan. Harganya bermacam-macam dan tergolong murah untuk sebuah tempat wisata, yang biasa memasang harga lebih mahal dari pada di tempat lain.
Di sebelahnya ada seorang ibu dan putranya. Mereka menyantap hidangan yang ada dihadapan mereka dengan lahap. Lalu si anak menarik tangan mamanya setelah mereka selesai makan.
Nicorazón pun menyantap pesanannya begitu mencium aroma yang mengunggah selera. Setelah itu ia dan pemandunya pergi lagi mengelilingi danau. Dan kali ini Nicorazón ingin melihat lebih dekat dan menyentuh air tersebut.
Ia mengambil air itu dengan kedua telapak tangannya lalu membasuh muka. Saat ia membuka matanyanya di depannya ada anak kecil yang tadi duduk di sampingnya saat di teman makan. Anak berada di dalam air dan berdiri sambil bergaya. Sang mama mengambil gambarnya.
Tapi anak itu semakin lama semakin jauh ke tengah danau. Akhirnya anak itu tergelincir dan terlihat seseorang menariknya ke tengah danau. Anak itu minta tolong. Nicorazón masih bengong untuk beberapa saat. Sampai mama anak itu meminta tolong padanya.
Tanpa berpikir panjang ia pun masuk ke dalam danau tersebut. Tapi ia tidak melihat anak tersebut di dalam danau. Ketika ia ingin ke permukaan untuk mengambil udara sebuah tangan menariknya ke dasar danau.
Bersambung...
__ADS_1